Sang Ahli Kimia: Terjebak Cinta pada Pandangan Pertama

Judul: Sang Ahli Kimia (The Chemist)
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica D. Chresnayani dan Iingliana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Januari 2018
Jumlah Halaman: 557
ISBN: 9786020377872
Blurb:

Sebagai mantan agen, ia menyimpan rahasia tergelap agensi yang membuatnya menjadi incaran pemerintah Amerika. Mereka ingin ia mati. Ia hidup dalam pelarian selama hampir tiga tahun. Tak pernah menetap di tempat yang sama dan selalu bergonta-ganti nama. Satu-satunya orang yang ia percaya telah mereka bunuh.

Tetapi mereka selalu gagal membunuhnya karena ia agen terbaik di bidangnya—sang ahli kimia. Ketika seseorang menawarkan jalan keluar, ia sadar itulah kesempatannya untuk mengakhiri semua ini. Tetapi itu berarti ia harus menerima satu pekerjaan terakhir dari mantan atasannya. Dan ketika mempersiapkan diri menghadapi pertarungan terhebat dalam hidupnya, ia jatuh cinta pada pria yang membuat semuanya semakin rumit. Kini, ia terpaksa menggunakan bakat uniknya sebagai ahli kimia dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.

*

Menurut pengamatan sederhana terhadap film-film aksi yang saya tonton, formula puntiran yang paling umum digunakan adalah dianggap-kawan-ternyata-lawan. Seringkali yang di awal diceritakan sebagai pendukung ternyata memiliki motif tertentu dan berakhir sebagai pengkhianat.

Saya menyinggung soal film aksi di awal karena pertama, dari blurb kita tahu bahwa sang ahli kimia adalah agen rahasia. Cerita soal agen rahasia biasanya disertai dengan adegan aksi dan manipulasi. Siapa yang bisa dipercaya, siapa yang patut dipandang dengan curiga. Novel ini pun demikian. Kedua, di halaman awal tercantum bahwa buku ini dipersembahkan salah satunya untuk Jason Bourne. Begitu membaca nama Jason Bourne, langsung terbayang adegan perkelahian seru dengan aset yang memang dikirim untuk melenyapkannya, adegan kejar-kejaran di jalan raya, termasuk adegan buntut-membuntuti yang meskipun minim baku hantam namun turut memacu adrenalin.

Sang Ahli Kimia bercerita soal wanita yang saat ini menyebut dirinya Chris Taylor. Ya, saat ini. Karena sebagai agen yang sedang bersembunyi dan melarikan diri, ia kerap berganti nama untuk menghilangkan jejak. Suatu hari, atasan lamanya di departemen menghubungi Chris dan menawarkan suatu pekerjaan. Mencari seseorang—dan mengorek informasi dari—yang ditengarai berencana melakukan pembunuhan massal menggunakan senjata biologis. Sebagai imbalan, Chris akan dihapus namanya dari daftar pencarian orang dan bisa hidup bebas tanpa dikejar-kejar lagi oleh pembunuh bayaran suruhan pemerintah Amerika.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, Chris menyetujui tawaran tersebut. Konflik dimulai ketika pekerjaan yang awalnya berjalan mulus ‘dikacaukan’ oleh cinta yang muncul perlahan. Chris yang terbiasa hidup/bekerja sendiri dan tidak mempunyai tanggung jawab untuk melindungi siapa pun, terpaksa memutar otak agar tugasnya memecahkan kasus sekaligus melindungi laki-laki yang disayangi berhasil dengan baik. Latar belakangnya sebagai agen rahasia membantu upaya mengurai teka teki kasus serta membangun taktik, sedangkan latar belakangnya sebagai ahli kimia berguna untuk melumpuhkan pihak-pihak yang menghalangi usahanya.

“Aku mengevaluasi semuanya berdasarkan kebutuhan dan keinginan. Aku tidak bisa menghadapi hal-hal yang… berkaitan dengan perasaan.” Hal. 360

Sepanjang membaca novel ini, saya menghitung ada tiga adegan perkelahian yang menghiasi 557 halaman. Sedikit memang. Alasan utama yang dapat saya simpulkan adalah karena latar belakang tokoh utamanya. Sang ahli kimia memang seorang agen rahasia. Namun bidang pekerjaannya tidak mewajibkan ia adu jotos. Ia menguasai senjata api tetapi tidak jago berkelahi. Pekerjaannya lebih banyak di laboratorium yang penuh botol kaca dan zat berbahaya. Ia pun lebih banyak mempersenjatai dirinya dengan hal serupa. Sebagai contoh, ikat pinggang yang selalu ia pakai. Di antara rumitnya jalinan ikat pinggang tersebut, terdapat beberapa alat suntik berisi zat hasil campuran berbagai macam cairan yang akan bereaksi mematikan dalam pembuluh darah.

Meskipun minim adegan perkelahian, ketegangan berhasil dimunculkan juga melalui adegan lain seperti penyamaran untuk mengelabui musuh, interogasi menggunakan zat tertentu yang kerap membuat targetnya berteriak kesakitan, atau usaha pelarian diri dari satu kota ke kota lain.

“Apa yang akan terjadi kalau infusnya kucabut?” | “Dia akan membutuhkan minum kalau bangun nanti. Tapi jangan gunakan botol-botol air di sisi kiri kulkas mini di luar tenda. Itu semua beracun.” Hal. 129

Secara keseluruhan, Sang Ahli Kimia aman bagi pembaca karya Stephenie Meyer yang mengaguminya karena serial Twilight. Di sini ia masih menjadi dirinya sendiri, gaya penulisannya tidak banyak berubah. Masih memanjakan penggemarnya dengan roman, detail yang sangat rapi, dan alur yang lambat. Usahanya untuk menulis cerita detektif tidak bisa dikatakan seratus persen berhasil tetapi juga tidak bisa dikategorikan gagal. Secara personal, saya ditarik oleh karakter Kevin sang ‘pembuat onar’ yang justru membuat novel jadi terasa hidup.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s