Dilarang Bersuara

*

“Mas, itu kenapa tokoh utama laki-lakinya malah sembunyi, bukannya balas dendam?”

Kursi studio 1 malam itu terisi hampir seluruhnya dan Bob tidak mau menjadi sasaran kekesalan penonton lain karena keributan yang dibuat oleh perempuan yang duduk di sebelah kirinya. Bob memintanya untuk tidak bersuara, “Sssttt…”

“Tapi itu penjahat perempuannya sudah tahu di mana dia bersembunyi.”

Dua orang di sebelah kiri Andrea, juga Luna—perempuan yang duduk di sebelah kanan Bob, serentak menoleh ke arah Andrea.

“Mbak, berisik banget sih.” Kata Luna kepada Andrea. “Mas, bukannya dia nonton sendiri, ya. Kok nanya-nanyanya ke kamu? Huh!” Luna berbisik sambil menggamit lengan Bob, kekasihnya.

 

***

 

*) Ditulis untuk #FFRabu – Monday Flash Fiction dengan topik FILM
**) 100 kata tidak termasuk judul dan catatan kaki

Advertisements

Pelajaran Pertama Tentang Perempuan

Aku menemukan satu buket mawar merah di atas meja kayu di beranda rumah, dan pikiranku langsung tertuju pada laki-laki bertubuh tegap dengan tatapan mata seteduh langit pukul 6.30 pagi. Kamu, tentu saja. Seandainya kamu menyerahkan bunga ini secara langsung, dengan senyummu yang bagiku kaku tapi lucu, kamu akan berkata. “Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Kamu masih tidak romantis, tentu saja. Dan sekadar mengingatkan, bahwa kata-kata itu tidak datang dari inisiatifmu, melainkan aku. Dua bulan sejak kita memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tak sengaja aku menyeletuk karena sebuah adegan ketika kita menonton film drama pilihanku, “Sudah lama, nih, aku tak merasakan diberi bunga.”

Itu bukan sengaja.  Sungguh. Kalimat itu terucapkan begitu saja. Meski orang bilang yang terucapkan secara tak sengaja adalah sebenar-benarnya isi hati, tapi untuk yang satu itu aku berani bertaruh tak ada keinginanku untuk membuatmu melakukan apa yang aku katakan. Dan ketika kamu datang dengan satu buket bunga mawar di tangan, mengenakan kemejamu yang paling aku suka, pada malam ketika bulan  bulat sempurna dan bintang-bintang sewarna perak, mau tak mau aku merasa malu. Terima kasih, ya.

“Ini pasti gara-gara celetukanku, ya.” Kataku ketika itu.

“Sejujurnya, iya.” Kamu menunduk, menyembunyikan senyum kaku yang aku suka itu.

“Cuma bunga, nih? Nggak ada kata-kata apa gitu?” Dasar perempuan yang tak pernah merasa puas. Aku tertawa dalam hati. Gemar membuatmu kikuk.

“Kamu mau apa?”

“Kata-kata romantis apa gitu.”

Kamu diam, tentu saja. Setelah aku mengajarimu bagaimana caranya mendekati perempuan—yang kemudian malah kamu praktikkan padaku, aku juga harus mulai mengajarimu bagaimana membuat perempuan merasa tersanjung dan diperhatikan. Dan entah aku yang terlalu pandai mengajari atau kamu yang terlalu tekun belajar. Kata-kata yang aku ucapkan sebagai candaan, kamu anggap sebaliknya. Aku bisa membayangkan ketika kamu mendatangi toko bunga dan tergagap mengatakan hendak membeli satu buket bunga. Apa kamu bertanya pada mereka mengenai bunga apa yang cocok untuk diberikan kepada kekasihmu? Kalau iya, pastinya mereka bertanya lebih lanjut. Misalnya, tentang apakah kamu sedang merayakan momen tertentu bersama kekasihmu. Kamu akan menjawab dengan gelengan kepala. Dan untuk menghindari mereka mengajukan pertanyaan lain—karena kamu pasti tak tahu harus menjawab apa, kamu menyebut ‘mawar’ dengan cepat. Bunga sejuta umat.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.” Kataku.

Kamu menatapku dengan kening berkerut. Secangkir kopi sudah tersaji di antara kita, di meja kayu yang memisahkan dua kursi di beranda rumah ini. Aromanya sejenak mengalahkan aroma parfummu yang aku cium ketika kamu mengecup pipiku.

“Itu kata-kata yang perempuan suka. Agak terdengar gombal, sih. Tetapi perempuan suka juga digombali sesekali. Tugasmu adalah belajar mengucapkannya dengan tulus.”

Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal, dan kamu berhasil melewati pertama kalinya memberiku bunga. Pantas dirayakan. Karena setiap keberhasilan, sekecil apa pun, harus dirayakan. Apa yang ingin kamu lakukan sebagai perayaan? Aku akan menemani apa pun yang kamu mau. Asal jangan mengajakku duduk berjam-jam di perpustakaan untuk membaca. Kamu tahu, aku tak tahan berada di perpustakaan. Aku membaca sesekali, tetapi tak pernah di perpustakaan. Lagipula, apa sih yang menarik dari perpustakaan? Kuno. Lebih baik mengambil tikar, menyiapkan bekal, lalu pergi ke taman kota, danau atau pantai. Membaca akan terasa lebih menyenangkan bila dilakukan di luar ruangan.

Ternyata kamu mengajakku makan malam. Syukurlah. Makan malam jauh lebih baik daripada membaca, di luar ruangan sekalipun.

“Mau makan apa?”

“Terserah.”

“Apa yang harus laki-laki lakukan ketika perempuannya menjawab ‘terserah’?”

Aku hendak marah karena menganggapmu tak peka. Tetapi melihat wajah seriusmu, aku menyadari bahwa kamu hendak belajar satu hal lagi tentang perempuan. Untuk mata pelajaran yang ini, aku menyerah. Jangankan laki-laki, perempuan yang sering mengatakan terserah terkadang tak tahu apa yang ia maksud dengan itu. Barangkali terserah adalah sahabat karib perempuan. Sahabat karib, sahabat baik. Terserah bisa digunakan untuk menutupi keraguan yang ada pada perempuan, sekaligus sebagai ajang untuk menguji pasangannya. Menguji apa? Entahlah. Di lain waktu, terserah bisa digunakan untuk mencari gara-gara. Kamu harus tahu, perempuan juga suka cari gara-gara.

“Ketika perempuan menjawab dengan terserah, sebenarnya ia sudah memiliki beberapa pilihan. Tugas laki-laki adalah menebak pilihan-pilihan tersebut lalu memutuskan satu di antaranya.”

Kamu menggumam.

“Tenang saja, sangat sedikit laki-laki yang bisa memutuskan dengan benar.”

“Jadi?”

“Jadi terima saja apa yang akan terjadi setelah kata terserah.”

Kamu mendesah. “Jadi, malam ini kamu mau makan apa?”

Giliranku mendesah. Baiklah.

“Udang bakar madu di Seafood Hall.”

*

Setelah buket bunga mawar pertama itu, aku menerima beberapa buket lagi di kemudian hari. Apabila kamu memberikannya secara langsung, kalimat itu tak pernah lupa terucap.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Awalnya memang terdengar agak kaku, tapi lama kelamaan tidak lagi. Entah karena terbiasa, entah hanya ingin membuatku bahagia. Tapi kali lain ketika kamu menyerahkannya melalui tangan orang lain, seperti hari ini, aku toh tersenyum juga membaca kalimat itu pada sebuah kartu. Tulisan tanganmu sendiri. Sembari membayangkan kamu ketika menuliskannya. Barangkali jemari itu gemetar karena takut salah menulis namaku, atau takut kebohonganmu akan terbaca karena untuk sekali ini kamu sedang tidak mood mengatakannya. Atau apakah kamu justru lebih nyaman mengungkapkannya melalui tulisan? Untuk yang terakhir, aku benar-benar harus mencari tahu.

Tetapi dari semua hal romantis yang kamu pelajari dan akhirnya kamu lakukan, tetap saja yang lebih romantis adalah tindakan-tindakan spontan. Setidaknya, aku tak pernah ingat mengajarimu hal-hal tertentu. Misalnya, datang ke pikiranku tiba-tiba, mengucapkan rindu pada waktu sembarang, tersenyum pada setiap leluconku, menatapku dengan serius ketika aku bercerita, menjemputku di bandara atau stasiun lalu memelukku pada kesempatan pertama—aku bisa merasakan tatapan orang-orang yang tidak terbiasa melihat kemesraan semacam itu dan selalu kukatakan dalam hati bahwa sebenarnya mereka pun ingin diperlakukan sama.

Ada banyak hal baru yang kamu tahu, dan ada banyak hal lain yang kamu lakukan tanpa tahu bahwa itu adalah tindakan yang baik. Sesekali perbuatanmu membuatku merenung mengapa hal-hal itu tak pernah terpikirkan olehku. Setiap kali kamu membuatku merasa nyaman, aku bersyukur sekaligus  merasa berkewajiban untuk membuatmu merasakan apa yang aku rasakan di lain kesempatan. Tidak banyak perempuan yang mempunyai laki-laki sebaik kamu. Selain itu, bukankah hubungan yang baik adalah hubungan yang saling.

Hari semakin gelap tetapi aku belum beranjak dari beranda. Langit hampir kehilangan jingga, dan aku membayangkan kamu berada di pesawat yang sedang terbang menuju Bali. Bali. Tempat yang aku inginkan untuk kita datangi bersama tetapi hingga saat ini belum terwujud. Entah kamu yang sibuk, entah aku yang mendadak dipanggil untuk mengerjakan sesuatu yang mendesak. Aku kembali justru ketika kamu sedang pergi. Dan setiap kali aku pulang dan menemukan rumah dalam keadaan kosong, rasanya ingin pergi lagi dan kembali nanti ketika kamu pun sudah kembali.

Berapa lama kamu di Bali? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Tak apa pergi lama, asal jangan lupa pulang. Karena ketika kamu kembali nanti, hal pertama yang akan kita lakukan adalah mengganti setiap detik yang kita lalui tanpa satu sama lain. Aku akan mendengarkan ceritamu tentang Bali sesuai yang kamu tahu dan sebaliknya, aku juga menceritakan tentang Bali dari kacamataku. Tidak ada bahasan mengenai politik, kebijakan pemerintah, perang di belahan bumi sana, atau topik-topik lain yang ramai dibicarakan para pengamat dadakan itu. Kenapa? Karena topik itu terlalu besar untuk dunia kecil yang hanya berisi kita.

Aku akan melihat lagi senyummu yang kaku dan malu-malu itu. Dan aku akan membuatmu tertawa dengan menceritakan lagi lelucon yang kamu suka. Lelucon yang tak pernah kehilangan kelucuannya meski diceritakan berulang-ulang. Bila pasangan kekasih lainnya berpelukan untuk meredakan tangis, maka kita berpelukan ketika sama-sama tertawa. Katamu, energi yang timbul pada saat kita tertawa tak boleh ke mana-mana. Harus kita simpan dalam diri satu sama lain melalui pelukan. Dari mana kamu mempelajari gombalan seperti itu?

Ah, betapa sempurnanya. Dan setiap kali memikirkan konsep tentang kamu, aku berpura-pura lupa bahwa yang sempurna hanya ada di kepala dan di beranda ini tak ada apa-apa.

***

4 Musim Cinta: Sebuah Kolaborasi

image3

Ada kabar gembira!!! 😀

Draft novel kolaborasi dari program Antologi Perbendaharaan itu akhirnya menemukan jodoh( penerbit)nya. :’) Terima kasih kepada penerbit Exchange (satu grup dengan penerbit Dolphin) yang telah menerima naskah kami dengan baik, lalu menyunting, membuatkan cover, serta segala proses yang dilakukan sehingga novel yang berjudul 4 Musim Cinta (dulu berjudul Hoffee) tak lama lagi akan bisa dinikmati pembaca di seluruh Indonesia.

Sekilas tentang 4 Musim Cinta. Novel ini adalah novel kolaborasi empat orang birokrat muda bernama Pringadi Abdi Surya, Abdul Gafur, Puguh Hermawan, dan saya (Mandewi). Kolaborasi ini berawal dari lomba menulis yang diadakan dalam rangka satu dekade instansi tempat kami bekerja. Hasil dari lomba tersebut, salah satunya, adalah juri mengajak peraih empat besar (lomba) untuk menulis bersama.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya novel ini rampung dan kami mencoba menawarkan ke beberapa penerbit. Ternyata naskah ini berjodoh dengan penerbit Exchange. Sekali lagi, terima kasih. ❤

Dalam waktu dekat, 4 Musim Cinta akan beredar di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Tetapi bagi kalian yang mau mendapatkan novel ini lebih cepat (plus tanda tangan keempat penulisnya!), kami membuka pre-order (PO) dengan detail sebagai berikut:

1. PO dibuka hingga tanggal 12 Maret 2015.
2. Di toko buku, 4 Musim Cinta akan dihargai Rp 59.500,- tetapi selama periode PO, kalian cukup membayar Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
3. Silakan melakukan pemesanan melalui salah satu dari keempat penulis: @pringadi_as, @daenggafur, @hermawanpuguh, atau saya @mandewi.
4. Buku akan ada di tangan kami pertengahan Maret dan akan dikirim kepada pemesan segera setelahnya.

*

Sebagai gambaran, detail buku adalah sebagai berikut:

image1 Judul: 4 Musim Cinta
Penulis: Abdul Gafur, Pringadi AS, Puguh Hermawan, Mandewi
Penerbit: Exchange
Tahun Terbit: Maret 2015
Jumlah Halaman: 333
ISBN: 9786027202429

Blurb:

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

*

4 Musim Cinta juga sudah terdaftar di Goodreads dan kami sangat mengharapkan kesediaan kalian untuk memberi rating. Berikut tautannya:

4 Musim Cinta di Goodreads

Ayo, ikut PO dan jadi yang pertama membaca serta memberikan komentar. \m/

***