Lima Hal yang Membuat Saya Rindu Malang

Ada beberapa kegiatan lapangan yang membuka kesempatan bagi para pegawai di tempat saya bekerja untuk bepergian ke kota-kota di Indonesia. Saya termasuk yang pernah mendapat kesempatan semacam itu. Setelah pekerjaan selesai dan memang masih ada waktu sebelum kembali ke Jakarta, mengapa tidak menikmati sejenak suasana kota(-kota) tersebut?

Pada suatu hari, urusan pekerjaan membawa saya ke Malang. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi Malang karena dulu, saya pernah singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan  ke Bromo pada malam harinya. Siang hari waktu itu saya habiskan untuk berwisata kuliner di dalam kota dan memetik apel di sebuah lokasi agrowisata. Itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Sedangkan yang saya tuliskan berikut ini merupakan catatan kecil mengenai kali kedua saya mengunjungi Malang beberapa waktu lalu. Dengan waktu yang singkat, saya berusaha memaksimalkan pengalaman dengan mengunjungi beberapa tempat esensial di kota Malang. Apa saja tempat yang saya maksud? Yuk, simak.

1. D’Fresh Guest House
Karena kali itu saya ke Malang dengan alasan pekerjaan, maka saya memilih tempat menginap yang dekat lokasi kegiatan. Pilihan saya jatuh ke D’Fresh Guest House yang terletak di Jl. Candi Trowulan No. 12, hanya lima menit dari lokasi kegiatan bila menggunakan motor. Guest house ini menyenangkan. Asri karena ada taman kecil di lantai satu dilengkapi dengan kursi kayu untuk duduk-duduk santai. Di sebelah taman tersebut, menyatu dengan lobi, ada restoran/coffee shop yang buka 24 jam. Penting, nih. Pertolongan pertama pada kelaparan. Dengan fasilitas selengkap ini, D’Fresh Guest House bisa jadi tempat yang pas untuk sekadar staycation. Oya, di lantai teratas tempat ini, ada sky garden resto yang di waktu-waktu tertentu ada live music juga.

D'Fresh Guest House

img_3049

D'fresh guest house wall

D'Fresh Guest House Resto

2. Java Dancer Coffee
Wisata kota yang asyik tentu saja yang terkait kuliner. Setelah browsing dengan kata kunci ‘best coffeeshops in Malang’, muncul nama Java Dancer Coffee di urutan pertama. Sesuai namanya, warung kopi yang terletak di Jl. Kahuripan No. 12 ini bernuansa Jawa banget, terutama karena banyak menyertakan tokoh-tokoh pewayangan sebagai ornamen. Meski bernuansa tradisional, tempat ini memiliki pilihan menu makanan internasional seperti piza dan pasta. Kalau menu kopi, ya, jangan ditanya. Biji kopi kualitas terbaik dari berbagai wilayah di Indonesia dengan beragam pilihan cara penyajian akan memuaskan para pencinta kopi. Adapun yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan tidak mendapatkan kursi kosong di jam-jam tertentu karena memang Java Dancer Coffee merupakan salah satu tempat nongkrong yang hits di Malang.

Java Dancer

Java Dancer

3. Vosco Coffee
Masih terkait best coffeeshops in Malang, muncul juga nama Vosco di hasil pencarian. Kebetulan letaknya sangat dekat dengan D’Fresh Guest House, jadi sebelum balik ke hotel, mampir dulu sejenak untuk mencoba piccolo latte. Kalau tidak mempertimbangkan harus berangkat ke bandara esok paginya, saya akan duduk di sana lebih lama karena tempat yang memang nyaman, berdekorasi vintage dengan barang-barang tua yang jadi pajangan, nasi goreng yang enak, pun piccolo latte-nya.

piccolo latte vosco

4. Alun-alun Malang
Ini tempat yang wajib banget dikunjungi di kota Malang apalagi dengan penampilan barunya yang lebih segar. Alun-alun Malang terasa playful dengan warna warni ceria di beberapa titik, gambar tokoh-tokoh superhero yang bisa jadi latar swafoto, juga air mancur yang menari ketika malam persis di tengah alun-alun. Di sekelilingnya juga lengkap dengan berbagai fasilitas seperti Masjid Jami yang merupakan kebanggaan orang Malang, pusat pertokoan, serta restoran/pusat jajanan yang layak dicoba. Alun-alun Malang ini bisa jadi tempat favorit untuk duduk-duduk bodo sepanjang sore sampai malam.

alun alun malang

masjid jami malang

fullsizerender-2

alun alun malang

5. Toko Oen
Kalau sudah sampai di Alun-alun Malang, maka jangan sampai melewatkan  menikmati es krim jadul di Toko Oen yang terletak sangat dekat dengan Alun-alun Malang. Hanya lima menit berjalan kaki maka kita akan sampai di bangunan tua bertuliskan Toko “OEN” berwarna hijau. Bagian dalam bangunan Toko Oen bernuansa jadul dengan langit-langit tinggi dan kursi rotan yang rendah mengelilingi meja bundar bertaplak meja kotak-kotak. Selain es krim, Toko Oen juga menyediakan pilihan menu makanan, tapi saya datang ke sana untuk es krimnya maka saya memilih untuk memesan banana split dan Oen’s special. Tidak jauh berbeda dengan es krim jadul lainnya seperti Ragusa di Jakarta Pusat, es krim di sini juga segar, tidak terlalu halus, dan tidak terlalu manis. Dua menu es krim tadi sesuai dengan selera saya. Jangan lupa mencobanya jika kalian datang ke sini, ya!

toko oen

banana split toko oen

oen's special toko oen

__

Nah, itu tadi lima hal yang bikin saya pengin balik ke Malang. Tentu saja kunjungan saya berikutnya harus lebih lama agar bisa mengunjungi tempat-tempat asyik lainnya. Kalau kalian berencana ke Malang, dari lima hal di atas, Java Dancer Coffee, Alun-alun Malang, dan Toko Oen adalah yang paling tidak boleh dilewatkan.

WELKOM IN MALANG!

***

Selamat Datang di Pulau Pahawang

Itinerary yang ditawarkan adalah ini:

08.30-09.00 kumpul di dermaga Ketapang & persiapan berlayar
09.00-09.20 menuju spot gosong klagian
09.20-10.30 sampai dan snorkling
10.30-10.40 menuju pulau klagian
10.40-11.20 Hunting foto & bermain pantai
11.20-12.00 menuju tempat makan
12.00-13.00 Makan Siang
13.00-13.30 menuju jalarangan pahawang besar
13.30-14.00 hunting foto di jalarangan
14.00-14.15 menuju taman nemo
14.15-14.45 Snorkling ditanam nemo
14.45-14.50 menuju siger pahawang
14.50-15.30 Snorkling di siger pahawang
15.30-15.45 Menuju Pasir timbul pahawang kecil
15.45-16.15 hunting foto di pahawang kecil
16.15-16.45 menuju dermaga
16.45 sampai dermaga

Mari kita lihat bagaimana realisasinya piknik. \m/

*121

Berhubung saya membayar Rp140.000 hanya untuk trip satu hari di Pahawang, maka perjalanan dari Jakarta ke Dermaga Ketapang kami atur sendiri. Waktu itu musim liburan, akhir pekan panjang tanggal 4-5 Mei 2016. Beberapa hari sebelumnya, kami sudah beredar di Stasiun Gambir untuk beli tiket bus damri ke Lampung. Ternyata jadwal keberangkatan tanggal 4 Mei 2016 pukul 19.00 WIB sudah habis, jadilah kami beli tiket bus yang berangkat pukul 21.00 WIB. Perjalanan cenderung lancar, kami tiba di Bakauheni pukul 04.30 WIB.

Menjelang tiba di Bakauheni, sempat bertanya-tanya juga kepada kondektur bus damri mengenai rekomendasi transportasi menuju Dermaga Ketapang. Ada pilihan ngeteng alias sambung menyambung angkot dan ini memakan waktu lama karena angkotnya akan ngetem, ada juga pilihan sewa angkot untuk mengantar kita langsung ke Dermaga Ketapang. Menurut kondektur, perkiraan tarif sewa angkot adalah sekitar Rp200.000 lama perjalanan satu setengah jam. Coba tawar saja, katanya.

Akhirnya kami turun di daerah Panjang (belum jauh dari Bakauheni), tempat yang katanya tepat untuk menunggu angkot kalau mau sewa. Tawar-menawar, sepakatlah harga Rp150.000 per angkot. Lama perjalanan? Setengah jam lebih sedikit. Dekat ternyata.

Selamat datang di Dermaga 4 Dermaga Ketapang.

Agak mendung, angin lumayan kencang. Aaaah…

Titik snorkeling pertama adalah … entahlah. Kami ini memang agak nggak peduli dengan nama tempat, yang penting nyebur. Tapi kalau nggak salah ini masih sesuai itinerary, sih, jadi ini adalah spot gosong klagian. Pemandangan bawah lautnya lumayan, ikannya banyak dan berwarna-warni. Seru kalau kita bawa makanan kering untuk menarik ikan-ikan itu mendekat. Tapi entah faktor cuaca atau apa, air lautnya kurang jernih. Bawah laut yang sebenarnya bagus, jadi terasa kurang mengesankan.

Puas nyebur di titik pertama, berikutnya kami diajak main ke Pulau  Kelagian Lunik. Ini favorit saya. ❤ Pulaunya kecil dan bisa dikelilingi saat itu juga. Di sisi lain (dari tempat berlabuh), pantainya bagus, berbatu. Ketidakteraturan yang indah. Halah. Ada juga gazebo buat duduk-duduk bodo. Seandainya nanti main ke Pahawang lagi, saya akan ke pulau ini dan menghabiskan waktu lebih banyak di sini.

131

150

165

Selanjutnya kami pindah pulau untuk makan siang, ke pulau yang ada plang nama Pahawang Island ini. Pulau apa deh ini? Entahlah, yang penting bergaya. Yha!

IMG_6739

189

Titik berikutnya? Entah taman nemo, entah siger pahawang. Kayaknya yang kedua. Di sini, lebih berwarna dibandingkan dengan titik pertama. Plus di bawah laut, ada batu bertuliskan Pulau Pahawang Wisataku yang terkenal dan jadi lokasi wajib untuk foto-foto!

BPRO0002

BPRO0050

Setelah snorkeling kedua, kami main ke pulau lain lagi. Namanya pasir timbul. Pulaunya kecil tapi bagus. Sebelum lupa, pose lompat dulu bareng (sebagian) rombongan~~

222
IMG_6792

Cuaca mendung bikin jalan-jalan terasa kurang maksimal, plus karena ada anggota rombongan yang minta langsung balik ke Dermaga Ketapang padahal mestinya masih ada jadwal snorkeling di satu titik lagi. Yaah, ya sudah lah ya. Yang penting sudah pernah menginjakkan kaki di Pahawang dan sudah pernah merasakan nyelam seperti foto di bawah ini (padahal aslinya nggak bisa berenang apalagi nyelam jadi takut setengah mati ketika melakukan aksi ini, tapi tim Ademaro sangat membantu dan mereka benar-benar motivator yang hebat). Betapa ya, sebuah pencapaian banget! Haha!

PICT0122

*

Lokasi: Pulau Pahawang – Lampung

Opentrip (Y/N): Yes, and no. :))

Tanggal: 4-6 Mei 2016

Biaya:
Opentrip untuk snorkeling Pahawang bersama Ademaro Traveling: Rp 140.000 (sudah termasuk alat snorkeling). Itinerary ada di awal tulisan ini.
Jakarta – Bakauheni: bus damri (bisnis) Rp175.000 per orang
Bakauheni – Dermaga Ketapang: sewa angkot Rp 150.000 per angkot (bagi tiga, nih)
Dermaga Ketapang – Lampung: ngeteng (2x angkot) total Rp 20.000 per orang
Lampung – Jakarta: bus damri (eksekutif) Rp 200.000 per orang

Kesan: Pahawang, oke. Ngetrip sama Ademaro menyenangkan. Mereka bisa diajak diskusi tentang akses menuju Dermaga Ketapang. Sebenarnya mereka juga menyediakan jasa penjemputan di Bakauheni, jadi kita nggak perlu sibuk sewa angkot segala tapi waktu itu kami terlambat book jadi travel penjemputannya sudah penuh. Mereka juga bisa diajak diskusi mengenai wisata lain di Lampung. Nanti kalau ke Kiluan, pasti akan sama mereka lagi.

***

Mengejar Matahari Terbit di Puncak Sikunir

Melanjutkan cerita tentang Dataran Tinggi Dieng yang tak ada habisnya, satu lagi spot wajib untuk dikunjungi di kawasan Dieng adalah Puncak Sikunir. Dari sini, kita akan bisa melihat matahari terbit yang cantik banget dan terkenal dengan sebutan golden sunriseLove!

Perjuangan mencari keindahan ini dimulai sejak pukul 3 pagi ketika kami dibangunkan untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian, kami berangkat menuju titik mula pendakian. Jarak antara penginapan dengan titik mula pendakian cukup dekat, hanya sekitar 15 menit dengan mobil sewaan kami. Kepagian! Tapi kami tidak sendirian, banyak kelompok lain yang ternyata sudah berdatangan.

Tak jauh dari tempat parkir, terdapat suatu tanah lapang (ada danau juga) yang penuh dengan tenda. Rupanya berkemah di pinggir danau di kawasan ini menjadi salah satu alternatif untuk menikmati Sikunir dengan cara yang berbeda.

Mendadak membayangkan tiduran di pinggir danau sambil memandangi langit malam penuh bintang. Hmm, bisa nih dicoba di kesempatan lain.

Awalnya saya pikir pendakian menuju Puncak Sikunir ini akan penuh dengan hutan, bebatuan, sungai kecil, tanjakan-tanjakan tajam. Ternyata banyak bagian jalan yang sudah dipermudah dengan tangga batu/beton lengkap dengan tiang di pinggiran untuk berpegangan. Ada, sih, bagian-bagian yang masih alami tapi tidak banyak. Dengan segala kemudahan jalur pendakian tersebut, diri ini tetap saja ngos-ngosan.

538

Saingannya banyak banget! Semuanya ingin mendapat spot terbaik untuk mengabadikan pengalaman ini.

548

Ketika matahari sudah cukup tinggi tetapi belum ingin segera turun, kita bisa duduk-duduk sejenak sambil ngeteh/ngopi pagi, ngemil, dan ngobrol dengan bapak pedagang. Katanya, Puncak Sikunir pertama kali dipertimbangkan untuk menjadi tempat wisata setelah pendaki Perancis berkunjung ke sini, sekitar tahun 80an. Informasi lain dari bapak pedagang, puncak yang mainstream dikunjungi orang (ya, yang kami datangi) bukanlah puncak terbaik untuk melihat matahari terbit. Ada puncak lain yang jarang diketahui wisatawan tetapi menawarkan pemandangan yang lebih oke. Hmm…

570

Perjalanan turun ketika langit sudah terang, membuat kita menyadari jalur yang kita lalui pagi tadi. Begini, nih:

596

599

610

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, sembari menikmati menyatu dengan alam kita juga diingatkan untuk senantiasa mempertahankan sifat baik dalam diri melalui kalimat-kalimat bijak yang tersebar di sepanjang jalur pendakian. Sebagai contoh, kalimat milik Gus Mus berikut ini:

“Sambutlah pagi dengan menyalami matahari, menyapa burung-burung, dan tersenyum pada bunga-bunga atau mendoakan kekasih. Jangan awali harimu dengan melaknati langit.”

Yha!

589

602

606

607

Mendadak pengin sembahyang dan mengaku dosa nggak, sih?

***