Selamat Datang di Pulau Pahawang

Itinerary yang ditawarkan adalah ini:

08.30-09.00 kumpul di dermaga Ketapang & persiapan berlayar
09.00-09.20 menuju spot gosong klagian
09.20-10.30 sampai dan snorkling
10.30-10.40 menuju pulau klagian
10.40-11.20 Hunting foto & bermain pantai
11.20-12.00 menuju tempat makan
12.00-13.00 Makan Siang
13.00-13.30 menuju jalarangan pahawang besar
13.30-14.00 hunting foto di jalarangan
14.00-14.15 menuju taman nemo
14.15-14.45 Snorkling ditanam nemo
14.45-14.50 menuju siger pahawang
14.50-15.30 Snorkling di siger pahawang
15.30-15.45 Menuju Pasir timbul pahawang kecil
15.45-16.15 hunting foto di pahawang kecil
16.15-16.45 menuju dermaga
16.45 sampai dermaga

Mari kita lihat bagaimana realisasinya piknik. \m/

*121

Berhubung saya membayar Rp140.000 hanya untuk trip satu hari di Pahawang, maka perjalanan dari Jakarta ke Dermaga Ketapang kami atur sendiri. Waktu itu musim liburan, akhir pekan panjang tanggal 4-5 Mei 2016. Beberapa hari sebelumnya, kami sudah beredar di Stasiun Gambir untuk beli tiket bus damri ke Lampung. Ternyata jadwal keberangkatan tanggal 4 Mei 2016 pukul 19.00 WIB sudah habis, jadilah kami beli tiket bus yang berangkat pukul 21.00 WIB. Perjalanan cenderung lancar, kami tiba di Bakauheni pukul 04.30 WIB.

Menjelang tiba di Bakauheni, sempat bertanya-tanya juga kepada kondektur bus damri mengenai rekomendasi transportasi menuju Dermaga Ketapang. Ada pilihan ngeteng alias sambung menyambung angkot dan ini memakan waktu lama karena angkotnya akan ngetem, ada juga pilihan sewa angkot untuk mengantar kita langsung ke Dermaga Ketapang. Menurut kondektur, perkiraan tarif sewa angkot adalah sekitar Rp200.000 lama perjalanan satu setengah jam. Coba tawar saja, katanya.

Akhirnya kami turun di daerah Panjang (belum jauh dari Bakauheni), tempat yang katanya tepat untuk menunggu angkot kalau mau sewa. Tawar-menawar, sepakatlah harga Rp150.000 per angkot. Lama perjalanan? Setengah jam lebih sedikit. Dekat ternyata.

Selamat datang di Dermaga 4 Dermaga Ketapang.

Agak mendung, angin lumayan kencang. Aaaah…

Titik snorkeling pertama adalah … entahlah. Kami ini memang agak nggak peduli dengan nama tempat, yang penting nyebur. Tapi kalau nggak salah ini masih sesuai itinerary, sih, jadi ini adalah spot gosong klagian. Pemandangan bawah lautnya lumayan, ikannya banyak dan berwarna-warni. Seru kalau kita bawa makanan kering untuk menarik ikan-ikan itu mendekat. Tapi entah faktor cuaca atau apa, air lautnya kurang jernih. Bawah laut yang sebenarnya bagus, jadi terasa kurang mengesankan.

Puas nyebur di titik pertama, berikutnya kami diajak main ke Pulau  Kelagian Lunik. Ini favorit saya. ❤ Pulaunya kecil dan bisa dikelilingi saat itu juga. Di sisi lain (dari tempat berlabuh), pantainya bagus, berbatu. Ketidakteraturan yang indah. Halah. Ada juga gazebo buat duduk-duduk bodo. Seandainya nanti main ke Pahawang lagi, saya akan ke pulau ini dan menghabiskan waktu lebih banyak di sini.

131

150

165

Selanjutnya kami pindah pulau untuk makan siang, ke pulau yang ada plang nama Pahawang Island ini. Pulau apa deh ini? Entahlah, yang penting bergaya. Yha!

IMG_6739

189

Titik berikutnya? Entah taman nemo, entah siger pahawang. Kayaknya yang kedua. Di sini, lebih berwarna dibandingkan dengan titik pertama. Plus di bawah laut, ada batu bertuliskan Pulau Pahawang Wisataku yang terkenal dan jadi lokasi wajib untuk foto-foto!

BPRO0002

BPRO0050

Setelah snorkeling kedua, kami main ke pulau lain lagi. Namanya pasir timbul. Pulaunya kecil tapi bagus. Sebelum lupa, pose lompat dulu bareng (sebagian) rombongan~~

222
IMG_6792

Cuaca mendung bikin jalan-jalan terasa kurang maksimal, plus karena ada anggota rombongan yang minta langsung balik ke Dermaga Ketapang padahal mestinya masih ada jadwal snorkeling di satu titik lagi. Yaah, ya sudah lah ya. Yang penting sudah pernah menginjakkan kaki di Pahawang dan sudah pernah merasakan nyelam seperti foto di bawah ini (padahal aslinya nggak bisa berenang apalagi nyelam jadi takut setengah mati ketika melakukan aksi ini, tapi tim Ademaro sangat membantu dan mereka benar-benar motivator yang hebat). Betapa ya, sebuah pencapaian banget! Haha!

PICT0122

*

Lokasi: Pulau Pahawang – Lampung

Opentrip (Y/N): Yes, and no. :))

Tanggal: 4-6 Mei 2016

Biaya:
Opentrip untuk snorkeling Pahawang bersama Ademaro Traveling: Rp 140.000 (sudah termasuk alat snorkeling). Itinerary ada di awal tulisan ini.
Jakarta – Bakauheni: bus damri (bisnis) Rp175.000 per orang
Bakauheni – Dermaga Ketapang: sewa angkot Rp 150.000 per angkot (bagi tiga, nih)
Dermaga Ketapang – Lampung: ngeteng (2x angkot) total Rp 20.000 per orang
Lampung – Jakarta: bus damri (eksekutif) Rp 200.000 per orang

Kesan: Pahawang, oke. Ngetrip sama Ademaro menyenangkan. Mereka bisa diajak diskusi tentang akses menuju Dermaga Ketapang. Sebenarnya mereka juga menyediakan jasa penjemputan di Bakauheni, jadi kita nggak perlu sibuk sewa angkot segala tapi waktu itu kami terlambat book jadi travel penjemputannya sudah penuh. Mereka juga bisa diajak diskusi mengenai wisata lain di Lampung. Nanti kalau ke Kiluan, pasti akan sama mereka lagi.

***

Advertisements

Mengejar Matahari Terbit di Puncak Sikunir

Melanjutkan cerita tentang Dataran Tinggi Dieng yang tak ada habisnya, satu lagi spot wajib untuk dikunjungi di kawasan Dieng adalah Puncak Sikunir. Dari sini, kita akan bisa melihat matahari terbit yang cantik banget dan terkenal dengan sebutan golden sunriseLove!

Perjuangan mencari keindahan ini dimulai sejak pukul 3 pagi ketika kami dibangunkan untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian, kami berangkat menuju titik mula pendakian. Jarak antara penginapan dengan titik mula pendakian cukup dekat, hanya sekitar 15 menit dengan mobil sewaan kami. Kepagian! Tapi kami tidak sendirian, banyak kelompok lain yang ternyata sudah berdatangan.

Tak jauh dari tempat parkir, terdapat suatu tanah lapang (ada danau juga) yang penuh dengan tenda. Rupanya berkemah di pinggir danau di kawasan ini menjadi salah satu alternatif untuk menikmati Sikunir dengan cara yang berbeda.

Mendadak membayangkan tiduran di pinggir danau sambil memandangi langit malam penuh bintang. Hmm, bisa nih dicoba di kesempatan lain.

Awalnya saya pikir pendakian menuju Puncak Sikunir ini akan penuh dengan hutan, bebatuan, sungai kecil, tanjakan-tanjakan tajam. Ternyata banyak bagian jalan yang sudah dipermudah dengan tangga batu/beton lengkap dengan tiang di pinggiran untuk berpegangan. Ada, sih, bagian-bagian yang masih alami tapi tidak banyak. Dengan segala kemudahan jalur pendakian tersebut, diri ini tetap saja ngos-ngosan.

538

Saingannya banyak banget! Semuanya ingin mendapat spot terbaik untuk mengabadikan pengalaman ini.

548

Ketika matahari sudah cukup tinggi tetapi belum ingin segera turun, kita bisa duduk-duduk sejenak sambil ngeteh/ngopi pagi, ngemil, dan ngobrol dengan bapak pedagang. Katanya, Puncak Sikunir pertama kali dipertimbangkan untuk menjadi tempat wisata setelah pendaki Perancis berkunjung ke sini, sekitar tahun 80an. Informasi lain dari bapak pedagang, puncak yang mainstream dikunjungi orang (ya, yang kami datangi) bukanlah puncak terbaik untuk melihat matahari terbit. Ada puncak lain yang jarang diketahui wisatawan tetapi menawarkan pemandangan yang lebih oke. Hmm…

570

Perjalanan turun ketika langit sudah terang, membuat kita menyadari jalur yang kita lalui pagi tadi. Begini, nih:

596

599

610

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, sembari menikmati menyatu dengan alam kita juga diingatkan untuk senantiasa mempertahankan sifat baik dalam diri melalui kalimat-kalimat bijak yang tersebar di sepanjang jalur pendakian. Sebagai contoh, kalimat milik Gus Mus berikut ini:

“Sambutlah pagi dengan menyalami matahari, menyapa burung-burung, dan tersenyum pada bunga-bunga atau mendoakan kekasih. Jangan awali harimu dengan melaknati langit.”

Yha!

589

602

606

607

Mendadak pengin sembahyang dan mengaku dosa nggak, sih?

***

Dataran Tinggi Dieng yang Tak Ada Habisnya

088

Dataran Tinggi Dieng (selanjutnya disebut Dieng) adalah sebuah kawasan, artinya terdapat banyak lokasi wisata yang letaknya berdekatan satu sama lain sehingga rasanya tak ada habisnya menjelajah tempat wisata satu ini. Masuk ke wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Dieng memiliki pesona wisata yang bervariasi mulai dari sumur (Sumur Jalatunda), telaga (Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Merdada, dll), kawah (Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dll), air terjun (Air Terjun Sikarim), gua (Gua Semar, Gua Jaran, dll), candi (Candi Dwarawati, Candi Bima, Candi Arjuna, dll), museum/teater (Museum Kailasa, Dieng Plateau Theater), hingga puncak-puncak gunung yang asyik untuk didaki (Puncak Sikunir, Gunung Sindoro, Gunung Prau, dll).

Lalu dari sekian banyak tempat wisata tersebut, tempat mana saja yang sempat saya datangi?

1. Sumur Jalatunda

Kalau waktu yang kalian miliki terbatas, tempat ini bisa dilewatkan kecuali kalian memiliki harapan yang ingin segera diwujudkan.

Mengapa? Karena Sumur Jalatunda dipercaya dapat mengabulkan permintaan kalian. Caranya, dengan melemparkan batu. Bagi laki-laki, batu harus bisa melewati sumur (menyeberang) sedangkan bagi perempuan, batu haruslah berhasil masuk ke dalam sumur, tentu saja agar keinginan kalian terkabul. Yeay! Batunya didapat dari mana? Tenang, penduduk setempat menyediakan banyak batu yang bisa dibeli dengan harga Rp 500,- per batu. Tertarik mencoba?

126

129

2. Kawah Sikidang

Kawah Sikidang merupakan area luas dengan wangi belerang yang cukup menyengat (tetapi tidak lebih menyengat daripada di Tangkuban Perahu). Pengunjung dianjurkan untuk memakai masker, tapi siapalah saya. Tukang membantah. Halah. Please, jangan ditiru. Bau belerang masih dapat saya tahan, namun asap di sekitar kawah yang lumayan tebal membuat saya gagal melihat ke dasar kawah. Penasaran saja, sih. Lalu dari hasil googling, kawah ini dinamakan Kawah Sikidang karena letak kawahnya yang konon dapat berpindah-pindah layaknya kidang (kijang). Heu?  Bagaimana mungkin? Well, selain bisa berfoto dengan latar bebatuan atau kawah, wisatawan juga bisa berfoto dengan binatang-binatang seperti ular dan burung hantu. Lumayan menghibur. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati jajanan kentang goreng, juga telur yang direbus di kolam-kolam air panas (mendidih) yang tersebar di beberapa titik.

276

162

226

3. Bukit Batu Pandang Ratapan Angin

Ini favorit saya! Dari Bukit Batu Pandang yang terletak bersebelahan dengan Dieng Plateau Theater ini kita bisa menikmati Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas. Pemandangannya cantik banget. ❤ Beberapa titik di kawasan ini juga merupakan tempat yang tepat untuk duduk-duduk bodo menghabiskan waktu. Rasanya saya bisa berlama-lama di sana tanpa melakukan apa-apa. Menuju titik-titik pandang, kita akan melewati perkebunan yang diselingi pohon carica. Untuk keluar dari kawasan itu, kita akan diarahkan untuk melewati perkebunan juga (sisi yang lain) dan silakan menikmati pohon cabe yang gedenya ya ampun ya tuhan. Itu cabe atau paprika, ya?

294

308

354

4. Dieng Plateau Theater

Tempat ini juga bisa dilewatkan, kecuali kalian mau menikmati video yang gambarnya rada anu dan tempat duduk (di dalam teater) yang tak kalah anunya. Untuk informasi yang disampaikan dalam video, coba googling aja.

359

5. Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Ini juga jadi favorit saya dengan alasan yang sama dengan Bukit Batu Pandang. Selain pemandangan yang sangat memanjakan mata, kawasan ini bisa jadi tempat yang asyik untuk duduk-duduk bodo. Buat yang traveling berdua, jalan kaki di kawasan ini sambil gandengan tangan tampaknya romantis. Aw!

373

390

376

399

6. Candi Arjuna

Ada banyak candi di kawasan Dieng tetapi hanya komplek Candi Arjuna yang sempat kami datangi. Itu pun sudah lumayan sore karena ketika kami tiba di sana, Museum Kailasa yang terletak tak jauh dari kawasan ini sudah tutup. Sayang sekali, tak sempat ke museum.

425

454

*

Masih ada puncak Sikunir yang kami datangi untuk menikmati matahari terbit. Menyusul, ya.

*

Lokasi: Dataran Tinggi Dieng

Opentrip (Y/N): Yes, bersama My Permata Wisata

Tanggal: 25 – 27 Maret 2016

Biaya: 499k

Kesan:

  • Kalau ikut opentrip, cenderung tidak ada masalah kecuali waktu yang terbatas. Untuk perjalanan yang lumayan panjang, akan lebih sepadan bila bisa tinggal lebih lama dan menikmati semua tempat wisata yang ada.
  • Tidak ada transportasi umum untuk menjangkau semua tempat wisata. Banyak tempat wisata yang memang letaknya berdekatan tetapi tidak sedekat itu jika dijangkau dengan berjalan kaki. Pilihannya: sewa motor apabila bepergian sendiri, sewa mobil apabila berkelompok.

***