Membicarakan Hukum Karma

Membicarakan hukum karma berarti membicarakan kesalahan yang pernah kita perbuat. Sama halnya dengan membicarakan kondisi sakit yang berarti membicarakan kue-kue manis yang sebelumnya kita habiskan tanpa berpikir panjang. Ada hal-hal yang tadinya kita pikir baik-baik saja, padahal kenyataannya hal-hal tersebut tidak sebaik kelihatannya. Apa yang dulu menutup mata kita dari kesadaran sederhana semacam itu?

Membicarakan hukum karma artinya mengakui bahwa kita lemah. Ada kekuatan di luar diri yang turut mengendalikan kehidupan kita di masa yang akan datang (sebenarnya kita sendiri yang mengendalikan masa depan dari masa lalu, namun seringnya kita lupa atau pura-pura lupa, entah), yang baru kita sadari belakangan. Dan ketika kekuatan itu benar-benar bekerja lalu mengganggu kehidupan kita kini yang sedang baik-baik saja, apa yang lebih baik dilakukan selain belajar menikmatinya?

Membicarakan hukum karma berarti mengetahui bahwa semesta bukannya tidak adil, melainkan hanya sedang melaksanakan tugasnya. Baik untuk yang baik. Buruk untuk yang buruk. Tepat sesuai tempatnya. Tidak ada buah yang tumbuh pada pohon yang salah. Seperti, tidak ada anak kucing yang lahir dari induk yang anjing. Apa yang bisa didebat dari keyakinan yang demikian kuat?

Membicarakan hukum karma berarti diam di tempat, sejenak atau beberapa jenak, lalu berpikir ulang. Menanyakan sesuatu yang mungkin luput di masa lalu tetapi jangan sampai luput di masa sekarang.

Bagian mana dari hukum karma yang belum kita mengerti?

*

Pasrahkan semua kegiatan kerjamu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada sang atman, bebas dari nafsu keinginan dan ke-akuan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu itu.

(Bhagawadgita, III-30)

Advertisements

Tentang #PuisiHore

Sudah sekian lama berlalu dan saya baru membuat riviu. Ragu adalah yang membuat saya takut. Atau sebaliknya, takut yang membuat saya ragu. Takut salah berkata-kata. Ragu karena saya bukan siapa-siapa.

Namun, ucapan terima kasih patut saya sampaikan kepada penggagas event #PuisiHore. Karena pada event ini saya belajar membuat soneta, membuat puisi akrostik (dengan sedikit pemaksaan kata di sana-sini), belajar menerjemahkan lukisan dan menuangkannya dalam satu dua baris puisi.

Ucapan terima kasih lainnya saya sampaikan karena pada event ini, nama saya bisa bersanding dengan master-master puisi di Twitter. Meskipun belum bisa membuat puisi sebagus mereka, tapi saya (boleh kan) merasa bangga(?). 🙂

Lalu apresiasi terbesar terhadap event #PuisiHore saya sampaikan karena event ini adalah event pertama yang membuat saya (akhirnya) menuliskan sesuatu tentang ibu. Terharu. Karena saya selalu merasa kesulitan menyusun serakan kata untuk menggambarkan ibu atau kejadian-kejadian terkait beliau.

Selebihnya, seperti biasa, setiap kali mengikuti event menulis serupa ini, saya merasa bahwa tulisan pertama saya adalah yang paling bagus (menurut penilaian saya sendiri). Semakin lama, semakin kurang bagus. Entah kenapa.

Untuk itu, kiranya para penggagas event #PuisiHore bersedia menyebutkan satu judul puisi saya yang paling kalian suka. Silakan pilih yang paling bagus di antara yang tidak bagus. 🙂

Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih ya!

— Semarang, 291212

Love, Rosie by Cecelia Ahern

I keep thinking that my Romeo is standing on the pavement below my window calling me and throwing stones up to awaken me from my slumber. Then I remember that it’s Saturday night, one o’clock in the morning, the pub has just closed, drunken man are shouting their special order over the counter, and the stones against my window are the rain. But a girl can always dream. (Rosie)

***

Rosie: Is it a date?
Katie: No! I couldn’t date Toby. It’s Toby! We’re just going to catch up.
Rosie: Whatever you say Katie dear.
Katie: Honestly Mum! I couldn’t date Toby, he used to be my best friend, it would be too odd.
Rosie: I don’t see anything wrong with dating your best friend.
Katie: Mum it would be like you dating Alex!

***

Dear, Rosie
Today I love you more than ever, tomorrow I will love you even more. I need you more than ever, I want you more than ever. I’m a man of fifty years of age coming to you, feeling like a teenager in love, asking you to give me a chance and love me back.
All my love,
Alex

***

Potongan percakapan diatas saya ambil dari sebuah novel karya Cecelia Ahern yang berjudul Love, Rosie. Temanya masih seputar cinta. Tapi kali ini tentang cinta yang tak disadari oleh si pemilik hati. Walaupun Alex dan Rosie adalah sahabat karib sejak kecil, tapi mereka tak pernah menyadari perasaan cinta tersebut sampe mereka dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Dituturkan melalui percakapan instant messaging, email, surat (konvensional) dan kartu ucapan, novel ini menjadi menarik karena melibatkan juga ikatan kekeluargaan yang sangat erat.

Bagi para wanita, khususnya, yang menikmati membaca cerita cinta, kemungkinan besar akan menyukai jalinan cerita dalam novel ini.

Selamat membaca.

🙂