Kenapa Kalian Harus Menonton Konser [Silampukau dan Barasuara]

*

Tinggal di Jakarta, kota yang katanya tidak pernah mati padahal jam 10 mall sudah pada tutup, banyak untungnya bagi penyuka musik. Kota ini tidak pernah kekurangan event. Tidak di hari kerja, apalagi di akhir pekan. Mulai dari event yang diadakan di kafe/resto sampai yang diadakan di venue besar seperti convention center. Asal senantiasa terinformasikan, menyaksikan penampilan musisi idola bukanlah mimpi yang ketinggian bagi penghuni Jakarta.

Terima kasih pada media sosial karena informasi konser yang sangat update. Selalu ada yang rajin retweet informasi acara/rencana penampilan band idola. Saya jadi punya kesempatan untuk menyaksikan banyak sekali penampilan musisi keren di kota ini. Yang paling baru adalah Silampukau (31 Maret 2016) dan Barasuara (15 Mei 2016).

(((Yang paling baru)))

Pasti banyak yang setuju bahwa musik bagus untuk kewarasan kita, tapi bagaimana dengan konser? Apa enaknya nonton konser musik? Bukannya berisik? Bukannya lebih jernih dengar lagu-lagu mereka dari ponsel atau alat pemutar musik? Mereka tidak akan terdengar lelah meski sudah menyanyikan lagu yang sama sampai sepuluh kali. Well, pengalaman menonton konser tentu akan sangat berbeda bagi masing-masing orang, dan bagi saya ini lho kenapa kita sebaiknya menyaksikan musisi idola bernyanyi live. 

1. Ketemu Melihat idola (meskipun hanya dari jauh) adalah impian (hampir) semua orang

Tahapan berikutnya dari menyukai adalah berusaha untuk memiliki. Kalau tidak bisa memiliki dalam arti yang sebenarnya, cukuplah hanya melihat dia yang kita sukai dari jauh. Pernah menonton liputan konser musisi besar? Pasti selalu ada satu bagian di mana kamera mengarah ke fans yang menangis haru saking berhasilnya melihat sang idola langsung, di depan mata! Atau ketika acara premier film, banyak sekali fans yang rela datang hanya untuk melihat idola mereka lewat di karpet merah. Hanya lewat. Bahkan mungkin si idola tak peduli dengan keberadaan si fans sendiri. Tapi hubungan fans-idola seringnya memang bersifat satu arah.

2. Membuktikan kalau kita tidak salah mengidolakan seseorang

Karena (lagu versi) rekaman itu bisa dibuat sedemikian rupa, maka kita perlu membuktikan sediri bahwa seseorang memang patut dijadikan idola. Tentu bukan hanya perihal kualitas suara, karena kita juga kerap mengidolakan seseorang berdasarkan karakter pribadinya. Kita mengharapkan/membayangkan bahwa mereka adalah orang yang cool, berjalan penuh wibawa, gaya bicaranya profesional, dan hal-hal lain yang membuat kita melihat mereka sebagai sosok yang sempurna. Tapi apa benar seperti itu kenyataannya? Maka, datanglah ke konser lalu  judge them dari aksi panggungnya. Yeah!

3. Sebagai bentuk dukungan ke idola untuk terus berkarya

Konser membuat fans berkesempatan untuk bertemu idola dan itu menimbulkan perasaan senang dan bangga. Di sisi lain, sang idola yang tampil di depan banyak penggemar akan merasa dihargai. Ibarat orang berdagang, si pedagang akan senang bila dagangannya laku. Di satu aspek, konser adalah kegiatan berdagang dan banyaknya pengunjung yang hadir menunjukkan seberapa berhasil pemasaran yang dilakukan di pedagang. Pendapatan konser memang faktor penting, tetapi tentu, dukungan terbesar adalah yang sifatnya non-materi yaitu kedatangan para penggemar.

4. Mempromosikan idola ke khalayak

Khususnya di era digital seperti sekarang, info konser lebih banyak dipublikasikan lewat media sosial. Ketika kita sebagai penggemar tahu, kemungkinan besar akan meneruskan informasi tersebut. Menjelang konser, berkicau mengenai ketidaksabaran kita tentang konser yang akan datang. Semakin banyak kita membicarakan sang idola dan acaranya di media sosial, semakin besar kemungkinan informasi tersebut tersebar, dan sampai ke telinga lebih banyak orang. Belum lagi ketika tiba di venue acara, kita melakukan livetwit. Membuat yang tidak datang penasaran. Followers kita baca, bahkan me-retweet. Tanpa sadar kita sudah bantu promosi. Siapa tahu ada yang tertarik dan ternyata punya selera yang sama.

5. Atmosfer/suasana konser bisa menimbulkan semangat

Meski kadang malu-malu kucing di awal, tapi lama-lama, tahu-tahu kita sudah melambaikan tangan, menyentakkan kaki, lompat-lompat pelan, lalu lompat lebih tinggi sembari ikut bernyanyi. Jadilah fangirl/fanboy sejati di arena konser karena kamu tidak sendirian. Musik adalah pemberi semangat/motivator yang baik. Menyaksikan penampilan band secara live apalagi. Ternyata menyemangati diri sendiri bisa juga dilakukan di acara-acara yang tidak melibatkan kalimat surga macam Golden Ways-nya Mario Teguh.

6. Nonton konser adalah salah satu bentuk piknik

Tujuan kalian piknik apa, sih? Menghabiskan uang yang berlebih? Merasakan pengalaman baru? Relaks? Keberhasilan mencapai sesuatu (ketemu artis idola)? Melepas stres? Menjaga kewarasan? Bahagia? Mana dari alasan-alasan piknik tersebut yang tidak bisa didapat dari menonton konser? Buat saya sih tidak ada. Ikut bernyanyi (baca: berteriak) sangat bisa menjadi ajang untuk melepaskan tekanan/kekakuan/kepenatan. Meskipun setelahnya suara jadi serak dan tenggorokan jadi sakit, tapi puassss.

7. Bagi yang suka fashion, bisa jadi ajang berdandan

Kalau pengin banget mencoba mix and match tertentu tapi merasa agak terlalu berlebihan untuk dipakai di keseharian, maka konser bisa jadi ajang yang tepat. Konser itu ajang yang tepat untuk tampil beda! Lupakanlah sejenak kaus, jeans, dan sandal. Tarik rompi, hotpants, dan boots dari lemari. Atau mau pakai kaus band? Bisa beli di venue acara yang biasanya menjual merchandise resmi. Atau mau bergaya yang unik? Boleh banget! Jangan malu karena pastinya kamu nggak akan sendirian. Bahkan, kalau kalian berpakaian lain daripada yang lain, bisa jadi band idola kalian akan menyadari keberadaan kalian. Siapa tahu, kan?

8. Efek kejutan, ada perbedaan antara mendengarkan rekaman dengan versi live

Bisa bedakan bagaimana rasanya mendengarkan musik dari alat pemutar musik dengan mendengarkan lagu favorit yang tiba-tiba diputar di radio? Antara nonton video klip di Youtube dengan video klip yang tiba-tiba diputar di acara MTV? Begitulah kira-kira yang saya maksud dengan ‘efek kejutan’ di poin ini. Juga, seru saja menanti dan mereka-reka lagu apa yang berikutnya akan mereka mainkan. Selain itu,  seringnya, aransemen ketika konser dibuat sedikit berbeda dengan versi rekaman. Lumayan, penyegaran.

9. Menyimpan memori

Buat saya, ini yang paling penting. Sebagai kenang-kenangan, hadiah untuk diri sendiri, bahan obrolan dengan orang baru (yang kemudian kita ketahui ternyata menyukai artis yang sama), berbagi pengalaman dengan teman-teman, bahan cerita ke anak-cucu. Mengalami sebanyak mungkin hal selagi masih sempat. Lumayan kan kalau bisa cerita ke anak cucu, “Dulu kalau lagi manggung sama Barasuara, GeSit itu nggak bisa diam. Ada lagi yang lucu, waktu dia bacain pesan penggemar di post it yang ditempel di dekat pintu masuk venue. Tulisannya, ‘aku tunggu di kosan, Bang’ trus GeSit buka baju, pamer perut. Kan nggemesin.”

***

Tadinya mau menulis pengalaman menonton Silampukau dan Barasuara, tapi bingung mau nulis apa sehingga jadilah mlipir ke tema menonton konser secara umum. Kenapa pengin menulis pengalaman menonton konser, adalah karena poin sembilan di atas. x))

Silampukau – Bermain di Cikini –  31 Maret 2016 – Teater Kecil, TIM

020 021 024 026 027

 

Barasuara – Urban Gigs: Taifun Tour – 15 Mei 2016 – Gudang Sarinah Ekosistem

fullsizerender-3fullsizerender-4img_1815
img_1830
img_1834

***

 

 

Advertisements

Membicarakan Hukum Karma

Membicarakan hukum karma berarti membicarakan kesalahan yang pernah kita perbuat. Sama halnya dengan membicarakan kondisi sakit yang berarti membicarakan kue-kue manis yang sebelumnya kita habiskan tanpa berpikir panjang. Ada hal-hal yang tadinya kita pikir baik-baik saja, padahal kenyataannya hal-hal tersebut tidak sebaik kelihatannya. Apa yang dulu menutup mata kita dari kesadaran sederhana semacam itu?

Membicarakan hukum karma artinya mengakui bahwa kita lemah. Ada kekuatan di luar diri yang turut mengendalikan kehidupan kita di masa yang akan datang (sebenarnya kita sendiri yang mengendalikan masa depan dari masa lalu, namun seringnya kita lupa atau pura-pura lupa, entah), yang baru kita sadari belakangan. Dan ketika kekuatan itu benar-benar bekerja lalu mengganggu kehidupan kita kini yang sedang baik-baik saja, apa yang lebih baik dilakukan selain belajar menikmatinya?

Membicarakan hukum karma berarti mengetahui bahwa semesta bukannya tidak adil, melainkan hanya sedang melaksanakan tugasnya. Baik untuk yang baik. Buruk untuk yang buruk. Tepat sesuai tempatnya. Tidak ada buah yang tumbuh pada pohon yang salah. Seperti, tidak ada anak kucing yang lahir dari induk yang anjing. Apa yang bisa didebat dari keyakinan yang demikian kuat?

Membicarakan hukum karma berarti diam di tempat, sejenak atau beberapa jenak, lalu berpikir ulang. Menanyakan sesuatu yang mungkin luput di masa lalu tetapi jangan sampai luput di masa sekarang.

Bagian mana dari hukum karma yang belum kita mengerti?

*

Pasrahkan semua kegiatan kerjamu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada sang atman, bebas dari nafsu keinginan dan ke-akuan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu itu.

(Bhagawadgita, III-30)

Tentang #PuisiHore

Sudah sekian lama berlalu dan saya baru membuat riviu. Ragu adalah yang membuat saya takut. Atau sebaliknya, takut yang membuat saya ragu. Takut salah berkata-kata. Ragu karena saya bukan siapa-siapa.

Namun, ucapan terima kasih patut saya sampaikan kepada penggagas event #PuisiHore. Karena pada event ini saya belajar membuat soneta, membuat puisi akrostik (dengan sedikit pemaksaan kata di sana-sini), belajar menerjemahkan lukisan dan menuangkannya dalam satu dua baris puisi.

Ucapan terima kasih lainnya saya sampaikan karena pada event ini, nama saya bisa bersanding dengan master-master puisi di Twitter. Meskipun belum bisa membuat puisi sebagus mereka, tapi saya (boleh kan) merasa bangga(?). 🙂

Lalu apresiasi terbesar terhadap event #PuisiHore saya sampaikan karena event ini adalah event pertama yang membuat saya (akhirnya) menuliskan sesuatu tentang ibu. Terharu. Karena saya selalu merasa kesulitan menyusun serakan kata untuk menggambarkan ibu atau kejadian-kejadian terkait beliau.

Selebihnya, seperti biasa, setiap kali mengikuti event menulis serupa ini, saya merasa bahwa tulisan pertama saya adalah yang paling bagus (menurut penilaian saya sendiri). Semakin lama, semakin kurang bagus. Entah kenapa.

Untuk itu, kiranya para penggagas event #PuisiHore bersedia menyebutkan satu judul puisi saya yang paling kalian suka. Silakan pilih yang paling bagus di antara yang tidak bagus. 🙂

Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih ya!

— Semarang, 291212