Properti Foto Yang Wajib Dimiliki #Bookstagrammer Pemula

Awal-awal aktif di Instagram (IG) saya pernah iseng menelusuri tagar terkait buku seperti #bookquotes, #bookish, #booklovers, #igbooks hingga akhirnya nyasar ke tagar #bookstagram dan #bookphotography. Sebagai anak baru di dunia bookstagram, reaksi spontan saya adalah, “Kok keren-keren! MAU BIKIN YANG BEGITU JUGA!”

Tapi berhubung saya minim bakat di bidang fotografi, maka saya memperhatikan hal-hal lain selain teknis pengambilan gambar. Yang menarik perhatian saya, dan terasa lebih mudah diaplikasikan adalah penggunaan properti. Melihat #bookphotography di akun-akun Instagram buku, saya seperti baru sadar kalau ada yang namanya bunga, mini figure berbagai tokoh, kotak berbagai ukuran, lampu-lampu lucu, bahkan ranting pohon! Ke mana saya saja selama ini? Hvft~

Nah, berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap akun-akun bookstagram, berikut ini aksesori/properti sederhana yang banyak banget dipakai. Rasanya ini bisa dicontoh oleh bookstagrammer pemula. x))

1. Bunga. Siapa yang bisa menyangkal keindahan bunga? Apalagi sejak dahulu, bunga itu identik sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempercantik (apa saja). Bahkan satu tangkai bunga bisa membuat perbedaan yang besar. Semakin cocok lagi apabila buku yang difoto menggunakan properti ini adalah yang bergenre roman. Pas!

040  054 

2. Kacamata. Memadukan buku (yang kemudian menginspirasi dibuatnya akun IG khusus buku) dan kacamata adalah tindakan yang tepat. Kacamata mampu menimbulkan kesan nerd dalam sekejap. So, jangan lupa tambahkan tagar #booknerd di foto bukumu yang menyertakan properti ini, ya.

057 059 055

3. Secangkir Kopi. Saya rasa ini berkaitan sangat erat dengan budaya ngopi dan atau nongkrong (di warung kopi) yang tumbuh pesat belakangan ini. Ngopi/nongkrong memberi kesan santai sehingga ketika buku yang topiknya cukup berat dipadu dengan secangkir kopi, kening penikmat foto-foto kalian nggak akan berkerut.

039 037 038

4. Kudapan. Mulai dari semangkuk buah sampai biskuit yang masih terbungkus rapi, asalkan bisa memberi nilai tambah pada foto, silakan. Kalau saya pribadi, nggak bisa baca sambil makan jadi kalau ada kudapan di foto buku saya maka itu tak lebih dari sekadar properti foto. :))

052 064 069

5. Alat tulis.  Rasa-rasanya ini properti yang paling sederhana juga standar tapi jangan-jangan itu juga yang jadi pertimbangan utama penggunaannya. Mudah ditemukan. Meski begitu, penggunaannya di banyak foto sangatlah berhasil.

060 063 056

6. Lampu hias LED. Penggunaan lampu hias LED mampu memberi kesan hangat dan elegan. Tapi rasanya butuh usaha lebih, ya. Hmm.

061 048 053

7. Alas bermotif. Ini adalah satu cara meningkatkan tampilan foto yang bisa dikatakan effortless.  Selain bunga, properti ini adalah favorit saya juga. Cukup dengan satu motif tertentu dan foto pun jadi nggak monoton. Tapi hati-hati, jangan sampai perpaduan alas bermotif dengan sampul buku terkesan nabrak.

041  062

8. Binatang peliharaan. Menjadikan anjing atau kucing sebagai model foto pastinya susah-susah gampang. PR utamanya adalah bikin mereka mau anteng. Setiap lihat foto buku yang melibatkan (model) binatang peliharaan, reaksi pertama saya sudah pasti tersenyum! Gemas!

034 058 050

9. Aksesori lainnya. Lilin aromaterapi, seringnya yang berwarna-warni. Mini figure atau merchandise resmi buku bersangkutan. Kamera, selain karena alasan estetika bisa jadi karena bookstagrammer tersebut suka fotografi atau malah ‘merangkap’ sebagai traveler? Hmm. Produk tertentu, bisa untuk sekadar properti atau bisa juga karena sengaja promosi. Nggak masalah, bookstagrammer mah bebasss. :))

070 035 033 

049 068 067

Yess, itu tadi hasil pengamatan saya terhadap fenomena bookstagrammer. Di antara kalian, adakah yang punya akun IG khusus buku? Coba kasih tahu akun IG kalian. Saya mau berkunjung. :))

***

Advertisements

Langkah Awal Membiasakan Diri Membaca Buku Versi Elektronik

“We notice e-book readers, we don’t notice books.” –Douglas Adams

Siapa yang belum tahu mengenai buku elektronik atau yang beken dikenal dengan sebutan e-book? Rasanya semua orang sudah pernah mendengar tentang e-book, ya. Nah, kalau sudah kenal, apakah kalian sudah mulai sayang? Atau jangan-jangan, banyak di antara kalian yang justru lebih terbiasa membaca e-book dibandingkan dengan buku cetak? Wow!

Saya pribadi, pertama kali tergerak untuk mencoba membaca e-book adalah karena Gramediana (yang sudah lebur itu). Setelah itu, bergeser ke SCOOP. Dan yang paling baru, Google Play Books. Meski membaca e-book dapat dilakukan menggunakan berbagai perangkat, saya belum membaca e-book sesering/sebanyak membaca buku cetak. Tetapi semakin lama, saya mulai bisa menikmati. Sempat berpikir juga, buku apa ya yang sebaiknya dibeli-baca dalam versi e-book (karena buku-buku tertentu, tidak boleh tidak, harus dimiliki versi cetaknya)? Kalau saya tanyakan ke orang-orang yang gemar membaca e-book, pasti jawabannya akan beragam.

Nah, bagi kamu yang ingin mulai membaca e-book tapi bingung hendak memulai dari mana, berikut saya buatkan daftar jenis-jenis buku untuk dibaca versi elektroniknya menurut pengalaman saya. Semoga bisa memberi pandangan lain.

FullSizeRender (4)

1. Buku puisi
Sama halnya dengan buku cetak, membaca buku versi elektronik juga bisa melelahkan, untuk itu bagi yang belum terbiasa, bisa memulai dengan buku puisi. Alasan utamanya karena buku puisi, bagi saya, tidak untuk dibaca dalam sekali duduk. Puisi merupakan jenis bacaan yang mengharapkan orang untuk diam dan merenungi setiap kata. Membaca sebuah buku puisi bisa menghabiskan waktu yang lama. Selain itu, kalau kalian suka membaca twit puisi di Twitter, maka seharusnya kalian tidak akan kesulitan membaca buku puisi versi elektronik. Sama-sama berhadapan dengan layar, kan. Beberapa buku puisi yang saya baca dalam versi elektroniknya adalah Cinta dan Kesialan-Kesialan (Lang Leav), dan Kawitan (Ni Made Purnama Sari).

2. Kumpulan cerpen
Dengan alasan yang kurang lebih sama dengan buku puisi, buku kumpulan cerpen (kumcer) juga merupakan pilihan tepat untuk mulai membiasakan diri dengan e-book. Satu cerpen pada satu waktu, lalu baca satu lagi di lain waktu. Rasanya ini bisa menjadi ‘latihan’ yang menyenangkan. Kumcer versi elektronik yang saya punya: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Norman Erikson Pasaribu), Mata yang Enak Dipandang (Ahmad Tohari), Tentang Kita (Reda Gaudiamo).

012

3. Buku yang tidak terlalu tebal
Ketika kita membaca buku cetak, berapa jauh yang telah kita baca akan terlihat dari letak pembatas buku. Apakah kita masih berada di tengah-tengah buku atau sudah menjelang akhir? Mengetahui sisa halaman berdasarkan letak pembatas buku, bagi saya, dapat memberikan efek yang unik, yang tidak bisa didapat ketika membaca e-book (ya, iyalah). Saya pernah membaca e-book yang cukup tebal, dan merasa tidak sabaran untuk mencapai akhir. Bukannya tekun membaca, saya malah tidak melanjutkan membaca. Ada perasaan tidak aman jika tidak mengetahui sejauh mana perjalanan kita ketika membaca sebuah buku. Sejak itu, salah satu kriteria saya memutuskan membeli buku versi elektronik adalah buku yang tidak terlalu tebal. Mencari Cinderella (Finding Cinderella – Colleen Hoover) hanya terdiri dari 198 halaman, Siddharta (Herman Hesse) terdiri dari 168 halaman, Api Awan Asap (Korrie Layun Rampan) hanya 164 halaman.

4. Buku dari penulis favorit tapi bukan karya unggulannya
Untuk penulis tertentu, semua karyanya memang ingin saya koleksi dalam bentuk buku cetak (lebih bagus lagi kalau ada versi hardcover). Namun untuk beberapa penulis lain, saya hanya koleksi karya-karyanya yang sangat saya suka. Biasanya ini hasil dari meminta pendapat teman dan membaca-baca ulasan dari pembaca yang juga menyukai penulis tersebut. Lalu bagaimana dengan karya mereka yang tidak dinilai bagus tetapi, karena satu dan lain hal, tetap penasaran (dan ingin) menilai sendiri? Yup, baca versi elektroniknya.

006

5. Buku untuk coba-coba selera
Berhubung saya termasuk orang yang gampang terpengaruh apalagi sejak aktif mengikuti berita-berita dari penerbit atau penulis mengenai buku-buku, maka seringkali saya merasa penasaran dengan karya penulis yang sebelumnya tak pernah saya baca. Apalagi kalau ada teman yang bilang bahwa karya penulis A layak baca. Dalam rangka coba-coba inilah, saya memilih untuk baca versi elektronik. Di kelompok ini ada Dil3ma (Mia Arsyad), Episode Para Lajang (Shandy Tan), Gema Sebuah Hati (Marga T), dan Tanjung Luka (Benny Arnas).

6. Majalah
Ada dua majalah yang selalu saya baca tiap bulan, yaitu Cosmopolitan dan Cinemags. Untuk Cosmopolitan, sejujurnya, barangkali hanya 40% dari keseluruhan isinya yang benar-benar saya baca (karena 60%-nya iklan). Ingin nggak usah baca, tapi merupakan hiburan juga. Jadi daripada menumpuk majalah fisik, ya baca saja versi elektroniknya.

*

Nah, bagi yang sudah terbiasa, buku-buku seperti apa sih yang kamu pilih untuk dibaca dalam versi elektroniknya? Yuk, berbagi pengalaman.

***

Lima Hal yang Harus Kamu Ketahui untuk Mencapai Kebebasan Finansial

“A big part of financial freedom is having your heart and mind free from worry about the what-ifs of life.”
–Suze Orman

*

Menjadi pegawai dengan gaji tetap setiap bulan, membuat sebagian orang mulai bisa menata pengeluaran pribadi berdasarkan skala prioritas. Namun kebiasaan melakukan pengeluaran, tidak serta merta membuat seseorang menjadi ahli dalam hal mengatur/merencanakan keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan (financial goals). Masih banyak yang setiap bulan dihantui perasaan ragu (termasuk saya). Sudahkah kita melakukan hal-hal yang tepat dalam rangka mencapai tujuan keuangan yang kita inginkan? Jika iya, maka kita bisa merasa tenang. Jika tidak, bagaimana cara yang tepat dalam mengatur keuangan pribadi demi manfaat maksimal di kemudian hari? Karena, we know, kita hidup tak hanya di bulan ini.

Sebagai anak kos, saya berjuang untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar untuk satu bulan ke depan terpenuhi. Pengeluaran minimal yang harus diamankan dari gaji bulanan adalah pembayaran sewa kos, pengeluaran untuk makan, dan biaya transportasi. Sisa gaji? Dana darurat (berobat misal mendadak sakit, beli tiket misal mendadak harus mudik, belanja baju kalau mendadak ada yang mengajak kencan), piknik, dan investasi. Singkatnya, pengeluaran atas sisa gaji dimaksimalkan untuk mencapai tujuan keuangan dan merasakan yang namanya kebebasan finansial.

Sempat ikut seminar keuangan ala-ala dengan harapan bisa dapat minimal satu pelajaran sederhana tapi bisa konsisten dipraktikkan untuk mencapai apa yang menjadi tujuan keuangan saya.

1. Kebutuhan versus keinginan
Sebelum mempraktikkan tip-tip perencanaan keuangan tingkat tinggi, saya setuju bahwa ada satu pelajaran dasar yang sudah harus kita kuasai terlebih dahulu. Yup, membedakan kebutuhan dan keinginan. Banyak anak muda zaman sekarang yang menganggap traveling sebagai kebutuhan padahal apa sih tujuan kita traveling? Menantang diri keluar dari zona nyaman, ingin melihat dunia luar, tuntutan pekerjaan (impian banget, nih), atau hanya sekadar pamer? Sehingga mereka (saya juga, sih) kita akan lebih tertarik membaca artikel berjudul ‘Cara Mudah Menyisihkan Uang Agar Bisa Traveling’ daripada ‘Cara Mudah Menyisihkan Uang Agar Bisa Berinvestasi’. Belum lagi kalau membahas soal kebiasan ngopi di coffeeshop, nonton di bioskop mahal, dan lain sebagainya. Seolah-olah kita hanya hidup hari ini dan lupa kalau biaya katering dan bulan madu semakin mahal. *uhuk*

Omong-omong, bulan madu itu kebutuhan atau keinginan, ya? Hmm… *mikir keras*

2. Menentukan tujuan keuangan  
Tujuan keuangan adalah target  yang ingin kita capai di masa depan yang membutuhkan uang dalam jumlah tertentu. Tujuan keuangan masing-masing orang berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. Tujuan keuangan mereka yang masih di usia 20an akan berbeda dengan tujuan keuangan orang-orang usia 30an. Tujuan keuangan anak muda yang masih lajang akan berbeda dengan tujuan keuangan mereka yang sudah menikah. Dari segi waktu, tujuan keuangan juga bisa diklasifikasikan menjadi tujuan jangka pendek (traveling), jangka menengah (beli mobil atau renovasi rumah), atau jangka panjang (persiapan pensiun atau menyiapkan warisan).

Semakin rinci tujuan keuangan dibuat, akan semakin baik. Kalau perlu, tujuan keuangan dapat mencantumkan target tanggal pencapaian, berapa jumlah rupiah yang diperlukan, kapan mulai menyisihkan dana, dan berapa yang harus disisihkan. Untuk mencapai hasil maksimal, tentu kita harus disiplin dalam menjalankan rencana tersebut.

3. Menabung versus berinvestasi
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, saya masih punya sisa dana yang menurut teori perencanaan keuangan sebaiknya diinvestasikan. Selama ini saya cuma menabung, padahal ada perbedaan besar antara menabung dan berinvestasi. Bila dikaitkan dengan tujuan keuangan, menabung cenderung untuk tujuan menyiapkan dana darurat atau membiayai rencana jangka pendek seperti membayar biaya kuliah semester depan (bagi yang membiayai kuliahnya sendiri), bayar uang muka rumah, dan lain sebagainya. Sedangkan berinvestasi cenderung untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah atau jangka panjang. Misal, biaya sekolah anak delapan tahun lagi atau untuk mengamankan masa pensiun. Selain itu, percaya atau tidak, tujuan investasi juga adalah untuk berlomba dengan inflasi, karena bila tidak berhasil mengalahkan inflasi tanpa disadari sebenarnya kita kehilangan sejumlah uang

4. Memilih produk keuangan yang tepat
Produk keuangan merupakan media tempat kita mengalokasikan sejumlah dana dalam rangka mencapai tujuan keuangan. Dengan kata lain, produk keuangan adalah pilihan cara yang kita rasa tepat untuk menabung, berinvestasi, atau lain sebagainya. Ketika hendak menabung, bank akan memberikan berbagai penawaran produk (keuangan) mulai dari tabungan harian, tabungan rencana/berjangka, sampai deposito. Ketika kita ingin berinvestasi, maka ada saham, obligasi, reksadana, atau komoditas seperti emas, properti, dan mata uang asing. Misal kita memutuskan untuk beriwirausaha, maka kita bisa memilih waralaba, MLM, atau direct selling. Sekali lagi, sesuaikan dengan tujuan yang ingin kita capai.

5. Asuransi 
Belum semua generasi muda menyadari pentingnya memiliki asuransi, bahkan sebagian besar menganggap asuransi sebagai ajang untuk membuang-buang uang. Apalagi setelah diresmikannya program BPJS Kesehatan dari pemerintah yang membuat mereka menganggap bahwa BPJS Kesehatan (dengan premi yang jauh lebih kecil daripada premi asuransi) sudah cukup untuk melindungi masa depan mereka. Memang, sih, asuransi kesehatan umum dengan BPJS sama-sama terkait dengan ‘mengamankan’ biaya kesehatan yang nanti mungkin timbul. Dengan memiliki jaminan kesehatan, kita sudah menghilangkan satu permasalahan keuangan di masa depan (ini merupakan tujuan keuangan juga). Tetapi ada perbedaan mendasar antara BPJS Kesehatan dengan asuransi umum.

Pertama, BPJS Kesehatan merupakan program pemerintah yang bersifat social security. Artinya pemerintah menjamin rakyat memiliki akses terhadap layanan kesehatan sebagai kebutuhan dasar. Sedangkan asuransi umum lebih bersifat manage care, artinya pemahaman masyarakat sudah bergeser dari jaminan memperoleh perawatan kesehatan ke kesadaran untuk ‘mengatur’ cara memperoleh layanan kesehatan dengan kualitas yang diinginkan. Kedua, BPJS Kesehatan hanya dapat digunakan di rumah sakit  dalam negeri, sedangkan asuransi umum memungkinkan pemilik polis untuk memanfaatkan kepemilikan polisnya di berbagai belahan dunia. Alasan kedua ini sangat cocok untuk mereka yang kerap bepergian ke luar negeri seperti traveler. Ketiga, BPJS Kesehatan memerlukan proses yang bertahap untuk bisa didapatkan manfaatnya. Masyarakat harus ke puskesmas terdekat sebelum dirujuk ke rumah sakit. Sedangkan asuransi umum memungkinkan pemilik polis untuk langsung berobat ke rumah sakit pilihan dan mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat. Ini merupakan privilege tersendiri bagi pemilik polis asuransi umum. Terakhir, dibandingkan program BPJS Pemerintah, perusahaan swasta memiliki pilihan jenis asuransi yang beragam disesuaikan dengan berbagai kebutuhan seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi kendaraan, dan lain sebagainya.

*

Jadi, sudahkah kamu memiliki tujuan keuangan? Sudah sampai di tahap manakah kamu saat ini? Kalau mau berhasil, yuk, atur uangmu dari sekarang!

***