#FF2in1 – Larung

“Biar aku yang membuangnya.”

“Aku saja! Aku kan anak kesayangan papa.”

“Tapi aku satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Aku penerus keturunan. Aku yang paling tepat melakukannya.”

“Aku anak sulung. Aku yang lebih pantas!”

Empat orang dewasa di hadapanku sedang memperebutkan sebuah guci yang berisi abu hasil kremasi jasad ayah mereka. Aku tidak memedulikan pertengkaran mereka. Toh mereka hanya sedang emosi sehingga tidak bisa melihat solusi.

Seandainya aku cukup peduli, mungkin aku akan berkata seperti ini:

“Segera selesaikan urusan kalian. Seingat saya, kalian hanya membayar saya untuk menjaga perahu ini agar jangan sampai tenggelam. Tetapi dengan tingkah laku kalian, tidak lama lagi, giliran abu kalian yang akan ada dalam guci seperti itu.”

*

 

Tulisan ini untuk #FF2in1 yang diadakan oleh nulisbuku.

Tema 2: [puisi] Akulah si Telaga – Sapardi Djoko Darmono

#FF2in1 – Aku Baik-baik Saja

“Sampai kapan kita harus berbohong kepada orang-orang tentang kehamilanmu?”

“Jangan. Saya hanya butuh kawan, bukan pahlawan.”

Yeah, right. Terserah apa katamu, yang jelas hari ini juga aku akan menemuinya. Dia harus tahu akibat perbuatannya!”

*

“Sa-saya sudah mencoba menahannya. Saya  menggenggam tangannya sebelum ia beranjak dari kursi.” Aku menutup mata erat-erat sambil berusaha menjauhkan diri darinya.  “Ke-kekuatan satu tangannya jauh melebihi kekuatan kedua tangan saya. Sa-saya minta maaf.”

Asap rokok mengepul di udara berbentuk huruf O.

“Kemari!” Perintahnya.

“Sa-saya tidak berniat pergi. Meski dia merayu  saya berkali-kali, hanya kamu yang saya cintai. Sungguh.”

Aku tahu kata-kataku tidak ada gunanya. Untuk sekian kalinya, punggungku menggantikan peran asbak tempat ia seharusnya mematikan rokok.

*

 

Tulisan ini untuk #FF2in1 yang diadakan oleh nulisbuku

Tema 1: I Love The Way You Lie – Eminem Feat Rihanna

Bekas Lipstik Siapa?

Kafe mendadak riuh. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang terlibat adu mulut. Laki-laki yang pesanannya baru aku antarkan versus wanita yang barusan membuka pintu kafe.

“Kamu janjian sama siapa sebelum ini?”

“Nggak ada. Dari tadi aku nunggu kamu, Sayang.”

“Bohong!”

“Nggak bohong, aku nggak ada janjian sama siapa-siapa.”

“Trus, ini apa?” Perempuan itu mengangkat cangkir kopi milik kekasihnya.

Laki-laki itu tampak kaget. “I..itu.. Aku nggak tahu. Kok…bisa ada bekas lipstiknya?”

Aku mendadak khawatir.  Yang aku ingat cangkir kopi berisi bekas lipstik adalah milik pelanggan perempuan yang tadi buru-buru pergi. Ia memang baru menyesap kopinya satu kali. Takut-takut, aku melirik ke balik meja barista. Ternyata benar, pesanan laki-laki itu masih di sini.  Sial.

-selesai-

[words: 111 | tulisan ini untuk beranicerita.com]

banner-BC#08