33

Aku tak pernah berada dalam situasi yang begini menegangkan. Bayi di gendongan seorang ibu yang berdiri di sebelahku tiba-tiba menangis. Lift nomor 33 yang sudah penuh manusia, semakin terasa sesak. Belasan orang yang tidak saling kenal mulai memandang curiga kepada satu sama lain. Aku memandang curiga pria berkacamata, pria berkacamata memandang curiga ibu-ibu muda, ibu-ibu muda memandang curiga office boy. Begitu seterusnya.

Tidak merasa bersalah, akupun melemparkan tatapan “Bukan aku!” ke arah orang-orang yang menatapku. Aku menahan napas sambil memainkan ponsel untuk mengalihkan perhatian.

Ting!

Pintu lift terbuka. Aku segera menyeruak kerumunan untuk merebut udara demi paru-paruku. Dalam hati aku mengumpat kesal, “Sial. Siapa, sih yang barusan kentut di dalam lift?!”

#15HariNgeblogFF – Tunggu di Situ, Aku Sedang Menujumu

Kami sedang menikmati makan malam di sebuah restoran mahal ketika aku tiba-tiba merasa resah. Lalu dengan segala alasan aku pergi lebih dulu dalam keadaan makanan masih tersisa setengah.

“Aku akan kembali. Jangan gundah.”

Dalam kepergianku, aku mengingat Sisca. Hal seperti ini pernah terjadi juga. Tapi aku bergegas. Mengabaikan Sisca dan kembali fokus pada urusanku. Mobil aku nyalakan. Jalanan yang aku lewati ketika berangkat, kembali aku susuri. Tak sabaran, Anggi meneleponku.

“Kamu di mana, Mas? Lama amat.”

“Tunggu di situ, aku sedang menujumu.”

“Jangan lama-lama lho.”

Aku menutup telepon, menyalakan mobil, menyusuri kembali jalanan tadi.

“Kamu habis ngapain?” tanya Anggi begitu aku tiba.

“Mengambil dompetku yang ketinggalan.” kataku yang disusul tawa kami.

*

 

#13HariNgeblogFF Hari ke-12

#15HariNgeblogFF – Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Bangunkan aku pukul tujuh.

Aku tersentak dari tidur lelapku. Aku membuka mata dan berusaha mengenali sekelilingku. Gerbong kereta, para penumpang, udara dingin dan derit kereta yang beradu dengan rel. Anggi masih tertidur lelap di sampingku dengan kepala yang bersandar pada bahuku.

Bangunkan aku pukul tujuh.

Suara itu muncul lagi disertai sekelebat bayangan Sisca yang kemudian luruh menjadi airmata. Pukul tujuh, Sisca, janji. Aku mengkhayalkan Sisca untuk sejenak. Apa aku masih memiliki janji kepada Sisca yang belum kutepati?

Aku membuka ponsel, mengetikkan pesan ‘bangunkan aku pukul tujuh’. Menimbang-nimbang sedetik lalu mengirimkan pesan itu. Entah siapa yang akan membuka ponsel  Sisca sekarang. Entah siapa yang akan menyampaikan pesanku kepada orang yang sudah meninggal.

*

 

#13HariNgeblogFF Hari ke-10