#15HariNgeblogFF – Cut!

Elang memperlakukan aku dengan begitu berbeda. Begitu manis. Kamu tahu, perilaku seseorang setelah ia melakukan kesalahan. Ia pikir dengan melakukan kebaikan-kebaikan, segala kesalahan yang pernah ia lakukan akan bisa terhapus begitu saja.

Aku menghargai Elang yang begitu berusaha untuk menjadikan hubungan kami seperti baik-baik saja. Aku tak pernah mempermasalahkan pengkhianatan yang pernah ia lakukan. Toh, aku telah membalas wanita yang hampir berhasil merebutnya.

Kini, apa yang aku usahakan kembali pada jalurnya. Tak ada yang berusaha menyimpang. Tak ada yang menggoda salah satu dari kami untuk menyimpang. Jalanan masih seperti yang dulu. Dengan pepohonan rindang tempat kami berteduh dari panas dan hujan. Kami masih memiliki rumput tebal yang melindungi langkah-langkah kecil ini dari kerikil tajam yang memperlambat jalan.

Aku menyeruput kopi soreku di beranda. Sambil menunggu Elang pulang kantor, aku menghabiskan waktu dengan merajut topi-topi lucu untuk anak kami nanti. Iya, bahkan perjalanan kami sudah tiba pada bagian bertambahnya anggota baru dalam perjalanan ini. Anak. Sudah setengah jalan terwujud karena kini aku sedang mengandung.

Perasaan bahagiaku membuat kepalaku memutar sebuah film. Isinya aku, Elang dan anak kami. Melompat dari satu adegan ke adegan yang lain. Kelahiran, tawa bahagia, piknik kecil di halaman belakang rumah, pelukanku dengan Elang sebagai rutinitas sebelum ia berangkat untuk bekerja, ciuman selamat malam, cerita yang tak pernah habis dibagi, hari-hari yang tak pernah habis terlalui bersama, melihat tumbuh kembang anak kami hingga dewasa, menikah dan memiliki anak, kami menjadi kakek dan nenek yang begitu berbahagia, melihat cucu-cucu berlarian ke sana-kemari. Terakhir, kami mati bersama-sama tetap sebagai pasangan.

Lalu,

Cut!

Aku kembali pada kenyataan bahwa hati Elang tak pernah benar-benar menjadi milikku. Aku masih melihat bayangan Sisca di matanya.

*

 

#13HariNgeblogFF Hari ke-13

#15HariNgeblogFF – Tunggu di Situ, Aku Sedang Menujumu

Kami sedang menikmati makan malam di sebuah restoran mahal ketika aku tiba-tiba merasa resah. Lalu dengan segala alasan aku pergi lebih dulu dalam keadaan makanan masih tersisa setengah.

“Aku akan kembali. Jangan gundah.”

Dalam kepergianku, aku mengingat Sisca. Hal seperti ini pernah terjadi juga. Tapi aku bergegas. Mengabaikan Sisca dan kembali fokus pada urusanku. Mobil aku nyalakan. Jalanan yang aku lewati ketika berangkat, kembali aku susuri. Tak sabaran, Anggi meneleponku.

“Kamu di mana, Mas? Lama amat.”

“Tunggu di situ, aku sedang menujumu.”

“Jangan lama-lama lho.”

Aku menutup telepon, menyalakan mobil, menyusuri kembali jalanan tadi.

“Kamu habis ngapain?” tanya Anggi begitu aku tiba.

“Mengambil dompetku yang ketinggalan.” kataku yang disusul tawa kami.

*

 

#13HariNgeblogFF Hari ke-12

#15HariNgeblogFF – Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

(cerita sebelumnya)

Udara pagi memasuki rumah seiring pintu yang terbuka lebar. Aku berjalan pelan menuju halaman tempat surat kabar tergeletak. Anggi sedang di kebun samping merapikan tanaman-tanaman koleksinya.

“Kopi kamu di beranda ya, Mas”

Aku berjalan mendekati Anggi alih-alih menuju beranda untuk menikmati kopi pagiku. Memeluknya dari belakang dan memikirkan alasan-alasan yang dulu membuatku memutuskan untuk menikahinya. Wajah ayu. Anak dari keluarga baik-baik. Berpendidikan. Sabar. Calon ibu yang baik. Setidaknya itulah yang aku simpulkan dari perkenalan kami. Orang tuanya menerima saja lamaranku tanpa mempermasalahkan pekerjaanku yang belum tetap. Mereka percaya bahwa menikah adalah pintu rejeki. Dan masing-masing keluarga sudah memiliki rejekinya sendiri. Tiga bulan setelah perkenalan kami, pernikahan pun digelar.

Anggi berbalik dan melepaskan pelukanku. “Kopinya diminum dulu. Kamu kan nggak suka kopi dingin.”

“Yang penting cinta kamu kepadaku tidak dingin, Nggi.”

Cinta?

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Orang bijak pernah berkata bahwa kamu bisa memilih dengan siapa kamu menikah namun kamu tidak bisa memilih kepada siapa cintamu akan berlabuh. Itu bernama takdir. Lalu, mengingat takdir cintaku yang telah tiada, mungkin aku harus belajar mencintai Anggi dengan sungguh-sungguh.

“Hari ini kita, jalan-jalan yuk, Nggi.”

Anggi tampak terkejut. Ia segera meneguk teh hijaunya dan cepat-cepat melihatku.

“Kamu baik-baik aja, Mas?”

Aku tertawa. Kami tertawa. Anggi heran dengan ajakanku yang tiba-tiba. Biasanya aku lebih memilih menghabiskan hari libur di kantor. Tapi kali ini berbeda.

“Ya sudah, ayo siap-siap.”

Anggi segera bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, aku mendengar aktivitasnya di kamar mandi. Aku tersenyum dalam hati. Semoga Anggi senang dengan kejutanku, kataku. Benar saja. Pada sesapan terakhir kopi pagiku. Anggi datang dengan dandanan rapi dan wajah malu-malu sambil menunjukkan sebuah kartu.

“Apa ini, Mas?”

Aku merasa menang. Kejutan kecilku membuat Anggi tersenyum.

“Baju baru ini buat kamu. Tahun yang baru pun. Kamu boleh pergi ke manapun, tapi tempat tinggalmu cuma satu. Di sini. Di hatiku. Selamat ulang tahun pernikahan, Nggi.

Elang”

*

Melupakan Sisca bukanlah hal yang mudah. Meski kami tak sempat memadu kasih namun mengenal dia sebagai rekan kerja merupakan hal yang patut aku syukuri. Meskipun kini Sisca sudah menghadap Yang Kuasa, namun bagiku ia tak boleh kemana-mana. Ia harus tetap di sini. Di hatiku saja.

*TAMAT*

#13HariNegblogFF Hari ke-11