Bekas Lipstik Siapa?

Kafe mendadak riuh. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang terlibat adu mulut. Laki-laki yang pesanannya baru aku antarkan versus wanita yang barusan membuka pintu kafe.

“Kamu janjian sama siapa sebelum ini?”

“Nggak ada. Dari tadi aku nunggu kamu, Sayang.”

“Bohong!”

“Nggak bohong, aku nggak ada janjian sama siapa-siapa.”

“Trus, ini apa?” Perempuan itu mengangkat cangkir kopi milik kekasihnya.

Laki-laki itu tampak kaget. “I..itu.. Aku nggak tahu. Kok…bisa ada bekas lipstiknya?”

Aku mendadak khawatir.  Yang aku ingat cangkir kopi berisi bekas lipstik adalah milik pelanggan perempuan yang tadi buru-buru pergi. Ia memang baru menyesap kopinya satu kali. Takut-takut, aku melirik ke balik meja barista. Ternyata benar, pesanan laki-laki itu masih di sini.  Sial.

-selesai-

[words: 111 | tulisan ini untuk beranicerita.com]

banner-BC#08

Si Pendiam yang Aneh

Aku sedang asyik menonton televisi ketika mendengar Rasti berteriak dari kamar sebelah.

“Iiiiiihh…”

“Jangan dekat-dekat! “

“Pergi kamu dari sini!”

Aku kaget. Apa yang terjadi dengan Rasti? Rasti, tetangga kamarku di rumah kost ini tidak biasanya membuat keributan. Jangankan membuat keributan, aku tidak pernah mendengar suara musik atau suara televisi dari kamarnya. Aku bahkan belum pernah mendengar ia berbicara. Kami hanya tersenyum jika kebetulan bertemu muka. Aku dan penghuni kost yang lain tidak mau membuat kesan sok akrab. Sebaliknya, Rasti pun tidak berusaha mendekatkan diri dengan kami.

Bagi kami, sikap Rasti terasa ganjil. Rasti lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Seringnya, ia keluar di malam hari. Ketika aku sudah bersiap-siap tidur. Persis seperti saat ini. Aku sudah bersiap-siap tidur lalu tiba-tiba Rasti membuat keributan.

Apa yang sedang terjadi? Apa Rasti sedang dalam bahaya?

“Berhenti! Jangan mendekat!”

Suara Rasti terdengar lagi. Kali ini diiringi dengan suara ayunan benda-benda. Seperti sandal atau sepatu yang dilemparkan ke arah sesuatu. Atau seseorang?

“Aaahh.. Pergi! Pergi! Pergi!”

Penasaran. Aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi. Meskipun Rasti adalah orang yang tidak suka bersosialiasi, tetapi aku turut mengkhawatirkannya. Tinggal di rumah kost artinya jauh dari keluarga. Sudah seharusnya kami saling menjaga. Aku mengecilkan suara televisi lalu bergegas keluar. Di luar aku bertemu Rino, Bayu dan Astari.

“Rasti?” tanyaku memastikan tujuan mereka. Mereka mengangguk mengiyakan.

“Merasa terganggu atau penasaran?”

“Penasaran.”

Sudah kuduga. Bukan hanya aku yang dibuat penasaran. Segera saja kami mendatangi kamar Rasti.

Tok tok tok

Rasti membuka pintu. Ia terkejut melihat kami yang tiba-tiba datang mengerubungi kamarnya. Sepertinya ia menyadari apa yang membuat kami ada di sana karena Rasti langsung meminta maaf.

“Mm.. Sorry ya. Hehehe..” Rasti terkekeh, berusaha menutupi rasa malunya karena telah membuat keributan.

“Ada siapa di dalam? Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini?” tanyaku.

“Nggak ada siapa-siapa. Mm.. Itu.. A..aku sedang berburu..” ia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. Kami serentak menaikkan alis sebagai tanda bahwa kami tidak memahami maksudnya. Berburu? Malam-malam begini?

“Mm.. Anu.. A..ada kecoak yang tiba-tiba muncul dari bawah lemari.”

-selesai-

[words: 333 | tulisan ini untuk beranicerita.com]

 

BC#07

Imbalan

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya. Ia mengedipkan mata berkali-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ibu?”

“Rino?”

Mereka lalu saling berpelukan. Melepaskan rindu yang sudah berdiam dalam dada mereka cukup lama. Tangisan mereka pecah membentuk aliran serupa sungai di pipi mereka yang kasar.

“Ibu, apa kabar?”

“Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu apa kabar? Gimana kamu bisa sampai di sini?”

“Saya juga baik, Bu. Berkat bantuan Pak Wardiman, saya bisa sampai di sini. Ibu harus berterima kasih sama beliau.”

Rino tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Senyumnya mengembang diselingi tawa kecil sesekali.

“Pak Wardiman? Pak Wardiman yang tukang pos senior di desa kita itu?”

“Iya, Bu. Beliau yang menjelaskan saya arah ke rumah ibu ini. Beliau kan pernah lama tinggal di Jakarta.”

“Oh, iya. Kamu datang sendiri? Adik kamu mana? Rasti?”

“Mm.. Anu.. Rasti.. Nggak bisa ikut, Bu. Rasti sibuk kuliah. Iya, Rasti sibuk kuliah.”

Rino menjawab pertanyaan ibunya dengan terbata-bata seperti menyembunyikan sesuatu.

“Ya sudah, yang penting kamu sudah sampai di sini dengan selamat. Besok-besok, kamu harus ajak adikmu main ke sini. Ke rumah ibu yang baru. Lebih besar untuk kita tinggal bersama.”

“I..iya, Bu. Nanti kita jemput Rasti di desa.”

Rino memperbaiki ekspresi wajahnya. Agar ibunya tak curiga. Pak Wardiman yang ia maksud telah berbaik hati mengantarkan surat yang ditujukan untuk Rino dari ibunya. Surat yang di dalamnya berisi alamat rumah ibunya yang baru. Hal itu sudah ditunggu Rino sejak lama dan Pak Wardiman memanfaatkan keadaan itu. Ia meminta imbalan atas jasanya kepada Rino meskipun mengantar surat sudah merupakan tugasnya. Apa imbalannya?

***

“Imbalannya pasti duit.”

“Belum tentu. Imbalannya pasti Rasti.”

“Sabarr.. Bisa jadi imbalannya hal-hal lain.”

Fitri, Nini dan Imah terus berdebat. Mereka tak sabar menunggu kelanjutan sinetron favorit mereka tayang setelah iklan lalu melihat tebakan siapa yang benar.

-selesai-

(Words: 328 | tulisan ini untuk beranicerita.com)

banner-BC#06