[#Cerpen24Jam – 9] Permintaan Terakhir

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. MEnulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

8. Di Angka Dua Belas

*

9. Permintaan Terakhir

Sore itu, setelah acara minum teh dan menikmati kue kering selesai, Gilbert dan Jill meminta ijin untuk bermain di luar. Marilyn memberi ijin bahkan memberi gagasan mengapa mereka tidak bermain-main di pasar. Di waktu-waktu seperti ini, pasar sedang berganti dari pasar yang menjual bahan makanan menjadi pasar malam yang dilengkapi berbagai hiburan.

Dengan suka hati, Gilbert memakai sepatu kesayangannya sementara Jill memakai sweater wool yang dibuatkan Marilyn untuknya.

“Jangan pulang terlalu malam. Kalian harus sudah di rumah sebelum jam makan malam tiba.”

Okay, Mother.”

”Baik, Marilyn.”

*

Tidak lama setelah anak-anak pergi bermain, Marilyn pun mempersiapkan diri. Ia membungkus pai apel yang akan menjadi hantaran dan meletakkannya dalam keranjang rotan. Jika tidak dalam keadaan terdesak, Marilyn tidak mungkin merepotkan Bibi May yang sudah pensiun mengurus keluarga Aethelmaer. Bibi May tinggal tidak jauh dari rumah Marilyn. Hanya diperlukan lima belas menit berjalan kaki untuk sampai ke sana. Dari luar, rumah terlihat sepi. Hanya ada tanaman mawar di beranda yang menyambut Marilyn.

Marilyn mengetuk pintu tiga kali. Tidak perlu usaha kedua untuk membuat si empunya rumah mengetahui kedatangannya.

“Marilyn?” Bibi May berseru senang melihat Marilyn datang tanpa terduga. “Ah, aku sudah begini renta dan tidak bisa berjalan jauh. Sungguh tega kau datang ke sini hanya sesekali. Kau tahu aku butuh teman mengobrol, Marilyn.”

Bibi May berbicara tanpa henti sembari membukakan pintu, mempersilakan Marilyn masuk dan mengambil keranjang rotan yang ia tahu pasti berisi kue buatan Marilyn.

“Aha, kau masih suka membuat pai apel. Apakah ini sesuai resep yang aku ajarkan?”

“Tentu saja, Aunt May. Resep pai apel yang aku ajarkan padaku sangat lezat. Tak ada yang tidak menyukainya.”

Bibi May tersenyum mendengar pujian Marilyn. Matanya menyipit dan kerutan di wajahnya tampak semakin jelas.

Aunt May. Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Ah, Marilyn. Lama tak jumpa denganmu, ternyata kau masih tidak menyukai basa-basi. Baiklah, apa yang bisa aku bantu?”

*

“Menurutmu, apakah Abraham akan datang lagi suatu hari nanti?”

“Marilyn bilang tidak dan aku percaya. Kau takut, Teman?”

“Aku tidak takut pada Abraham. Yang aku takutkan adalah melihat kalian dalam bahaya.”

“Kita akan baik-baik saja. Kita adalah keluarga dan keluarga akan saling menjaga.”

“Tentu saja. Tentu saja.” Gilbert menggangguk-anggukkan kepalanya mencoba menciptakan ketenangan dalam dirinya. “Sebut saja aku takut pada Abraham, apa yang harus kita lakukan?”

Jill memandang Gilbert dalam-dalam dan Gilbert membiarkan Jill membaca apa yang ada di benaknya.

“Mengapa harus melarikan diri? Bukankah kau punya sepatu ajaib yang bisa melipatgandakan kekuatan dan aku bisa membaca pikiran. Ditambah lagi sepatu Marilyn yang bisa membawa kita ke mana saja.”

“Maksudku, kita punya sepatu mother. Mengapa tidak kita manfaatkan aset yang ada?”

“Sebenarnya aku tidak suka melarikan diri tetapi ide mengenai menjelajah tempat baru tidak begitu buruk. Tak ada salahnya kita sampaikan ide itu pada Marilyn.”

Gilbert dan Jill berdiri lalu membersihkan baju mereka dari debu dan dedaunan yang berjatuhan dari pepohonan yang ada di sekitarnya. Mereka berjalan pelan bersamaan dengan tenggelamnya matahari di cakrawala.

*

“Sebenarnya aku tidak setuju kau memberikan rumahmu kepada Abraham. Sejak dulu ia anak pemalas. Berapapun harta yang kauberikan, pasti akan habis sia-sia di tangannya.”

“Anggap saja ini permintaan terakhirku, Aunt May. Setelah ini, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Aku akan mengajak anak-anak pergi jauh dari sini.”

“Apa mereka setuju? Apa menurutmu mereka sudah siap untuk bepergian dalam jarak yang kau sebutkan tadi?”

“Tenang, Aunt May. Mereka laki-laki yang kuat. Aku tahu mereka pasti siap menjalani petualangan baru.”

“Baiklah. Kau ibunya. Besok, aku akan minta seseorang untuk mengantarkan surat ini kepada Abraham. Semoga anak pemalas itu berhenti mengganggumu dan Gilbert.”

*

Makan malam telah siap di atas meja ketika Gilbert dan Jill tiba di rumah. Belum sempat mereka mengutarakan apa yang akan mereka katakan, Marilyn lebih dulu menyuruh mereka membersihkan diri.

“Ada yang ingin aku katakan pada kalian.” Marilyn membuka suara ketika semua orang telah duduk mengelilingi meja makan.

“Aku juga, Mother. Ada yang ingin aku katakan.”

“Apa kau juga ingin mengatakan sesuatu Jill?” Marilyn melihat gerak-gerik mencurigakan pada kedua anak itu.

“He eh, tidak. Aku setuju pada apa yang akan dikatakan Gilbert, Marilyn.” Jill menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaannya bila sedang merasa kikuk.

“Baiklah. Katakan apa yang ingin kau katakan, Sayang.”

Sebelum bicara, Gilbert melirik ke arah Jill yang ternyata sudah memperhatikannya sejak tadi.

Aku takut dikira penakut karena ingin melarikan diri. Bagaimana ini? Selama ini Mother selalu mengajariku untuk menjadi laki-laki pemberani seperti ayahku.”

Jill membaca ketakutan Gilbert. Dengan tatapan mata yang entah di mengerti Gilbert atau tidak, Jill meyakinkan temannya untuk bicara. Marilyn menunggu dengan tenang, kedua sikunya bertumpu di atas meja dan jemarinya terjalin menjadi satu.

“A-aku takut kalau-kalau Uncle Abraham datang lagi ke mari dan menganggu ketenangan keluarga kita.” Gilbert menelan ludah. Ragu untuk melanjutkan bicaranya. Suasana menjadi hening selama beberapa waktu.

“Lalu?”

“A-aku mau kita pergi dari desa ini. Bagaimana menurutmu, Mother?

Marilyn terkejut. Matanya membesar dan mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka bahwa Gilbert memiliki pemikiran yang sama dengannya.

“Anak-anak. Aku tidak tahu dari mana kalian mendapatkan ide tersebut, tetapi syukurnya aku juga berpikir mengenai pindah dari desa ini. Apa kalian benar-benar siap memulai sebuah perjalanan baru bagi keluarga kita?”

Gilbert mengembuskan napas lega. Begitu juga Jill yang ada di sebelahnya.

“Aku siap, Mother. Tentu saja.”

“Aku juga siap. Tapi, ke mana kita akan pergi?”

“Rahasia!” Jawab Marilyn cepat. “Kalian akan mengetahuinya setelah kalian makan malam dan membereskan barang-barang yang akan kalian bawa.”

“Hore!”

Gilbert dan Jill tampak bersemangat. Di benak mereka sudah terbayang sebuah perjalanan yang menyenangkan. Bukit, sungai dan mungkin lautan akan mereka lewati untuk sampai di tempat yang baru. Mereka lupa bahwa Marilyn mempunyai sepatu yang bisa membawa mereka ke tempat manapun dalam sekejap mata. Dan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan seperti yang mereka inginkan.

Keesokan paginya, Gilbert dan Jill sudah berada di ruang makan dengan segala perlengkapannya.

“Kumpulkan barang-barang kalian di sini.”

Gilbert dan Jill mematuhi Marilyn.

“Sekarang, mendekatlah ke mari. Kita harus saling berpegangan.”

“Marilyn, aku punya permintaan terakhir sebelum kita pergi.”

“Apa itu, Jill?”

“Karena kita akan memulai hidup baru, mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu mother?”

Serta merta Marilyn memeluk Jill. Lalu Gilbert bergabung dengan mereka. Ia pun sama terkejutnya dengan Marilyn. “Tentu saja, Sayang. Kalian berdua adalah anak kandungku mulai sekarang.”

“Terima kasih, Marilyn, eh, Mother.”

Jill mengusap air mata yang tak mampu ia bendung. Sambil terisak, ia bertanya.

“Marilyn, kita akan melakukan perjalanan dengan kereta, kan? Kita akan melewati bukit, sungai atau bahkan lautan, kan? Aku tidak sabar.”

“Tidak, Anak-anak.” Marilyn tertawa geli membayangkan anak-anak yang berharap akan sebuah perjalanan yang menyenangkan. “Kita punya ini.” Kata Marilyn sambil mengangkat gaunnya sehingga kedua anak-anak tersebut dapat melihat sepatu yang ia pakai.

“Yaaahh…”

*

TAMAT

[#Cerpen24Jam – 8] Di Angka Dua Belas

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

*

8. Di Angka Dua Belas

Bulan sedang purnama. Gilbert dan Jill membiarkan jendela kamar mereka terbuka untuk menikmati cahayanya yang samar.

“Benarkah kau akan memakai sepatumu ketika tidur? Kau berlebihan, Teman. Haha. Marilyn bisa terbahak-bahak mengetahui itu.”

“Apa menurutmu aku harus melepasnya? Aku khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi malam ini.”

“Apa yang bisa kauhindari di dunia ini? Bahkan kematian tetap datang seberapa keras pun kau berlari darinya.”

“Ah, Jill. Kau sungguh membosankan bila berbicara dengan nada seperti itu.” Gilbert melemparkan bantalnya ke arah Jill. Bantal itu sukses mengenai kepala temannya yang tidak sempat menghindar. Bukannya membalas, Jill malah diam saja. Ia tekun memperhatikan Gilbert bangun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan meletakkannya di bawah jendela kamar yang terbuka.

*

Abraham memperhatikan penunjuk waktu berbentuk bulat yang dikalungkan di lehernya. Ia dan Martha sudah berada di depan rumah Gilbert menunggu waktu yang tepat untuk mulai beraksi.

“Kau siap, Sayang?” Abraham menoleh ke kiri. Istrinya terlihat sedang membuat simpul dari tambang yang mereka beli di toko sembarang di dekat pasar. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari tambang tersebut, Martha mengangguk meyakinkan suaminya.

“Kita akan bergerak sebentar lagi. Ketika jarum jam berada tepat di angka dua belas. Lampu-lampu di dalam rumah telah dimatikan. Aku yakin saat ini mereka sudah tertidur lelap.”

“Ya, semoga saja.”

*

Di kamarnya, Marilyn belum bisa memejamkan mata meskipun badannya sudah rebah di atas tempat tidur. Kepalanya bekerja lebih keras sejak kedatangan Abraham dan Martha yang begitu tiba-tiba. Apa yang mereka inginkan? Sepatu Gilbert? Rumah ini? Bukankah ayah Jack sudah memberi mereka harta yang lebih dari cukup?

“Jack, apa yang harus aku lakukan?” Marilyn membalik badan hingga menghadap ke kanan dan berbicara seolah-olah suaminya ada di sana. “Apa yang akan kau lakukan kalau kau jadi aku?”

Marilyn menggumam pelan, sama pelannya dengan gemerisik dedaunan. Lama-kelamaan, suaranya menghilang terbawa gelapnya mimpi.

*

“Apa rencana kita?”

“Tidak ada rencana. Masuk, ambil sepatu itu lalu lari.”

“Siap.”

Mereka sudah berdiri di beranda rumah Gilbert, menimbang-nimbang cara untuk masuk ke dalam. Pintu depan terkunci dari dalam. Tentu saja. Mereka memutar ke sisi kanan rumah untuk mencoba membuka jendela dapur.

“Jendela ini tidak terkunci tetapi sulit di buka dari luar karena tidak ada pegangan.”

“Kita bisa coba membukanya dengan ini.”

Martha mengeluarkan sebatang besi dari kantong celananya. Kali ini ia sengaja melupakan gaunnya dan berpakaian seperti laki-laki untuk memudahkannya bergerak. Besi itu diberikan kepada Abraham yang menerimanya dengan senyum senang. Tanpa membuang-buang waktu, Abraham mencoba menyelipkan ujung besi tersebut ke bawah jendela lalu mengungkitnya. Usaha pertamanya gagal, tetapi mereka tidak menyerah. Akhirnya ia berhasil pada usaha yang ketiga.

“Yess!” Mereka memekik senang dengan suara ditahan.

Jendela itu tidak terlalu tinggi. Hanya setinggi bahu orang dewasa. Mereka masuk dengan susah payah. Abraham masuk terlebih dahulu, lalu ia membantu Martha dari dalam. Mereka bergerak sehalus mungkin agar tidak timbul suara-suara yang bisa membuat pemilik rumah terbangun dari tidurnya.

“Tinggalkan tambang itu di luar. Kita tidak membutuhkannya.”

Suasana di dalam rumah tidak gelap pekat. Cahaya bulan dari jendela dapur yang tidak dipasangi tirai memberi penerangan yang cukup. Abraham berjalan sambil meraba-raba udara. Mereka berjalan ke ruang keluarga lalu menaiki tangga dengan mudah. Di depan mereka kini, terdapat lorong panjang yang berisi dua kamar di masing-masing sisinya.

“Yang mana kamar Gilbert?”

“Aku tidak tahu. Kita harus memeriksanya satu persatu.”

Mereka berjalan perlahan menuju ke kamar pertama di sebelah kiri. Lantai kayu yang mereka pijak beradu dengan alas sepatu besi yang mereka cukup membuat was-was.

Krieeett..

Deg! Mereka berdiri mematung, melihat satu sama lain lalu melihat sekeliling. Jantung mereka mencelos, khawatir kalau-kalau mereka ketahuan. Suara pintu kamar yang baru saja mereka buka terdengar ringkih.

*

Marilyn menggeliat dalam tidurnya.

“Jack, kaukah itu?” Ia mengigau lalu kembali tenggelam dalam mimpinya yang belum selesai.

*

“Ini kamar Gilbert. Pekerjaan kita semakin mudah, Sayang.”

Martha tersenyum melihat suaminya berseru senang. “Kita harus segera mencari sepatu itu!”

“Tidak perlu.” Abraham menunjuk ke arah jendela yang terbuka. Di bawah jendela itu, sepasang sepatu yang mereka incar teronggok manis. Senyum mereka semakin mengembang.

Tanpa membuka daun pintu lebih lebar, Abraham berjalan miring agar tidak menimbulkan suara-suara. Martha melakukan hal yang sama. Mereka menyeberangi kamar sambil menatap lekat-lekat ke arah Gilbert dan Jill yang tertidur lelap. Jangan sampai mereka terbangun.

*

Jill menggeliat dalam tidurnya. Cahaya yang berganti-ganti dari gelap ke terang lalu sebaliknya menggelitik matanya untuk bereaksi. Ia mengerjap-kerjap dalam kondisi setengah sadar.

“Gilbert… Kaukah itu?” Racaunya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terfokus, ia melihat di arah jendela. Ada seorang laki-laki yang menghalangi cahaya bulan.

“Abraham?”

*

Deg!

Sekali lagi Abraham berdiri mematung begitu pula Martha. Saat itu mereka sedang membelakangi jendela.

“Abraham?” Jill menyebut nama Abraham.

“Bahaya! Cepat tutup mulut anak itu.” Perintahnya kepada Martha. Dengan sigap, Martha menghampiri Jill yang berusaha bangun dan melarikan diri.

“Marily……”

Belum sempat ia menyebut nama Marilyn dengan lengkap, Martha sudah membekap mulut Jill dengan tangan. Jill meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman tanpa makna.

Untungnya, Gilbert terbangun karena teriakan Jill. Ia membuka matanya dan langsung melihat apa yang sedang terjadi.

Uncle? Apa yang kau lakukan di sini? Martha? Jill? Lepaskan Jill!”

Gilbert panik. Ia melihat pamannya sedang sibuk memakai sepatu ajaib miliknya sementara Martha masih membekap mulut Jill dengan tangannya. Apa yang harus ia lakukan? Merebut sepatunya atau menolong Jill?

“Lepaskan sepatuku! Itu milikku!!”

Akhirnya Gilbert berlari menerjang Abraham. Abraham kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Punggungnya menimpa tumpukan buku-buku yang belum sempat dibereskan Gilbert tadi sore sedangkan kepalanya menghantam rak buku yang setengah kosong. Rak buku tersebut oleng lalu jatuh menimpa Abraham.

Sebelah sepatu Gilbert sudah terpasang di kaki Abraham, sehingga ia dengan cepat mengambil sebelah sepatu lagi yang terlempar ke samping dipan. Tidak lupa juga, ia mengambil sepatu bersol besi milik Abraham yang tergeletak di bawah jendela.

Gilbert melempar sepatu besi itu ke arah Martha ketika Marilyn masuk.

“Apa yang terjadi?” seru Marilyn khawatir.

Sepatu bersol besi yang dilemparkan Gilbert mengenai lengan Martha yang membuatnya memekik kesakitan. Ia terpaksa melepaskan tangannya dari Jill lalu berlari ke arah suaminya yang sedang bersiap-siap kabur melalui jendela.

“Abraham? Martha? Apa yang kalian lakukan?”

Butuh sekian detik bagi Marilyn untuk memahami apa yang terjadi. Lalu ia menghambur ke arah Gilbert dan Jill untuk menenangkan mereka. Bersamaan dengan itu, Abraham melompat dari jendela disusul oleh Martha.

“Sepatuku, Mother. Sebelah sepatuku masih dipakai uncle.” Gilbert melepaskan diri dari pelukan Marilyn lalu berlari keluar kamar, menuruni tangga, membuka pintu depan dan menuju ke sisi kiri rumah tepat di bawah jendela kamarnya.

Di kejauhan, Abraham terlihat berlari terseok-seok menjauhi rumah mereka dengan bertelanjang kaki. Di belakangnya, Martha pun lari terbirit-birit.

“Mereka meninggalkan sepatuku di sini. Pasti. Aku lihat uncle bertelanjang kaki.” Seru Gilbert panik ketika Marilyn dan Jill tiba. Ia mencari-cari sepatunya di antara tanaman mawar yang rendah.

“Tenang, Sayang. Kita akan mencari sepatumu segera. Tenang.”

Marilyn menarik Gilbert lalu mereka bertiga berpelukan.

*

“Sial!!”

Abraham berteriak marah karena kegagalan yang baru saja ia alami. Mereka tiba di perbatasan desa dalam kondisi kelelahan dan terseok-seok. Sekujur tubuh mereka sakit karena mereka jatuh di atas tanaman mawar yang tumbuh di bawah jendela kamar Gilbert.

“Mungkin kita harus mencari cara lain untuk merebut sepatu itu.”

“Tentu saja. Aku tidak akan menyerah sampai di sini. Lihat saja. Aku pasti berhasil.”

“Kita, Sayang. Kita pasti berhasil.”

Abraham mengabaikan koreksi Martha karena dalam hati ia menganggap kegagalan ini disebabkan oleh kecerobohan istrinya.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

9. Permintaan Terakhir

[#Cerpen24Jam – 7] Potret Ibunda

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

6. Pengantar Pesan

*

7. Potret Ibunda

Ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan Jill mengenai ibunya, Chloe. Yaitu kue cokelat bikinan ibunya yang membuatnya ingin memakan semua kue hingga tak bersisa, sekalipun untuk ayahnya. Chloe tidak keberatan jika Jill memang hendak memakan semua kue, tetapi suaminya, Ed, tidak akan membiarkan Jill makan terlalu banyak.

“Jill, jangan pertaruhkan kesehatanmu hanya karena kau tidak bisa mengekang nafsu.”

Begitu kata Ed setiap kali Jill hendak mengambil kue cokelat ketiga. Jill menurut.

*

Gilbert membenarkan posisi duduknya. Ia meluruskan kakinya hingga tersembunyi di bawah meja. Tatapan Abraham ke arah sepatunya sungguh mengganggu. Kalau ia mau –kalau Marilyn membolehkan, mungkin sekarang ia sudah menendang Abraham tepat di wajah. Tatapannya menjijikkan. Seperti laki-laki hidung belang yang tidak sabar menelanjangi seorang gadis seksi yang ia temui di jalanan. Sepatu yang dikenakan Gilbert tidak seksi seperti seorang gadis, tetapi pesonanya tentu serupa. Siapa yang tidak mau memiliki sepatu ajaib yang bisa membuat si pemakai menjadi sekuat superhero?

Sepasang sepatu yang dipakai Gilbert adalah warisan yang diberikan oleh ayahnya, Jack. Sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, ayahnya mendapat keuntungan untuk memilikinya. Sebenarnya, Abraham, adik ayahnya, juga bisa memakai sepatu ajaib tersebut karena ia juga adalah anak laki-laki dalam keluarga. Tetapi sial bagi Abraham. Ia lahir sebagai anak laki-laki kedua.

“Gilbert, rumahmu begini indah. Tentu kau memiliki banyak baju bagus dan banyak sepatu yang tak kalah bagus, mengapa kau malah memakai sepatu tua yang tampilannya sudah begitu buruk?” Abraham mencoba merayu Gilbert agar mau bicara. Ia perlu tahu bahwa sepatu yang sedang dipakai Gilbert adalah sepatu ajaib yang mereka inginkan.

“Aku suka sepatu ini.” Gilbert terbawa suasana. Ia suka dipuji dan itu membuatnya sedikit melayang. “Ini sepatu kesayangan ayah. Setelah kematiannya, sepatu ini diwariskan kepadaku. Agak kebesaran tapi aku suka.” Gilbert berbicara cepat dan penuh semangat.

Abraham tersenyum. Ada kilatan jahat lewat di matanya. Kini ia yakin bahwa sepatu itulah yang ia incar. Martha menyikut lengan Abraham untuk memberitahukan hal yang sama. Mereka tersenyum puas.

Gilbert melihat ekspresi wajah Abraham dan Martha yang sangat kentara. Ia menyadari telah membuat kesalahan lalu cepat-cepat menutup mulutnya.

“Ups..”

*

Marilyn kembali dari dapur bersama Jill yang membawa sebuah nampan berisi kue cokelat di tangannya. “Aku tidak tahu kau membuat kue cokelat Marilyn.” Kata Jill takjub dan ekspresi tak sabar untuk memakannya.

“Tentu saja, kalian kan sedang bermain di luar ketika aku membuatnya.”

“Aku mau mencicipinya.”

“Tentu saja, Jill.”

Jill meletakkan nampan tersebut di atas meja. Marilyn menawari Abraham dan Martha untuk mencicipi kue cokelat yang dibawa Jill. Jill juga mengambil satu dan menyuapkan sepotong ke dalam mulutnya.

“Ibu…” bisik Jill. Matanya berkaca-kaca ketika merasakan kue cokelat buatan Marilyn meleleh di lidahnya. Senyumnya mengembang senang. Perasaan hangat merayap ke dalam dadanya. Jill mengalihkan pandangannya ke arah Marilyn dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan terima kasih.

“Kau suka Jill?”

Jill mengangguk cepat.

“Kalian suka kue cokelat buatanku? Kau suka Gilbert?”

Mereka semua mengangguk dengan senang. Tetapi senyum mereka mensyaratkan hal yang berbeda-beda.

“Mengenai pesan yang kausebut tadi, apa yang harus aku lakukan kemudian?”

Abraham tersentak. Kebohongannya bersambung. “Pengacara keluarga akan segera datang ke tempat ini. Aku sudah memberitahu ia alamatmu.”

“Mengapa harus di rumah ini?”

“Karena ini adalah rumah anak laki-laki tertua dalam keluarga.”

“Tidak ada pengacara, Marilyn. Tidak ada pesan, tidak ada surat wasiat. Yang mereka inginkan hanyalah sepasang sepatu yang dipakai Gilbert saat ini. Kalau beruntung, mereka akan membawa serta sepatumu dan merebut rumah ini.”

Marilyn mengingat-ingat lagi pemberitahuan Jill ketika mereka masih di dapur. Wajahnya mengeras terisi emosi.

“Aku tidak memerlukan apa-apa  lagi dari keluarga Jack. Jack sudah meninggal dan aku tidak keberatan tidak mendapatkan apa-apa. Aku sudah bahagia hidup bersama anakku. Jika sudah selesai, kalian boleh meninggalkan rumahku.”

“Tapi, surat wasiat itu bukan untuk membagikan harta. Sebaliknya, surat itu hendak meminta sesuatu yang dulu pernah diwariskan ayah kepada kalian.”

“Kau tidak cukup pandai berbohong Abraham.” Marilyn membuat kesimpulan. “Dari mana kau tahu isi surat itu padahal suratnya sendiri belum dibacakan.”

Abraham tercekat. Ia memandang Marilyn dengan berani. Baru saja Abraham hendak membela diri, Marilyn melanjutkan bicaranya.

“Atau surat itu sejatinya memang tidak ada?”

*

Gara-gara kue cokelat bikinan Marilyn yang baru dinikmatinya, Jill melihat semakin banyak kemiripan yang ada pada Marilyn dan ibunya. Baru kali ini Jill melihat Marilyn begini emosi menghadapi kebohongan. Marilyn berdiri sambil berkacak pinggang mengusir Abraham dan Martha. Pernah suatu kali, Chloe juga mengusir berandalan yang datang ke rumah untuk meminta sumbangan dalam rangka pembangunan gereja. Berandalan itu hanyalah anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan lalu mendatangi rumah penduduk untuk meminta uang dengan cara berbohong mengenai sumbangan dan sebagainya.

Marilyn seperti potret Chloe yang ada di ingatan Jill. Setiap kali marah, pipinya berubah merah. Chloe pun sama. Setiap kali berada dalam ketegangan seperti ini, tangannya terlipat di dadanya dan kakinya mengetuk-ketuk lantai. Ia sedang menunggu lawannya bereaksi.

*

Martha yang duduk di sebelah Abraham, tidak bisa berkata apa-apa untuk menolong suaminya. Ia segera bangkit dan Abraham mengikuti tindakannya.

“Ayo pergi dari sini. Kita bisa memikirkan cara lain untuk mendapatkan sepatu itu.” Martha berbisik pelan di telinga suaminya. “Dan aku rasa, kita harus berhati-hati dengan anak itu. Tatapannya membuatku khawatir.” Martha menunjuk Jill dengan dagunya.

“Aku rasa kau sudah tahu tujuan kami datang ke sini, Marilyn.” Abraham memandang Marilyn sebentar lalu melirik Jill. “Jika kau tidak bersedia memberi apa yang kami mau, apa boleh buat….”

“Jangan coba-coba mengganggu kami, Abraham!” Marilyn menyergah cepat.

*

Jill tidak sadar mulutnya membuka ketika melihat Marilyn menunjukkan kemarahannya kepada Abraham dan Martha yang langsung mengemasi barang-barangnya lalu pergi dari sana.

“Marilyn, kau keren!” Mata Jill berkaca-kaca karena kagum.

“Hhh.. Jill, apa maksudmu dengan ‘keren’? Barusan aku marah-marah.”

Marilyn menenangkan diri. Ia memeluk Gilbert dengan satu tangan dan Jill dengan tangan yang lain. Untuk sementara, mereka bisa kembali tenang.

“Kau keren, Marilyn. Persis seperti ibuku. Aku pernah melihat dia marah dan dia persis sepertimu. Sangat mirip.”

“Haha.. Jill, jangan mengada-ada. Aku pernah bertemu dengan ibumu dulu. Ia jauh lebih cantik dan jauh lebih sabar dari aku. Sepertinya, dalam kondisi sesulit apapun, dia tidak akan pernah marah.”

“Kau salah, Marilyn. Kau bertemu ibuku satu kali dan aku bertemu dengannya setiap hari. Kau tidak akan menyangka dia marah-marah kepada anak-anak berandalan yang meminta uang dengan kedok sumbangan.”

“Benarkah?” Giliran Marilyn yang menatap Jill dengan takjub.

Mother, tadi aku membuat kesalahan.” Gilbert menyela pembicaraan Marilyn dan Jill dengan suara bergetar dan tak percaya.

“Apa yang mereka lakukan, Sayang? Kau baik-baik saja, kan? Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji!”

“Bukan, Mother. Mereka tidak menyakitiku. Aku yang menyakiti diriku sendiri. Bahkan mungkin, aku yang menyebabkan kita berada dalam bahaya.”

“Ceritakan maksudmu, Gilbert.” Marilyn khawatir.

Gilbert menceritakan kesalahan yang ia lakukan ketika Abraham bertanya mengenai sepatu yang sedang ia pakai. Kata-kata Gilbert yang membuat Abraham dan Martha menyeringai puas, merupakan kesalahan fatal yang dapat menjerumuskan mereka dalam bahaya.

“Tenang, Sayang. Mereka tidak akan berani macam-macam dengan keluarga kita.” Marilyn memeluk Gilbert lebih erat dan mengusap-usap rambutnya untuk menenangkan. “Mulai hari ini kita harus lebih berhati-hati. Ingat, sebagai keluarga kita harus saling menjaga.”

*

Abraham dan Martha menyusuri jalanan desa untuk mencari losmen murah tempat mereka menginap untuk satu malam.

“Aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan sepatu itu.” Abraham menggeram marah sambil menendang apa saja yang ia temui di jalanan.

“Tentu, Sayang. Malam ini juga kita harus bergerak. Kalau mereka tidak memberikan apa yang kita mau, maka satu-satunya jalan adalah kita yang harus datang mengambilnya.”

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

8. Di Angka Dua Belas