[Flash Fiction] 24 x 60 x 60

“24 x 60 x 60.”

Ruli mendorong kotak kardus tersebut kembali ke bawah meja belajar. Meletakkan penggaris. Beranjak ke rak buku di sisi kamar yang lain. Menarik lagi kotak kardus lain. Diukurnya lagi panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus tersebut.

“24 x 60 x 60.”

Lalu ia mengitari kamarnya. Mencari kotak kardus yang lain.

Kegiatan ini akan berlangsung sampai petang. Berhenti untuk sebentar saja. Karena setelah mandi, makan malam, dan merapikan beberapa barang di bagian rumah yang lain selain kamarnya–yang ini ia lakukan berkali-kali pula–Ruli akan kembali menyibukkan diri dengan penggaris dan kardus kesayangannya.

Keesokan paginya, ia sibuk mengukur kardusnya lagi, memastikan bahwa kardus tersebut masih berukuran 24 x 60 x 60.

“24 x 60 x 60.” gumamnya

“Kamu sudah mengukur kardus itu berkali-kali berhari-hari, Nak.” Aku tak tahan.

Ruli diam.

“Ukurannya tidak akan berubah, jadi kamu tak perlu terus-terusan mengukurnya.” Aku menunduk. Malu. Merasa kalah oleh seorang anak yang bahkan belum fasih berkata-kata. Bisa kudengar Ruli masih sibuk dengan kegiatannya. Aku memutuskan untuk menjauh. Sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatian Ruli.

Ah, tentu saja!

Lalu kuambil barang-barang dan meletakkan barang-barang itu tidak pada tempatnya.

***

[Flash Fiction] Someone Like You

Malam ketiga. Gigil kesekian. Julian tak henti mencangkuli tanah di hadapannya. Setiap kali secuil bagian peti terlihat, semangatnya bertambah. Gigilnya mereda. Berganti senyum yang mencerahkan wajah. Menyaingi bulan di atas sana.

“Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya.” Julian melompat ke luar lubang galiannya. Mengulang-ulang ucapannya.

Malam berikutnya. “Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air.”

Julian menutup kembali galiannya lalu pergi dengan gigil di seluruh tubuhnya.

Malam berikutnya, “Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang.”

Ia melompat keluar lubang galian dengan gusar. Sambil berjalan cepat dengan kepal tangan yang mengeras, air matanya menderas. “Tak ada, Sayang. Tak ada yang seperti kamu. Harus kugali berapa banyak lagi? Berapa?!”

Di kepala Julian, membayang tubuh kaku kekasihnya di ruang bawah tanah, menunggu bulu mata, jemari serta kuku masa mudanya dulu.

***