[#Cerpen24Jam – 10] Kepulangan

Aku menggenggam tanganmu sekali lagi sebelum aku benar-benar beranjak dari sini. Hangat yang tadi hanya sampai di telapak tanganku, kini menjalar melalui lenganku lalu menyebar ke seluruh tubuhku. Kehangatan seperti ini ternyata mampu mencairkan butiran kristal yang selama ini aku simpan di pelupuk mata. Aku bergeming.

Jari kelingkingmu bergerak. Aku bisa merasakannya. Tidak lama kemudian, kelopak matamu juga memberi isyarat kesadaran. Aku menahan napas menunggu gerakan berikutnya. Mungkin kamu sedang memberi petunjuk agar aku tidak kemana-mana.

“Iya, aku tidak akan pulang sekarang. Kamu masih mau aku temani, kan? Aku paham.”

Tidak ada reaksi.

“Apa kamu mau mendengar cerita yang lain?”

Jari kelingkingmu bergerak lagi.

“Jasmin memang nakal. Dia cucu perempuan kita yang paling nakal sekaligus paling kamu sayang. Mengapa kamu begitu menyukai Jasmin? ‘Karena Jasmin mirip kamu’ katamu. Aku tidak mengerti sampai aku ingat perkataan ibuku dulu. Beliau bilang begini.”

“’Waktu kamu berumur tujuh tahun, kelakukanmu, ya Tuhan, ibu sampai menyangsikan apakah kamu benar-benar seorang perempuan.’”

“Waktu itu aku tertawa terbahak-bahak.  Aku ingat ketika ibu meneriakkan namaku berkali-kali sementara aku asyik bermain layang-layang bersama beberapa anak laki-laki. Layang-layangku putus. Kalah oleh layang-layang yang dimainkan Leo. Kami berlari mengejarnya tanpa memperhatikan jalanan. Rupanya aku menginjak ikan asin yang sedang ibu jemur di pinggir jalan dan terpal yang menjadi alas tersangkut di sandalku. Alhasil ikan asin ibu berserakan di jalanan. Ibu yang memerhatikan dari beranda berteriak marah sambil mengejarku. Aku tidak memedulikan ibu, aku lebih mengkhawatirkan layang-layangku, jangan sampai direbut anak lain. Ketika aku tiba dirumah, tadinya aku ingin menunjukkan layang-layang yang berhasil aku dapatkan kembali. Aku hebat. Menjadi yang paling pertama tiba di tempat layang-layangku terjatuh. Tapi, siapa sangka. Ibu masih murka. Kamar mandi menjadi tempat penyiksaan yang tidak terhindarkan. Kepalaku dibenamkan ke dalam bak mandi selama beberapa lama. Aku megap-megap mencari udara namun aku tidak sedikit pun mengeluarkan air mata. Aku memang nakal. Dan keras kepala. Sama seperti Jasmin, cucu kesayanganmu itu. Tunggu, darimana kamu tahu bahwa aku begitu nakal ketika seusia Jasmin?”

Aku tersenyum melihat kelopak matamu bergerak dan mulutmu sedikit membuka. Kamu harus segera sembuh. Aku rindu mendengar suaramu memarahiku setiap kali aku memarahi Jasmin. Dulu aku anak yang nakal dan sekarang aku nenek yang galak. Aku tidak banyak berubah ya? Aku tertawa kecil, memberi jawaban atas pikiranku sendiri.

“Kamu ingat pernikahan Alexa, putri bungsu kita? Seno datang terlambat. Alexa hampir menangis di ruang ganti. Itu bukan kali pertama Seno terlambat datang. Maksudku, Seno adalah orang yang tidak menghargai waktu. Ia lebih sering terlambat dan membuat Alexa menunggu. Menelepon, kencan, menghadiri undangan makan malam dari kita. Bagaimana Alexa yang begitu disiplin bisa tahan dengan lelaki seperti itu? Bukankah kita mendidik Alexa dengan tegas? Ketika aku menanyakan hal ini kepada Alexa, aku tercenung mendengar jawabannya.”

“’Yang penting Seno datang. Tak usahlah mempermasalahkan keterlambatannya.’”

“Aku tercenung mendengar jawabannya. Kata-kata itu adalah kata-kata pamungkas yang sering kamu lontarkan setiap kali kamu terlambat. Kamu jagonya datang terlambat, Sayang. Aku baru sadar, bahwa kamu sudah menceritakan banyak hal pada Alexa tanpa sepengetahuanku. Pantas saja aku kerap  melihat kalian saling tersenyum penuh misteri.”

“Buka matamu, Sayang. Jangan sembunyikan matahari lebih lama lagi.”

Aku menggenggam tanganmu semakin erat. Tentu kamu bisa merasakannya. Aku tidak pernah sekhawatir ini. Kamu diam terlalu lama. Biasanya jika aku melakukan kesalahan, kamu memang marah dan mendiamkan aku. Tapi tidak selama ini. Apa kesalahanku kali ini begitu besar? Aku mulai mendengar tarikan napasmu. Sekali lagi, Sayang. Sekali lagi. Lebih kuat. Aku rindu mendengar sesuatu agar aku tidak merasa sendirian.

“Aku akan mengingatkanmu tentang sesuatu. Film drama adalah film kesukaanku. Meskipun begitu kamu selalu mau menemaniku menonton. Haha. Maafkan aku. Tetapi aku ingat. Khusus malam itu, aku tidak perlu merajuk agar kamu mau. Sebaliknya, justru kamu yang mengajakku. Kamu meletakkan dua tiket film di atas meja rias. Aku mendapatinya ketika aku selesai mandi dan kamu tersenyum, duduk di pinggir ranjang. Ada yang aneh, pikirku. Tapi lagi-lagi aku tidak menaruh curiga. Bahkan sikap tidak tenangmu di dalam bioskop aku anggap biasa saja. Aku tidak memedulikanmu sampai aku merasa ada sesuatu yang kamu lingkarkan di jariku. ‘Tidak perlu menjawab. Aku yakin kamu bilang iya.’ Begitu bisikmu. Aku melewatkan beberapa adegan. Aku tidak memedulikan layar besar di hadapan. Aku sibuk merasa takjub kepadamu hingga pernikahan itu benar-benar terjadi beberapa bulan kemudian.”

Ujung bibirmu sedikit tertarik. Aku melihat secercah harapan. Bangun, Sayang. Ayo kita berjalan-jalan di pinggir danau dan memberi makan burung-burung merpati. Bukankah kamu selalu menyukai burung merpati?

“Bangun, Sayang. Ayo kita pulang. Anak-anak menunggumu dengan pesta sederhana. Cucu-cucumu sudah menyiapkan pelukan. Kebun kecilmu, sofa kesayanganmu, rak bukumu, kacamata bacamu. Semua merindukanmu. Bahkan sinar matahari enggan masuk ke dalam rumah jika tidak ada kamu menyambut mereka di beranda setiap pagi.”

“Pulang, Sayang.”

*

[#Cerpen24Jam – 9] Permintaan Terakhir

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. MEnulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

8. Di Angka Dua Belas

*

9. Permintaan Terakhir

Sore itu, setelah acara minum teh dan menikmati kue kering selesai, Gilbert dan Jill meminta ijin untuk bermain di luar. Marilyn memberi ijin bahkan memberi gagasan mengapa mereka tidak bermain-main di pasar. Di waktu-waktu seperti ini, pasar sedang berganti dari pasar yang menjual bahan makanan menjadi pasar malam yang dilengkapi berbagai hiburan.

Dengan suka hati, Gilbert memakai sepatu kesayangannya sementara Jill memakai sweater wool yang dibuatkan Marilyn untuknya.

“Jangan pulang terlalu malam. Kalian harus sudah di rumah sebelum jam makan malam tiba.”

Okay, Mother.”

”Baik, Marilyn.”

*

Tidak lama setelah anak-anak pergi bermain, Marilyn pun mempersiapkan diri. Ia membungkus pai apel yang akan menjadi hantaran dan meletakkannya dalam keranjang rotan. Jika tidak dalam keadaan terdesak, Marilyn tidak mungkin merepotkan Bibi May yang sudah pensiun mengurus keluarga Aethelmaer. Bibi May tinggal tidak jauh dari rumah Marilyn. Hanya diperlukan lima belas menit berjalan kaki untuk sampai ke sana. Dari luar, rumah terlihat sepi. Hanya ada tanaman mawar di beranda yang menyambut Marilyn.

Marilyn mengetuk pintu tiga kali. Tidak perlu usaha kedua untuk membuat si empunya rumah mengetahui kedatangannya.

“Marilyn?” Bibi May berseru senang melihat Marilyn datang tanpa terduga. “Ah, aku sudah begini renta dan tidak bisa berjalan jauh. Sungguh tega kau datang ke sini hanya sesekali. Kau tahu aku butuh teman mengobrol, Marilyn.”

Bibi May berbicara tanpa henti sembari membukakan pintu, mempersilakan Marilyn masuk dan mengambil keranjang rotan yang ia tahu pasti berisi kue buatan Marilyn.

“Aha, kau masih suka membuat pai apel. Apakah ini sesuai resep yang aku ajarkan?”

“Tentu saja, Aunt May. Resep pai apel yang aku ajarkan padaku sangat lezat. Tak ada yang tidak menyukainya.”

Bibi May tersenyum mendengar pujian Marilyn. Matanya menyipit dan kerutan di wajahnya tampak semakin jelas.

Aunt May. Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Ah, Marilyn. Lama tak jumpa denganmu, ternyata kau masih tidak menyukai basa-basi. Baiklah, apa yang bisa aku bantu?”

*

“Menurutmu, apakah Abraham akan datang lagi suatu hari nanti?”

“Marilyn bilang tidak dan aku percaya. Kau takut, Teman?”

“Aku tidak takut pada Abraham. Yang aku takutkan adalah melihat kalian dalam bahaya.”

“Kita akan baik-baik saja. Kita adalah keluarga dan keluarga akan saling menjaga.”

“Tentu saja. Tentu saja.” Gilbert menggangguk-anggukkan kepalanya mencoba menciptakan ketenangan dalam dirinya. “Sebut saja aku takut pada Abraham, apa yang harus kita lakukan?”

Jill memandang Gilbert dalam-dalam dan Gilbert membiarkan Jill membaca apa yang ada di benaknya.

“Mengapa harus melarikan diri? Bukankah kau punya sepatu ajaib yang bisa melipatgandakan kekuatan dan aku bisa membaca pikiran. Ditambah lagi sepatu Marilyn yang bisa membawa kita ke mana saja.”

“Maksudku, kita punya sepatu mother. Mengapa tidak kita manfaatkan aset yang ada?”

“Sebenarnya aku tidak suka melarikan diri tetapi ide mengenai menjelajah tempat baru tidak begitu buruk. Tak ada salahnya kita sampaikan ide itu pada Marilyn.”

Gilbert dan Jill berdiri lalu membersihkan baju mereka dari debu dan dedaunan yang berjatuhan dari pepohonan yang ada di sekitarnya. Mereka berjalan pelan bersamaan dengan tenggelamnya matahari di cakrawala.

*

“Sebenarnya aku tidak setuju kau memberikan rumahmu kepada Abraham. Sejak dulu ia anak pemalas. Berapapun harta yang kauberikan, pasti akan habis sia-sia di tangannya.”

“Anggap saja ini permintaan terakhirku, Aunt May. Setelah ini, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Aku akan mengajak anak-anak pergi jauh dari sini.”

“Apa mereka setuju? Apa menurutmu mereka sudah siap untuk bepergian dalam jarak yang kau sebutkan tadi?”

“Tenang, Aunt May. Mereka laki-laki yang kuat. Aku tahu mereka pasti siap menjalani petualangan baru.”

“Baiklah. Kau ibunya. Besok, aku akan minta seseorang untuk mengantarkan surat ini kepada Abraham. Semoga anak pemalas itu berhenti mengganggumu dan Gilbert.”

*

Makan malam telah siap di atas meja ketika Gilbert dan Jill tiba di rumah. Belum sempat mereka mengutarakan apa yang akan mereka katakan, Marilyn lebih dulu menyuruh mereka membersihkan diri.

“Ada yang ingin aku katakan pada kalian.” Marilyn membuka suara ketika semua orang telah duduk mengelilingi meja makan.

“Aku juga, Mother. Ada yang ingin aku katakan.”

“Apa kau juga ingin mengatakan sesuatu Jill?” Marilyn melihat gerak-gerik mencurigakan pada kedua anak itu.

“He eh, tidak. Aku setuju pada apa yang akan dikatakan Gilbert, Marilyn.” Jill menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaannya bila sedang merasa kikuk.

“Baiklah. Katakan apa yang ingin kau katakan, Sayang.”

Sebelum bicara, Gilbert melirik ke arah Jill yang ternyata sudah memperhatikannya sejak tadi.

Aku takut dikira penakut karena ingin melarikan diri. Bagaimana ini? Selama ini Mother selalu mengajariku untuk menjadi laki-laki pemberani seperti ayahku.”

Jill membaca ketakutan Gilbert. Dengan tatapan mata yang entah di mengerti Gilbert atau tidak, Jill meyakinkan temannya untuk bicara. Marilyn menunggu dengan tenang, kedua sikunya bertumpu di atas meja dan jemarinya terjalin menjadi satu.

“A-aku takut kalau-kalau Uncle Abraham datang lagi ke mari dan menganggu ketenangan keluarga kita.” Gilbert menelan ludah. Ragu untuk melanjutkan bicaranya. Suasana menjadi hening selama beberapa waktu.

“Lalu?”

“A-aku mau kita pergi dari desa ini. Bagaimana menurutmu, Mother?

Marilyn terkejut. Matanya membesar dan mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka bahwa Gilbert memiliki pemikiran yang sama dengannya.

“Anak-anak. Aku tidak tahu dari mana kalian mendapatkan ide tersebut, tetapi syukurnya aku juga berpikir mengenai pindah dari desa ini. Apa kalian benar-benar siap memulai sebuah perjalanan baru bagi keluarga kita?”

Gilbert mengembuskan napas lega. Begitu juga Jill yang ada di sebelahnya.

“Aku siap, Mother. Tentu saja.”

“Aku juga siap. Tapi, ke mana kita akan pergi?”

“Rahasia!” Jawab Marilyn cepat. “Kalian akan mengetahuinya setelah kalian makan malam dan membereskan barang-barang yang akan kalian bawa.”

“Hore!”

Gilbert dan Jill tampak bersemangat. Di benak mereka sudah terbayang sebuah perjalanan yang menyenangkan. Bukit, sungai dan mungkin lautan akan mereka lewati untuk sampai di tempat yang baru. Mereka lupa bahwa Marilyn mempunyai sepatu yang bisa membawa mereka ke tempat manapun dalam sekejap mata. Dan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan seperti yang mereka inginkan.

Keesokan paginya, Gilbert dan Jill sudah berada di ruang makan dengan segala perlengkapannya.

“Kumpulkan barang-barang kalian di sini.”

Gilbert dan Jill mematuhi Marilyn.

“Sekarang, mendekatlah ke mari. Kita harus saling berpegangan.”

“Marilyn, aku punya permintaan terakhir sebelum kita pergi.”

“Apa itu, Jill?”

“Karena kita akan memulai hidup baru, mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu mother?”

Serta merta Marilyn memeluk Jill. Lalu Gilbert bergabung dengan mereka. Ia pun sama terkejutnya dengan Marilyn. “Tentu saja, Sayang. Kalian berdua adalah anak kandungku mulai sekarang.”

“Terima kasih, Marilyn, eh, Mother.”

Jill mengusap air mata yang tak mampu ia bendung. Sambil terisak, ia bertanya.

“Marilyn, kita akan melakukan perjalanan dengan kereta, kan? Kita akan melewati bukit, sungai atau bahkan lautan, kan? Aku tidak sabar.”

“Tidak, Anak-anak.” Marilyn tertawa geli membayangkan anak-anak yang berharap akan sebuah perjalanan yang menyenangkan. “Kita punya ini.” Kata Marilyn sambil mengangkat gaunnya sehingga kedua anak-anak tersebut dapat melihat sepatu yang ia pakai.

“Yaaahh…”

*

TAMAT

[#Cerpen24Jam – 8] Di Angka Dua Belas

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

*

8. Di Angka Dua Belas

Bulan sedang purnama. Gilbert dan Jill membiarkan jendela kamar mereka terbuka untuk menikmati cahayanya yang samar.

“Benarkah kau akan memakai sepatumu ketika tidur? Kau berlebihan, Teman. Haha. Marilyn bisa terbahak-bahak mengetahui itu.”

“Apa menurutmu aku harus melepasnya? Aku khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi malam ini.”

“Apa yang bisa kauhindari di dunia ini? Bahkan kematian tetap datang seberapa keras pun kau berlari darinya.”

“Ah, Jill. Kau sungguh membosankan bila berbicara dengan nada seperti itu.” Gilbert melemparkan bantalnya ke arah Jill. Bantal itu sukses mengenai kepala temannya yang tidak sempat menghindar. Bukannya membalas, Jill malah diam saja. Ia tekun memperhatikan Gilbert bangun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan meletakkannya di bawah jendela kamar yang terbuka.

*

Abraham memperhatikan penunjuk waktu berbentuk bulat yang dikalungkan di lehernya. Ia dan Martha sudah berada di depan rumah Gilbert menunggu waktu yang tepat untuk mulai beraksi.

“Kau siap, Sayang?” Abraham menoleh ke kiri. Istrinya terlihat sedang membuat simpul dari tambang yang mereka beli di toko sembarang di dekat pasar. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari tambang tersebut, Martha mengangguk meyakinkan suaminya.

“Kita akan bergerak sebentar lagi. Ketika jarum jam berada tepat di angka dua belas. Lampu-lampu di dalam rumah telah dimatikan. Aku yakin saat ini mereka sudah tertidur lelap.”

“Ya, semoga saja.”

*

Di kamarnya, Marilyn belum bisa memejamkan mata meskipun badannya sudah rebah di atas tempat tidur. Kepalanya bekerja lebih keras sejak kedatangan Abraham dan Martha yang begitu tiba-tiba. Apa yang mereka inginkan? Sepatu Gilbert? Rumah ini? Bukankah ayah Jack sudah memberi mereka harta yang lebih dari cukup?

“Jack, apa yang harus aku lakukan?” Marilyn membalik badan hingga menghadap ke kanan dan berbicara seolah-olah suaminya ada di sana. “Apa yang akan kau lakukan kalau kau jadi aku?”

Marilyn menggumam pelan, sama pelannya dengan gemerisik dedaunan. Lama-kelamaan, suaranya menghilang terbawa gelapnya mimpi.

*

“Apa rencana kita?”

“Tidak ada rencana. Masuk, ambil sepatu itu lalu lari.”

“Siap.”

Mereka sudah berdiri di beranda rumah Gilbert, menimbang-nimbang cara untuk masuk ke dalam. Pintu depan terkunci dari dalam. Tentu saja. Mereka memutar ke sisi kanan rumah untuk mencoba membuka jendela dapur.

“Jendela ini tidak terkunci tetapi sulit di buka dari luar karena tidak ada pegangan.”

“Kita bisa coba membukanya dengan ini.”

Martha mengeluarkan sebatang besi dari kantong celananya. Kali ini ia sengaja melupakan gaunnya dan berpakaian seperti laki-laki untuk memudahkannya bergerak. Besi itu diberikan kepada Abraham yang menerimanya dengan senyum senang. Tanpa membuang-buang waktu, Abraham mencoba menyelipkan ujung besi tersebut ke bawah jendela lalu mengungkitnya. Usaha pertamanya gagal, tetapi mereka tidak menyerah. Akhirnya ia berhasil pada usaha yang ketiga.

“Yess!” Mereka memekik senang dengan suara ditahan.

Jendela itu tidak terlalu tinggi. Hanya setinggi bahu orang dewasa. Mereka masuk dengan susah payah. Abraham masuk terlebih dahulu, lalu ia membantu Martha dari dalam. Mereka bergerak sehalus mungkin agar tidak timbul suara-suara yang bisa membuat pemilik rumah terbangun dari tidurnya.

“Tinggalkan tambang itu di luar. Kita tidak membutuhkannya.”

Suasana di dalam rumah tidak gelap pekat. Cahaya bulan dari jendela dapur yang tidak dipasangi tirai memberi penerangan yang cukup. Abraham berjalan sambil meraba-raba udara. Mereka berjalan ke ruang keluarga lalu menaiki tangga dengan mudah. Di depan mereka kini, terdapat lorong panjang yang berisi dua kamar di masing-masing sisinya.

“Yang mana kamar Gilbert?”

“Aku tidak tahu. Kita harus memeriksanya satu persatu.”

Mereka berjalan perlahan menuju ke kamar pertama di sebelah kiri. Lantai kayu yang mereka pijak beradu dengan alas sepatu besi yang mereka cukup membuat was-was.

Krieeett..

Deg! Mereka berdiri mematung, melihat satu sama lain lalu melihat sekeliling. Jantung mereka mencelos, khawatir kalau-kalau mereka ketahuan. Suara pintu kamar yang baru saja mereka buka terdengar ringkih.

*

Marilyn menggeliat dalam tidurnya.

“Jack, kaukah itu?” Ia mengigau lalu kembali tenggelam dalam mimpinya yang belum selesai.

*

“Ini kamar Gilbert. Pekerjaan kita semakin mudah, Sayang.”

Martha tersenyum melihat suaminya berseru senang. “Kita harus segera mencari sepatu itu!”

“Tidak perlu.” Abraham menunjuk ke arah jendela yang terbuka. Di bawah jendela itu, sepasang sepatu yang mereka incar teronggok manis. Senyum mereka semakin mengembang.

Tanpa membuka daun pintu lebih lebar, Abraham berjalan miring agar tidak menimbulkan suara-suara. Martha melakukan hal yang sama. Mereka menyeberangi kamar sambil menatap lekat-lekat ke arah Gilbert dan Jill yang tertidur lelap. Jangan sampai mereka terbangun.

*

Jill menggeliat dalam tidurnya. Cahaya yang berganti-ganti dari gelap ke terang lalu sebaliknya menggelitik matanya untuk bereaksi. Ia mengerjap-kerjap dalam kondisi setengah sadar.

“Gilbert… Kaukah itu?” Racaunya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terfokus, ia melihat di arah jendela. Ada seorang laki-laki yang menghalangi cahaya bulan.

“Abraham?”

*

Deg!

Sekali lagi Abraham berdiri mematung begitu pula Martha. Saat itu mereka sedang membelakangi jendela.

“Abraham?” Jill menyebut nama Abraham.

“Bahaya! Cepat tutup mulut anak itu.” Perintahnya kepada Martha. Dengan sigap, Martha menghampiri Jill yang berusaha bangun dan melarikan diri.

“Marily……”

Belum sempat ia menyebut nama Marilyn dengan lengkap, Martha sudah membekap mulut Jill dengan tangan. Jill meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman tanpa makna.

Untungnya, Gilbert terbangun karena teriakan Jill. Ia membuka matanya dan langsung melihat apa yang sedang terjadi.

Uncle? Apa yang kau lakukan di sini? Martha? Jill? Lepaskan Jill!”

Gilbert panik. Ia melihat pamannya sedang sibuk memakai sepatu ajaib miliknya sementara Martha masih membekap mulut Jill dengan tangannya. Apa yang harus ia lakukan? Merebut sepatunya atau menolong Jill?

“Lepaskan sepatuku! Itu milikku!!”

Akhirnya Gilbert berlari menerjang Abraham. Abraham kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Punggungnya menimpa tumpukan buku-buku yang belum sempat dibereskan Gilbert tadi sore sedangkan kepalanya menghantam rak buku yang setengah kosong. Rak buku tersebut oleng lalu jatuh menimpa Abraham.

Sebelah sepatu Gilbert sudah terpasang di kaki Abraham, sehingga ia dengan cepat mengambil sebelah sepatu lagi yang terlempar ke samping dipan. Tidak lupa juga, ia mengambil sepatu bersol besi milik Abraham yang tergeletak di bawah jendela.

Gilbert melempar sepatu besi itu ke arah Martha ketika Marilyn masuk.

“Apa yang terjadi?” seru Marilyn khawatir.

Sepatu bersol besi yang dilemparkan Gilbert mengenai lengan Martha yang membuatnya memekik kesakitan. Ia terpaksa melepaskan tangannya dari Jill lalu berlari ke arah suaminya yang sedang bersiap-siap kabur melalui jendela.

“Abraham? Martha? Apa yang kalian lakukan?”

Butuh sekian detik bagi Marilyn untuk memahami apa yang terjadi. Lalu ia menghambur ke arah Gilbert dan Jill untuk menenangkan mereka. Bersamaan dengan itu, Abraham melompat dari jendela disusul oleh Martha.

“Sepatuku, Mother. Sebelah sepatuku masih dipakai uncle.” Gilbert melepaskan diri dari pelukan Marilyn lalu berlari keluar kamar, menuruni tangga, membuka pintu depan dan menuju ke sisi kiri rumah tepat di bawah jendela kamarnya.

Di kejauhan, Abraham terlihat berlari terseok-seok menjauhi rumah mereka dengan bertelanjang kaki. Di belakangnya, Martha pun lari terbirit-birit.

“Mereka meninggalkan sepatuku di sini. Pasti. Aku lihat uncle bertelanjang kaki.” Seru Gilbert panik ketika Marilyn dan Jill tiba. Ia mencari-cari sepatunya di antara tanaman mawar yang rendah.

“Tenang, Sayang. Kita akan mencari sepatumu segera. Tenang.”

Marilyn menarik Gilbert lalu mereka bertiga berpelukan.

*

“Sial!!”

Abraham berteriak marah karena kegagalan yang baru saja ia alami. Mereka tiba di perbatasan desa dalam kondisi kelelahan dan terseok-seok. Sekujur tubuh mereka sakit karena mereka jatuh di atas tanaman mawar yang tumbuh di bawah jendela kamar Gilbert.

“Mungkin kita harus mencari cara lain untuk merebut sepatu itu.”

“Tentu saja. Aku tidak akan menyerah sampai di sini. Lihat saja. Aku pasti berhasil.”

“Kita, Sayang. Kita pasti berhasil.”

Abraham mengabaikan koreksi Martha karena dalam hati ia menganggap kegagalan ini disebabkan oleh kecerobohan istrinya.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

9. Permintaan Terakhir