#FF161Kata – Kembalikan Yang Dulu Kaucuri

“Papa kamu polisi, ya?”

“Iya, kok tahu?”

“Karena setiap lihat senyum kamu itu, rasanya aku rela dipenjara di hati kamu.”

*

Meski aku tahu itu hanya canda, tetapi kalimatmu ditangkap cepat oleh hatiku sebagai pesona. Sekelumit hatiku seolah terenggut dari tempatnya. Sayangnya, tak bisa kuungkap kekagumanku karena kau sudah ada yang punya.

Darah menetes dari pergelangan tanganmu yang terkulai lemas di pinggir ranjang. Sementara wajahmu bertambah pucat dan kelopak matamu tampak begitu berat sehingga tak mampu membuka. Napasmu tersengal. Asal kau tahu, begitulah sakitnya memendam perasaan tanpa bisa meminta balasan.

“Tenang, Sayang. Kau akan baik-baik saja.”

Ujung pisau di tanganku menelusuri tanganmu. Naik ke leher lalu berputar-putar di sekitar wajahmu. Matamu mengerjap dengan susah payah dan napasmu lelah.

“Kau mencuri hatiku sedikit demi sedikit. Dan tak kusangka, kau menjaganya lebih baik daripada laki-laki lain. Di mana kausimpan hati yang kaujaga itu?”

“Di sini? Iya?” Ujung pisau itu kini sudah sampai di dadamu. “Tahan, ya. Aku hanya menginginkan hatiku kembali.”

*

#FF161Kata – Bumerang Itu Kembali Padanya

Kamu tahu, kan, kata orang, hidup ini seperti bumerang. Ia kembali kepada si pelempar. Tapi, bisakah kamu menghindar?

*

Sin duduk di pinggir ranjang, menghadap lemari kaca sembari menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Ada yang lebih menyedihkan daripada isak yang pelan terdengar. Aku mendekatinya, meminggirkan sepasang tongkat yang beberapa hari ini membantunya berjalan.

“Sin…” Kataku sambil menyentuh bahunya. Ia tidak menjawab, tetapi langsung memelukku. Aku memeluknya lebih erat dan menahan airmata yang semakin berat.

“Aku tidak apa-apa, Mas. Lama-lama juga terbiasa.” Ia tertawa namun aku tahu, airmata masih deras mengaliri pipinya.

“Ini karma.” Bisiknya lagi. “Aku pernah sengaja menyakiti orang yang tidak seharusnya aku perlakukan demikian.”

“Sssh… Sudah.. Sudah..  Istirahat, ya.”

Sin membaringkan diri. Aku mengangkat kakinya ke atas ranjang. Perlahan. Mengusap lebih lembut dari biasanya.

“Mas?”

Di bawah lemari, ada sepatu hak tinggi bakal kado ulang tahunnya besok. Sepatu yang ia mau sejak tiga bulan lalu, dan aku beli seminggu yang lalu. Kapan dia bisa menari memakai sepatu itu? Entah.

***