#FF2in1 – Terobsesi

“Merry, aku tahu kamu di dalam. Bukakan pintu untukku, tolonglah.”

Tidak terdengar suara apa-apa. Tak mungkin kosong, pikirku. Sudah jam sembilan malam. Merry pasti sudah di rumah. Pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang mengharuskan ia untuk lembur.

Aku mengetuk pintu sekali lagi. Lalu memanggilnya lebih keras. “Merry..”

Tidak terdengar jawaban apa-apa. Aku menunggu. Aku harus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Aku harus mengatakannya malam ini. Tapi bagaimana bila Merry menolakku sekali lagi? Pikiran tentang itu terus membayang. Aku sudah pernah ditolak satu kali. Mungkin aku tidak akan terima bila ditolak untuk kedua kalinya. Tapi aku begitu mencintai Merry. Sangat mencintainya. Seandainya aku ditolak lagi kali ini, mungkin aku harus berusaha sekali lagi. Mungkin aku akan diterima pada usahaku yang ketiga. Kata seorang peramal waktu itu, tiga adalah angka keberuntunganku.

Masih tidak ada suara. Aku mengetuk pintu rumahnya sekali lagi. Aku memanggil-manggilnya tanpa lelah.

“Merry, tolong beri aku waktu. Aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting.” Aku menunggu sejenak.

“Kamu harus mengerti, Merry. Aku mencintaimu. Aku memang mau kamu menerimaku. Tapi yang lebih penting dari itu adalah kamu harus memahami perasaanku. Aku sungguh mencintaimu, seolah-olah setiap tarikan napasku adalah untukmu.”

Pintu diketuk sekali lagi. Tetap tak ada jawaban. Pintu tetap tak terbuka. Dan Barbie di dalam rumah itu tak beranjak dari kursinya. Ia tetap menikmati ritual minum teh pada sore hari yang hangat. Di dalam rumah bonekanya.

#FF2in1 – Lagi-lagi

Lagi-lagi bangku taman. Lagi-lagi di bawah pohon Bintaro. Lagi-lagi aku menunggu kamu dengan sabar. Sudah satu jam lebih dari waktu yang kita janjikan untuk berjumpa. Perjumpaan yang mungkin adalah yang terakhir.

Kalau bukan perjumpaan terakhir, mungkin aku tidak akan ada di sini. Kalau bukan perjumpaan terakhir, aku mungkin lebih memilih untuk duduk di muka televisi menikmati drama Korea favoritku. Sudah satu tahun lebih dari waktu yang kita sepakati untuk bersama. Kebersamaan yang mungkin adalah yang terlama.

Kebersamaan kita kenyataan, bahkan ada harapan yang tersimpan dalam hati terdalam agar ini tidak pernah berakhir. Kebersamaan kita kenyataan, karena buktinya aku lebih merasa nyaman berada bersama kamu dibandingkan menikmati kemandirian yang dulu aku agung-agungkan. Sudah satu dekade rasanya kita bersama, saling mengenal. Aku tak heran bila ternyata kita pernah bertemu pada kehidupan sebelumnya. Dunia begitu sempit. Semesta begitu menghimpit. Mempertemukan lagi aku, kamu dan rindu yang setia mengapit.

Lagi-lagi bangku taman. Lagi-lagi di bawah pohon Bintaro. Lagi-lagi aku menunggu kamu dengan sabar. Sudah satu nama –namaku, aku ukir di salah satu ranting pohon ini dan kamu belum juga ada. Keberadaan yang benar-benar rindukan.

Kini satu nama lagi –namamu, akan aku ukir di ranting pohon yang sama. Saling bersebelahan dengan nama yang telah lebih dahulu aku ukir. Doa ku ucap berkali-kali. Tak perlu kamu dengar. Tuhan yang harus mendengar. Bilapun kamu tak tiba setelahnya, maka ini bukanlah pertemuan kita yang terakhir. Ini hanya akan menjadi pertemuan kita yang gagal. Pertemuan kita yang hanya dalam khayal.

Setelah ini aku akan tersadar dan menemukan kamu di sisi. Benarkan?

***

Lagi-lagi bangku taman. Lagi-lagi di bawah pohon Bintaro. Kamu menyadarkan aku dari khayalan dengan tiga tepukan di bahu kanan. Dua koper besar dan dua tiket di tangan. Aku ulangi, dua koper besar dan dua tiket di tangan. Untukku dan untukmu. Lalu kamu berkata dengan segera, “Ini adalah pertemuan kita yang terakhir, karena setelahnya hanya akan ada kebersamaan tanpa perpisahan. Tanpa perpisahan artinya tanpa pertemuan kembali. Setuju?”

#FF2in1 – Bukan Gombal

“Selamat pagi, Sayang.”

“Selamat pagi. Hari ini kamu menelepon lima menit lebih cepat dari biasanya.”

“Aku tahu. Itu karena aku tak sabar ingin menyapamu. Kamu tahu, kenapa?”

“Kenapa?”

“Karena mendengar suaramu adalah penyemangat hariku. Suaramu serupa nyanyian surga.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Asal kamu tahu, mendengar suaramu adalah cita-cita pertama yang ingin aku wujudkan setiap hari.”

“Apakah itu juga berarti bahwa aku menjadi yang pertama di setiap harimu?”

“Iya. Kamu adalah yang pertama. Orang pertama yang aku ingat setiap pagi. Orang pertama yang harus tahu betapa aku rindu ketika aku tersadar dari mimpi. Kamu adalah cinta pertamaku setiap hari.”

“Dasar gombal.”

“Bukan gombal. Itu adalah kenyataan yang begitu nyata. Kenyataan yang nyaris berlebihan aku kira.”

Si Wanita menutup telepon dengan bahagia. Dan Si Lelaki mengakhiri percakapan dengan perasaan girang. Girang keberhasilan.

“Kamu memang cinta pertamaku, Sayang.” lanjutnya, “Namun sekarang, aku akan menyongsong cinta keduaku. Liliana.”