#FF2in1 – Semoga Ketika Kamu Kembali, Saya Belum Mati

Kamu mati terlalu cepat, dan saya belum menyiapkan rencana apa-apa. Jadi malam tadi, saya mendatangi rumah duka tempat kamu disemayamkan sebelum hendak mereka kuburkan. Saya akan mendatangi kamu sebentar saja. Alasannya dua, karena rindu dan hendak melaksanakan janji.

Saya belum lupa dengan keinginan yang pernah kamu bilang. Waktu itu kita sedang di atas kapal menuju pulau Sumatera. “Nanti kalau saya mati, jangan kubur jasad saya. Kremasi saja, lalu sebarkan abunya di Selat Sunda.”

Kamu membicarakan perihal kematian seringan kamu mengatakan kalau baju yang saya pakai bagus. Sementara saya hanya bisa gigit jari karena kamu tak bisa dibantah. Saya tak mau membantah.

Kamu berbicara tentang kematian dengan mudah. Seolah lupa kalau kita punya janji untuk terus bersama. Mati pun mestinya sama-sama.

Malam tadi saya mendatangi rumah duka itu. “Bukan begitu menurut kepercayaan kami.” Teriak ibumu ketika orang-orang suruhan saya mengangkat tubuh kakumu dan memasukkannya ke bak belakang mobil. “Yang mati akan kami makamkan. Bukan dibakar.” Erangnya. Mengiba.

Saya masih ingat janji kita. Dan saya akan menunggu. Saya percaya reinkarnasi. Kamu juga, kan? Meski saya harus menunggu hingga seribu tahun, tak apa. Semoga ketika kamu kembali, saya belum mati.

***

Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

#FF2in1 – Bahagia Ini Milikmu, Nak

Semakin banyak tamu yang datang dan mereka menyalami kamu dan suamimu bergantian. Bahagia, Nak? Ibu bahagia. Melihat tawamu dan suamimu, dan sahabat-sahabatmu, ibu merasa berhasil. Anak perempuan ibu yang cantik, menyenangkan, memiliki pekerjaan yang ia impikan juga suami yang dicintainya dan mencintainya, akhirnya menikah.

Apa lagi yang bisa lebih membahagiakan dari itu? Seandainya tak lelah, tentu ibu akan terus tersenyum. Tetapi tulang pipi ibu sudah tua.

“Jadi mereka akhirnya menikah.” Mira menepuk bahu ibu pelan. Asap rokok tak berhenti berembus dari sela-sela bibir mungilnya. Rokok itu tak sesuai dengan penampilannya malam ini. Gaun berwarna krim yang ia pakai membuatnya tampak anggun meski rambutnya tak pernah panjang layaknya priyayi. Sepatu hak tinggi dengan tali melingkar-lingkari pergelangan kaki membuat ia menjulang. Dan ibu harus sedikit mendongak agar bisa menatap matanya.

Tapi ibu tak menatap matanya malam ini. Ibu tak tahu. Ibu harus bagaimana, Nak?

“Dia cantik, ya.” Katanya lagi.

Ibu tersenyum. Lalu merasa bersalah. Mira terlihat tegar, tetapi Ibu tahu itu hanya dibuat-buat. Mungkin kata-kata Landu waktu itu kembali memenuhi ingatannya.

“Saya pebisnis sukses. Dan saya bisa membiayai lebih dari satu wanita. Saya akan bicarakan ini dengan Rini dan dia pasti setuju untuk menjadi bukan satu-satunya.”

Ibu menguping Landu dan Mira waktu itu. Tak sengaja. Tapi ibu rasa, itulah firasat seorang ibu.

“Nggak bisa, Mas. Menjadi yang kedua bukanlah cita-cita saya.”

“Justru kamu yang pertama. Rini yang kedua.”

Mira tak menjawab apa-apa. Landu pun lalu pergi.

“Rini tak perlu tahu, Ma.” Kata Mira membuyarkan lamunan ibu. Matanya basah. Dadaku sesak.

Ibu baru tahu,  Nak, bahwa seorang ibu bisa merasa bahagia dan bersedih pada saat yang bersamaan.

***

Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

#FF2in1 – Jangan Lari Lagi

“Bayangkan aku sebagai sebuah apel, yang akan jatuh ke tanah karena gravitasi. Tetapi bedanya kali ini, aku jatuh ke tanah karena kamu.”

“Gombal. Haha…”

“Bukan gombal. Aku cuma mau bilang kalau aku tertarik olehmu. Coba bayangkan sekali lagi. Sebuah sepeda yang dikayuh seorang anak. Lalu seorang anak lainnya berlari di belakang. Mengejar sepeda itu. Karena itu adalah sepedanya. Dan anak yang mengayuh sepedanya adalah maling.”

“Ngg… Nggak ngerti.”

“Bayangkan lagi. Sejak mata kita pertama kali bersitatap, apa kamu merasa ada yang merasuk ke dalam dadamu?”

“Iya.”

“Itu hatiku yang kamu bawa. Dan aku tertarik olehmu untuk meminta kembali hatiku.”

“Tidak bisa.”

“Bisa.”

“Tidak bisa.”

“Bisa.”

*

Itu adalah bagian percakapan kita yang paling aku rindukan. Sebelum kamu pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Dan di sini, sembari aku berusaha melupakan segala kebaikanmu dan menajamkan ingatan akan keburukanmu –di bagian ini aku gagal– aku terus berjalan.

Hatiku lara, aku bisa merasa meski ia tak ada di tempatnya.

Barangkali kau tak bisa pergi terlalu jauh, karena hatiku yang telah kaubawa itu adalah peta yang menunjukkan padaku di mana kau berada.

“Hai.”

Kau berbalik dan tolong, jangan lari lagi.

***

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku