#FF2in1 – Istimewa

Ada dua hal yang membuatnya istimewa.

Pertama, ia selalu mengulang-ulang kalimat ini. Dinyanyikan dengan nada dari lagu entah. Aku bahkan ragu kalau itu adalah nyanyian milik seseorang yang terkenal. Tak pernah kudengar.

Ada yang teristimewa sedang menunggu
Menunggu dengan lugu
Juga lagu
Tetapi tanpa ragu

Dia yang teristimewa sedang menunggu
Menunggu dengan lugu
Juga lagu
Tanpa ragu

Setiap pagi, aku terbangun oleh nyanyiannya. Tidak pernah tidak. Ketika mata ini kubuka, akan kutemui pemandangan yang sama.

Dia membelakangiku, menghadap lemari kaca. Mengambil beberapa kemeja dan mencobanya satu persatu. Sebait lagu itu ia nyanyikan. Lalu berbicara sendiri dan berkata bahwa dia akan pergi berkencan.

“Aku akan menemui seseorang. Dia yang teristimewa. Kami telah lama berpisah, tetapi kini akan saling bertukar kisah.”

Kemeja yang satu ia lepaskan. Lalu dipakainya kemeja yang lain.

“Untuk seseorang yang begini istimewa, aku harus tampil penuh wibawa. Selama kami tak bertemu, surat-suratnya senantiasa kutunggu. Karena surat-suratnya mengubah hitamku menjadi ungu. Belum cerah benar, tetapi aku bahagia.”

Kemeja yang telah ia pakai, dilepaskan lagi. Digantikan dengan kemeja yang lain.

“Untuk seseorang yang telah mengubah hidupku, aku tak boleh terlihat kaku. Setelah lama tak bertemu, aku harus bisa mencairkan senyumnya yang beku.”

Kemeja ketiga adalah yang paling pas. Kemeja ungu yang sesuai dengan hidupnya sekarang. Belum cerah benar tapi ia bahagia, katanya.

Lagu itu ia ulangi lagi. Penampilannya ia rasa telah rapi. Ia langkahkan kakinya ke luar kamar. Ke luar rumah. Dua jam kemudian ia pulang. Dan menjadi kekasihku lagi.

*

Kedua, yang hendak ia temui waktu itu adalah aku. Meski kecelakaan telah menggagalkan rencana itu, juga merenggut sebagian ingatannya, ia masih menganggap aku istimewa. Setelah rutinitasnya setiap pagi –bernyanyi, berganti kemeja hingga tiga kali, pergi selama dua jam lalu kembali– ia masih mengingatku sebagai kekasih hati.

Ada dua hal yang membuatnya istimewa, dua hal yang tak akan ia pahami, gumamku sambil menyanyikan bait-bait lagu itu.

***

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

#FF2in1 – Yang Tersisa Dari Kepergianmu

Tamu-tamu berdatangan ke rumah duka, mereka hendak turut mengiringi hingga ke pemakaman Dimas yang akan dilakukan segera. Terlalu banyak orang yang ditinggalkan Dimas pada usianya yang begini muda. Kau terlalu terburu-buru, Teman?

Angin berembus kencang dan aku membenarkan letak kerudung hitamku yang nyaris berantakan. Air mataku mengalir pelan membayangkan saat-saat terakhir Dimas.

“Jill, kamu di mana? Dimas menanyakan kamu.” Ibu Dimas meneleponku dari rumah sakit  ketika aku baru setengah jam pergi dari sana. Aku tak tahu harus menjawab bagaimana karena aku sedang berada di sebuah pesta ulang tahun nan meriah yang diadakan oleh rekan kerjaku.

“Jill, aku mau curhat.” Keluh Dimas jauh sebelum dia masuk rumah sakit. Ketika itu kami masih duduk di bangku kuliah.

“Aku sedang di rumah Soni. Kami sudah berjanji akan menonton episode terbaru serial ini bersama-sama. Kamu mau curhat apa, Dim? Pasti tentang Laras lagi, deh. Nanti, ya. Setelah aku selesai, aku langsung ke rumah kamu.”

Aku ingat menjawab demikian tanpa ada perasaan bersalah sama sekali. Padahal bila kuingat-ingat, sikap Dimas kepadaku sungguh bertolak belakang. Dimas ada ketika aku kecewa karena nilai ujianku tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Dimas ada ketika aku merasa kesepian karena kedua orang tuaku lagi-lagi berlibur ke luar negeri. Dimas ada ketika aku ingin bergosip tentang rekan kerjaku yang menyebalkan. Dimas ada ketika laki-laki yang aku sukai ternyata menyukai perempuan lain. Dimas selalu ada.

*

Pemakaman selesai. Aku pulang ke rumah orang tua Dimas. Siapa tahu mereka memerlukan bantuanku tentang sesuatu yang aku sendiri belum tahu. Atau mungkin, aku hanya ingin berada di dekat hal-hal yang berbau Dimas? Ah, air matakulah yang mampu menjawab pertanyaan tadi.

“Jill, Dimas titip ini ke tante. Katanya buat kamu.” Ibu Dimas menyerahkan sebuah amplop berwarna krim. Sebuah surat.

Tidak ada yang namanya penyesalan. Semoga ketiadaanku memaksa kamu menjadi perempuan yang lebih kuat. Jangan menangis lagi, ya.

Dimas

NB: Mungkin kamu perlu tahu. Aku menyayangi kamu lebih dari seorang teman. Dan aku menyimpan bayanganmu di kepala. Untuk aku bawa hingga ke surga.

Aku melipat kertas cokelat yang telah berhiaskan tetesan air mata. Sebuah janji terucap dalam hati. Bahwa aku akan menjadi perempuan seperti yang ia kehendaki.

Langit tampak merah. Aku mencari-cari awan berbentuk senyum Dimas. Sudah saatnya melepaskan Dimas. Meski penyesalan mengenai perasaannya yang baru aku ketahui, masih meringkuk di sudut kepala.

***

Ditulis untuk #FF2in1 oleh Nulisbuku

#FF2in1 – Larung

“Biar aku yang membuangnya.”

“Aku saja! Aku kan anak kesayangan papa.”

“Tapi aku satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Aku penerus keturunan. Aku yang paling tepat melakukannya.”

“Aku anak sulung. Aku yang lebih pantas!”

Empat orang dewasa di hadapanku sedang memperebutkan sebuah guci yang berisi abu hasil kremasi jasad ayah mereka. Aku tidak memedulikan pertengkaran mereka. Toh mereka hanya sedang emosi sehingga tidak bisa melihat solusi.

Seandainya aku cukup peduli, mungkin aku akan berkata seperti ini:

“Segera selesaikan urusan kalian. Seingat saya, kalian hanya membayar saya untuk menjaga perahu ini agar jangan sampai tenggelam. Tetapi dengan tingkah laku kalian, tidak lama lagi, giliran abu kalian yang akan ada dalam guci seperti itu.”

*

 

Tulisan ini untuk #FF2in1 yang diadakan oleh nulisbuku.

Tema 2: [puisi] Akulah si Telaga – Sapardi Djoko Darmono