Pelajaran Pertama Tentang Perempuan

Aku menemukan satu buket mawar merah di atas meja kayu di beranda rumah, dan pikiranku langsung tertuju pada laki-laki bertubuh tegap dengan tatapan mata seteduh langit pukul 6.30 pagi. Kamu, tentu saja. Seandainya kamu menyerahkan bunga ini secara langsung, dengan senyummu yang bagiku kaku tapi lucu, kamu akan berkata. “Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Kamu masih tidak romantis, tentu saja. Dan sekadar mengingatkan, bahwa kata-kata itu tidak datang dari inisiatifmu, melainkan aku. Dua bulan sejak kita memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tak sengaja aku menyeletuk karena sebuah adegan ketika kita menonton film drama pilihanku, “Sudah lama, nih, aku tak merasakan diberi bunga.”

Itu bukan sengaja.  Sungguh. Kalimat itu terucapkan begitu saja. Meski orang bilang yang terucapkan secara tak sengaja adalah sebenar-benarnya isi hati, tapi untuk yang satu itu aku berani bertaruh tak ada keinginanku untuk membuatmu melakukan apa yang aku katakan. Dan ketika kamu datang dengan satu buket bunga mawar di tangan, mengenakan kemejamu yang paling aku suka, pada malam ketika bulan  bulat sempurna dan bintang-bintang sewarna perak, mau tak mau aku merasa malu. Terima kasih, ya.

“Ini pasti gara-gara celetukanku, ya.” Kataku ketika itu.

“Sejujurnya, iya.” Kamu menunduk, menyembunyikan senyum kaku yang aku suka itu.

“Cuma bunga, nih? Nggak ada kata-kata apa gitu?” Dasar perempuan yang tak pernah merasa puas. Aku tertawa dalam hati. Gemar membuatmu kikuk.

“Kamu mau apa?”

“Kata-kata romantis apa gitu.”

Kamu diam, tentu saja. Setelah aku mengajarimu bagaimana caranya mendekati perempuan—yang kemudian malah kamu praktikkan padaku, aku juga harus mulai mengajarimu bagaimana membuat perempuan merasa tersanjung dan diperhatikan. Dan entah aku yang terlalu pandai mengajari atau kamu yang terlalu tekun belajar. Kata-kata yang aku ucapkan sebagai candaan, kamu anggap sebaliknya. Aku bisa membayangkan ketika kamu mendatangi toko bunga dan tergagap mengatakan hendak membeli satu buket bunga. Apa kamu bertanya pada mereka mengenai bunga apa yang cocok untuk diberikan kepada kekasihmu? Kalau iya, pastinya mereka bertanya lebih lanjut. Misalnya, tentang apakah kamu sedang merayakan momen tertentu bersama kekasihmu. Kamu akan menjawab dengan gelengan kepala. Dan untuk menghindari mereka mengajukan pertanyaan lain—karena kamu pasti tak tahu harus menjawab apa, kamu menyebut ‘mawar’ dengan cepat. Bunga sejuta umat.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.” Kataku.

Kamu menatapku dengan kening berkerut. Secangkir kopi sudah tersaji di antara kita, di meja kayu yang memisahkan dua kursi di beranda rumah ini. Aromanya sejenak mengalahkan aroma parfummu yang aku cium ketika kamu mengecup pipiku.

“Itu kata-kata yang perempuan suka. Agak terdengar gombal, sih. Tetapi perempuan suka juga digombali sesekali. Tugasmu adalah belajar mengucapkannya dengan tulus.”

Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal, dan kamu berhasil melewati pertama kalinya memberiku bunga. Pantas dirayakan. Karena setiap keberhasilan, sekecil apa pun, harus dirayakan. Apa yang ingin kamu lakukan sebagai perayaan? Aku akan menemani apa pun yang kamu mau. Asal jangan mengajakku duduk berjam-jam di perpustakaan untuk membaca. Kamu tahu, aku tak tahan berada di perpustakaan. Aku membaca sesekali, tetapi tak pernah di perpustakaan. Lagipula, apa sih yang menarik dari perpustakaan? Kuno. Lebih baik mengambil tikar, menyiapkan bekal, lalu pergi ke taman kota, danau atau pantai. Membaca akan terasa lebih menyenangkan bila dilakukan di luar ruangan.

Ternyata kamu mengajakku makan malam. Syukurlah. Makan malam jauh lebih baik daripada membaca, di luar ruangan sekalipun.

“Mau makan apa?”

“Terserah.”

“Apa yang harus laki-laki lakukan ketika perempuannya menjawab ‘terserah’?”

Aku hendak marah karena menganggapmu tak peka. Tetapi melihat wajah seriusmu, aku menyadari bahwa kamu hendak belajar satu hal lagi tentang perempuan. Untuk mata pelajaran yang ini, aku menyerah. Jangankan laki-laki, perempuan yang sering mengatakan terserah terkadang tak tahu apa yang ia maksud dengan itu. Barangkali terserah adalah sahabat karib perempuan. Sahabat karib, sahabat baik. Terserah bisa digunakan untuk menutupi keraguan yang ada pada perempuan, sekaligus sebagai ajang untuk menguji pasangannya. Menguji apa? Entahlah. Di lain waktu, terserah bisa digunakan untuk mencari gara-gara. Kamu harus tahu, perempuan juga suka cari gara-gara.

“Ketika perempuan menjawab dengan terserah, sebenarnya ia sudah memiliki beberapa pilihan. Tugas laki-laki adalah menebak pilihan-pilihan tersebut lalu memutuskan satu di antaranya.”

Kamu menggumam.

“Tenang saja, sangat sedikit laki-laki yang bisa memutuskan dengan benar.”

“Jadi?”

“Jadi terima saja apa yang akan terjadi setelah kata terserah.”

Kamu mendesah. “Jadi, malam ini kamu mau makan apa?”

Giliranku mendesah. Baiklah.

“Udang bakar madu di Seafood Hall.”

*

Setelah buket bunga mawar pertama itu, aku menerima beberapa buket lagi di kemudian hari. Apabila kamu memberikannya secara langsung, kalimat itu tak pernah lupa terucap.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Awalnya memang terdengar agak kaku, tapi lama kelamaan tidak lagi. Entah karena terbiasa, entah hanya ingin membuatku bahagia. Tapi kali lain ketika kamu menyerahkannya melalui tangan orang lain, seperti hari ini, aku toh tersenyum juga membaca kalimat itu pada sebuah kartu. Tulisan tanganmu sendiri. Sembari membayangkan kamu ketika menuliskannya. Barangkali jemari itu gemetar karena takut salah menulis namaku, atau takut kebohonganmu akan terbaca karena untuk sekali ini kamu sedang tidak mood mengatakannya. Atau apakah kamu justru lebih nyaman mengungkapkannya melalui tulisan? Untuk yang terakhir, aku benar-benar harus mencari tahu.

Tetapi dari semua hal romantis yang kamu pelajari dan akhirnya kamu lakukan, tetap saja yang lebih romantis adalah tindakan-tindakan spontan. Setidaknya, aku tak pernah ingat mengajarimu hal-hal tertentu. Misalnya, datang ke pikiranku tiba-tiba, mengucapkan rindu pada waktu sembarang, tersenyum pada setiap leluconku, menatapku dengan serius ketika aku bercerita, menjemputku di bandara atau stasiun lalu memelukku pada kesempatan pertama—aku bisa merasakan tatapan orang-orang yang tidak terbiasa melihat kemesraan semacam itu dan selalu kukatakan dalam hati bahwa sebenarnya mereka pun ingin diperlakukan sama.

Ada banyak hal baru yang kamu tahu, dan ada banyak hal lain yang kamu lakukan tanpa tahu bahwa itu adalah tindakan yang baik. Sesekali perbuatanmu membuatku merenung mengapa hal-hal itu tak pernah terpikirkan olehku. Setiap kali kamu membuatku merasa nyaman, aku bersyukur sekaligus  merasa berkewajiban untuk membuatmu merasakan apa yang aku rasakan di lain kesempatan. Tidak banyak perempuan yang mempunyai laki-laki sebaik kamu. Selain itu, bukankah hubungan yang baik adalah hubungan yang saling.

Hari semakin gelap tetapi aku belum beranjak dari beranda. Langit hampir kehilangan jingga, dan aku membayangkan kamu berada di pesawat yang sedang terbang menuju Bali. Bali. Tempat yang aku inginkan untuk kita datangi bersama tetapi hingga saat ini belum terwujud. Entah kamu yang sibuk, entah aku yang mendadak dipanggil untuk mengerjakan sesuatu yang mendesak. Aku kembali justru ketika kamu sedang pergi. Dan setiap kali aku pulang dan menemukan rumah dalam keadaan kosong, rasanya ingin pergi lagi dan kembali nanti ketika kamu pun sudah kembali.

Berapa lama kamu di Bali? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Tak apa pergi lama, asal jangan lupa pulang. Karena ketika kamu kembali nanti, hal pertama yang akan kita lakukan adalah mengganti setiap detik yang kita lalui tanpa satu sama lain. Aku akan mendengarkan ceritamu tentang Bali sesuai yang kamu tahu dan sebaliknya, aku juga menceritakan tentang Bali dari kacamataku. Tidak ada bahasan mengenai politik, kebijakan pemerintah, perang di belahan bumi sana, atau topik-topik lain yang ramai dibicarakan para pengamat dadakan itu. Kenapa? Karena topik itu terlalu besar untuk dunia kecil yang hanya berisi kita.

Aku akan melihat lagi senyummu yang kaku dan malu-malu itu. Dan aku akan membuatmu tertawa dengan menceritakan lagi lelucon yang kamu suka. Lelucon yang tak pernah kehilangan kelucuannya meski diceritakan berulang-ulang. Bila pasangan kekasih lainnya berpelukan untuk meredakan tangis, maka kita berpelukan ketika sama-sama tertawa. Katamu, energi yang timbul pada saat kita tertawa tak boleh ke mana-mana. Harus kita simpan dalam diri satu sama lain melalui pelukan. Dari mana kamu mempelajari gombalan seperti itu?

Ah, betapa sempurnanya. Dan setiap kali memikirkan konsep tentang kamu, aku berpura-pura lupa bahwa yang sempurna hanya ada di kepala dan di beranda ini tak ada apa-apa.

***

Advertisements

Menulis Berantai #TimMoveOn #4 – LIFTED UP

 *
Sebelumnya:
LIFTED UP #1 : Abduraafi Adrian (@raafian) – [LIFTED UP 1]
LIFTED UP #2 : Bimo Rafandha (@bimorafandha) – [LIFTED UP 2]
LIFTED UP #3 : Andhika Citra (@andhkctra) – [LIFTED UP 3]
*

*

Aku mengantar Luna hingga ke pintu gerbang rumahnya. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan tadi. Luna menjadi pendiam, aku juga. Begitu ia menghilang di balik pagar, segera kulajukan kendaraanku pulang.

“Luna, kamu mau jadi pacarku?” Kejadian tadi kembali berputar di otakku.

”Nggak.” Luna menjawab cepat. Seperti tanpa berpikir. Seolah sudah menunggu-nunggu aku menanyakannya dan itulah jawaban yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak benar-benar menginginkan aku, Fi.”

Aku menunduk, diam menunggu penjelasannya.

“Dari cerita-cerita kamu tentang kekasihmu itu, aku bisa merasa kalau kamu belum bisa melupakan dia. Jangankan melupakan, kamu bahkan belum bisa memaafkan dia.”

“A-aku…”

“Kamu tahu, untuk bisa melupakan, kamu harus memaafkan dia terlebih dahulu. Kalau nggak, kamu nggak akan bisa move on.”

Luna diam. Aku mendongak pelan untuk menatapnya.

“Atau jangan-jangan, bukan memaafkan dia, tetapi memaafkan diri kamu sendiri.”

Deg!

Kata-kata Luna sama seperti tatapan matanya. Menusuk. Ada rasa sakit yang justru membuatku sadar bahwa kata-kata Luna benar.

Aku harus bisa memaafkan terlebih dahulu sebelum melupakan.

*

Setelah pembicaraan itu, selama beberapa hari ini aku menghindari Luna di kantor. Kejadian itu masih mengusikku, membuatku merasakan perasaan aneh. Lega dan bersalah pada saat yang bersamaan. Lega karena Luna menolak menjadi kekasihku—karena sejujurnya aku belum siap menjalani hubungan baru dengan Tiffany yang masih sering bermain-main di kepalaku. Bersalah karena Luna benar bahwa aku hanya menganggap dia sebagai pelarian.

Aku lebih memilih untuk makan siang di kantin gedung sebelah daripada memperbesar kemungkinan bertemu Luna di tempat kami biasa makan siang. Meskipun begitu, pesan dari Luna masih terus berdatangan. Mulai dari mengingatkan makan siang, mengingatkan agar hati-hati ketika pulang malam, atau sekadar mengatakan halo.

Bukannya aku membenci Luna karena mengatakan hal yang benar meskipun menyakitkan. Tetapi aku rasa aku perlu waktu untuk sendiri. Untuk berpikir. Dan memutuskan jalan mana yang akan aku tempuh. Membiarkan Tiffany dengan kehidupan barunya sementara luka masih ada di dadaku sambil berharap waktu yang menyembuhkan. Atau memberanikan diri untuk bertemu Tiffany dengan risiko terbawa emosi lalu Tiffany melihatku terluka lalu menertawaiku. Harga diriku…

“Kamu nggak bisa terus-terusan sembunyi. Berpikir nggak harus sendirian.” Pesan dari Luna masuk lagi.

“Kita tetap berteman, kan?” Katanya lagi beberapa waktu kemudian.

“Kalau perlu apa-apa, jangan ragu untuk hubungi aku.”

Pesan terakhir masuk ketika aku sedang duduk menghilangkan penat setelah lembur. Malam ini juga aku telah memutuskan sesuatu. Aku memilih garden-bistro yang sama dengan tempat aku mengajak Luna makan malam waktu itu. Tempat aku melihat Tiffany dan Gilang makan malam berdua. Dengan bahagia. Setelah sekian lama.

Aku memainkan ponsel sembari menunggu pesananku tiba. Berulang kali meyakinkan hati ini untuk siap dengan langkah yang akan kuambil selanjutnya. Nomor itu masih tersimpan dengan nama yang sama dan aku berharap ia tidak mengganti nomor ponselnya—yang aku pilihkan—hanya karena kini kami tak lagi berdua. Aku menekan tombol ‘panggil’. Bersamaan dengan itu, jus alpukat pesananku tiba.

“Halo.” Suara itu.

“A-ada yang mau aku omongin sama kamu.”

“Ra—Raafi?” Suara Tiffany masih seperti lagu nina bobo di telingaku.

 

*

 

Simak kelanjutan Lifted Up #5 oleh Mirna Andriani (@Mirnasisiemon) di Aineblume.

 

Jus Stroberi di Gelas Besar

“Orang yang tak percaya surga, harus merevisi kata-katanya!” Aku berkacak pinggang dan berdecak kagum pada pemandangan di hadapanku. Awak kapal melemparkan jangkar meskipun kapal kami masih cukup jauh dari pantai. Lalu beberapa perahu kecil mendekat dan menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke pantai.

“Juga orang yang tak suka jus stroberi.”

Aku menoleh ke arah Anya, mengernyitkan dahi. “Apa hubungan antara surga dan jus stroberi?”

Anya melompat ke perahu kecil terdekat, aku mengikutinya. Di pantai, sahabatku itu langsung meraup pasir basah yang baru diserbu ombak. Butiran pasir putih berseling butir pasir berwarna merah membuat kami mengerti mengapa pantai ini disebut pink beach.

“Jus stroberi juga mirip ini, ada bintik-bintik merahnya.” Katanya penuh gelak.

“Aku rasa itu hanya karena kamu terlalu terobsesi dengan jus stroberi.”

Sahabatku yang satu ini memang maniak jus stroberi. Setiap hari, setiap pagi, di atas meja kerjanya akan tersedia segelas jus stroberi. Ia melatih secara khusus office boy yang bertugas di ruangan kami.

“Delapan butir stroberi, tiga sendok makan susu kental manis, dua sendok teh gula pasir, es batu, dan sedikit air putih.”

Aku membayangkan lagi bagaimana Anya menerangkan komposisi jus stroberi yang ia sukai, sambil menyerahkan sebuah gelas kaca. Sebuah gelas besar dengan tangkai melingkar.

“Nih. Jus stroberi buat kamu.” Aku menyodorkan jus stroberi dalam kemasan, produk sebuah merk minuman terkenal. Anya menerimanya setelah mengucapkan terima kasih. Aku mengambil satu kotak lagi dari dalam tas untuk diriku sendiri.

“Jus stroberi seperti ini…” katanya setelah sesapan pertama. “Jus stroberi seperti ini mirip pantai Kuta di Bali.”

Aku diam. Menunggu penjelasan.

“Bikin pening.” Lanjutnya.

Hening. Anya menyesap jusnya sekali lagi.

“Kita pernah ke Kuta bareng, kan? Kamu lihat nggak betapa banyaknya pengunjung pantai itu. Semakin ramai suatu tempat wisata, semakin kita tidak bisa menikmati. Ya itu. Sama seperti jus stroberi ini. Tidak fresh. Bikin pening.”

Kalau orang lain yang mendengar kata-kata Anya, pasti akan mengira bahwa Anya adalah tipe orang yang tidak menghargai niat baik seseorang. Memang tidak ada yang memintaku membawa jus stroberi dalam kemasan. Perlakuan seperti ini hanya merupakan ucapan terima kasih yang tak seberapa dibandingkan kebaikan Anya yang tiba-tiba mengajakku berwisata.

“Dan pilihanmu untuk traveling bukan ke Bali, sangat tepat.” Katanya lagi.

Rasanya ingin menepuk dada karena mendapat pujian dari Anya. Alasannya sederhana saja. Anya tidak mudah memuji, meski kepada teman sendiri.

“Kamu mengajakku kali ini mendadak sekali. Aku bahkan masih bertanya-tanya apa yang kamu bilang ke Pram sehingga ia mengizinkan kita berdua cuti pada saat yang bersamaan. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kantor tanpa keberadaan kita berdua, ya? Si duo perusuh. Hanya kamu, sih, yang perusuh. Aku lebih cocok sebagai pemberes kekacauan yang kamu buat.”

Anya mencibir ledekanku, tetapi dia bilang. “Mendadak, tapi kamu memilih tempat yang tepat.”

“Aku hanya ingat satu pesan kamu yang satu itu. Jangan Bali.”

“Pokoknya pilihan kamu tepat.” Anya menjatuhkan pasir yang ia mainkan di tangannya lalu merangkul bahuku dengan satu tangannya.

“Mabuk laut selama beberapa hari ini kamu anggap tepat juga?” Aku tertawa. Kalau ada satu hal yang membuat aku merasa tak enak tentang perjalanan ini, itu adalah karena aku tak ingat bahwa Anya tak tahan perjalanan laut. Yang ada di kepalaku ketika memesan paket perjalanan ini, adalah membawa Anya ke tempat yang baru. Tempat yang jauh dari bangunan modern tempat kami berkutat setiap harinya. Tempat yang ketika kami menghirup udara, kami tidak menghirup serta bau asap kendaraan dan debu. Tempat yang ketika kami membuka mata, yang kami lihat adalah …. alam. Semesta yang sebenarnya.

“Mabuk laut masih bisa dimaafkan. Karena aku suka merasakan hal-hal baru. Kemarin ketika kita merapat di Gili Laba. Aku merasa kita sedang berada di suatu tempat di luar negeri. Kering, tandus, tak seperti gambaran tentang Indonesia yang biru karena lautnya, atau hijau karena hutannya.”

But this is Indonesia.”

That’s why, aku bilang pilihan kamu tepat.”

Anya menceritakan lagi kisah mengenai perjalanan-perjalanannya yang dulu-dulu. Seringnya wisata kota. Berpindah dari mall ke mall, berbelanja di pasar modern, makan di restoran mewah. Sendirian. Karena, siapa mau mencibir orang kaya yang berwisata sendirian? Kalaupun ada, mereka adalah barisan orang-orang sirik yang ingin merasakan fasilitas seperti yang didapat Anya, atau barisan orang-orang sirik yang ingin memiliki keberanian seperti yang dimiliki Anya.

“Kalau begitu, wisata kita berikutnya akan ke tempat-tempat seperti ini.”

“Ke mana pun. Asal tetap memenuhi syarat utama.”

“Tidak bikin pening.”

“Seperti Kuta.” Anya menegaskan.

“Atau jus stroberi yang tidak fresh. Haha..”

Tawa kami terdengar bahagia. Lirikan orang-orang mengemuka. Sementara perahu yang kami sewa, lengkap dengan kapten yang merangkap sebagai koki dan pemandu wisata, berayun pelan mengikuti ayunan ombak.

*

“Saya berterima kasih pada tawaran kamu Pram, tetapi kalau memungkinkan, saya mohon waktu sejenak untuk memikirkannya baik-baik. Saya berharap tidak mengambil keputusan yang salah.”

Begitu saja. Lalu Pram memberiku cuti selama seminggu. Aku meminta cuti yang sama diberikan juga untuk Dew. Begitu saja. Lalu Pram memberi kami berdua cuti selama seminggu dan di sinilah kami saat ini. Pekerjaan yang kami tinggalkan, segera diambil alih oleh Susi. Ah, barangkali aku takkan pernah mengerjakan pekerjaan itu lagi karena jika aku menerima tawaran Pram untuk naik pangkat, maka aku akan pindah ke lantai 12 dan mengurusi jenis pekerjaan yang baru.

Naik pangkat. Ah, seandainya aku dan Dew tidak bekerja pada kantor yang sama, maka sudah pasti aku akan mengatakan ya pada kesempatan pertama. Atau seandainya Dew tidak mengincar posisi yang sama.

Bagaimana caraku menjelaskan kepada Dew mengenai tawaran ini? Karena kau baru bisa bekerja dengan tenang bersama sahabatmu hanya ketika kalian berada pada level yang sama. Barangkali karena merasa sepenanggungan. Lalu ketika salah satu mendapat tawaran naik pangkat, apalagi kemudian menerimanya, maka yang lain akan merasa dikhianati. Padahal salah siapa? Apa aku harus menyalahkan orangtuaku karena mereka dan Pram berteman baik?

Beberapa kali Dew menanyakan kedekatan hubungan keluargaku dengan Pram dan beberapa pejabat lain di perusahaan tempat kami bekerja. Juga menanyakan mengapa aku tidak langsung ditunjuk sebagai manajer atau direktur karena hubungan baik tersebut. Aku bilang, aku bahkan menolak bekerja di perusahaan ini pada mulanya. Dew mengangguk-anggukkan kepala dan setelah cerita-cerita lain, dia bilang tak apa-apa jika suatu hari aku ditunjuk untuk menempati posisi tertentu dan meninggalkan dia tetap sebagai seorang staf. Tapi kita semua tahu, selalu ada apa-apa dibalik tak apa-apa.

Dew memang memiliki perasaan yang sensitif, aku harus memilih kata-kata yang tepat agar tidak melukai perasaannya. Barangkali sifat sensitif itulah yang membuat dia menjadi penulis yang baik. Selain bekerja di perusahaan yang sekarang, ia juga menulis kolom di sebuah majalah. Dan aku suka cara Dew memotret kejadian-kejadian sederhana ke dalam kata-kata yang luar biasa.

Sementara itu, aku lebih blak-blakan. Lebih to the point dan senantiasa mengutarakan apa yang ada di kepalaku. Tapi lama-lama aku sadar, Dew membuatku belajar. Bahwa untuk mengutarakan pendapat yang bertentangan, tidak harus dengan cara-cara yang terkesan mengintimidasi. Barangkali ini juga yang membuat aku selalu menjadi pihak yang menyesuaikan diri. You don’t mess with sensitive people. Hehe..

Tidak, aku tidak sedang berbicara hal yang buruk mengenai sahabatku. Bagaimanapun juga, aku menyayangi Dew. Dia adalah satu-satunya sahabat yang masih ada ketika teman-temanku yang lain mulai sibuk dengan kehidupan barunya setelah menikah.

“Anya.”

Dew menepuk bahuku. Membuat aku kehilangan gambaran tentang bagaimana kami bertemu pertama kali, karena tahu-tahu kami akrab dengan cepat. Jodoh, yang orang pikir selalu identik dengan suami/istri sampai mati, bagiku juga identik dengan orang-orang yang ada di sekitar kita pada satu waktu tertentu. Dan bila Tuhan memang hanya memberikan satu jodoh untuk satu orang, maka Dew sudah pasti adalah jodohku saat ini.

Tapi aku tahu Tuhan tidak sepelit itu.

“Kenapa?”

“Tuh.” Dew menunjuk ke arah kapal dan dari kejauhan aku lihat kapten kapal kami menunjuk ke arah jam tangannya. Artinya kami sudah harus kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan.

“Aaahh…” Aku sedikit mengeluh. Rasanya belum lama kami di sini. Dan aku baru saja berpindah dari bawah pohon ke pinggir pantai untuk berjemur karena matahari sudah beranjak turun.

Dengan malas aku membenarkan letak kacamata hitamku dan menyambar tas kecil di belakang kami. Butiran pasir putih di pantai ini masih diselingi butir pasir merah. Seperti biji stroberi yang tak hancur ketika diblender sehalus apapun. Kaki kami menyentuh air laut yang dingin meski sinar matahari masih terasa hangat. Seorang awak perahu kecil membantu kami naik, mengantar kami menuju kapal di tengah laut. Jangkar tak boleh sampai merusak pantai dan terumbu karang, kata mereka. Aku mengerti dan tak keberatan. Empat hari di atas perahu, mendengar cerita mengenai berbagai tempat, merapat ke berbagai pulau, berjemur di banyak pantai, snorkeling, dan bermain dengan ikan-ikan, membuat aku memahami mengapa seorang pelancong harus turut menjaga tempat wisata yang mereka kunjungi.

Bahkan aku tak akan keberatan jika kami harus tidur di atas perahu agar tak perlu melempar jangkar untuk mencari penginapan di darat. Aku akan dengan senang hati menghabiskan malam di tengah laut, tidur telentang di ujung kapal, melipat kedua tangan di belakang kepala, menghitung bintang sampai hitungan yang aku lupa keberapa dan mengulang lagi dari awal dengan senang hati. Rasanya tak ingin wisata ini segera berakhir.

*

Aku tak tahu berapa lama Anya menyimpan kabar ini hingga ia mengakui semuanya segera setelah kami menginjakkan kaki di bandara di Jakarta. Aku kecewa, tentu saja. Aku tak ingin menemui Anya, kalau bisa untuk selamanya. Beberapa kali, Anya mencariku di lantai sembilan tetapi ia tak pernah berani lebih dekat dari pintu ruanganku.

*

Di lantai dua belas, orang-orang bekerja terlalu keras, terlalu serius. Aku merindukan suasana santai di lantai sembilan. Tapi aku tak bisa pergi ke sana. Dinding itu masih berdiri kokoh. Dan aku tak tahu dari mana aku mulai mencungkil dinding itu hingga roboh.

Hal ini jugalah yang membuat aku malas menginjakkan kaki di ruanganku yang baru. Satu minggu tetapi rasanya seperti satu tahun. You don’t mess with bestfriend for too long. Aku menggumamkan kalimat itu berulang kali, berharap Dew mendengarkan itu. Aku mengempaskan diri di kursi dan menyambar gelas besar bertangkai melingkar. Ada yang berbeda dengan jus stroberiku pagi ini. Aku menegakkan punggung, menarik kartu ucapan yang terselip di bawah gelasku. Ada gambar senyum di sana dan ketika aku mendongak, Dew sudah berdiri di pintu ruanganku. Dengan senyum yang sama dengan yang tergambar di kartu itu.

You don’t mess with your bestfriend for too long, katanya.

***

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .