Rumah Baru

SEMARANG. Siapa sangka saya akan menjalani hidup selama dua tahun ke depan di kota ini.? Walaupun tidak sesuai dengan harapan awal saya yang menginginkan Malang untuk menggantikan Jakarta sebagai rumah saya berikutnya, tapi membayangkan hidup di rumah baru, memberikan rasa penasaran dan efek bersemangat yang sama. Entah pengalaman apa yang akan saya dapat disini. Saya belum tahu.

Membaca pengumuman kelulusan yang menyatakan saya sebagai salah satu penerima beasiswa S1 yang ditawarkan kantor, saya benar-benar bersyukur. Lulus beasiswa S1 ini adalah salah satu target yang ingin saya capai di tahun 2011. Sudah tercapai. Thank God, we made it. Yeay.. 🙂

Melakukan pendaftaran ulang (kuliah) dan pindah ke Semarang dalam waktu yang terbatas. Di selingi acara mudik Lebaran yang mengharuskan saya bolak-balik Jakarta-Semarang-Jakarta-Denpasar-Semarang, benar-benar menguras tenaga. Membereskan barang-barang saya di Jakarta yang tidak bisa dikatakan sedikit. Tiga tahun tinggal di Jakarta benar-benar membuat saya harus bekerja keras untuk menentukan barang-barang mana yang harus dibawa, yang tidak bisa dibawa, dan yang harus dibuang. Untungnya saya tidak sendirian. Selalu ada (sese)orang yang di takdirkan untuk membantu saya. 😀

Tiba di Semarang lebih cepat dari seharusnya. Memohon kepada pemilik rumah tempat saya tinggal untuk sementara agar pulang sehari lebih cepat jadi saya bisa tinggal disana pada hari kedatangan saya ke Semarang, padahal pemilik rumah itu sedang mudik ke Jakarta. 😀

Tidak mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru yang diadakan kampus karena mudik. Kesulitan mendapatkan tempat kost putri yang sesuai selera. Mengelilingi area sekitar kampus, selama tiga hari berturut-turut demi mendapatkan tempat tinggal yang sesuai.

Menyesuaikan diri dengan cuaca kota Semarang yang panas, lebih panas daripada Jakarta. Menyesuaikan diri dengan lalu lintas kota Semarang yang (ternyata) padat dan jalanan yang penuh tanjakan dan turunan. Menyesuaikan diri dengan menu nasi pecel dan sop buah. Nah, yang terakhir ini, saya lakukan dengan senang hati. 😀

Menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah yang di mulai jam 7 pagi. Sekali lagi, jam 7 pagi, Saudara-saudara! Juga menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah di mana hanya ada tujuh mata kuliah dalam seminggu (lima hari). Jadi akan ada beberapa hari dalam seminggu yang hanya berisi satu mata kuliah. 😀

SEMARANG. Rumah baru. Wangi baru. Suasana baru. Semangat baru untuk kuliah lagi setelah tiga tahun vakum. Semoga saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. 😀

Btw, saya sedang bercerita tentang rumah baru di rumah lama saya (takhanyacinta). Tidak banyak yang berubah di rumah lama ini. Sedikit berdebu, memang, karena cukup lama saya abaikan. Agak pengap, memang, karena sudah cukup lama pintunya tidak saya buka. Setelah ini, walaupun saya sudah tinggal di rumah baru, semoga saya masih sempat mengunjungi rumah lama ini. Rumah lama, rumah yang sama berartinya dengan rumah-rumah saya yang lain. 🙂

[Tentang] Flash Fiction

Ini dia biang keladinya…

Buku ini saya temukan ketika saya dan seorang kawan iseng mengobrak-abrik pameran buku di Istora Senayan dua minggu yang lalu. Dengan harga yang cuma sepuluh ribu rupiah saja, saya jadi mendapat pengetahuan baru tentang gaya penceritaan yang lain dari biasanya. Gaya penceritaan itu bernama Flash Fiction. Kalau di twitter mungkin seperti @fiksimini.. 😀

Flash fiction secara harfiah berarti “cerita kilat”. Dikenal juga dengan nama cerita pendek, sudden, bite-sized, postcard, minute, fast, quick, dan micro fiction. Di Perancis disebut nouvelle. Di Cina disebut cerita kantong, cerita mini, cerita semenit maupun cerita-sepanjang-rokok.
Inti dari Flash Fiction adalah satu: bentuk penceritaan yang terasa pendek. Dengan kata kunci “rasa”, maka tidak ada konsekuensi logis yang jelas mengenai definisi flash fiction berdasarkan, misalnya, batasan (jumlah) kata. Satu antologi flash fiction berjudul “The World Shortest Stories”, misalnya, memuat cerita-cerita yang harus disampaikan dalam 55 kata. Di sisi lain, ada yang menyampaikannya dalam 1500 kata dengan gaya penceritaan yang membuat pembacanya merasa hanya membaca 500 kata. Cerita berkelebat seperti kilat.
Karakteristiknya: penggunaan kata yang efektif.
Yang diutamakan: kepiawaian mengolah kata seminim mungkin untuk menghasilkan efek sedramatis mungkin.
(Sumber: Jangan berkedip! Karya: Donna & Isman)

Ini contoh flash fiction yang saya kutip dari buku diatas. Cerita ini hanya terdiri dari 94 kata.!

Zamrud, Bukan Mirah Delima, Sayang.
“Oh, indahnya! Ini untukku?” Mataku berbinar-binar saat suamiku menunjukkan sebentuk cincin emas berhiaskan mirah delima.
“Tentu saja.” Sahutnya sambil tersenyum. Diraihnya jemariku. Namun ketika cincin itu tidak muat di jari manisku, bahkan tidak muat di semua jari walau kelingking sekalipun, ia mulai mengernyitkan dahi.
“Padahal aku memesannya khusus untukmu.” katanya, heran. “Kau suka mirah delima, kan.? Aku sih tidak.”
Aku terperangah. Lima tahun yang lalu, suamiku membelikanku zamrud karena tahu itu favoritku. Kali ini, ia memberiku mirah delima, kupikir itu batu favoritnya.
Kuteliti cincin itu. Ukurannya kecil sekali. Di dalamnya tergrafir tulisan “Wenny”.
Namaku Rina.

Baca juga contoh lain dari flash fiction disini.
Atau baca lagi flash fiction perdana saya di tulisan saya sebelumnya.

Yuuk., kita meramaikan dunia flash fiction. 😀