Sembilan Novel yang Wajib Kalian Baca, Menurut Saya 

Tahun 2015 sudah akan berakhir sebentar lagi. Pastinya target membaca tahun ini juga hampir atau bahkan sudah tercapai, ya. Target baca saya? Semua buku pada foto di atas. \m/

Untuk yang targetnya sudah tercapai seperti saya, yuk, lakukan perayaan kecil dengan merekomendasikan buku yang dirasa bagus dan wajib untuk dibaca oleh orang lain.

Sebelumnya, kalian bisa buka profil Goodreads saya dan ‘mempelajari’ buku-buku apa saja yang saya beri empat atau lima bintang. Kalau kalian rasa kita punya selera yang sama, maka daftar berikut ini akan cocok untuk kalian. Btw, daftar berikut saya urutkan berdasarkan yang lebih dulu saya baca sepanjang 2015.

1. Tuesdays With Morrie – Mitch Albom
Berhubung tak  tahu berapa sisa waktu kita di dunia ini, rasanya oke juga belajar memaksimalkan waktu hidup yang kita punya. Untuk belajar ini, bagusnya memang dari orang yang hampir mati. Karena kata Morrie, when you learn how to die, you learn how to live.

2. Dirty Little Secret – aliaZalea
Dari semua novel aliaZalea, saya paling suka Dirty Little Secret. Paling dewasa, dan paling menyentuh.

3. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu – Norman Erikson Pasaribu
Buku ini adalah satu-satunya kumpulan cerpen (kumcer) di daftar ini. Saya tidak bisa tidak menyertakan kumcer ini dalam daftar karena kumcer ini keren banget. Model-model cerpen koran tapi lebih bagus lagi. Selain itu, penulisnya masih sangat muda dan anak STAN. Apresiasi!

4. Orang Asing – Albert Camus
Diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi amat minim dialog, membuat si tokoh utama lebih banyak menarasikan isi kepalanya sendiri. Cocok untuk orang yang pendiam. Sesama pendiam, barangkali isi kepala kalian sama. Selebihnya, karena ini salah satu karya klasik dari penulis besar.

5. Eleanor & Park – Rainbow Rowell
Untuk yang kangen masa remaja dan pengalaman jatuh cinta untuk pertama kalinya. Silakan.

6. Dua Ibu – Arswendo Atmowiloto
Novel ini membuat saya optimis bahwa proses menulis novel (yang panjang itu) akan terasa lebih mudah bila dilakukan sedikit demi sedikit. Dua Ibu disajikan dalam banyak bab dan masing-masing babnya pendek sekali, rata-rata dua halaman saja. Benar-benar bikin optimis si penulis pesimis. Kalau dari segi cerita, Arswendo Atmowiloto tak perlu diragukan.

7. Please Look After Mom – Kyung-sook Shin
Ketika sang ibu hilang, maka anak-anaknya berdebat mengenai apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan melakukan apa. Novel ini mengajak kalian untuk menguji diri, seberapa dalam kalian mengenal ibu kalian sendiri. Apakah ketika ibu kalian tersesat di sebuah kota besar, ia bisa mencari pertolongan? Di antara semua anggota keluarga, siapa yang akan ia hubungi pertama kali? Atau bahkan, apakah ia hafal nomor telepon salah satu dari anggota keluarga? Yah, namanya cerita tentang kehilangan ibu, tentunya akan ada bagian-bagian yang sukses bikin menangis terharu dan mendadak kangen ibu.

8. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman
Buat yang sudah merasa dewasa, jangan lupa untuk tetap memelihara sisi anak-anak dalam diri. Berimajinasilah. Untuk yang masih anak-anak, orang dewasa memang begitu, tak akan mempercayai cerita absurd kalian.

9. Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta – Herdiana Hakim
Silakan baca kalau kalian ingin mengetahui lebih banyak tentang Kartini (selain Jepara, emansipasi dan Habis Gelap Terbitlah Terang) dengan cara yang menyenangkan. Alasan lain, sila baca review saya untuk novel ini di sini.

*

Oke, demikian sembilan novel yang saya rekomendasikan untuk kalian baca. Apakah kira-kira sesuai selera? Atau jangan-jangan ada yang sudah dibaca?

Well, setelah saya, sekarang giliran kalian merekomendasikan novel-novel yang menurut kalian wajib saya baca. Saya tunggu di kolom komentar, ya. :’D

Terakhir, selamat menyambut tahun 2016! \m/

***

#NulisRandom2015 – Karya Sampingan

Sebelumnya:

1.

Saya membaca halaman ix s.d xix (novel) Anna Karenina karya Leo Tolstoi. Halaman tersebut adalah esai yang terdiri dari empat bagian, ditulis oleh Prof. Willen V. Sikorsky seorang ahli sastra Indonesia yang tinggal di Moskwa. Esai tersebut berbicara tentang isi novel Anna Karenina juga sekelumit cerita di balik proses penulisan karya fenomenal tersebut.

Di halaman x, penulis mengatakan bahwa Anna Karenina adalah hasil karya Leo Tolstoi yang katanya ingin ‘mengaso sebentar’ dengan menulis sesuatu yang agak enteng, tanpa menyinggung problem-problem sosial dan filsafat yang rumit. Maksudnya, mengaso dari kesibukannya ketika itu, menulis buku-buku pelajaran untuk anak-anak petani di tanah miliknya dan merumuskan gagasan-gagasan etis-filosofisnya.
2.

Kebiasaan saya ketika pertama kali mendengarkan album musik baru adalah mendengarkan album tersebut dengan santai. *ya iyalah* Benar-benar mendengarkan, maksudnya. Dengan santai. Dan seringnya kebablasan, yang saking santainya, pikiran malah jalan-jalan ke mana-mana. Lalu pikiran itu kembali pada entah lagu keberapa. Dan biasanya, lagu yang ketika ia mengalun pikiran saya kembali dari pengembaraan itu adalah lagu yang paling saya suka dari album tersebut. Lagu yang bikin sadar, istilahnya.

Pada album Kabar dari Hutan milik Pygmos, lagu favorit saya adalah Little Short Conversation.

Kebiasaan lain setelahnya, plus karena yang saya beli adalah album dalam bentuk CD, adalah membuka booklet album dan membaca-baca isinya. Lalu saya sampai pada bagian akhir. Sebuah kolom ucapan terima kasih. Isinya: buat kalian yg sudah mendukung ‘proyek iseng’ ini, kami ucapkan terima kasih.

*

Setelahnya:

Kalau kita berpikiran sama, maka yang menarik di kedua karya tersebut adalah pada kata-kata yang diberi tanda petik. Kedua karya tersebut sama-sama (diakui oleh pemiliknya sebagai) karya ‘bukan utama’, tapi sepertinya (atau seharusnya, tetap) digarap dengan serius. Buktinya, hingga akhir abad ke-20 Anna Karenina telah diterjemahkan dan diterbitkan sebanyak 625 kali dalam 40 bahasa (ini tidak termasuk penerbitan dalam bahasa aslinya). Dalam bahasa Inggris saja, hasil terjemahan yang berbeda pernah dicetak sebanyak 75 kali, Belanda 14 kali, Jerman 67 kali, Perancis dan Italia 36 kali, Cina 15 kali, dan Arab 6 kali.

Dan album Kabar dari Hutan menjadi salah satu album favorit saya. Setara dengan V, Mirah Ingsun, Tentang Rumahku dan banyak lagi.

Padahal di parallel universe, barangkali banyak yang sudah berusaha, sampai jungkir balik berkarya, tapi karya tersebut tak menarik bahkan tak banyak dilirik.

What a ‘mengaso sebentar’/’proyek iseng’! *menjura*

    

***

#NulisRandom2015 – Media Sosial

Setelah lama tidak aktif di Facebook, akhirnya saya mulai aktif lagi sekitar bulan Maret kemarin. Buat apa? Buat promosi 4 Musim Cinta. Haha..

  
Dan, ternyata Facebook banyak berubah ya … tampilannya. Kalau orang-orangnya, sih, masih sama.

Berhubung ini postingan sembarang, maka pikiran sembarang datang dalam bentuk pertanyaan. Apakah ada yang merasa–selain saya tentunya–kalau di Facebook kita ‘dipaksa’ berteman? Kalau ada orang yang meminta berteman dengan saya dan saya tidak mau, bagaimana? Kan semacam bertepuk sebelah tangan.

Lalu, setelah pertemanan yang ‘terpaksa’ itu, kita lagi-lagi ‘dipaksa’ membaca apa yang mereka sampaikan. Pujian, makian, pesimisme, optimisme, sindiran, prestasi, pamer, dan sebagainya. Ya bagus kalau kita memang tertarik untuk tahu tentang hidup mereka. Kalau tidak?

Berapa banyak dari kita yang ngedumel sendiri ketika buka Facebook dan membaca yang tidak kita inginkan? Kabar gembira untuk kalian, sekarang ada tombol follow/unfollow.

Di Twitter juga kurang lebih sama. Meski kita bisa memilih ‘membaca’ siapa, informasi apa yang ingin kita dapatkan, tetapi pasti ada kalanya orang yang kita follow sedang berakting menyebalkan.

Bicara tentang memilih orang untuk di-follow, di Twitter barangkali peribahasa ‘you are what you eat‘ sekarang bergeser menjadi ‘you are who you follow‘. Apakah kamu adalah orang yang kocak atau justru butuh hiburan? Apakah kamu adalah orang yang bersemangat atau justru butuh motivasi? Apakah kamu adalah orang yang banyak teman atau justru butuh menjalin pertemanan? Apakah kamu orang yang senang berbagi atau justru butuh berita terbaru? Atau gabungan semuanya? Bisa jadi.

‘Hidup’ di dunia maya alias media sosial, bisa terasa lingkungannya berdasarkan apa yang kita baca melalui siapa yang kita follow. Lingkungan yang panas, dingin, ramai, sepi, penuh gunjingan atau jadi ajang pamer makanan dan tempat-tempat nongkrong. Mau stres atau kesal atau tertawa atau damai. Silakan pilih.

Itu awal-awal saya Twitter-an. Semakin ke sini, saya memilih menjadikan Twitter sebagai media untuk menjaga semangat menulis. Follow akun penerbit, dan senangnya bertemu banyak orang yang juga punya hobi sama.

Lalu, muncul Instagram. Awalnya malas bikin akun di Instagram karena buat apa? Terlalu banyak media sosial bikin bingung. Bingung mau berbagi informasi apa di media sosial yang mana. Curhat, di Facebook pun sudah cukup. Lebih dari cukup malah. Karakter tidak dibatasi. Bahkan curhat berbentuk cerpen sepanjang 1.500 kata pun bisa di (kolom) update status di Facebook. Pamer foto, apalagi. Di Facebook, semua foto saya adalah untuk pamer. Di Twitter juga bisa twitpic.

Tapi lama kelamaan, tergoda juga untuk bikin akun di Instagram. Hehe.. Sebelum buat akun dan unggah foto pertama, tentukan tema dulu. Tidak ingin akun Instagram berisi foto-foto keseharian karena, sekali lagi, sudah ada Facebook dan Twitter untuk itu. Saya putuskan, mengisi akun Instagram dengan hal-hal terkait buku. Sampai sekarang, sih, akun Instagram saya berisi hanya kutipan buku. Entah nanti. Kalaupun beragam, semoga tetap konsisten isinya tentang buku.

Well, setelah semua media sosial itu, sampai sekarang, saya sama sekali belum tertarik bikin akun di Path. Entah kenapa. Nah, coba yang pakai Path, apa kelebihan Path dibandingkan media sosial lainnya? Coba pengaruhi saya. Coba. 😀

***