[Flash Fiction] Someone Like You

Malam ketiga. Gigil kesekian. Julian tak henti mencangkuli tanah di hadapannya. Setiap kali secuil bagian peti terlihat, semangatnya bertambah. Gigilnya mereda. Berganti senyum yang mencerahkan wajah. Menyaingi bulan di atas sana.

“Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya.” Julian melompat ke luar lubang galiannya. Mengulang-ulang ucapannya.

Malam berikutnya. “Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air.”

Julian menutup kembali galiannya lalu pergi dengan gigil di seluruh tubuhnya.

Malam berikutnya, “Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang.”

Ia melompat keluar lubang galian dengan gusar. Sambil berjalan cepat dengan kepal tangan yang mengeras, air matanya menderas. “Tak ada, Sayang. Tak ada yang seperti kamu. Harus kugali berapa banyak lagi? Berapa?!”

Di kepala Julian, membayang tubuh kaku kekasihnya di ruang bawah tanah, menunggu bulu mata, jemari serta kuku masa mudanya dulu.

***