Dilarang Bersuara

*

“Mas, itu kenapa tokoh utama laki-lakinya malah sembunyi, bukannya balas dendam?”

Kursi studio 1 malam itu terisi hampir seluruhnya dan Bob tidak mau menjadi sasaran kekesalan penonton lain karena keributan yang dibuat oleh perempuan yang duduk di sebelah kirinya. Bob memintanya untuk tidak bersuara, “Sssttt…”

“Tapi itu penjahat perempuannya sudah tahu di mana dia bersembunyi.”

Dua orang di sebelah kiri Andrea, juga Luna—perempuan yang duduk di sebelah kanan Bob, serentak menoleh ke arah Andrea.

“Mbak, berisik banget sih.” Kata Luna kepada Andrea. “Mas, bukannya dia nonton sendiri, ya. Kok nanya-nanyanya ke kamu? Huh!” Luna berbisik sambil menggamit lengan Bob, kekasihnya.

 

***

 

*) Ditulis untuk #FFRabu – Monday Flash Fiction dengan topik FILM
**) 100 kata tidak termasuk judul dan catatan kaki

Terus Bersama Selama yang Aku Bisa

Aku tersenyum-senyum ketika mendengar mereka bercerita kala itu. Mama bilang kepada saudara perempuannya yang belum menikah, ”Hamil dan melahirkan adalah hal luar biasa. Semua perempuan harus merasakannya.” Mata Mama pasti berbinar ketika mengatakan kalimat itu. Dan Tante Rosi pasti kebalikannya.

“Aku belum akan menikah dalam waktu dekat.”

“Apa lagi yang kamu tunggu, Sayang? Cantik, pekerjaan bagus, manis, sabar, jago masak. Laki-laki mana yang menolak high quality jomlo kayak kamu. Segeralah.”

Cukup lama Tante Rosi tak bersuara, hingga akhirnya ia bilang, “Bagaimana menurutmu kalau aku hamil dan punya anak tapi tidak menikah?” Ada sirat seringai dari kata-kata Tante Rosi. Aku tak yakin, tetapi itulah yang aku rasa.

Mama mengelus-elus perutnya segera setelah mendengar kata-kata Tante Rosi. “Amit.. Amit.. Rosi..”

Tentu Mama tidak setuju dengan ide Tante Rosi yang dianggapnya ide gila, tetapi aku mengamini kata-kata Mama bahwa hamil dan punya anak adalah hal luar biasa. Setidaknya aku merasakan sendiri, menjadi orang yang diasuh Mama adalah hal indah pertama yang aku tahu. Entah kakakku.

Setiap pagi Mama menyanyi untukku. Setiap siang, setiap malam. Setiap saat ia ingat. Ketika ia sedang memasak, ketika menyiapkan seragam kerja Papa, ketika menonton televisi. Suara Mama adalah yang paling merdu. Sesekali Mama juga memutar musik. Lagu anak-anak, lagu-lagu klasik, instrumental. Kadang aku bersenandung, seringnya hanya menggoyang-goyangkan kepala menikmati alunannya. Tak jarang suara-suara itu membiusku, membuatku tertidur nyenyak.

Mama memakan makanan-makanan sehat, ia memberiku makanan yang sama sehatnya. Ketika Papa sedang di rumah dan menyalakan rokoknya setelah makan malam, Mama akan menegurnya. “Tidak baik untuk kesehatan anak-anak.” Lalu Papa akan mematikan rokoknya atau pergi ke beranda dan menghisap habis rokoknya di sana.

Malam ini, purnama kesebelas. Mama mengeluh sakit sambil memegangi perutnya. Papa yang tak kalah khawatir memutuskan untuk segera menyalakan mobil dan membawa kami ke rumah sakit. Kami. Aku dan Mama. Tadinya aku tak mau ikut. Kucoba berontak, tetapi ternyata tak cukup kuat untuk melawan.

“Aku khawatir. Dan kesakitan. Papaaa…”

“Sabar, Ma. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.”

Papa terus mengajak berbicara untuk mengalihkan rasa sakit Mama. Hingga tiba di rumah sakit dan Mama dibaringkan di atas tempat tidur, aku masih berusaha untuk berontak. Lalu entah apa yang akhirnya menarikku dengan paksa, benar-benar membuatku menyerah.

“Akhirnya ia lahir setelah 11 bulan dan sembilan hari dalam kandungan.”

Orang-orang di ruangan itu mengembuskan napas lega, bahkan Mama dan Papa malah tertawa. Tetapi aku menangis, tentu saja. Sudah kucoba untuk bersama Mama selama mungkin, tapi gagal. Padahal Mama pernah bilang bahwa aku dan dia adalah satu.

***

 

*) Ditulis untuk Prompt #45: Ada Apa dengan CintaMonday Flash Fiction

**) Pengembangan bebas dari salah satu puisi dalam film Ada Apa dengan Cinta:

Aku Ingin Bersama Selamanya
Ketika tunas ini tumbuh, 
serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhembus adalah kata. 
Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan. 
Tangan kita terikat… Lidah kita menyatu… 
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu. 
Hahhh… Di luar itu pasir… Di luar itu debu… 
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada. 
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu. 
Jiwa ini tandu… Maka duduk saja… 
Maka akan kita bawa … Semua… 
Karena kita adalah satu

Es Krim

sundaes-su-653506-l

 

Di dunia yang aku jalani, tak ada es krim. Tetapi di dunia luar sana, aku melihat anak-anak lain membawanya, menjilatnya dengan lidah merah muda mereka hingga gunungan es krim itu habis. Mereka kerap menggoda, memain-mainkan lidah dengan sengaja di depanku.

“Siri, Siri. Kami punya es krim. Yeyeye…” Kata mereka sambil mengetukkan jari ke jendela kamarku –kamarku berbatasan langsung dengan jalanan.

Aku tak tersenyum melihat kelakuan mereka meski itu lucu, tetapi aku pun tak perlu menangis. Barangkali ketika ulang tahunku nanti, Mama akan membelikanku es krim. Mama selalu tahu yang terbaik untukku. Suatu hari nanti, semangkuk es krim seperti yang ada di tangan mereka, akan kuhabiskan dalam sekali telan. Membayangkan saat-saat seperti itu membuatku tersenyum. Tetapi mereka, ketika melihatku tersenyum, malah menganggapnya sebagai hinaan. Mereka menggodaku lagi, kali ini disertai bunyi kecipak bibir lalu diakhiri dengan bunyi ‘aahh’ tanda nikmat.

Sial, kutukku dalam hati. Seandainya aku ada di sana saat ini, tangan dan kaki mereka pasti telah aku remukkan.

Kriuttt..

Pintu kamarku terbuka, “Saatnya makan, Siri.” Mama meletakkan nampan yang dibawanya di meja dekat pintu. Lalu berjalan menujuku, menunduk dan membuka gembok di pasung kaki dan tanganku.

“Es krimku mana, Ma?” Bisikku pelan. Pelan sekali.

***

 

*) Ditulis untuk Prompt #59: Sundae Monday Flash Fiction