[Giveaway] Berawal dari Kalimat Pertama

Bersenang-senang, anyone?

Sebenarnya saya sudah lama merencanakan untuk membuat #Giveaway atau #TantanganMenulis atau apa pun kalian menyebutnya. Seberapa lama rencana ini? Sejak saya mengadakan giveaway yang ini, dan baru kesampaian sekarang.

Jadi, langsung saja, ya.

Berhubung giveaway yang menjadi pemicu giveaway ini berbicara tentang kalimat pertama sebuah cerita, maka pada giveaway kali ini pun, kita akan menulis cerpen dari kalimat pertama yang saya tentukan. *kebanyakan giveaway*

Berikut ketentuannya:

1. Buatlah cerpen dengan menggunakan kalimat berikut sebagai kalimat pertama.

 Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.

Kalimat di atas diambil dari buku yang sedang saya baca (Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu karya Norman Erikson Pasaribu), dan merupakan kalimat pertama cerpen berjudul Aku Rasa Aku Akan Pergi ke Suatu Tempat untuk Waktu yang Teramat Lama.

2. Cerpen bercerita tentang cinta (karena sebentar lagi Februari), tetapi bukan cinta ke pacar, calon pacar, mantan pacar, pacar orang, suami/istri, calon suami/istri, mantan suami/istri *halah* melainkan ke orangtua, saudara, sahabat, atasan, asisten, hewan peliharaan, pekerjaan, benda kesayangan, (si)apa pun.

3. Panjang cerpen 1000 -1500 kata. Judul bebas.

4. Gaya tulisan adalah pop (bukan sastra yang berat-berat), tapi tetap perhatikan EYD dan kata baku, ya.

5. Post cerpen kalian di blog/notes Facebook masing-masing, lalu bagikan tautannya di kolom komentar giveaway ini, paling lambat tanggal 21 Februari 2015 pukul 22.30 WIB. Pengumuman penenang, tanggal 28 Februari 2015.

6. Kalau ada pertanyaan seputar giveaway ini, sila layangkan melalui akun twitter saya @mandewi karena kolom komentar hanya untuk tautan cerpen.

Tiga orang pemilik cerpen yang paling saya suka, sila memilih buku-buku berikut.

image

image

image

image1

Pemenang akan memilih tidak hanya satu atau dua buku, tapi sebanyak yang kalian suka. Asalkan buku-buku itu benar-benar kalian mau. Saya tidak akan memberikan buku yang tidak kalian inginkan karena rasanya sakit, serupa diterima sebagai pacar tapi tidak diperlakukan seperti pacar. *loh*

Mengenai teknis pemilihannya akan diberitahukan kemudian.

Terakhir …

Selamat menulis! :))

***

Debur Ombak Selatan

Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan? Mengapa bukan Segara Alam seperti salah satu tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori? Sama-sama bernapaskan semesta tetapi lebih masuk akal. Lagipula, panggilan apa yang cocok untuk orang bernama lengkap Debur Ombak Selatan? Debur? Ombak? Selatan? Atau apa?

Aksel.

Begitulah akhirnya ia dipanggil oleh siapapun yang hendak memanggil. Aksel yang berasal dari akhir ‘Ombak’ dan awal ‘Selatan’. Lumayan. Meskipun huruf vokal pada Aksel harus dilafalkan seperti pada kata karet, agar lebih merdu di telinga.

Aku mengulurkan tangan ketika pintu terbuka sempurna.

“Sein.” Dengan huruf vokal yang diucapkan seperti ketika melafalkan rain yang berarti hujan.

“Nama asli?”

“Tentu saja. Tidak ada yang perlu aku tutup-tutupi.”

Aku memperhatikan benar-benar, laki-laki di hadapanku. Matanya langsung menarik perhatianku. Biru gelap seperti permukaan samudera. Orang dari belahan bumi mana yang memiliki mata seperti itu. Aku pikir dia orang Indonesia tulen. Namanya.

“Aksel.”

“Aku tahu.”

“Dari mana?”

“Mencari tahu.”

“Mencari tahu?”

“Ya. Media sosial dan semacamnya. Siapa yang bisa benar-benar sembunyi dari dunia yang semakin bebas dan terbuka? Semua informasi ada di depan mata. Tinggal kamu mau melihat atau tidak.”

Wajah Aksel menegang. Mungkin ia merasa jalurnya dilangkahi. Laki-laki awal tiga puluhan, mapan, tampan, akan senang bila diberi kesempatan untuk mendominasi. Aku harus menahan diri agar tidak terlalu banyak bicara. Aku sedang bekerja. Meski sepertinya, aku akan menikmati pekerjaan kali ini.

“Langsung saja?”

Aku berjalan memasuki ruangan lebih dalam, melepaskan sepatu, baju satu persatu dan membiarkan semuanya tergeletak sebagai jejak agar Aksel mengikuti. Ia paham. Dari dalam laci meja di sebelah tempat tidur, aku mengambil sebungkus rokok dan pemantik bergambar siluet perempuan. Aksel memelukku dari belakang.

“Dari mana kau tahu ada rokok di sana?”

Suaranya lebih menyerupai bisikan atau bahkan hanya hembusan. Aku bergidik. Geli.

“Kamar ini aku yang pilih. Aku yang minta agar disediakan segala hal yang aku perlukan.”

“Apa lagi?”

“Ini.”

Aku menyingkap selimut. Tersenyum melihat hamparan kelopak mawar putih. Aksel ikut melihat ke bawah selimut dan tersenyum.

“Apa kau melakukan ini pada semua pelangganmu?”

Sebuah gelengan kepala menjawab pertanyaannya. Ia balas dengan sebuah ciuman lembut di pucuk bibirku.

“Kenapa?”

Aku membayangkan pelangganku yang terakhir. Tiga hari yang lalu. Laki-laki beranak lima, bercucu dua belas. Luar biasa kontribusi keluarga mereka terhadap pertambahan jumlah penduduk di Indonesia. Belum termasuk anak-anak lain yang tidak ia sadari keberadaannya. Dasar laki-laki hidung belang. Aku geli dengan pikiranku sendiri.

“Kau tahu, aku yang menawarkan diri untuk pekerjaan seperti ini. Ibuku tak bisa menolak. Aku bilang, dia tidak bisa melarangku untuk melakukan hal yang sama dengan yang ia contohkan. Menolak keinginanku akan menjadikannya seorang yang munafik.”

Detak detik jarum jam terdengar jelas ketika aku membiarkan jeda.

“Ibuku tidak suka dikatakan munafik.” Aku tersenyum puas. Berbalik. Melingkarkan tangan di pinggangnya.

“Aku memilih pelangganku sendiri. Ibu hanya memberi beberapa nama. Orang-orang yang meneleponnya. Aku mencari tahu tentang mereka lalu memilih satu yang mau aku temui.

“Mencari tahu?”

“Ya. Seperti yang aku lakukan kepadamu juga. Apa kamu ingat berapa lama sejak kamu menelepon ibuku sampai ibuku memberi tanggal hari ini?”

“Dua minggu. Kurang lebih.”

“Benar. Aku membatasi pekerjaanku. Aku tidak menerima semua orang yang mau memakaiku.”

“Tidak akan membuatmu setingkat lebih suci daripada yang lain.”

“Aku tidak menciptakan tingkatan dengan orang lain. Aku hanya ingin menghargai tubuhku sendiri.”

“Dengan menjualnya?”

“Haha.. Apa kau tahu bahwa kau terdengar menggelikan?”

Aksel duduk di sisi tempat tidur. Membuka bajunya dan menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik selimut. Aku bergelung di pelukannya.

“Siapa yang tidak menjual dirinya sendiri? Kau bekerja untuk orang lain, melakukan apa yang mereka minta. Apa kaupikir itu bukan menjual diri?”

Aksel terlihat gelisah. Ia membiarkan kedua tangannya bebas. Padahal tangan kanannya bisa saja memelukku dan tangan kirinya meraih tangan kananku. Gesekan antara kulit kami dengan kelopak-kelopak mawar menguarkan bau segar. Aku memejamkan mata dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Situasi ini sangat personal. Setidaknya bagiku.

“Lalu, apa yang membuatmu menerimaku?”

Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Apa aku harus menceritakan semuanya? Kalau iya, mungkin Aksel akan merasa aku terlalu berlebihan. Ah, tak apa.

“Tak perlu khawatir. Aku mencari tahu tentang kalian hanya karena aku penasaran, orang-orang macam apa yang menghubungi ibuku, menghambur-hamburkan uang demi kenikmatan yang hanya semenit atau dua menit. Setelahnya mereka lupa. Lalu mulai lagi, bayar lagi, lupa lagi. Begitu seterusnya.”

“Kaupikir aku begitu?”

“Awalnya, iya.”

“Sekarang?”

“Tidak lagi.”

“Karena?”

“Aksel, kamu terlalu cemas. Tiada hal yang membuatku merasa harus…menolakmu.”

Senyumnya mengembang. Pertanda baik.

“Beberapa hari yang lalu aku melihatmu di sebuah kafe. Kamu sedang duduk sendirian, menghadap laptop. Mungkin bekerja, mungkin melakukan hal yang lain. Aku hendak mendekatimu ketika seorang perempuan tua berjalan ke arahmu lebih dulu.”

“Ibuku.”

“Aku tidak tahu siapa dia, apa yang ia lakukan di masa lalu. Tapi aku bisa melihat betapa wajahnya penuh dengan perasaan bersalah. Ia tidak berani memandangmu. Kedua tangannya gemetar. Gerak tubuhnya gelisah. Kalian sempat berdiam diri, cukup lama.”

“Sebenarnya aku ingin memeluknya begitu aku melihatnya memasuki pintu kaca.”

“Akhirnya kau memeluknya. Airmata perempuan itu jatuh. Membasahi kemeja yang kaupakai di bagian bahu. Airmataku juga jatuh seketika itu.”

Aksel diam. Ada kabut di matanya.

“Romantis. Apa yang aku lihat ketika itu, pernah aku lihat ketika ayahku memeluk ibuku untuk terakhir kalinya. Lalu ia pergi dan tak kembali.” Aku menegakkan tubuh. Duduk sejajar dengan Aksel. “Mendadak, aku menginginkanmu menjadi laki-laki yang akan melindungiku. Selamanya. Haha.”

Sebuah kecupan mendarat di ubun-ubun. Aku memejamkan mata menikmati ketenangan yang serta merta aku rasakan. Pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu aman.

“A-aku…”

Lagi-lagi aku tertawa. “Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja aku terlalu terbawa perasaan. Biasalah, perempuan. Ngomong-ngomong, apa benar namamu Debur Ombak Selatan?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Benar. Namamu?”

“Sein.”

“Aku tahu. Lengkapnya?”

“Seindah Cahaya Purnama.”

Aksel tertawa menyadari kemiripan nama kami. Aku sudah tahu. Dan aku harap kita berjodoh, lanjutku dalam hati. Lalu, sembari mengesampingkan bayangan Aksel memakai pakaian pengantin dan berdiri di sampingku, akupun mulai bekerja.

*

Kesempatan Kedua

Baca dulu cerita sebelumnya di sini.  Cerita itu milik @obrier_, fyi. 🙂

*

“Kamu habis begadang?”

Perempuan yang sedang ada di hadapanku memang blak-blakan. Bahkan setelah tiga tahun kepergiannya, tidak ada basa-basi yang menyertai kata-katanya. Seperti biasa. Dan seperti biasa pula, aku tidak bisa membantah ia. Apa yang ia ucapkan mengandung kebenaran yang seolah mutlak. Atau itu hanya karena aku (masih) mencintainya?

“Tidak.” Jawabku cepat. “Eh, iya. Maksudku, semalam aku tidur cepat. Tetapi malam-malam sebelumnya aku memang begadang. Tahu dari mana? Apa dulu kau pergi untuk belajar menjadi cenayang?”

Ia tertawa kecil. Membuatku kikuk. Tawanya masih sama. Masih mampu membuat dadaku seperti meletup-letup karena perasaan bahagia. Aku jadi mengingat-ingat lagi tampilanku di cermin sebelum aku pergi tadi. Jeans belel yang sudah kehilangan warna aslinya. Kaos kebesaran berwarna merah –warna kesukaannya, bergambar dua jari berbentuk huruf V yang berarti ‘peace’. Rambut tebal berangsur panjang, tidak sempat aku rapikan. Juga kumis tipis dan janggut yang mulai tumbuh memenuhi dagu. Terlebih lagi, wajahku penuh bekas jerawat yang tidak tahu harus dirawat bagaimana. Aku tahu aku terlihat kacau.

“Mata panda itu.. Sorot matamu.. Pakaianmu.. Kamu terlihat kacau.”

Benar, kan. Aku terlihat kacau.

“Kamu lupa ya. Dulu, sebelum pergi, aku berpesan satu hal. ‘Buat aku terkesan di pertemuan kita berikutnya’.”

Aku menundukkan kepala yang terasa berat karena malu.

“Tetapi sepertinya kamu lupa karena waktu itu kamu lebih memilih untuk menuruti amarahmu karena melihat kepergianku. Jangan ulangi, jika aku boleh menasehati.”

Aku tersenyum kecut. Bagaimana mungkin aku tidak marah melihat ia pergi begitu saja. Tidak ada pembicaraan apa-apa hingga aku tidak menemukannya di sampingku ketika terbangun. Pun pesan yang ia sebutkan barusan, hanya ia tulis di balik kartu nama entah siapa, yang ditemukannya di atas meja.

“Jangan ulangi? Jangan ulangi bagian mana?”

“Jangan ulangi menuruti emosi…”

“Ah, tentu saja kau bisa menasehati.” Aku membuka suara dengan ragu-ragu. Apa sekarang saat yang tepat untuk berdebat? “Kau pergi karena kau adalah ahlinya menuruti logika. Tidak mendapat apa yang kaubutuhkan ketika bersamaku, membuatmu pergi. Begitu, kan?”

“Hentikan! Kita tahu keadaannya tidak seperti itu.”

“Ya, tentu saja. Tidak seperti itu. Tentu saja.”

“Berhentilah bertingkah seperti anak kecil. Kamu tahu benar bahwa aku hanya ingin mengejar mimpi. Bukankah kamu yang menolak pergi denganku? Bukankah kamu yang terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman? Ah, here we go again!

Nadanya meninggi lalu ia membuang pandangannya ke luar jendela. Sementara itu aku terhenyak mendengar satu lagi kenyataan yang sebenarnya tidak ingin aku dengar.

“Apa sekarang kamu masih sepengecut itu?” Katanya. Tatapannya masih jauh ke luar jendela. “Berlindung di ketiak atasanmu yang memperlakukanmu seperti budak hanya karena kamu suka merasa dibutuhkan?”

Deg!

Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan yang ia maksud, tetapi aku belum bergerak kemana-mana setelah itu. Aku diam di tempat. Aku memang demikian menyedihkan.

“Aku datang ke sini bukan untuk mengungkit kejadian yang dulu-dulu. Aku pikir setelah aku pergi, kamu sudi menyisihkan waktu untuk berpikir dengan jernih.”

Ia menyebut kata ‘sudi’ dengan penekanan yang membuatku terganggu.

“Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kamu bertahan hidup. Kalau kamu bilang bahwa kamu senang berada di zona nyaman, seharusnya sekarang kamu tidak sekacau ini.”

“Aku sudah berhenti bekerja.” Kataku samar-samar.

“Pengangguran. Tentu saja.” Amarahnya mereda. Lalu meninggi lagi di kalimat berikutnya. “Dengarkan, aku rasa pertemuan ini sia-sia. Tidak ada akhir yang baik bila aku sudah dirundung emosi dan kamu menolak bereaksi.”

Ia mengambil tas tangannya dari kursi kosong di sampingnya. Memasukkan berturut-turut ponsel, rokok dan pemantik api yang sedari tadi tergeletak di atas meja.

“Kamu masih sama. Tidak memiliki nyali untuk menjadi lebih baik. Mungkin benar, aku tidak menemukan apa yang aku cari di dirimu. Aku butuh laki-laki yang berani mengambil risiko. Aku memimpikan laki-laki yang berani menantang dirinya sendiri.”

Kini ia mulai memakai sarung tangannya. Berwarna hitam sehitam gaunnya yang berpotongan dada rendah. Sehitam rambutnya yang ia tata rapi. Aku rasa, selain belajar menjadi cenayang, ia juga belajar bagaimana caranya terlihat lebih anggun. Make up yang sederhana dipadu dengan lipstik berwarna merah terang membuatnya terkesan dominan. Aku menciut di kursiku.

“Aku menghubungimu karena aku ingin mengetahui kabarmu. Asal kamu tahu, aku juga merasa bersalah ketika pergi. Tetapi melihatmu seperti ini, aku tahu penyesalanku hanyalah kesia-siaan.”

Ia mengeluarkan selembar uang untuk membayar minuman yang ia pesan. Menyelipkannya di bawah asbak agar tidak terbang terbawa angin. Dengan keanggunan yang sama seperti tadi, ia berdiri dari kursinya.

“Terima kasih sudah mau menemuiku.”

Aku tahu ia mengatakan itu sambil melihat ke arahku, meski aku hanya berani menunduk memandang cangkirku yang hampir kosong.

“Oya, jika suatu saat kamu berubah pikiran, silakan buat aku terkesan di pertemuan kita berikutnya.”

Lalu ia pergi. Benar-benar pergi. Sementara itu, perasaan malu menahanku untuk tidak mengejarnya.

*

Tulisan ini untuk #tantanganmenulis yang diadakan oleh @JiaEffendie. Lanjutannya dari deskripsi diri, yaitu menciptakan konflik.