[Cerpen] Ning

Ibu selalu pergi ketika matahari masih sangat jauh bahkan untuk membuat terang pucuk pohon tertinggi di halaman rumah Ning. Lalu ia akan kembali ketika matahari sudah jauh meninggalkan pucuk yang sama dari sisi yang berlawanan. Untuk bergantian dengan bulan. Ibu selalu begitu setiap hari.

“Ning, kamu tinggal di rumah. Jangan ke mana-mana. Tunggu ibu saja sampai ibu pulang sore nanti.”

“Malam.” Ning mengoreksi kata-kata Ibu.

“Iya, malam.”

“Ning mau ikut Ibu ke pasar.”

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar. Sudah setinggi ini.”

Perempuan bertubuh kurus, berkulit wajah keriput –padahal Ning, anak satu-satunya, baru berusia sembilan tahun, dan terlihat lemah itu menaikkan tangannya setinggi bahu. Telapaknya mengarah ke tanah. Ning berusaha menggapai-gapai telapak tangan itu lalu menyejajarkannya dengan ujung kepalanya. Ning ingin menunjukkan bahwa ia sudah memenuhi kriteria Ibu agar diperbolehkan ikut ke pasar.

“Sudah sama tinggi, kan Bu?”

Ibu tersenyum sedetik, tanpa memandang Ning. Lalu kembali sibuk dengan besek-besek bambu berisi aneka dagangan. Ia bolak balik dari mulut dapur ke sebuah meja yang salah satu kakinya bukan lagi berbahan kayu seperti kaki-kaki lain, melainkan berupa tumpukan batu pipih. Besek pertama ia isi dengan nasi putih yang uapnya masih mengepul panas. Beralas daun pisang dan ditutup daun pisang. Besek kedua ia isi dengan urap yang bumbu kelapanya masih terpisah. Besek ketiga berisi aneka macam lauk. Besek-besek itu besek kecil saja, yang hanya memuat sekian belas porsi makanan. Artinya, tidak banyak yang harus dijual Ibu setiap harinya, tetapi ia selalu kembali saat matahari sudah tak di tempatnya. Sampai sekarang Ning tidak tahu mengapa Ibu membutuhkan waktu yang begitu lama untuk menghabiskan dagangan lalu pulang.

“Kapan Ning akan setinggi itu?” Kata Ning sambil membersihkan ingus dengan baju lusuhnya.

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar.”

Jawaban Ibu tidak memuaskan dada Ning. Ia mengekor Ibu ke dalam kamar. Ibu akan mengambil kain untuk mengalasi tumpukan besek-besek agar tidak langsung bersentuhan dengan kepalanya, sekaligus menghindari anak-anak rambutnya menyangkut di sulaman besek.

“Ning bisa bantu Ibu jualan. Ning sudah bisa berhitung. Ning juga bisa menyunggi besek-besek itu tanpa memegangnya. Ibu mau lihat? Sini Ning yang menyunggi.”

Ibu tidak meluluskan keinginan Ning. Ia terus melilitkan kain yang baru diambilnya, di telapak tangannya. Ia keluarkan kumparan itu lalu meletakkan kain yang sekarang serupa donat di atas kepalanya.

“Bu, Ning mau ikut.” Ning menarik-narik kain yang meliliti tubuh bagian bawah Ibu.

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar.”

Ning mengikuti Ibu ke luar rumah. Keinginannya tidak dihiraukan. Ia berdiri sambil melingkarkan tangannya di pilar kayu sebelah kanan. Ibu menjauh. Besek bertumpuk tiga yang ia sunggi di kepalanya, menjadi bagian tubuh Ibu yang paling terakhir dilihat Ning.

Ning beranjak ke dipan kayu yang ada di beranda rumahnya lalu tertidur.

*

Matahari muncul di sela dedaunan. Sinarnya menembus gemerisik daun yang sibuk berbisik. Ning mengerjap dan medudukkan tubuhnya dengan malas. Dipan kayu itu mengerit pelan.

“Sudah terang, ya. Saatnya membangunkan Ibu.”

Ning berdiri. Kaki-kaki kecilnya telanjang, menjejak lantai rumahnya yang terbuat dari tanah yang mengeras. Dingin. Ning berjinjit-jinjit, pelan, menuju kamar Ibu yang pintunya telah terbuka sedikit. Ning mendorong pintu itu tetapi tidak melihat Ibu di atas tempat tidurnya.

“Ibu di dapur, ya.” Ning berkata pada dirinya sendiri lalu memutar langkah.

Ringis pelan terdengar dari mulutnya. Sementara itu, tangannya mengusap-usap perut laparnya. Bau nasi putih yang baru matang menyeruak dari arah belakang rumah tempat dapur berada. Ning menghirup udara dalam-dalam.

“Ibu, Ning lapar.”

Ning melangkah dengan tak sabar tetapi kakinya membeku di pintu dapur. Pandangan matanya melemah seperti orang yang baru saja memakan makanan hambar. Ia menghadapi dapur yang kosong. Mulut dapur berisi kayu bakar yang tinggal arang. Tidak menyisakan bara sama sekali. Ning mendekati dua kuali yang kemudian ia goyang-goyangkan. Kosong.

“Ibu, Ning lapar.”

Ning berbalik, lupa mencari Ibu, menjelajahi seluruh ruangan dengan matanya, mencari-cari apa yang bisa ia lakukan. Didekatinya sebuah kursi kayu, ditariknya kursi tersebut ke arah lemari, dijadikannya tangga agar bisa menggapai lemari tinggi yang menempel di dinding. Biasanya Ibu menyimpan bahan makanan di sana. Beras, beberapa butir telur juga bumbu-bumbu. Makanan yang Ibu masak untuk dijual juga biasa disisakan sedikit untuk Ning lalu diletakkan di dalam lemari yang sama. Dengan susah payah, Ning membuka pintu lemari. Tangannya meraba-raba tapi tak menemukan apa-apa. Perutnya terasa semakin melilit. Ia turun dari kursi dan berlari ke belakang rumah. Kalau tak ada makanan, barangkali masih ada air untuk diminum. Ning melongok ke dalam tempayan besar tanpa tutup tempat menampung air hujan. Kering.

Ibu memasak makanan tetapi tidak menyisakan sedikitpun untuknya. Semuanya ia jual. Dijadikan uang. Tetapi Ning dibiarkan dengan rasa lapar. Ibu bilang, Ning tidak boleh kemana-mana. Ia harus tetap di rumah hingga Ibu pulang. Tetapi otot-otot perutnya semakin tegang. Sampai kapan Ning bisa menahan rasa lapar?

Ning kembali ke beranda dan membaringkan dirinya di dipan kayu yang mengerit ketika ia naiki. Kedua tangannya terlipat di atas perut. Ning mulai menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan Ibu untuknya dulu. Senandung yang ia harap dapat membuatnya lupa bahwa perut bisa merasa lapar.

 

Putri cening ayu
Ngijeng cening jumah
Meme luas malu
Ke peken mebelanje
Apang ade darang nasi… *)

 

Matahari semakin tinggi. Berkasnya pas mengenai wajah Ning. Angin sepoi-sepoi membelai matanya juga khayalannya.

*

Tak ingat berapa lama Ning tertidur, matanya kini terbuka dan pandangannya samar. Angin berembus pelan dan matanya menutup lagi. Cahaya bulan sudah menembus dedaunan ketika angin berembus berulang-ulang. Meniupkan kesadaran Ning lalu menariknya lagi. Sadar, lalu lupa lagi.

“Ning sekarang sudah besar. Sudah setinggi bahu Ibu. Artinya apa?”

Bisik Ibu terdengar di telinganya. Suara itu tersenyum.

“Artinya Ning sudah boleh ikut Ibu ke pasar.” Gumam Ning dalam gelap matanya, membalas pernyataan Ibu.

“Ning, sekarang sudah boleh ikut Ibu ke pasar.”

Ning membuka matanya. Ia pikir terang yang menyilaukan matanya adalah cahaya matahari yang telah meninggi. Nyatanya, sekelilingnya masih dilingkupi gelap. Entah menjelang pagi atau baru menginjak malam. Rumah-rumah yang lain terletak berjauhan. Tak ada yang saling mengingatkan ini itu. Suara kokok ayam di kejauhan juga tak memberi kepastian waktu. Ayam berkokok sekehendak hatinya.

Ning duduk di pinggiran dipan. Kakinya menggantung, sedikit lagi sudah bisa menyentuh lantai tanah. “Ibu bilang Ning sudah besar. Ibu bilang Ning sudah setinggi bahunya.” Ning mengayun-ayunkan kakinya dengan senang. “Ibu bilang Ning sudah boleh ikut ke pasar.”

Ning berlari ke dalam rumah mencari Ibu.

“Ibu, ayo ke pasar. Ning ikut. Ning kan sudah besar.”

Tidak ada jawaban didengar Ning.

“Ibu… Ibu…”

Ning mendorong pintu kamar Ibu yang telah terbuka sedikit. Tidak ada siapa-siapa. Ning berlari ke dapur dan dapur kosong saja. Besek-besek yang Ibu gunakan untuk berjualan juga tidak ada di tempatnya. Bahan makanan yang biasa terserak di lantai dapur kala Ibu menyiapkan jualannya juga tidak ada. Tidak ada Ibu di mana-mana. Tidak ada jejak Ibu di mana-mana. Perut Ning melilit karena rasa lapar itu muncul lagi. Ia meringis. Kali ini sambil menangis.

“Ibu… Ibu di mana?”

Ning mulai merengek takut. Untuk pertama kalinya, berada dalam gelap seperti ini membuat darahnya berdesir.

“Ibuuu….”

Ning semakin takut. Rengekannya semakin keras. Airmatanya semakin deras. Ia berjalan pelan ke arah depan rumah, sambil mengusap wajahnya yang basah dengan baju lusuhnya.

“Ning mau ikut ke pasar. Ibu di mana? Ibuuu…” Ning berbicara pada ruang kosong di sekelilingnya. “Sudah hampir pagi, Bu. Ibu sudah ke pasar, ya? Ning menyusul, ya?”

Ning berjalan ke kamar Ibu lalu membuka lemari tempat Ibu menyimpan beberapa potong baju milik Ning. Diambilnya baju terbagus yang ia punya.

Setelah mengganti baju lusuh yang ia pakai dengan baju bagus miliknya, Ning mulai melangkah menjauhi rumah. Ia berjalan terus mengikuti jalan setapak yang terbentuk begitu saja karena sering dilalui orang-orang. Barangkali itulah jalan yang juga dilalui Ibu ke pasar setiap hari.

Tangisnya belum reda. Rasa laparnya juga. Ning berjalan sambil terisak. Sesekali ia mengusap airmatanya dengan baju bagusnya. Awalnya ia merasa sayang mengotori baju bagusnya, tapi tak ada pilihan lain.

“Ibu, tunggu Ning.” Ia berteriak seolah-olah  ia hanya tertinggal beberapa langkah di belakang Ibu. Langkahnya semakin cepat. Melewati pepohonan dan tanaman demi tanaman. Mengikuti jalan setapak yang tadinya jelas dan besar, tapi semakin lama semakin pudar.

“Ibu… Jangan tinggalkan Ning sendirian.”

Ning berhenti berlari. Ia melihat sekeliling. Jalan setapak itu kini telah benar-benar hilang. Ia tak tahu harus berlari ke arah mana lagi.

“Ibuuu…”

Ning mulai berlari lagi, ke sembarang arah. Bulir airmata yang jatuh ke pipinya terbawa angin ke arah belakang.

Ning mengejar Ibu. Terus berlari dari gelap hingga gelap lagi.

Ning mencari Ibu.

Ning menyusul Ibu.

Yang barangkali lupa bahwa Ning terus menunggu.

***

 

—–

*) Lagu daerah Bali yang berjudul Putri Cening Ayu, dan bait lagu ini berarti:
Putri kecilku yang cantik
Tinggal dan jaga rumah, ya
Ibu pergi dulu, berbelanja ke pasar
Agar ada lauk untuk dimakan…

**) Terinspirasi menulis ini setelah membaca cerpen berjudul Perempuan yang Berumah di Rumpun Bambu karya Putu Fajar Arcana di buku kumpulan cerpen Dari Datuk ke Sakura Emas. :))

[Reblogged] Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

[reblogged from seratkata]

SeratKata's avatarSeratKata

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.
“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”
“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”
“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”
“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”
“Kuning keemasan!”
“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”
Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”
“Ya, Jane.”
“Bagaimana Alaska sekarang?”
“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”
“Maksudku hawanya pada saat ini.”
“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”
“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat…

View original post 1,649 more words

Cara Mudah Menulis Puisi

Tulisan berikut ini merupakan ‘hasil’ yang saya peroleh ketika mengikuti writing clinic yang pengajarnya adalah Harry Surjadi, pada hari Kamis (28/11/2013) yang lalu. Acara writing clinic itu sendiri adalah bagian dari Treasury Writers Festival yang merupakan lanjutan dari kegiatan Lomba Unjuk Kisah Nusantara (lukisanperbendaharaan.wordpress.com).

Hari itu, Harry Surjadi menyampaikan empat pokok materi yaitu: cerita kreatif di balik karya, cara mudah menulis puisi, deskripsi dan karya ilmiah populer (menulis non-fiksi dengan cara fiksi). Yang paling menarik bagi saya, tentu saja yang materinya akan saya bahas di sini, yaitu cara mudah menulis puisi.

Berikut isi materi tersebut menurut yang berhasil saya catat.

*

Ada tiga cara, menurut Harry Surjadi, yang merupakan cara mudah menulis puisi:

1. Clustering
Clustering berarti mengelompokkan. Maksudnya, dengan trigger satu kata tertentu yang diberi istilah nukleus, kita harus mencari kata-kata lain yang masih berada dalam satu kelompok dengan kata tersebut (kata yang berada dalam satu kelompok dengan nukleus diberi istilah cluster). Satu kelompok dimaksud, bebas, ya. Apapun kata yang muncul di kepala kamu. Semakin tidak nyambung kata tersebut dengan definisi sebenarnya dari nukleus, artinya semakin banyak peran otak kanan kamu dalam puisi yang dihasilkan nanti. Setelah menentukan cluster, kemudian buatlah vinyet (vignette) dengan menggunakan kata-kata tersebut.

Sebagai latihan, Harry Surjadi menyebutkan satu kata sebagai nukleus, yaitu hujan.

Nukleus: hujan

Cluster (yang saya buat): malam, lampu jalanan, trotoar, gigil/menggigil, peluk, cokelat panas.

Vinyet:
Pada malam ketika lampu jalanan tak lagi membagikan hangatnya, banyak kaki menjauhi trotoar. Tujuannya: kembali pulang. Gigil yang tersisa ini, menjelajahi setiap sudut rumah mencari sebuah peluk. Tetapi yang aku temukan hanya secangkir cokelat panas. Apa tadi kamu di sini?

Begitulah, satu puisi berhasil dibuat dalam waktu kurang dari lima menit. 😀

2. Re-creation
Re-creation berarti menulis puisi dari puisi yang telah ada sebelumnya. Tahapannya sama dengan cara pertama, yaitu menentukan nukleus, membuat cluster lalu menuliskan vinyet. Bedanya, nukleus berasal dari puisi yang kamu dengar atau baca. Dalam writing clinic lalu, Harry Surjadi membacakan kepada kami sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Dalam Doaku.

DALAM DOAKU
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putus nya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakanmu
keselamatanmu

*

Setelah mendengar puisi tersebut dibacakan, saya menentukan sebuah kata sebagai nukleus, yaitu rahasia.

Nukleus: rahasia

Cluster: pagi, kelopak mata, anugerah, hitam, Tuhan

Vinyet:
Bahkan kedipan berkali-kali kelopak matamu, tak kupahami artinya. Pagi pun begitu. Siang, senja, malam. Tuhan tak membiarkan hitam memudar semudah senja berubah malam. Seperti kamu yang tak menjadi anugerah semudah senyum menjadi lelah.

3. Inner Eye
Cara ketiga merupakan cara yang paling lucu. Yaitu menerjemahkan sebuah puisi berbahasa asing, bahasa yang tidak kita pahami. Bagaimana caranya membuat puisi dengan cara seperti itu?

Pakai otak kanan. Juga perasaan.

Ya, jadi kami diharuskan membaca puisi berbahas perancis berjudul Alla Noia. Saya tidak mengerti bahasa Perancis tetapi saya tetap membaca kalimat demi kalimat dalam puisi itu. Kami dipaksa menggunakan otak kanan, mungkin 100%. Karena kalau kami menggunakan otak kiri, maka otak kiri akan memaksa kami mencari terjemahan dari puisi tersebut. Dengan kata lain, tidak akan ada puisi yang dihasilkan (bila kami tetap kekeuh menggunakan otak kiri).

Puisi berbahasa perancis tersebut adalah sebagai berikut:

ALLA NOIA
oleh Giuseppe Ungaretti

Quiete, quando risorse in una trama
Il corpo acerbo verso cui m’avvio.

La mano le luceva che mi porse,
Che di quanto m’avanzo s’allontana.

Eccomi perso in queste vane corse.

Quando ondeggio mattina ella si stese
E rise, e mi volo dagli occhi.

Ancella di follia, noia,
Troppo poco fosti ebbra e dolce.

Perche non t’ha seguita la memoria?

E nuvola, il tuo dono?

E mormorio, e popola
Di canti remoti i rami.

Memoria, fluido simulacro,
Malinconico scherno,
Buio del sangue…

Quale fonte timida a un’ombra
Anziana di ulivi,
Ritorni a assopirmi…

Di mattina ancora segreta,
Ancora le tue labbra brami…

Non le conosca piu!

(Ngos-ngosan ngetiknya. Haha)

Dan puisi yang saya hasilkan dari memaksa otak kanan saya bekerja adalah sebagai berikut:

SEJAUH KAMU

Berhenti,
biarkan jalan di depan bersih dari jejak yang akan membuat kamu menoleh ke belakang
Aku belum tiba
Aku belum akan tiba
Hingga nanti, ketika kamu hendak berjalan lagi

Kita akan berjalan
sejauh kedua kaki kita kuat menahan sakitnya kerikil tajam
Atau, sesekali kamu boleh naik ke punggungku
Kita akan berjalan,
Aku akan berjalan,
Sejauh kamu

***

Demikian ya, tiga cara mudah menulis puisi. Jangan dulu pikirkan kualitas, bagi pemula seperti saya, yang penting buat dulu. Semakin sering latihan, niscaya puisi yang kita buat akan semakin bagus. 😀

Materi ini saya share di sini, karena saya mendapat manfaat yang sangat besar dari materi tersebut. Semoga bermanfaat juga buat kamu-kamu yang merasa membuat puisi itu sulit. Ayo, praktekkan! Tulis puisimu, posting di blog, bagikan link-nya di kolom komentar tulisan ini. Saya akan dengan senang hati membacanya.

Goodluck!