Buku-Buku yang Wajib Dibaca di 2018

Sebelum lanjut, kalau berkenan silakan cek akun goodreads saya dan lihat buku-buku yang saya beri lima bintang. Seandainya selera kita sama, maka daftar buku berikut akan cocok buat kalian.

*

Judulnya agak tricky tapi nggak ada tujuan untuk click bait atau sejenisnya. Alasan utamanya ya karena ini merupakan sebuah ajakan. Apa yang saya baca selama 2017 dan saya anggap bagus tentu saya rekomendasikan untuk kalian di tahun berikutnya, dalam hal ini tahun 2018. Ya iyalah tahun 2018, nggak mungkin kan balik dan mengulang tahun 2017. Hehe…

Well, 2017 tahun yang cukup menyenangkan. Cukup, karena manusia nggak pernah puas dan selalu berharap yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Maka, semoga tahun 2018 lebih bagus lagi. Kalau bagusnya sudah maksimal, trus apa?

Entahlah.

Moksa?

Halah.

Baca juga: Buku Pilihan Tahun 2016

Kembali bahas buku, ini dia sembilan buku yang menurut saya mesti kamu baca (diurutkan berdasarkan yang lebih dulu saya baca).

1. Jakarta Sebelum Pagi (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie). Membalut tempat-tempat kenangan dengan cerita yang menyentuh. Cerita masa lalu yang menyentuh, cerita masa kini (yang menjadi media menceritakan masa lalu) juga menyentuh. Yang paling bikin kaget sih ternyata fobia akan sentuhan dan fobia akan suara itu ada. Baru tahu. Please jangan direspons dengan, “Baru tahu? Mbak, mainnya kurang malam, kopinya kurang pahit.”

2. Wonder (R.J. Palacio). Apalagi setelah menonton filmnya, novel ini mendadak masuk daftar-wajib-baca. Dan itu sangat wajar. Wonder begitu heart-warming dan cocok untuk semua anggota keluarga. Jangan lupa siapkan tisu.

3. A untuk Amanda (Annisa Ihsani). Bacaan lokal rasa internasional. Suka banget.

4. Vegetarian (Han Kang). Proses pencarian jati diri level atas, meski agak absurd sih. Menceritakan efek dari sebuah keputusan terhadap orang terdekat si tokoh. Mungkin bisa membuat kita berpikir kembali tentang pendapat orang ketika kita mendadak bilang, “Aku mau jadi orang yang bertugas menangkis semua hoax yang dibagi di grup Whatsapp.” Selain itu, novel ini memenangkan Man Booker Prize tahun 2016 mengalahkan karya/penulis keren lain (salah satunya) Eka Kurniawan.

5. O (Eka Kurniawan). Alasannya cuma satu; Eka Kurniawan.

6. Boy Toy (aliaZalea). Bacaan wajib untuk penyuka karya aliaZalea. Setelah sekian lama menungggu, akhirnya aliaZalea menerbitkan novel lagi. Sebuah penantian yang tidak sia-sia, obat kangen yang bikin pengin balikan. Eh. Boy Toy sepertinya dikhususkan untuk wanita dewasa yang hampir putus asa soal cinta. Dikhususkan untuk mereka yang sesekali butuh diingatkan bahwa soal jodoh nggak ada yang tahu, bahwa sebaiknya jangan terlalu membatasi diri dari cinta dengan hal-hal seperti usia. Sekali lagi, soal jodoh nggak ada yang tahu.

7. Murder on The Orient Express (Agatha Christie). Salah satu masterpiece Agatha Christie yang wajib dibaca. Misal kalian memutuskan untuk hanya mengoleksi sepuluh karya terbaik Agatha Christie, maka novel ini harus masuk dalam daftar.

8. The Seven Good Years (Edgar Keret). Memoar ini membuat saya menyesal karena tidak banyak mencatat peristiwa penting dalam keluarga. Di memoar ini, Edgar Keret menceritakan kisahnya dengan sangat indah. Kekagumannya pada sang kakak adalah favorit saya.

9. Partikel (Dee Lestari). Setelah membaca Partikel, saya jadi semakin ingin ke Tanjung Puting. Ya memang bukan untuk menjadi aktivis atau sukarelawan lingkungan sih, tapi kecintaan dan kesadaran kita untuk menjaga alam pastinya semakin menjadi. Seperti biasa, cara Dee menceritakan seting lokasi sungguh luar biasa. Hampir setiap seri supernova yang saya baca membuat saya ingin berkunjung ke tempat-tempat yang menjadi latar.

*

Itu dia sembilan buku favorit saya di tahun 2017. Adakah yang sudah kalian baca? Tentu saja bagus bagi saya bisa jadi kurang bagus bagi kalian, seringnya karena indikator penilaian yang dipakai masing-masing orang terhadap sebuah buku juga berbeda. Indikator yang jadi penilaian saya antara lain diksi (sesuai selera atau nggak, kalau nggak sesuai selera saya akan membaca dengan cepat yang penting tahu ceritanya secara umum, sebaliknya kalau diksinya saya suka, saya akan baca detail kata per kata) dan hal baru yang saya dapat. Tapi kadang, ada buku yang karena satu adegan menarik saja langsung saya beri nilai bagus.

Sebentar, kok jadi agak nggak konsisten, ya. 😀

Terakhir, selamat menyongsong tahun 2018. Semoga semakin banyak buku bagus yang kita baca dan membawa pengaruh positif buat hidup kita. \m/

***

Advertisements

Langkah Awal Membiasakan Diri Membaca Buku Versi Elektronik

“We notice e-book readers, we don’t notice books.” –Douglas Adams

Siapa yang belum tahu mengenai buku elektronik atau yang beken dikenal dengan sebutan e-book? Rasanya semua orang sudah pernah mendengar tentang e-book, ya. Nah, kalau sudah kenal, apakah kalian sudah mulai sayang? Atau jangan-jangan, banyak di antara kalian yang justru lebih terbiasa membaca e-book dibandingkan dengan buku cetak? Wow!

Saya pribadi, pertama kali tergerak untuk mencoba membaca e-book adalah karena Gramediana (yang sudah lebur itu). Setelah itu, bergeser ke SCOOP. Dan yang paling baru, Google Play Books. Meski membaca e-book dapat dilakukan menggunakan berbagai perangkat, saya belum membaca e-book sesering/sebanyak membaca buku cetak. Tetapi semakin lama, saya mulai bisa menikmati. Sempat berpikir juga, buku apa ya yang sebaiknya dibeli-baca dalam versi e-book (karena buku-buku tertentu, tidak boleh tidak, harus dimiliki versi cetaknya)? Kalau saya tanyakan ke orang-orang yang gemar membaca e-book, pasti jawabannya akan beragam.

Nah, bagi kamu yang ingin mulai membaca e-book tapi bingung hendak memulai dari mana, berikut saya buatkan daftar jenis-jenis buku untuk dibaca versi elektroniknya menurut pengalaman saya. Semoga bisa memberi pandangan lain.

FullSizeRender (4)

1. Buku puisi
Sama halnya dengan buku cetak, membaca buku versi elektronik juga bisa melelahkan, untuk itu bagi yang belum terbiasa, bisa memulai dengan buku puisi. Alasan utamanya karena buku puisi, bagi saya, tidak untuk dibaca dalam sekali duduk. Puisi merupakan jenis bacaan yang mengharapkan orang untuk diam dan merenungi setiap kata. Membaca sebuah buku puisi bisa menghabiskan waktu yang lama. Selain itu, kalau kalian suka membaca twit puisi di Twitter, maka seharusnya kalian tidak akan kesulitan membaca buku puisi versi elektronik. Sama-sama berhadapan dengan layar, kan. Beberapa buku puisi yang saya baca dalam versi elektroniknya adalah Cinta dan Kesialan-Kesialan (Lang Leav), dan Kawitan (Ni Made Purnama Sari).

2. Kumpulan cerpen
Dengan alasan yang kurang lebih sama dengan buku puisi, buku kumpulan cerpen (kumcer) juga merupakan pilihan tepat untuk mulai membiasakan diri dengan e-book. Satu cerpen pada satu waktu, lalu baca satu lagi di lain waktu. Rasanya ini bisa menjadi ‘latihan’ yang menyenangkan. Kumcer versi elektronik yang saya punya: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Norman Erikson Pasaribu), Mata yang Enak Dipandang (Ahmad Tohari), Tentang Kita (Reda Gaudiamo).

012

3. Buku yang tidak terlalu tebal
Ketika kita membaca buku cetak, berapa jauh yang telah kita baca akan terlihat dari letak pembatas buku. Apakah kita masih berada di tengah-tengah buku atau sudah menjelang akhir? Mengetahui sisa halaman berdasarkan letak pembatas buku, bagi saya, dapat memberikan efek yang unik, yang tidak bisa didapat ketika membaca e-book (ya, iyalah). Saya pernah membaca e-book yang cukup tebal, dan merasa tidak sabaran untuk mencapai akhir. Bukannya tekun membaca, saya malah tidak melanjutkan membaca. Ada perasaan tidak aman jika tidak mengetahui sejauh mana perjalanan kita ketika membaca sebuah buku. Sejak itu, salah satu kriteria saya memutuskan membeli buku versi elektronik adalah buku yang tidak terlalu tebal. Mencari Cinderella (Finding Cinderella – Colleen Hoover) hanya terdiri dari 198 halaman, Siddharta (Herman Hesse) terdiri dari 168 halaman, Api Awan Asap (Korrie Layun Rampan) hanya 164 halaman.

4. Buku dari penulis favorit tapi bukan karya unggulannya
Untuk penulis tertentu, semua karyanya memang ingin saya koleksi dalam bentuk buku cetak (lebih bagus lagi kalau ada versi hardcover). Namun untuk beberapa penulis lain, saya hanya koleksi karya-karyanya yang sangat saya suka. Biasanya ini hasil dari meminta pendapat teman dan membaca-baca ulasan dari pembaca yang juga menyukai penulis tersebut. Lalu bagaimana dengan karya mereka yang tidak dinilai bagus tetapi, karena satu dan lain hal, tetap penasaran (dan ingin) menilai sendiri? Yup, baca versi elektroniknya.

006

5. Buku untuk coba-coba selera
Berhubung saya termasuk orang yang gampang terpengaruh apalagi sejak aktif mengikuti berita-berita dari penerbit atau penulis mengenai buku-buku, maka seringkali saya merasa penasaran dengan karya penulis yang sebelumnya tak pernah saya baca. Apalagi kalau ada teman yang bilang bahwa karya penulis A layak baca. Dalam rangka coba-coba inilah, saya memilih untuk baca versi elektronik. Di kelompok ini ada Dil3ma (Mia Arsyad), Episode Para Lajang (Shandy Tan), Gema Sebuah Hati (Marga T), dan Tanjung Luka (Benny Arnas).

6. Majalah
Ada dua majalah yang selalu saya baca tiap bulan, yaitu Cosmopolitan dan Cinemags. Untuk Cosmopolitan, sejujurnya, barangkali hanya 40% dari keseluruhan isinya yang benar-benar saya baca (karena 60%-nya iklan). Ingin nggak usah baca, tapi merupakan hiburan juga. Jadi daripada menumpuk majalah fisik, ya baca saja versi elektroniknya.

*

Nah, bagi yang sudah terbiasa, buku-buku seperti apa sih yang kamu pilih untuk dibaca dalam versi elektroniknya? Yuk, berbagi pengalaman.

***

Wonder: Aneh, Mengejutkan, dan Membuatmu Bertanya-tanya

Judul: Wonder
Penulis: R. J. Palacio
Penerbit: Corgi Childrens
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 0552565970
Jumlah Halaman:
Blurb:

August (Auggie) Pullman was born with a facial deformity that prevented him from going to a mainstream school—until now. He’s about to start 5th grade at Beecher Prep, and if you’ve ever been the new kid then you know how hard that can be. The thing is Auggie’s just an ordinary kid, with an extraordinary face. But can he convince his new classmates that he’s just like them, despite appearances?

R. J. Palacio has written a spare, warm, uplifting story that will have readers laughing one minute and wiping away tears the next. With wonderfully realistic family interactions (flawed, but loving), lively school scenes, and short chapters, Wonder is accessible to readers of all levels.

*

Seberapa besar pun keinginan saya supaya Auggie tumbuh menjadi anak yang pahit karena kekurangan yang ia miliki, pada akhirnya saya bersyukur karena Auggie dibesarkan menjadi anak yang menyenangkan, pintar, dan lucu. Satu hal yang saya sadari dari proses tumbuh kembang Auggie hingga ia menjadi sebagaimana diceritakan dalam novel adalah betapa peran keluarga sangat dominan. Meski Auggie memiliki kekuasaan penuh mengenai bagaimana ia akan menjalani hidupnya (d.h.i mengenyam pendidikan di sekolah umum atau tidak), pihak sekolah, kedua orang tua serta kakak perempuannya tetap berusaha membuat Auggie nyaman dan merasa bahwa ia bisa bersekolah di sekolah umum seperti anak lain seusianya.

“We’ve all spent so much time trying to make August think he’s normal that he actually thinks he is normal. And the problem is, he’s not.” –Hal. 90

Tidak mungkin dihindari, pengalaman pertama masuk sekolah umum dengan kondisi wajah seunik itu, pasti membuat Auggie mengalami berbagai macam perlakuan. Beberapa temannya bersikap sopan, beberapa lainnya bersikap kasar, sisanya cuek dan menganggap Auggie tidak ada. Perlakuan pihak sekolah, ditambah drama pertemanan remaja serta konflik kecil internal keluarga inilah yang menjadi benang merah dalam novel Wonder.

Bicara tentang keluarga, hal yang menarik perhatian saya di novel ini adalah bagaimana pelajaran mengenai kesopanan, moral, etika, bahkan tidak ikut campur dalam urusan orang lain sudah diajarkan ke anak sejak dini oleh orang tua mereka. Di beberapa adegan, diceritakan bahwa orang tua Auggie mengajaknya ke luar rumah entah ke supermarket, taman, dan lain-lain. Tentu saja banyak orang menoleh ke arah Auggie berkali-kali. Beberapa bahkan memandang dengan pandangan tajam, takut, jijik, prihatin, dan sebagainya. Bagi orang ‘sana’ memandang orang dengan pandangan seperti itu merupakan sesuatu yang kurang sopan. Beberapa akan bilang,

“It was bad how we did that. Just getting up (and go) like that, like we’d just seen the devil. The momma knew what was going on.” | “But we didn’t mean it.” | “Sometimes you don’t have to mean to hurt someone.” –hal.137

Menarik. Kalau pelajaran tentang tidak boleh berbicara kasar di depan orang yang lebih tua, saya yakin diajarkan di sebagian besar keluarga. Tetapi bagaimana dengan pelajaran tentang cara-cara bersikap di depan orang lain yang secara fisik berbeda? Saya pikir pelajaran-pelajaran semacam itu baik dibiasakan ke anak-anak. Semoga banyak orang tua yang sadar akan hal ini. Ah, jadi ingat ulasan saya tentang novel Liburan Para Alien yang tema besarnya adalah menerima/tidak kehadiran alien di muka bumi. Dengan penampilan yang aneh serta asalnya yang dari tempat asing, manusia menggangap alien adalah sosok jahat tanpa pernah mencoba untuk berkenalan, berbicara, berteman.

“You really are a wonder, Auggie. You are a wonder.” –Hal. 310

Selain hal-hal di atas, penggunaan sudut pandang yang tidak cuma satu, membuat novel ini menjadi utuh dan menyeluruh. Pembaca diajak menyelami isi kepala banyak tokoh sehingga jangan buru-buru menghakimi satu tokoh tertentu sebelum membaca cerita dari sudut pandangnya. Istilah kerennya cover both side.

Secara keseluruhan, Wonder merupakan bacaan wajib tidak hanya untuk orang tua tetapi juga semua anggota keluarga. Kalau mau dicari-cari, Wonder bisa dimirip-miripkan dengan Sabtu Bersama Bapak dalam hal bacaan keluarga yang menghangatkan hati.

4,5 bintang!

***