Bacaan Penting Tahun 2019

Tahu-tahu sudah akhir tahun dan saatnya merangkum buku-buku pilihan yang saya baca selama tahun 2019. Saya berharap, kalian sempat (atau mungkin sudah) membaca buku-buku berikut. Berbeda selera? Hmm… Kali ini pilihan saya jatuh pada buku yang tidak saja menarik karena memang my cup of tea, tetapi juga karena mengangkat tema penting. Bahasa gaulnya ‘merekam zaman’.

Baca juga: buku pilihan tahun 2017

Sebelumnya, ini dia empat puluh buku yang saya baca selama tahun 2019.

Yup, tidak semuanya buku yang terbit di tahun 2019 karena saya, dengan bangga, menyebut diri sebagai pembaca yang terlambat. Saya tidak selalu segera membaca buku yang baru saja terbit dan mendapat ulasan bagus. Lebih sering, bacaan saya adalah buku-buku terbitan lama, yang beken pada masanya namun belum sempat saya nikmati.

Dari sembilan buku pilihan berikut, beberapa di antaranya berhasil mengajak saya tertawa, menangis, meringis, dan mengerutkan kening. Sedikit yang meninggalkan pengar setelah baca (book hangover), namun hal tersebut tidak mengurangi kedahsyatan buku. Kalau kalian butuh rekomendasi, please masukkan satu atau beberapa buku di bawah ini ke dalam daftar bacaan kalian.

1984 – George Orwell
(Bentang Pustaka, 2016)
Saya yakin 90% dari kalian sudah lebih dulu membaca 1984 dibanding saya, dan saya juga yakin 100% dari 90% tersebut sepakat bahwa buku ini termasuk buku yang wajib dibaca oleh semua orang. Buat yang belum baca, novel ini akan mengajak kalian melihat nggak enaknya dimata-matai supaya bisa diatur-atur oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Tidak ada kebebasan, tidak ada spontanitas, tidak ada asyiknya merencanakan sesuatu lalu melanggarnya. Hehe… Amit-amit, ya. Semoga kita tidak sempat mengalami masa-masa seperti itu.

Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez
(Bentang Pustaka, 2007)
Pada dasarnya novel ini menceritakan tentang kehidupan sekelompok masyarakat di daerah terpencil yang hidup seadanya. Lalu, masuklah campur tangan pihak lain (sebut saja pemerintah), masuk juga teknologi, masuk juga perkembangan zaman lainnya sehingga daerah yang tadinya berjalan otomatis menjadi bagian sebuah negara dan harus ikut aturan negara. Terdengar serius? Iya dan tidak. Iya, sehingga buku ini sepertinya cocok jadi referensi untuk mata kuliah kenegaraan atau semacamnya. Tidak seserius itu karena ada isu prahara keluarga yang menarik untuk diikuti.

The Rosie Project – Graeme Simsion
(Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Profesor di bidang genetika punya masalah dengan kemampuan sosialnya sehingga hanya memiliki sedikit teman. Hidupnya teratur dan sudah terencana, bahkan ia sudah menentukan kriteria sempurna untuk calon pendampingnya kelak. Sampai akhirnya ia bertemu Rosie, manusia yang hidupnya nggak pakai itinerary. Kacau? Tentu saja! Novel ini salah satu novel metropop yang sangat menyenangkan dan digerakkan oleh tokoh yang unik. Romantis tapi tidak menye-menye.

80 Hari Keliling Dunia – Jules Verne
(Narasi, 2018)
Bukan tipikal novel perjalanan yang penuh kalimat (baca: tip) bunga-bunga. Jules Verne menceritakan kisah perjalanan dengan lebih riil. Asalkan punya duit yang cukup dan punya kemampuan beradaptasi dalam segala situasi, then you are good to travel. Oiya, buku ini terbit pertama kali tahun 1872 (WOW) dan masih bisa dinikmati di zaman ini. Timeless. Baru tahu juga kalau buku ini adalah buku kesebelas (dari 54 buku) dari Extraordinary Voyages Series karya Verne. Saatnya berburu buku? *glek*

Hobi Jadi Bisnis – Carolina Ratri
(Stiletto Books, 2019)
Buku nonfiksi ini wajib dibaca oleh semua yang mau membisniskan hobi. Mentang-mentang hobi alias sesuatu yang kita sukai dan merasa ‘gampang’ dikerjakan, tidak serta merta bisa langsung dibisniskan tanpa persiapan matang. Selayaknya panduan memulai usaha, buku ini menyampaikan langkah-langkah praktis yang dapat menjadi pedoman bagi pebisnis pemula.

Baca juga: buku pilihan tahun 2018

Inkarnasi – Susan Barker
(Gramedia Pustaka Utama, 2018)
Disarankan oleh seorang kawan ketika saya meminta rekomendasi ‘novel yang wow’. Hasilnya, novel ini memang wow. Menegangkan dan penuh misteri sejak halaman pertama. Misteri yang dijaga dengan baik itulah yang bikin Inkarnasi menjadi bacaan yang page turner banget. Ending-nya? Boom!

The Hate U Give – Angie Thomas
(Walker Books, 2018)
Ini salah satu novel yang penting. Topik yang aktual dan merekam fenomena black lives matter dengan sangat baik. Jangan lupa tonton juga versi filmnya.

Teka-Teki Terakhir – Annisa Ihsani
(Gramedia Pustaka Utama, 2014)
Membuat anak-anak menyukai sekolah tentu penting. Namun, mungkin yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa cinta anak-anak pada ilmu pengetahuan. Selain itu, ya penting juga mengasah rasa empati. Annisa Ihsani menyajikan dua hal itu dengan sangat baik di novel ini. Buat saya, Teka-Teki Terakhir wajib dibaca oleh anak usia 12 tahun ke atas.

Kisah Hidup A.J. Fikry – Gabrielle Zevin
(Gramedia Pustaka Utama, 2017)
Bacaan wajib untuk si kutu buku. Di novel ini, A.J. Fikry mengajak kita semua untuk mengulik sedikit isi kepala kutu buku. Barangkali dua atau tiga sudut pandang A.J. sesuai dengan pola pikir kita. Misalnya, A.J. nggak suka penulis dan nggak mau bertemu penulis favoritnya karena takut bayangan sempurna mengenai si penulis jadi hancur begitu tahu aslinya si penulis. Adakah yang merasakan hal serupa?

*

Itu tadi sembilan buku pilihan yang saya baca sepanjang 2019, diurutkan berdasarkan yang lebih dulu dibaca. Seperti biasa, cerita dong di kolom komentar. Apa bacaan yang kalian rasa paling menarik di tahun 2019? Sudah merencanakan akan baca apa di tahun 2020?

Museum Unik untuk Publik

Museum di Tengah Kebun benar-benar sesuai namanya. Adem, pepohonan di sana sini, mendominasi keseluruhan area properti. Begitu memasuki gerbang utama, sejenak saya merasa tidak sedang berada di Jakarta. Nuansa asri yang disebabkan oleh tanaman yang menutupi tembok tinggi sepanjang jalan masuk, memberi kontras yang begitu kentara. Jalanan di depan museum ini terbilang kecil, hanya terdiri dari dua lajur. Bangunan di sekitarnya juga tergolong padat. Museum ini, yang halaman depannya berhias tanaman rindang, menjadi semacam oase di kepadatan Kemang Timur.

Sejak awal, area bangunan ini memang diperuntukkan sebagai museum. Namun, berbeda dengan museum kebanyakan yang didesain untuk memamerkan sekaligus melindungi koleksi, museum ini tidak terlalu mementingkan konservasi. Barangkali definisinya sesederhana tempat untuk menyimpan koleksi. Hampir semua barang antik diletakkan begitu saja, ditata selayaknya dekorasi ruangan yang minim nilai historis. Dipajang di berbagai ruangan pada suhu kamar, termasuk kamar mandi. Beberapa lukisan malah digantung santai di bangunan terbuka yang terpapar sinar matahari. “Bapak memang nggak terlalu concern ke konservasi. Yang penting terpajang (dan bisa dinikmati).” kurang lebih demikian penjelasan pemandu kami waktu itu.

Baca Juga: Temukan Alasan Hakiki Perjalananmu

Bapak yang dimaksud adalah Sjahrial Djalil, pemilik museum yang dikenal sebagai pendiri biro iklan Ad Force Inc. Kesukaannya terhadap barang antik memaksa beliau menyediakan tempat khusus untuk menampung koleksi yang terus bertambah. Tidak hanya untuk tempat koleksi, rumah tersebut juga menjadi tempat tinggalnya. Tentu saja kamar tidur beliau tidak luput dari aura masa lalu.

Barang-barang jadul yang berasal dari berbagai era tersebut, diletakkan secara acak di seluruh pelosok bangunan. Masing-masing ruangan, kemudian, diberi nama sesuai dengan nama salah satu koleksi yang paling menonjol di ruangan bersangkutan. Misalnya, Ruang Loro Blonyo yang memajang Patung Loro Blonyo di kanan kiri pintu masuk atau Ruang Dewi Sri yang memajang patung Dewi Sri pada salah satu sudutnya. Di bagian berikutnya, beberapa ruangan diberi nama sesuai dinasti asal koleksi. Iya, dinasti yang itu. Yang kerap muncul di pelajaran sejarah. Di bagian belakang rumah terdapat kebun yang cukup luas dilengkapi dengan kolam renang dan dua pendopo. Bisa diduga, kedua pendopo yang bergaya terbuka tersebut juga tidak lepas dari koleksi-koleksi.

Tidak hanya berisi koleksi untuk tujuan dipajang dan dinikmati pengunjung, beberapa tembok dan jendela museum sendiri dibangun menggunakan reruntuhan bangunan kuno yang dipugar pemerintah/swasta kemudian dibeli oleh pemilik museum. Mengagumkan.

Memiliki hobi mengoleksi benda antik mengharuskan pemilik merogoh kocek dalam-dalam. Tidak sedikit koleksi yang didapat dari memenangkan lelang di Balai Lelang Christie (Christie’s) yang terkenal bergengsi dan memiliki koleksi yang supermahal mewah. Cerita menarik lainnya, untuk mendapatkan salah satu koleksi, Sjahrial Djalil rela menjual apartemennya di Sidney yang berhadapan langsung dengan Opera House. Bisa bayangkan berapa harganya?

Untuk bisa mengunjungi Museum di Tengah Kebun, (calon) pengunjung harus mendaftarkan diri terlebih dahulu (bisa melalui tautan ini). Museum hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu, masing-masing dua sesi (pagi dan siang), dan masing-masing sesi hanya menerima maksimal lima belas orang. Tersedia pemandu yang akan menjelaskan perihal museum kepada pengunjung. Tidak ada tiket masuk yang harus dibayar, tidak ada tip yang harus disiapkan untuk pemandu. Semuanya gratis tis tis tis. Untuk lebih jelasnya, silakan berkunjung ke akun Instagram mereka @museumditengahkebun.

***

 

Yang Tradisional dari Yoga Tradisional

Masih jelas di ingatan saya ketika awal-awal masuk kelas yoga di tahun 2014. Semua orang terlihat sudah terbiasa melakukan (gerakan) yoga dan menguasai pose-pose tertentu. Saya juga masih ingat bagaimana instruktur mengarahkan kami untuk melakukan headstand dengan bertumpu pada dinding. Ketika itu, saya bahkan tidak bisa menyentuhkan punggung ke dinding, apalagi menaikkan kaki. Setelah sekian waktu mengikuti kelas yoga, sebuah kepercayaan pun terbentuk. Bahwa semakin sering kita berlatih, maka semakin ahli kita menguasai pose sulit. Bahwa target saya ialah bisa melakukan pose yoga A, pose yoga B, lalu pose yoga C. Penguasaan pose menjadi lebih penting daripada hal lainnya.

Belakangan, fokus saya teralihkan. Saya mengikuti pelatihan yoga yang mengupas yoga sebagai sebuah tradisi. Bahwa yoga tidak hanya soal asana, tetapi juga soal banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari. Sumber ajarannya adalah Yoga Sutra yang dikembangkan oleh Patanjali. Dalam teks tersebut dikatakan bahwa terdapat delapan langkah mendasar yang bisa kita lakukan untuk hidup yang lebih bermakna hingga tercapai pencerahan. Delapan langkah tersebut dikenal dengan istilah ashtanga (ashta=delapan, anga=langkah, jalur), dan terdiri dari yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Yama merujuk pada sikap kita sehari-hari, semacam kode etik dalam bertingkah laku. Samadhi merujuk pada kondisi melepaskan ikatan dengan duniawi dan menyatukan fokus pada yang ilahi.

Yup, (yoga) asana dan pranayama ada di tengah-tengah. Sebagai bagian dari ashtanga, asana dan pranayama sama-sama berdasar pada sudut pandang bahwa tubuh adalah kuil bagi jiwa. Tubuh harus dijaga, karena tubuh adalah sarana untuk bisa sampai pada (tingkat) pencerahan. Model praktik yoga seperti ini terasa lebih pas untuk saya. Fokus latihan bukan pada pose tertentu melainkan pada upaya sinkronisasi napas dengan asana. Napas menjadi lebih penting daripada hal lainnya.

“Breathing is very important. Without breathing, the spiritual mind and body are not coming. There is a method to breathing. That is vinyasa.” — Sri K. Pattabhi Jois

Lebih spesifik soal asana dan pranayama, sekuen asana yang lebih banyak saya praktikkan adalah sekuen ashtanga yoga primary series yang diformulasikan oleh Krishnamacharya. Ashtanga yoga punya urutan gerakan yang baku, fyi. Kelas ashtanga yoga yang kalian ikuti minggu lalu akan berisi urutan gerakan yang sama dengan kelas hari ini, akan sama juga dengan kelas bulan depan. Maka di kelas berlabel ‘ashtanga’, instruktur akan lebih banyak keliling melakukan adjustment karena murid (diharapkan) sudah hapal sekuennya.

Apakah saya bosan karena setiap kali latihan, gerakannya itu-itu saja? Belum. 😀

Sudut pandang tradisional mempercayai bahwa fokus olah tubuh ada pada napas. Jadi sekalipun gerakannya itu-itu saja, kualitas olah napas kita akan berbeda. Di pose mana kita bisa bernapas dengan nyaman, di pose mana kita bernapas pendek-pendek. Apakah kita bisa bernapas panjang, dalam, dan nyaman di fullpose atau harus di-downgrade ke opsi lebih mudah? Sadari hal tersebut di latihan hari ini dan latihan selanjutnya. Salah satu tujuan akhir dari semua latihan fisik itu ya napas yang panjang.

parsvottanasana fullpose

parsvottanasana opsi mudah

Oke, terakhir. Selain sekuen dan pernapasan, yang tradisional dari yoga tradisional ialah doa pembuka dan penutup. Biasanya diucapkan dalam bahasa Sansekerta. Tapi tenang saja, bukan doa pemujaan, kok. Kalau diterjemahkan secara harfiah, doa pembuka di kelas ashtanga yoga berisi ucapan terima kasih pada guru-guru. Juga berisi harapan agar latihan kita memberi kesehatan (pada) tubuh, ketenangan pikiran, dan kebahagiaan hati. Sedangkan doa penutup berisi harapan agar negara kita dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana, serta harapan agar seluruh makhluk hidup berbahagia. Bila merasa nyaman, silakan ikuti pembacaan doa tersebut. Bila merasa kurang nyaman, tetap berdoa namun dengan cara masing-masing.

Masih banyak aspek tradisional dari konsep yoga sebagai sebuah tradisi, seperti cara menjaga kesehatan selain dengan cara olah tubuh, latihan pranayama, latihan membuka cakra, dan sebagainya.  Lain kali dibahas lagi, ya.

Well, tentu saja pengalaman masing-masing orang terhadap yoga akan berbeda. Sudut pandang, tujuan, dan kondisi tubuh ikut berperan dalam menentukan kesan kita terhadap berbagai jenis yoga. Untuk saat ini, saya lebih nyaman dengan konsep ashtanga yoga. Namun itu tidak membuat saya menutup diri terhadap kelas lain seperti hatha, vinyasa flow, atau iyengar. Bahaya juga kalau terlalu fanatik ke satu hal. Ini juga yang menjadi alasan saya masih rutin ikut kelas reguler di studio yoga favorit. Intinya, apapun jenis yoga yang menurut kalian paling nyaman untuk tubuh kalian, lanjutkan. Pesan saya cuma satu, jangan lupa (ber)napas! 😀

***