Club CSI: Detektif Cilik Masa Kini

FullSizeRender (2)

Judul: [Serial] Club CSI
Penulis: David Lewman (Club CSI #1-4 dan #6) dan Ellie O’Ryan (Club CSI #5)
Penerbit: Kiddo (Imprint KPG)
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 141-158

*

Setelah membaca Club CSI #1: Kasus Daging Gulung Misterius, saya pikir serial ini cocok untuk anak kelas 3 atau 4. Alasannya, karena bahasanya sangat sederhana dan kalimatnya mudah dimengerti. Jadi, asalkan si anak sudah lancar membaca maka seluruh serial Club CSI dapat menjadi hiburan yang bagus. Tetapi setelah melangkah ke seri kedua, ketiga, dan seterusnya, saya baru menemukan bahwa serial ini lebih dari sekadar kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Semakin lama, semakin banyak pengetahuan ilmiah yang dimasukkan untuk mendukung proses penyelidikan.

Semua proses penyelidikan terasa mudah karena adanya Kelas Forensik sebagai latar belakang cerita. Namanya juga Kelas Forensik, materi pelajarannya ya terkait dengan proses penyelidikan suatu kasus, misal penggunakan bubuk khusus untuk mengambil sidik jari di Tempat Kejadian Perkara (TKP), penggunaan mikroskop serta cairan-cairan kimia tertentu untuk memeriksa barang bukti, dan sebagainya. Logika-logika awal seorang penyelidik juga dijabarkan dengan detail, utamanya mengenai bagaimana mereka mengumpulkan bukti serta informasi penting yang berguna untuk penyelidikan. Bahkan dipelajari juga berbagai motif di balik sebuah kejahatan.

Keberadaan Kelas Forensik inilah yang mencetuskan ide di kepala Ben, Hannah, dan Corey untuk membentuk sebuah klub detektif bernama Club CSI, didukung oleh guru mereka yang bersedia menjadi penasihat klub.

“Spoliation artinya penghancuran bukti. Dan, terkadang penghancuran bukti adalah alasan untuk melakukan pembakaran.”

Agar tidak terdengar terlalu sederhana anak-anak, kasus yang diselidiki oleh Club CSI ini ternyata hanya ‘pintu’ bagi pengungkapan kasus yang lebih besar. Ada penyelundupan komputer tablet besar-besaran yang terungkap ketika Club CSI menyelidiki kasus hilangnya (hanya) $100 (dari total $1400 yang tersimpan) di laci meja Mrs. Ramirez. Ada persaingan tak sehat antarsupermarket yang diketahui dari penyelidikan kasus keracunan makanan yang menimpa banyak siswa. Juga ada plagiasi serius yang dilakukan seorang siswa sehingga ia harus menggagalkan sebuah pertunjukan drama sekolah. Ini menjadi nilai tambah tersendiri untuk serial Club CSI.

Selain kepintaran ketiga anggota klub dan bantuan penasihat mereka, teknologi/internet juga memegang peranan penting dalam proses penyelidikan. Mencari alamat tinggal seseorang, memasang kamera untuk mengintai TKP, hingga menemukan IP address dan lokasi sebuah komputer yang digunakan untuk kejahatan. Penggunaan teknologi semacam ini, membuat saya mengingat serial detektif cilik legendaris ciptaan Enid Blyton, siapa lagi kalau bukan Lima Sekawan, yang ceritanya berlatar waktu puluhan tahun lalu. Berbeda dengan Club CSI yang lebih kekinian, penyelidikan Lima Sekawan dilakukan dengan bantuan teknologi yang minim, kalau tak bisa dibilang tidak ada sama sekali.

Bagi orangtua yang menyodorkan Lima Sekawan untuk anak-anak yang sehari-harinya sangat fasih menggunakan komputer/internet, apalagi kalau si anak cukup kritis, barangkali harus siap mendengar pertanyaan semacam, “Kenapa capek-capek membuntuti orang untuk tahu di mana ia tinggal? Kan bisa di-Google.”

Tampaknya, tak hanya bacaan dewasa saja yang bersifat ‘merekam’ zaman, bacaan anak juga.

***

 

Advertisements

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Judul Buku: Jalan Sunyi Seorang Penulis
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent
Tahun Terbit: 2005
Jumlah Halaman: 325
ISBN: 9799946131

Blurb:
Buku mungil ini berisi riwayat hidup Muhidin dan aktivitas kreatifnya dari mulai saat penulis masih menimba ilmu di sekolah menengah teknik di sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara hingga di pengembaraan intelektualnya di Yogyakarta. Buku yang dikemas cukup apik ini ditulis dengan gaya bertutur dan easy going sehingga enak dibaca.

*

Sesunyi apakah kehidupan seorang penulis?

Jalan Sunyi Seorang Penulis (JSSP) menceritakan tentang perjalanan seorang penulis muda yang mencandui literasi. Kecintaannya kepada dunia baca dan tulis sudah dimulai sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan pada usia yang masih begitu muda, ia sudah memiliki kegelisahan yang mendalam mengenai keterbatasan fasilitas yang ia miliki untuk mendukung kegemarannya akan buku.

Kegelisahannya menemukan jawaban ketika ia memutuskan untuk menempuh perguruan tinggi di luar kota –luar pulau tepatnya. Di Yogyakarta yang disebut-sebut sebagai kota pelajar, ia semakin jatuh pada kegiatan membaca. Di dalam pondoknya, ia menikmati kesendirian. Ia tidak menghiraukan ajakan kawan-kawannya untuk bercanda di kala senggang karena lebih memilih untuk tenggelam di antara tumpukan buku-buku. Beberapa kawan memandangnya sebagai orang yang aneh dan itu semakin menenggelamkannya dalam kesendirian tanpa dasar.

“Siang hari adalah waktu yang sangat buruk untuk membaca, karena pekarangan dan kamar seperti pasar yang tak pernah lelah berjingkrak. Suaranya sangat buruk dan merusak angan-angan.” –hal. 89

Hidup dengan uang pas-pasan, kemudian memaksa ia mencari sumber-sumber penghasilan tambahan. Tidak hanya untuk menyokong kebutuhan hidup mendasar, tetapi juga untuk memenuhi candunya akan buku. Satu-satunya pekerjaan yang terpikir adalah menulis. Ia telah membaca banyak, dan (pekerjaan) menulis menurutnya sejalan dengan hobinya. Sejak itu, ia mulai belajar bagaimana menulis, baik artikel maupun resensi. Kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam perjalanannya, ia mengalami sekian banyak penolakan. Lebih banyak tulisan yang ditolak dibandingkan tulisan yang akhirnya dimuat (di koran atau majalah).

Putus asa? Syukurlah, urusan perut membuat ia tidak mengenal lelah. Tidak berhasil menjadi penulis yang sukses, ia mencoba peruntungan sebagai editor lepas dari satu penerbit ke penerbit lain. Sekian banyak pengalaman dan hubungan dengan sesama pekerja di penerbitan apakah membuatnya menjadi manusia yang lebih membuka diri? Tidak. Ia tetaplah laki-laki penyendiri yang tidak memedulikan dunia luar.

Pernah suatu kali ia mencoba mendekati perempuan. Lalu kegagalan membuat ia menyerah. Ya, ia hanya menyerah untuk urusan yang satu itu. Saya jadi ingin mengutip sebuah puisi yang ditulis ‘aku’ tentang seorang perempuan yang menolak cintanya.

Karena engkau adalah perempuan yang lahir dari tradisi mall, sedangkan aku hanyalah seorang kumuh yang hanya sanggup berada di antara  deretan aksara buku yang seakan-akan kuat tapi sesungguhnya rapuh, maka kita berjarak.

*

Judul. Itulah yang pertama kali membuat saya ingin membaca novel terbitan tahun 2005 ini. Sekadar informasi, novel ini merupakan edisi diperbarui dari versi lamanya yang berjudul Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta (2003). Gaya bahasa yang digunakan begitu nyastra. Bagi Anda yang terbiasa dan nyaman dengan gaya bahasa metropop atau teenlit, kemungkinan besar akan perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan buku ini.

Tapi terlepas dari bahasa yang terkesan *uhuk*  tua, gaya penceritaan pada novel ini sangat menyentuh. Tokoh ‘aku’ menceritakan dirinya dengan lugas dan sederhana. Tidak ada bahasa yang diindah-indahkan. Semua kata yang keluar adalah kata-kata biasa yang kerap terdengar di kehidupan sehari-hari. Jujur. Sungguh terasa bahwa tokoh ‘aku’ adalah anak kampung yang begitu lugu. Namun begitu, pikirannya riuh, berisi banyak hal meskipun hanya berakhir di kepala, bukan di mulut. Menyenangkan membaca cerita yang bisa membuat saya ikut merasakan lapar ketika ‘aku’ tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan atau ikut merasa gembira/bangga ketika ‘aku’ melihat artikelnya dimuat di koran ternama.

“Hanya pengalaman pertama yang menarik untuk diceritakan. Sebab setelah itu, yang ada adalah rutinitas. Dan setiap rutinitas adalah kebosanan.” –hal. 22

Novel ini saya beri lima bintang di Goodreads dan saya rekomendasikan khususnya untuk penyuka (bacaan dengan gaya bahasa) sastra dan (mungkin) seseorang yang ingin menekuni profesi menulis. Menulis itu tidak mudah. Sungguh.

Omong-omong, bagaimana ya perjuangan menulis Muhidin M. Dahlan di masa sekarang?

***

Dear, Para Pembaca. Apa Buku Terbaik yang Kalian Baca Tahun Ini?

*

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari enam puluh buku yang saya baca di tahun 2016, ada lebih dari empat puluh yang saya suka. Lumayan, ya. Tidak terlalu membuang-buang waktu. Tapi apakah buku yang saya suka akan saya baca ulang? Belum tentu. Hehe.. Dan berikut ini adalah sembilan dari sekian yang mungkin akan saya baca ulang (diurutkan berdasarkan yang lebih dulu dibaca).

1. 86 (Okky madasari)
Kalian PNS? Atau penasaran korupsinya PNS itu seperti apa? Atau, pengin tahu bagaimana PNS yang seharusnya melayani masyarakat malah memeras masyarakat? Well, 86 menceritakan kelakuan PNS yang seorang juru ketik di lingkungan pengadilan negeri. Juru ketik! Seting waktunya tahun 2004 (kalau nggak salah) dan semogaaaaaa  di tahun-tahun belakangan ini tidak ada lagi yang seperti itu. Ada yang bisa mengonfirmasi?

2. Pangeran Cilik ( Antoine de Saint-Exupéry)
Pangeran Cilik jelas tidak cukup sekali baca, karena saya merasa novel ini memiliki beragam makna. Entahlah, yang jelas masih ada rasa penasaran meski sudah baca sampai habis.

3. Matilda (Roald Dahl)
Matilda adalah novel paling menyenangkan yang saya baca tahun ini. 😀 Utamanya karena Matilda diceritakan sebagai anak kecil yang suka banget baca. Masa di usia lima tahun, Matilda sudah baca novel karya penulis besar seperti Charlotte Bronte, H.G. Wells, Jane Austen, John Steinback, Charles Dickens, Graham Greene, C.S. Lewis, dll. Bikin iri! Sampai sekarang, saya bahkan belum pernah baca karya Jane Austen dan Charles Dickens. Haha..

4. The Bell Jar (Sylvia Plath)
Karena hidup harus seimbang, maka setelah membaca yang menyenangkan, saya dibawa ke dunia depresinya Sylvia Plath. Ada yang bilang bahwa The Bell Jar ini semacam memoar, jadi berdasar kisah nyata penulisnya. Dengan kata lain, Sylvia Plath sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Beliau berusaha bunuh diri karena merasa nggak ada yang paham dengan dirinya. Dibanding ceritanya, gaya bertuturnyalah yang bikin novel ini terasa benar-benar suram. :/

5. Chronicle of A Death Foretold (Gabriel Garcia Marquez)
Sama seperti Kenangan Perempuan Penghibur yang Melankolis karya penulis yang sama, saya juga suka Chronicle of A Death Foretold. Bagi sebagian orang, mungkin cara bertutur Gabo agak datar dan membosankan, ya. Tapi entah kenapa saya betah aja baca sampai selesai. Apalagi novel ini sangat mengingatkan saya akan Lelaki Harimau (Eka Kurniawan) yang juga saya nikmati. Btw, sampai sekarang, saya masih penasaran adakah artikel yang membahas Lelaki Harimau dengan Chronicle of A Death Foretold dari segi penyajian. Diawali dengan kasus lalu pelan-pelan flashback ke belakang. Serupa.

6. Di Tanah Lada ( Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)
Sudah baca beberapa novel karya pemenang sayembara novel DKJ, dan kesimpulan saya seragam: kurang sesuai selera. Tapi terlalu banyak orang yang bahas Di Tanah Lada dan ini sulit diabaikan. Lemah. Akhirnya baca dan ternyata…suka! ❤ Penggunaan sudut pandang anak kecilnya sih yang bikin menarik. Cara si anak kecil memandang hidup itu lho. Tua banget. Tapi gimana, ya. Keren lah.

7. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
Setelah sekian lama punya bukunya dan merasa belum pantas baca novel ini, AKHIRNYA SAYA MEMBERANIKAN DIRI BACA BUMI MANUSIA. *sujud* Entahlah, untuk beberapa karya besar saya sering merasa belum pantas (membacanya). Selalu ada alasan untuk tidak menyediakan waktu, selalu ada alasan untuk memilih buku lainnya. Dan perasaan tidak pantas itu seringnya terbukti. Bumi Manusia memang sekeren itu dan sangat wajib dibaca oleh semua orang.

8. Chairil: Sebuah Biografi (Hasan Aspahani)
Biografi Chairil Anwar ini kalau dijadikan film dokumenter akan keren banget. Penasaran dengan tempat-tempat yang akan menjadi latar terutama karena sempat mendatangi langsung tempat-tempat tersebut ketika ikut #ChairilAnwarWalk bareng Jakarta Good Guide dan Gagasmedia. Kalau terkait Chairil sendiri tak usah diragukan lah ya. Melalui puisi, Chairil memainkan peran yang cukup besar dalam kebahasaan di Indonesia. Yang concern dengan(perkembangan) Bahasa Indonesia, harus baca Chairil.

9. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (Yusi Avianto Pareanom)
Raden Mandasia ini rada lain dari yang lain. Saya belum banyak baca buku tentang kerajaan atau dunia persilatan/peperangan. Paling jauh, Mahabharata (Nyoman S. Pendit). Jadi mau nggak mau, bayangan saya ketika membaca Raden Mandasia ya seperti epos Mahabharata itu. Kalau film, saya visulisasikan seperti Pendekar Tongkat Emas. Bagus. Yang paling menarik dari Raden Mandasia adalah potret masa sekarang yang dimasukkan ke dalam cerita. Jatuhnya jadi satir. Satir yang keren banget.

*

Sayang banget baca Raden Mandasia di tahun yang sama dengan baca Bumi Manusia, karena best read 2016 jatuh pada Bumi Manusia. Menang tipis dari Raden Mandasia. 😀

Kalau kalian, apa nih best read 2016-nya? Share, dong. Lalu menangkan kesempatan untuk mendapatkan buku-buku di (foto di) atas. Iya, ini semacam giveaway.

***