Menantang Arus Liar Citarik

Bersama Wantugo Travels, hari Sabtu (2/04/2011) kemarin, saya mendapatkan pengalaman pertama saya rafting di Citarik – Sukabumi. Saya menggunakan jasa travel karena kali ini saya malas dengan kerepotan yang harus saya siapkan jika saya pergi sendiri. Pemalas. ๐Ÿ˜€

Dengan membayar Rp 300.000,- saja, saya mendapat fasilitas:
1. Transportasi Jakarta-Sukabumi-Jakarta
2. Makan siang
3. Rafting 9 km (kurang lebih dua jam)
4. Kelapa Muda (setelah rafting)
5. Sertifikat rafting

Ini kali kedua saya berwisata menggunakan jasa Wantugo Travels dan saya merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. ๐Ÿ˜€ Bersama 23 peserta rombongan lainnya, kami memulai perjalanan dari Semanggi (meeting point) pukul 08.00 pagi. Perjalanan yang menurut jadwal akan kami tempuh dalam waktu tiga jam, ternyata melebihi target. Penyebabnya.? Kemacetan parah di Jl. Raya Sukabumi. Akhirnya kami sampai di Arus Liar (nama operator arung jeram yang jasanya kami pakai) pukul 12.00 siang.

Image from promolagi.com

Begitu sampai disana, kami diberi waktu untuk rehat sejenak, makan siang, sholat bagi yang muslim, ganti baju dan lain-lain. Tempat rehatnya bagus.

Pukul 13.30 kami menuju ke tempat persiapan. Memakai jaket pelampung, helm, dan mengambil dayung. Karena kami mengambil paket yang jaraknya 9 km, maka kami harus naik truk menuju starting point yang ditempuh selama kurang lebih 20 menit dari tempat persiapan, melewati jalanan sempit dengan turunan dan tanjakan ygn mengerikan.

Sesampainya disana, kami dibagi kedalam kelompok-kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kemudian briefing sejenak dan photo session seluruh rombongan. ๐Ÿ˜€

Nah, dimulailah rafting-nya. Masing-masing perahu diisi lima orang. Empat orang anggota rombongan plus satu pemandu. Pemandu itu tugasnya untuk mengendalikan jalannya perahu. Kita juga ikut mengendalikan perahu lho, ya iya laahh, itulah gunanya dayung yang kita bawa. Nantinya pemandu itu akan memberikan aba-aba seperti dayung maju/ dayung maju kuat, dayung mundur, kiri maju (peserta yang duduk di sebelak kiri perahu mendayung maju sementara yang duduk di sebelah kanan perahu mendayung mundur), kanan maju, pindah kiri (peserta yang duduk di sebelah kiri perahu diam sementara peserta yang duduk di sebelah kanan perahu bergeser ke kiri), pindah kanan dan stop.

Selain perahu untuk rombongan kami yang berjumlah enam perahu, ada satu lagi perahu tambahan. Isinya adalah tim penyelamat. Tugasnya, ya menyelamatkan orang-orang yang terancam bahaya, misalnya jatuh ke sungai dan terseret arus. Juga membantu perahu yang โ€˜nyangkutโ€™ di batu besar agar kembali ke jalur yang benar. Dengan keberadaan tim penyelamat yang menemani kami di sepanjang penjelajahan, kegiatan ini dipastikan aman untuk diikuti.

Di sungai Citarik ini, arusnya cukup tenang, tapi ada spot-spot tertentu yang arusnya cukup kuat. Ketinggian air hanya 70cm dan sepanjang dua jam perjalanan tidak ada jeram yang cukup berarti yang kami temui. Hanya ada beberapa turunan yang tingginya tidak lebih dari setengah meter, tapi lumayan membuat kami jatuh (masih di dalam perahu karet) berkali-kali. Kaki diatas, kepala terperosok ke sela-sela perahu dan leher tertekuk, gaya jatuh yang sama sekali tidak cantik. ๐Ÿ˜› Arus yang cukup deras itu juga berhasil membuat saya jatuh dari perahu. Lemah .! Hahaha..

Setelah menempuh jarak sekitar 4 km, kurang dari satu jam, kami tiba di spot untuk beristirahat. Disini arus airnya tenang, jadi untuk yang ingin berenang, dipersilakan.

Masih ada 5 km yang harus kami tempuh, perjalanan pun kami lanjutkan. Arus air di bagian yang kedua ini lebih deras daripada arus air di 4 km yang pertama. Lebih banyak batu-batu besar yang membuat air menjadi lebih bergelombang, kami dibuat jatuh-tidak-cantik berkali-kali. Lebih banyak turunan seru yang membuat adrenalin kami lebih terpacu. Disini, saya jatuh sekali lagi. Lemah, lemah.! Hahahaโ€ฆ

Oya, mungkin ini bisa jadi tips. Ketika saya jatuh ke sungai dan terseret arus sungai yang cukup deras, awalnya saya panik, tapi saya segera menenangkan diri sambil menanamkan keyakinan bahwa saya akan baik-baik saja. Sambil mengingat-ingat bahwa saya sudah menggunakan jaket pelampung, jadi tidak mungkin tenggelam. Saya juga sudah menggunakan helm, jadi kepala saya tidak akan membentur batu secara langsung. Setelah itu saya membiarkan badan saya terbawa arus sampai menemukan batu kali untuk berpegangan. Setelah itu, tinggal menunggu tim penyelamat untuk membantu saya naik lagi ke perahu. Dan saya selamatttโ€ฆ ๐Ÿ˜€

Tidak terasa, 5 km pun habis kami lewati. Perasaan senang plus belum-puas bercampur aduk dalam diri saya. Benar-benar 9 km yang menyenangkan. Rasanya ingin mengulangnya lagi berkali-kali. ๐Ÿ˜€

Setelah itu, kami beristirahat sambil minum es kelapa muda yang sudah disediakan. Kemudian, naik mobil pick up untuk kembali ke tempat persiapan, mengembalikan peralatan, mandi, ganti baju, siap-siap kembali ke Jakarta.

Nah, perjalanan pulang yang menurut jadwal bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam, akhirnya kami tempuh dalam waktu 5 jam. Penyebabnya.? Kemacetan parah di Jl. Raya Sukabumi.

Oke, ini adalah pengalaman pertama saya rafting dan langsung diajak untuk menantang arus liar Citarik. Menyenangkan. Walaupun saya sempat jatuh ke sungai sampai dua kali, tapi saya bangga.!! ๐Ÿ˜€

NB: foto-foto lain segera menyusul. ๐Ÿ˜›

Duh, Lahan Basah

Mereka tak mampu berkata-kata
Hanya bisa menganga begitu tiba di Jakarta
Menganga takjub seperti melihat warna setelah sebelumnya buta
Atau seperti orang desa yang pertama kali ke kota

Kenyataannya, di sini memang lahan basah
Surga bagi yang serakah
Kenyataannya, di sini memang penjara bagi yang lemah
Atau ladang pahala bagi yang merasa diri paling lelah

Jakarta memang ajaib
Apa saja, dengan cepat, bisa raib
Orang-orang pun bisa berubah secara gaib
Tadi bicara janji, sekarang berbagi aib

Lama-lama rasa empati dan kepatutan dibiarkan berkarat
Disembunyikan di ujung kesadaran yang mulai cacat
Apalagi kalau malu tak lagi mendapat tempat
Udara jadi dipenuhi dengan suara-suara yang sibuk mengumpat

Efeknya, ada yang melupakan tanggung jawabnya yang utama
Ada yang mulai merasa tak ada gunanya bekerja sama
Ada yang kecewa karena hak yang tak kunjung diterima
Bahkan, ada yang berseru girang ketika menemukan kesalahan antar sesama

Jakarta memang ajaib
Apa saja, dengan cepat, bisa raib
Orang-orang pun bisa berubah secara gaib
Tadi bicara janji, sekarang berbagi aib

Mereka tak mampu menahan ketika hati ikut-ikutan sirik
Hanya bisa menganga melihat rupiah yang siap dipetik
Mereka tak mampu menahan godaan setan yang terus menerus berbisik
โ€œLupakan nuranimu, itu lebih baik.โ€

Duh

Eleven Minutes – Paulo Coelho

Kalau aku hendak menceritakan kisah hidupku hari ini, bisa kulakukan dengan cara yang akan membuat mereka mengira aku perempuan yang pemberani, bahagia, mandiri. Omong kosong: aku bahkan tidak dibolehkan untuk mengucapkan satu-satunya kata yang lebih penting dari sebelas menit itu — cinta.

Selama hidupku aku menganggap cinta sebagai semacam perbudakan yang dijalani dengan suka rela. Itu bohong.: kebebasan hanya eksis kalau ada cinta. Orang yang memberikan dirinya sepenuhnya, orang yang merasa paling bebas, adalah orang yang mencintai dengan sepenuh hatinya.

Dan orang yang mencintai dengan sepenuh hatinya merasa bebas.

Itulah sebabnya, apapun yang kualami, kulakukan, atau kupelajari, tak ada yang masuk akal rasanya. Kuharap masa ini berlalu cepat, sehingga aku bisa melanjutkan pencarian diriku. Dalam bentuk laki-laki yang memahamiku dan tidak membuatku menderita.
Tapi kenapa aku berkata begini? Dalam cinta tak seorang pun bisa menyakiti orang lain: kita masing-masing bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri dan tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan.

Sakit rasanya sewaktu aku kehilangan pria-pria yang membuatku jatuh cinta. Tapi sekarang aku yakin tak ada yang namanya kehilangan itu, sebab orang tidak memiliki orang lain.

Itulah pengalaman kebebasan yang sesungguhnya, mempunyai hal paling penting di dunia tapi tak memilikinya.

***

Sejak remaja, Maria memang tidak percaya dengan yang namanya cinta sejati. Pun ketika Ia memutuskan untuk bekerja sebagai pelacur, yang nyata-nyata semakin menjauhkannya dari cinta sejati. Tapi lambat laun ketidakpercayaannya akan cinta sejati mulai runtuh. Pengalaman-pengalaman apa yang kemudian membawa Maria pada cara pandang baru mengenai berbagai hal (tak hanya cinta)?

***

Percaya bahwa seseorang itu bisa berubah seiring pengalaman hidupnya? Saya percaya. Paulo Coelho juga percaya. Dan cara Coelho menceritakan perubahan pola pikir/cara pandang si tokoh utama itulah yang membuat saya tak pernah bosan membaca karyanya.

Jangan ragu untuk segera menikmati bacaan ini. Bukan bacaan ringan, sih tapi saya yakin Anda akan menyukainya. Selain itu, saya juga percaya, di bagian-bagian tertentu dari novel ini, akan banyak di antara Anda yang merasa bahwa Coelho sedang menceritakan tentang diri Anda.

Tidak percaya? Coba saja. ๐Ÿ˜€

***