[Rasa Bahasa] Jakarta dalam Kata

“As a writer, I’m driven by settings. Others are driven by characters or predicaments, but with me, settings come first.” –Jim Lynch

Latar (setting) acap didefinisikan sebagai tempat atau waktu suatu cerita terjadi dan merupakan pelengkap cerita bersamaan dengan konflik, tokoh, plot, dan lain-lain. Beberapa penulis merasa nyaman mendeskripsikan latar terbatas hanya pada apa yang bisa dilihat mata. Langit biru, rumah di ujung gang, dinding berwarna putih, matahari terbit, pukul 17.30, badai, dan seterusnya. Kemudian, teori-teori penulisan mulai mengembangkan definisi latar menjadi lebih luas. Tidak melulu tentang tempat (di mana) dan waktu (kapan) tetapi juga  tentang keadaan lingkungan (apa), bahkan latar juga dipercaya melibatkan kesan (bagaimana) si tokoh terhadap latar tersebut. Kesatuan semua unsur tersebut bila diungkapkan dengan tepat akan membantu membangun emosi/nuansa/atmosfer cerita.

Sebagai pembaca, saya termasuk yang senang apabila penulis menyertakan impresinya mengenai sebuah tempat, ke dalam cerita. Hasilnya, saya tidak hanya dipaparkan mengenai bagaimana penampakan latar tersebut melalui deskripsi tetapi juga diajak ikut merasakan isi hati si tokoh melalui narasi. Sebagian dari kita pasti kerap mendengar ungkapan bahwa: terkadang yang kita rindukan bukan orangnya tapi apa yang kita rasakan ketika bersama orang tersebut. Ungkapan itu juga berlaku untuk tempat/lokasi tertentu. Apa saya kangen main ke Gili Meno karena pantainya bagus? Iya, tetapi tidak hanya itu. Karena pantai yang bagus ada di banyak tempat selain Gili Meno, tetapi perasaan/kejadian/memori yang membuat saya kangen berada di Gili Meno hanya terjadi di sana. Bukan di pantai yang lain. Makanya ada yang bilang bahwa latar juga bisa merupakan sesuatu yang disimpulkan oleh tokoh berdasarkan pengalamannya. Dengan kata lain, setelah mengalami banyak kejadian di suatu lokasi tertentu, si tokoh menemukan bahwa tempat yang berbeda membawa perasaan berbeda pula.

Latar, juga unsur lain dalam novel, dapat dijabarkan setidaknya dengan dua cara tersebut. Objektif dan/atau subjektif, fakta dan/atau rasa. Cara-cara ini juga berlaku sama pada novel-novel berlabel metropop alias novel pop yang berlatar tempat di kota metropolitan. Kota metropolitan mana yang paling laris menjadi latar cerita? Tentu saja Jakarta. Berapa banyak novel lokal yang menggunakan Jakarta sebagai latar? Ratusan? Lebih! Ada yang Jakarta-nya cuma pelengkap, ada yang benar-benar masuk ke cerita. Ada penulis yang turut menuangkan kesannya mengenai Jakarta, ada yang bersikap demokratis dengan menceritakan Jakarta sebagaimana adanya. Fakta, bukan opini.

Tapi di sini, saya pengin fokus ke penggambaran Jakarta secara subjektif/melibatkan rasa/menyertakan opini.

Nah, berikut ini, saya punya beberapa potong kalimat dari beberapa novel yang menggambarkan bagaimana kota Jakarta di mata para penulis tokohnya.

1. A Copy of My Mind (Dewi Kharisma Michellia)

Kalimat pertama novel ini adalah:

“Pernah ada yang bilang, seni hidup miskin di kota ini adalah menghadapinya dengan tabah.”

Menurut Sari si tokoh utama, hidup miskin adalah seni, dan Jakarta barangkali adalah cobaan. Bila disatukan, hidup miskin di Jakarta harus dihadapi dengan ketabahan.

IMG_6152

2.  Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono)

Di novel Hujan Bulan Juni lain lagi. Berhubung Sapardi terkenal sebagai penyair, maka Jakarta digambarkan dengan lebih romantis.

“Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.”

3. 4 Musim Cinta (Mandewi Gafur Puguh Pringadi)

Pada dasarnya setiap tempat terkait dengan manusianya. Beberapa kota mungkin dianggap bisa mempertahankan kemanusiaannya di tengah-tengah gempuran zaman dan modernisasi, tetapi Jakarta gagal. Maka dari itu, Jakarta dikatakan sebagai kota yang tidak manusiawi. Jadi, jika kamu tidak mau kehilangan rasa kemanusiaan, jangan coba-coba hidup di Jakarta. Bahaya.

“Sebentar saja kamu di Jakarta, kota itu bisa membuatmu kotor. Sedikit sekali ruang kemanusiaan di sana.”

4. Twivortiare 2 (Ika Natassa)

“Sometimes I wonder why we still want to live here, in the city where your age and youth are stolen by the traffic little by little every day. This city makes our bladder suffer, our mind crowded, our inner peace gone, our time with our loved ones reduced.”

Kalau sedang dalam kondisi lelah, pikiran buruk memang suka datang dari segala arah. That’s why Alex bilang begitu tentang Jakarta, tepatnya ketika ia terjebak kemacetan. Racauan Alex tentang Jakarta tidak berhenti sampai di situ, lanjutannya adalah, “(Jakarta) menghabiskan uang kita, mempertanyakan kewarasan kita, menguji kesabaran kita, membuat wajah kita berkerut, dan membuat anak-anak kita merasa kesepian.”

Lalu, “(Dengan segala keburukannya) Toh masih banyak  orang yang memilih untuk tetap hidup di kota ini. Mungkin kita masokis, mungkin kita suka menderita. Atau mungkin karena derita hidup di kota ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaan hidup dengan orang yang kita cinta. Mungkin kebisingan dan metropolisnya kota inilah yang kita anggap rumah.”

Meski diucapkan ketika Alex sedang dalam suasana hati yang kurang baik, tapi kalau dipikir-pikir, memang benarnya juga, sih kata-kata Alex tentang Jakarta.

 
IMG_0405

IMG_6153

*

Kalau kalian, lebih suka latar diceritakan dengan cara apa? Atau, apakah kalian punya potongan novel yang menceritakan latar dengan emosional? Berbagi di kolom komentar bisa jadi ide yang bagus. :))

***

*) foto fitur di awal tulisan ini adalah potongan puisi karya Remy Sylado dari buku puisinya yang berjudul Kerygma & Martyria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s