Terlalu banyak buku bagus yang saya baca sepanjang tahun 2025. Cannot say the same thing untuk tahun 2026, so far, tapi masih ada waktu sekitar tiga bulan untuk menyamai kualitas bacaan tahun 2025.
Menyusun daftar ini pun menjadi membutuhkan waktu yang cukup lama karena saya harus berpikir dua kali untuk memasukkan judul tertentu dan mengeluarkan judul lainnya dari daftar. Semoga daftar buku pilihan saya bisa relate dengan banyak dari kalian. Enjoy.
Metamorfosis. I know I’m late to the game, tapi saya baru baca Metamorfosis di tahun 2025 dan ini jadi buku paling problematik dalam pengalaman membaca saya. Problematik as in, wow, kok gini perasaan yang ditimbulkan setelah membaca buku ini. Agak sedih, miris, marah, dan rolling my eyes pada saat yang bersamaan. Saya menikmati waktu book hangover selama beberapa hari sebelum membaca ulang Metamorfosis. Iya, membaca ulang. Langsung. Tanpa disela buku lain. Bukan hanya satu kali, melainkan dua kali. Wow.

Kusamakura. Natsume Soseki adalah favorit saya. Jadi komentar ini bisa jadi bias (memang bias). Kusamakura menampilkan kisah sederhana seorang artis yang hendak menemukan inspirasi untuk karya berikutnya. Dia berlibur di daerah pegunungan dan berinteraksi dengan warga lokal. Membaca ini semakin menyakinkan saya bahwa pepatah ‘karya yang lebih ‘ngena’ ke penikmat seni adalah karya yang berasal dari kegelisahan si artis’ nyata adanya.
What you are looking for is in the library. Jujur beberapa tahun belakangan ini terlalu banyak buku motivasi berkedok fiksi yang bertemakan perpustakaan, toko buku, kucing, dan sebagainya. Tidak hanya dari Jepang, tetapi juga dari Korea Selatan. Syukurnya, saya sudah menemukan satu buku yang bisa mewakili itu semua. Ibaratnya, cukup baca ini maka kalian bisa mengabaikan buku lain yang ada aspek perpustakaan dan kucingnya.
The Complete Peanuts: 1950 to 1952 (volume 1). Sejak kenal Snoopy, saya selalu penasaran dengan versi komik stripnya. Akhirnya nekat membeli versi buku-el di Amazon. Volume I ini sangat tebal (343 halaman) dan satu halaman bisa berisi satu sampai empat komik strip. Yang bikin salut yaitu ide Charles M. Schulz yang seperti tidak ada habisnya. Beliau bisa menyampaikan berbagai situasi/suasana hati dalam kalimat dan gambar sederhana. Not to mention, ini baru volume I dan masih ada 24 volume lainnya yang beredar di pasaran. Nggak yakin akan bisa menamatkan seluruh volume, tetapi setidaknya saya akan baca dua atau tiga volume lagi di masa depan. Good grief!

What I Talk About When I Talk About Running. Buku ini jadi trigger saya mulai lari di bulan Juli 2025. Saya sedang di tahap superbosan menjalani keseharian dan ingin melakukan sesuatu yang sedikit berbeda, dalam hal ini menambahkan satu-dua rutinitas sehari-hari. Lalu saya ‘ditemukan’ oleh Haruki Murakami yang sedang melakukan rutinitasnya yaitu lari pagi. The rest is history. Saya baca ini di bulan Mei, tetapi baru mulai serius rutin lari pagi di bulan Juli 2025. Agak lama internalisasinya. Nggak lama kemudian, saya ikut-ikutan pelari kalcer dan check out sepatu lari kekinian. Apa pun itu, saya senang karena buku ini sangat menginspirasi di saat yang tepat. Saya menyimpan buku ini dengan baik dan akan membacanya di hari-hari sembarang. I think I’ll need that.
Naomi. Senang sekali menemukan J-lit yang berhasil merekam zaman dan disajikan dengan menarik. Naomi jadi standar. Situasi sosial yang terjadi di Jepang di awal-awal masuknya pengaruh Barat disampaikan memakai cerita romansa antara Joji dan Naomi. Hmmm… Agak-agak Lolita, tapi sebaiknya baca sendiri agar bisa berkomentar lebih objektif.
Satine. Sudah lama tidak membaca karya Ika Natassa yang beneran bagus menurut saya. Satine ini saya baca tanpa ekspektasi berlebihan, tapi nyatanya bisa memberi makan rasa lapar saya akan karya yang menyentuh. Tidak seperti Heartbreak Motel yang menurut saya trying too hard, Satine terasa sekali ditulis di suasana yang lebih santai dan penuh kesadaran. Dibacanya pun jadi lebih enak. Permasalahan berikutnya, semoga adaptasinya jadi film yang bagus, nggak kayak buku/film lainnya.
Almond. Dark dan triggering. Pastikan kalian membaca ini dalam suasana hati yang baik.

Honorary mention:
Series In His Chart. Ini juga series J-lit modern yang saya suka banget. Lagi-lagi bias, tapi tokoh utama di series ini adalah penggemar berat Natsume Soseki. Di dalam novel banyak celetukan soal Soseki Sensei yang juga jadi nilai-nilai yang dipedomani si tokoh utama dalam menjalani hidup. Secara teknis, novel ini menceritakan kisah seorang dokter yang bertugas di desa terpencil, deskripsi soal pekerjaan dokter sangat riil dan meyakinkan. Belum lagi soal hubungan dokter dengan warga/pasien di desa tersebut. Desa kecil, warga sedikit, hubungan lebih erat. Paling sedih kalau sudah ada cerita soal pasien yang meninggal.
***