Berburu Stempel Unik di Jepang

Sebelum mata saya terbuka soal bepergian ke luar negeri, hal-hal semacam suvenir berupa stamp (desain stempel) tidak pernah lewat di pikiran. Suvenir ya gantungan kunci, oleh-oleh ya makanan lokal.

Ketika ke Jepang, barulah saya tahu bahwa hal-hal semacam ini riil di dunia nyata. Ini lucu. Kok bisa terpikirkan menjadikan stempel sebagai daya tarik untuk mendatangi sebuah kota/negara. Dan di Jepang, stempel ini bisa diburu tidak hanya di kota besar atau tempat wisata terkenal, tetapi juga sampai ke kuil yang letaknya jauh di pedalaman desa.

Karena baru tahu belakangan, saya tidak ada persiapan soal ini ketika ke Jepang pertama kali. Berikutnya pun tidak, sih. Karena saya tidak berencana untuk punya travel journal. Jadi beberapa kali ke Jepang, stempel seperti ini selalu tersebar di berbagai media, entah kertas struk belanja, entah kartu pos yang dibeli on the spot.

Baca juga: Otagi Nenbutsu-ji salah satu kuil indah di Kyoto

Ada banyak stempel yang terkumpul, tapi yang berikut ini sudah cukup mewakili betapa serunya menemukan stempel di berbagai tempat, bahkan di tempat tak terduga.

1. Stempel ini bisa ditemukan di Stasiun Toshimaen, lokasi The Making of Harry Potter – Warner Bros. Studio Tour Tokyo. Baru sadar ada stempel ini ketika keluar dari Studio dan melihat kerumunan, ketika didekati ternyata stempel ini yang jadi alasan antre. Berhubung saya tidak punya buku jurnal, maka kartu pos yang barusan dibeli di toko suvenir Studio langsung jadi ‘korban’ stempel. Tulisan di stempel: Toshimaen Sta.

2. Stempel ini ada di Nagoya Station. Waktu itu, salah satu bucketlist di Nagoya adalah mengunjungi cabang Komeda’s Coffee (warung kopi asli Nagoya). Begitu tiba di Nagoya di malam hari, kami check in hotel dan langsung pergi lagi ke Stasiun Nagoya untuk ngopi. Menurut google maps, ada cabang Komeda di mal yang menghubungkan stasiun dan hotel (underpass). Kami bolak-balik di underpass mencari Komeda, sulit sekali ditemukan. Kami berjalan sampai di ujung. Bukannya menemukan Komeda, malah menemukan stempel. Setelah mengabadikan desain stempel kami jalan santai dengan ikhlas. Ketemu Komeda, syukur. Tidak pun tidak apa-apa. Ternyata memang sudah jodoh, di kejauhan kami melihat logo Komeda yang sebenarnya sudah kami lewati Komeda ketika bolak-balik tadi. Nggak ngeh.

3. Kartu pos lagi yang jadi korban stempel kali ini. Stempel ini ada di stasiun Kitahama dan Nippombashi yang saya lewati dalam perjalanan menuju ke Kyoto tepatnya menuju Fushimi Inari Taisha. Menurut informasi, hampir di setiap stasiun ada stempel uniknya, tapi kami bukan tipe wisatawan yang sengaja niat mencari harus sampai ketemu, melainkan tipe yang sedapatnya saja. Kalau pas stempel terlihat mata maka kami menuju ke sana, dan sebaliknya.

4. Stempel One Piece ini saya temukan di Tokyo Character Street. Kalau kalian bisa baca catatan saya di kartu pos, isinya agak sigh-ing karena real life ternyata tidak seindah isi medsos. Di medsos, Tokyo Character Street digambarkan sebagai suatu area yang luas dan banyak merch bagus, nyatanya area tersebut tidak terlalu besar dan tokonya tidak sebanyak/semenarik itu. Atau….saya hanya kurang wibu untuk bisa menikmati area ini? Maybe. Hehe…

Demikian juga dengan Shibuya Scramble Crossing. Di medsos para influencer, perempatan itu terkesan besar dan luas, padahal nyatanya hanya seperti perempatan biasa, yaa…semacam perempatan Sarinah gitu. Riil. Tetapi, experience menyeberang dengan selaut manusia itu yang megah.

5. Bicara soal travel journal, akhirnya ketemu juga toko kecil lucu ini di area Stasiun Tokyo. The Traveler’s Company. Toko ini beneran surga buat yang suka journaling khusus mengabadikan cerita perjalanannya. Selain ada jurnal, di toko ini juga ada berbagai pernak-pernik bertemakan traveling seperti stiker, totebag, pin, dsb.

6. Linimo Line, yang terkenal sebagai jalur kereta menuju Ghibli Park di Nagoya, memiliki rangkaian tiga-stempel di tiga stasiun berbeda. Yang pertama, Stasiun Fujigaoka titik awal Linimo Line menuju Ghibli Park. Yang kedua, Stasiun Ai-Chikyuhaku Kinen Koen tempat turunnya pengunjung yang mau ke Ghibli Park. Yang ketiga, Stasiun Yakusa perhentian Linimo Line terakhir, tempat turun buat yang mau lanjut ke Toyota City. Stempel ketiga tidak ketemu karena kami berhenti di Ghibli Park dan tidak lanjut ke Toyota City. That’s why. Baru ingat.

7. Dari stempelnya langsung terbaca nama stasiunnya. Yup, Stasiun Shimoyoshida untuk yang mau ke area Chureito Pagoda dan Arakurayama Sengen Park, salah satu spot terbaik untuk melihat Gunung Fuji dari kejauhan. Jarak jalan kaki dari stasiun ke Chureito Pagoda lumayan jauh, anggap saja sedang trekking. Belum lagi, karena ini mengarah ke gunung, jalannya mulai menanjak di bagian akhir ketika semakin mendekati Pagoda. Stasiunnya sendiri tidak terlalu besar dan tampilannya juga tua. Kalau sering nonton drama Jepang, stasiun ini tipikal stasiun di kota kecil yang jarang didatangi orang. Tetapi meski kecil, semua fasilitasnya beroperasi secara normal. Efektif dan efisien khas Jepang. Seperti biasa, notes yang jadi korban stempel kali ini juga baru saja dibeli di kios suvenir di stasiun.

8. Yang ini dari perjalanan di tahun 2025 ketika kami memutuskan untuk ikut paket perjalanan satu hari ke Amanohashidate, di Kyoto bagian utara. Sebuah pegunungan dengan pemandangan teluk yang indah. Sebagaimana gambar di stempel, seperti itulah cara menikmati pemandangan yang dianjurkan. Iya, posisi menekuk badan ke depan dengan kaki terbuka selebar bahu, lalu melihat pemandangan dari antara kaki ke arah belakang. Katanya sih laut dan daratan di belakang sana berbentuk naga. Yeah, I kinda saw that. Stempel ini bisa ditemukan di dekat toko suvenir. Dan kartu pos yang jadi korban stempel ini juga baru dibeli dari toko suvenir tersebut.

9. Yang ini arguably jadi stempel terfavorit. Sangat bias. Harap maklum. Penggemar Soseki, datang ke memorial museum Soseki, menemukan stempel, dan langsung kalap. Sangat wajar. Seingat saya, saya tidak hanya mengabadikan stempel di satu kertas/buku, melainkan di beberapa media. Yang saya unggah ini merupakan buku catatan kecil (notes) yang saya beli di toko suvenir museum. Yeah!

Terlalu banyak yang seru di Jepang, dan (berburu) stempel ini salah satunya. Next, cerita apa lagi ya soal Jepang?

***

Leave a Reply