Apa Kabar, Norman Erikson Pasaribu?

Ketika saya berbicara kepada kau, sebenarnya kata-kata yang terucap tidak sepenuhnya berasal dari hasil pemikiran sendiri. Terkadang saya mengutip kalimat-kalimat bagus—yang saya dengar atau baca—yang sekiranya tepat untuk menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan. Salah satunya adalah ketika kita berbicara tentang mengganti seprai dan sarung bantal karena kau sedang lelah, atau merasa bersalah, atau entahlah. Lalu saya bilang, “Apakah kau tak tahu bahwa kau sebetulnya tidak kasar? Kau hanya kesepian.”

Kalimat itu bukan seratus persen ciptaan saya. Saya hanya terinspirasi dari salah satu dialog di film Hitch yaitu, “Casey, you’re not sick. You’re single.”

Jangan takut, menjadi orang yang kasar tidaklah menyedihkan. Orang kesepianlah yang pantas bersedih. Kasihan sekali, sudah kesepian, bersedih pula. Mungkin itu yang membuat kau mengkhayalkan yang tidak-tidak—kalau saya tidak boleh menyebut kata ‘sia-sia’. Kau senantiasa berhalusinasi mengenai seorang pria yang kaubilang mirip Murakami. Dia tampak sedang menunggu seseorang, lalu kau menginginkannya, lalu ia tak kunjung muncul dalam waktu lama. Sehingga kau meninggalkan pesan untuk pria Murakami itu yang berbunyi: “Dan aku akan terus menunggu dalam keadaan hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menunggu.”

Selain kesepian, menunggu pun menyedihkan.

Lalu kauanggap pergi adalah jalan keluarnya. Tahukah kau, banyak hal-hal penting yang terjadi selama kau tak ada. Sebut saja cat pagar dan dinding yang mengelupas di sana-sini, juga pohon mangga di halaman yang sudah ditebang dan digantikan kolam ikan yang sebenarnya tak pernah terpakai. Saya merasa seperti Edna yang menunggu dan tak menunggumu kembali. Kali lain, sayalah Jane yang mendadak menjadi guru ramuan. Membuat ramuan penghancur lemak agar terlihat kurus, agar tampak serupa orang yang kehilangan: kurus, pucat dan gelisah setiap saat.

Selama kaupergi, saya juga melewati beberapa Paskah sendirian. Meski kita biasanya memang merayakan Paskah dengan cara yang berbeda, tetapi tetap saja saya berharap kita bisa merayakan Paskah bersama. Tetapi karena kau tak juga kembali, dan saya tak akan pernah bisa melupakan kau, maka saya menemukan seseorang yang mau menemani mendandani telur dan pohon terang. Dia mempunyai kecondongan untuk mendandani dirinya setiap waktu, dan mungkin justru karena itu dia mengingatkan saya kepada kau setiap waktu; maka dengan mencintainya setiap waktu, saya mencintai kau setiap waktu.

Rupanya tidak hanya Paskah yang senantiasa membuat saya teringat pada kau, tetapi juga ketika saya sedang sendirian menyesap kopi di samping jendela yang  berhias titik-titik hujan. Berbicara tentang hujan, bagaimana kabar sahabat kecil kau yang ber-IQ 200 itu? Apakah ibunya masih tidak berani mengucapkan tiga kata untuk Emilie Mielke Jr.? Atau mungkin Emilie Mielke sudah mati sebelum sempat mengabarkan, “Ibu akan mati.”? Apa hujan merah; darah, itu sudah memenuhi baju pasien berwarna putih yang membosankan itu? Ah, kematian memang tak memiliki penundaan layaknya jadwal pesawat terbang.

Berbicara soal teman, bagaimana kabar si penulis amatir itu? Yang dimintai tolong untuk menerjemahkan Gunung Jiwa karya Xingjian. Apakah ia masih mendaki bersama Xingjian seiring proses penerjemahan itu? Terakhir kau bercerita, ia sedang berada di bagian yang membuatnya sadar tentang ini: karena ingin mengurangi kesepiannya, protagonis ‘aku’ membentuk karakter ‘kamu’ sebagai cerminnya. Tetapi ‘kamu’ pun kesepian dan akhirnya menciptakan ‘dia’ untuk menemaninya bicara. Sampai akhirnya ada ‘aku, ‘kamu’, ‘dia’, dan ‘ia’ untuk satu protagonis itu. Menurut teman kau, itu terdengar terlalu muram. Terlalu menyakitkan. “Sebegitu burukkah rasanya kesepian, Gao Xingjian?” Tanyanya kepada diri sendiri.

Bagaimana juga dengan teman kau yang masih saja meminta pendapat Richard—mantan kekasihnya yang entah di mana—sebelum pergi ke pesta Bonnie?

Atau si kondektur, apa dia sudah bertemu dengan ibunya?

Atau Jack dan Jane. Apakah anak mereka, Mary, benar-benar tak kembali hingga Jack mati? Lalu bagaimana dengan sepasang sosok yang menunggu Mary, boneka Barbie dan babi itu?

Lalu Jim. Apakah dia masih bodoh dan menyebalkan bagi Jane, seperti ketika ia tidak beraksi apa-apa ketika Jane bilang bahwa tetangga mereka yang tidak terlalu terkenal, Das, tahu-tahu berhasil memenangkan Nobel Sastra?

Lalu si merasa diri penyair. Apakah dia akhirnya berhasil menjual buku-buku puisinya dan membelikan susu dan makanan bergizi untuk anaknya? Apakah buku puisinya berhasil terpajang di rak toko buku atau hanya berakhir menjadi buku puisi di kamar mandi dan bereinkarnasi menjadi tisu toilet?

Saya prihatin dengan mereka, meski saya juga prihatin dengan teman kau yang satu lagi. Yang pernah bilang, “Aku rasa aku akan pergi ke suatu tempat untuk waktu yang teramat lama.” setelah menerima telepon dari sebuah nomor tak dikenal. Saya rasa firasatnya cukup kuat dan benar ia tak kembali.

Bagaimana dengan kau?

Apakah kau masih membutuhkan cerita sebagai pengantar tidurmu yang panjang? Kalau iya, barangkali kau harus menghubungi si tukang bercerita kisah sedih. Setelah teman kau itu tak berhasil mendapatkan pekerjaan, mungkin dengan bercerita sambil mengingat ibunya yang terlalu cepat mati sebelum menceritakan akhir kisah Lelaki Alarm itu bisa mengurangi kekecewaannya karena gagal.

Ah, yang paling menarik dari semua teman-teman kau tentu saja duo Ruhut. Ruhut pertama adalah  Ruhut Manuhuruk, si penyair yang tak sengaja mati setelah jatuh dari tangga (ketika mengganti lampur kamar) dan patah hati (karena tulang rusuk yang hilang).

Ruhut kedua adalah Ruhut Manihuruk, si novelis terkutuk.  Yang menghilang sejak termakan omongan seorang penjual kamper yang berhasil memengaruhinya untuk membeli banyak kamper. Barangkali bau kamper itu telah merusak otaknya sehingga ia menjadi orang yang disebali oleh teman-teman asramanya. Suatu pagi ia terbangun di dekat tong sampah dengan barang-barang bergeletakan di sekitar. Diusir? Karena setelah itu ia lenyap. Barangkali kau berminat menggeledah kamarnya karena kautahu dia adalah seorang penulis dan penulis selalu punya draft-draft naskah yang belum selesai ditulis atau selesai tetapi belum dikirim ke penerbit atau sudah dikirim tetapi kembali dengan catatan-catatan.

Mungkin kau bisa mengambil naskah novel yang bercerita tentang: Naheed dijodohkan dengan Em, padahal Naheed sudah memiliki Garda sebagai kekasih. Kisah cinta yang seharusnya berakhir tragis. Khususnya bagi Em, atau Garda, saya tak yakin. Karena bahkan novelis terkutuk itu masih bertanya-tanya, haruskah Em memiliki akhir kisah cinta  bahagia dengan merebut Naheed dari Garda? Adegan berjudul fatamorgana di meja makan membuat Garda, Naheed dan Em meragukan perasaan mereka masing-masing.

Bagaimana dengan dia yang ditinggal menikah oleh dua sahabatnya. Mereka bertiga—yang menyebut pertemanan mereka selayaknya garpu berujung tiga—dan dua di antaranya menikah. Maksud dari dua-di-antaranya-menikah bukanlah (1) sahabatnya yang pertama menemukan lelaki yang menikahinya di Belanda dan sahabatnya yang lain menemukan lelaki yang menikahinya di Indonesia, melainkan (2) mereka menikah. Yang saya syukuri adalah teman kau ini melarikan patah hatinya tidak dengan melakukan hal-hal bodoh melainkan dengan membersihkan rumah di hari libur. Bahkan ia pernah kembali percaya pada cinta ketika bertemu dengan seseorang di kereta malam ke Bekasi. Meski akhirnya laki-laki itu menolaknya dan ia malah berhenti memakai rok, menjadi tomboi dan bersikap seolah-olah ia tak butuh laki-laki. Patah hati membuat orang berubah.

Ah, kau. Bahkan saya tak bisa benar-benar peduli pada kau tanpa peduli pada mereka. Apakah kepedulian harus selalu melibatkan orang lain selain kita? Mungkin iya. Mungkin juga tidak.

Dan sambil menikmati betapa diamnya kau, saya akan menikmati kopi di warung ini, di dekat gereja. Tempat saya melihat banyak doa beterbangan di sekitar atapnya. Dan teman kau yang lain, yang sedang patah hati, yang baru saja mengucapkan selamat tinggal pada dua orang, yang sedang menatap dirinya di permukaan air selokan, semoga ia ikhlas merasakan patah hati. Setidaknya kini, selain Seseorang yang Dia Cintai dan Seseorang yang Mencintainya, ia ingat bahwa ada Seseorang yang Tak Pernah Dicintai Namun Selalu Mencintai. Patah hati membuat orang ingat tuhan.

Jadi, kau. Apa kabar?

***

Semacam reviu atas buku ini, dan beberapa kalimat di atas adalah kutipan langsung dari buku.

21882146

Judul: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis: Norman Erikson Pasaribu
Penerbit: Gramedia, 2014
Halaman: 186
ISBN: 9786020304489
Rating: 5/5

Buku Terbaik Tahun 2014 (Bagian 2)

GR01GR02GR03GR04

[lanjutan dari postingan ini]

4. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Melakukan Semua yang Ingin Kamu Lakukan Sebelum Mati Besok

Penyesalan itu tak enak, Jenderal! Maka sebelum mati, lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Barangkali buku-buku berikut ini mengamini betul kalimat, hiduplah seolah-olah kamu mati besok.

Satu Hari Bersamamu karya Mitch Albom bercerita tentang near death experience yang membawa Charley bertemu kembali dengan ibunya yang sudah meninggal. Dalam satu hari itu, mereka melakukan kegiatan layaknya hari biasa, dan Charley menceritakan hal-hal yang masih mengganjal dan belum sempat diceritakan kepada ibunya dulu. Sebagai gantinya, Charley juga mendengar cerita-cerita yang dulu belum pernah ia tahu.

Di novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (SPTJKYJTC), fokus utamanya adalah tentang cinta yang tak tersampaikan padahal mereka adalah sahabat sedari kecil. Lalu si tokoh perempuan mengidap penyakit dan menjelang mati. Bahkan kalimat terakhir di surat terakhir tak pernah selesai ia tulis karena maut menjemputnya lebih cepat. Mengharukan.

Terakhir, Horeluya karya Arswendo Atmowiloto, yang pesannya adalah lakukan apa pun, berikan apa pun yang diinginkan anakmu yang sedang berjuang melawan penyakit dengan kemungkinan sembuh sangat kecil, lakukan semua, berikan semua, toh usianya tak lama lagi. Wujudkan keinginannya sebelum terlambat. Agar ia pergi dengan tenang, dengan senang.

Membaca buku-buku ini kalian harus siapkan tisu karena penulis berhasil membuat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Satu lagi, bahwa benar, tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian.

5. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Mempertimbangkan Ulang Alasan-alasan Sebelum Menentukan Pilihan

Perihal rencana memiliki anak, bisa menjadi hal yang pelik bagi pasangan baru menikah Alan dan Rine dalam Oksimoron karya Isman H. Suryaman. Dan bahkan ketika pilihan tersebut sudah mantap mereka putuskan, toh ternyata tidak membuat kehidupan rumah tangga mereka berjalan lancar. Utamanya karena turut campurnya para oranguta/mertua yang tentu saja menginginkan cucu. Keputusan untuk tidak memiliki keturunan, yang bagi pasangan pengantin ini sudah final, mendadak goyah. Ternyata membuat keputusan tertentu, tidak bisa hanya mementingkan keinginan dua orang saja.

Membuat keputusan penting juga harus dilakukan oleh Ashlyn mengenai kekasihnya Jaeed yang tukang judi. Dalam Black Jack karya (duet) Clara Ng dan Felice Cahyadi, Ashlyn digambarkan jatuh cinta berat dengan Jaeed yang penipu abis. Sudah banyak teman-teman Ashlyn yang menyarankan untuk putus saja dari Jaeed, tetapi toh keputusan tetap ada di tangan Ashlyn. Berkali-kali Ashlyn ditipu, dirayu, diajak berjudi. Bahkan uang kuliah Ashlyn pun turut direlakan kepada Jaeed sebagai modal judi. Salahkan pilihan Ashlyn untuk terus bersama Jaeed? Pilih cinta atau masa depan yang cerah? Lanjut pacaran atau putus saja? Seberapa banyak kekurangan-kekurangan pasangan yang bisa kamu toleransi? Apakah ada kelebihan dia yang bisa menutupi kelemahan-kelemahan?

Jangan mati dulu. Kalau bisa. Setidaknya, saat ini kalian masih punya pilihan untuk mati atau tidak. Buktinya kalian tidak bunuh diri. Artinya kalian memilih untuk hidup. Pilihan yang sama (mau terus hidup atau mati saja) juga dialami oleh Mia dalam novel If I Stay karya Gayle Forman. Setelah mengalami kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya serta adik laki-lakinya, apakah ia masih punya alasan untuk hidup? Dalam keadaan (tubuh yang) koma, roh Mia menyaksikan kakek nenek, paman, bibi, sepupu, sahabat, hingga sang kekasih berada di sisinya dan berusaha menyemangati agar ia tak berhenti berjuang. Bahwa keputusan untuk hidup atau mati, tidak berada pada dokter atau bantuan alat-alat kesehatan, melainkan ada pada dirinya sendiri. Apakah kehadiran mereka cukup membuat Mia memilih untuk melanjutkan hidup? Karena jika ia memutuskan untuk hidup, maka mata itu akan terbuka. Sebaliknya, bila ia memilih mati saja, maka selamanya ia tak akan bereaksi apa-apa.

Jadi, apa yang membuat kalian memilih untuk terus menjalani hidup yang barangkali tidak terlalu baik ini, alih-alih bunuh diri? Lalu setelah memilih, bisakah kalian bertanggung jawab atas pilihan-pilihan tersebut?

6. Novel-novel yang Menurut Saya Wajib Kamu Baca

Selain buku-buku yang saya sebut di kategori sebelumnya, buku-buku berikut adalah buku-buku yang juga wajib kalian baca.

Tak cukup hanya dengan menonton filmnya saja, kalian juga harus membaca novelnya. Ca Bau Kan karya Remy Sylado memadukan budaya Cina dan sejarah kemerdekaan Indonesia yang dikemas dengan cara menyenangkan. Saya menyukai banyaknya aksen bicara yang dipakai. Ada aksen Betawi, Belanda, Mandarin dan Jawa. Juga percampuran dua di antaranya. Seru. 😀 Berhubung novel ini menggambarkan budaya Tionghoa dengan sangat sangat kental, kalian juga akan menemukan kalimat-kalimat bijak dari negeri Cina.

Lima bintang untuk cerita Marni dan empat bintang untuk cerita Rahayu dalam Entrok karya Okky Madasari. Ditulis dari dua sudut pandang (Marni dan Rahayu), saya lebih tertarik dengan gaya ‘berbicara’ Marni yang ceplas-ceplos, njawa dan apa adanya. Entrok menggambarkan kehidupan kelas bawah. Tidak ada cuplikan kehidupan mewah orang-orang kelas atas, karena tokoh (dan setting-nya) adalah orang desa, tidak sekolah, tapi memiliki pemikiran yang luar biasa. Bahwa pengalaman adalah guru paling berharga.

Barangkali belum banyak novel yang menceritakan Bali secara Bali banget. Nah, sebagai orang Bali, saya merekomendasikan bagi yang mau melihat sisi lain (budaya) Bali, kalian wajib baca Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Oiya, Oka Rusmini juga baru saja memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori puisi dengan buku kumpulan puisi yang berjudul Saiban. Kualitas tulisannya tak perlu diragukan lagi.

Terakhir adalah kumpulan cerpen. Yaitu, Kumpulan Budak Setan. Berisi dua belas cerpen genre horor karya tiga cerpenis. Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Kumcer ini adalah tribute untuk Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Ketiga cerpenis yang terlibat pun adalah cerpenis yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia penulisan. Pokoknya, too much greatness in one book!

*

Jadi, buku-buku apa yang membuat kalian mempertimbangkan kembali alasan-alasan kalian sebelum menentukan pilihan? Juga buku-buku apa yang menurut kalian wajib saya baca?

***

Buku Terbaik Tahun 2014 (Bagian 1)

Inilah buku-buku yang saya baca selama tahun 2014.

GR01 GR02 GR03 GR04

Berikut ini, saya akan membuat reviu singkat 25 buku dan mengelompokkannya ke dalam enam kategori. Kalau sepakat, artinya kita satu selera bacaan. :))

1. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Punya Pacar Romantis

Romantis itu apa, sih? Menurut artikata.com, romantis (adjective): bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan. Definisi ‘romantis’ bagi setiap orang bisa jadi berbeda, karena romantis itu sendiri adalah kata sifat. Kata sifat merujuk pada: penggunaan penilaian diri sendiri terhadap suatu hal secara subyektif. Romantis bagi saya, belum tentu romantis bagi kalian. Tapi romantisme di cerita-cerita berikut, semoga banyak dari kita berpendapat sama. :))

Sepertinya menyenangkan memiliki kekasih seorang musisi. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca Celebrity Wedding karya aliaZalea dan Restart karya Nina Ardianti. Tokoh utama wanita seolah dihujani cinta dan kasih sepanjang waktu. Kalau beruntung, para musisi tersebut akan menghadiahi kekasih mereka sebuah lagu. Well, Inara dan Syiana memang dibuatkan sebuah lagu. Saking romantisnya, saya sampai-sampai ingin memiliki kekasih seorang musisi. Tetapi anehnya, ketika ide tersebut saya lontarkan ke Twitter, banyak yang membalas dengan, “Yakin?” atau “Mendingan jangan!”

Ada apa dengan memiliki kekasih seorang musisi? Apa ada yang bisa menjelaskan pada saya? Apakah deskripsi romantisme musisi dalam kedua novel tersebut tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya? Hmm.

Oke, kalau ide memiliki kekasih seorang musisi mendapat banyak tentangan, barangkali saya harus mencoba memiliki kekasih seorang penyair. Dialah Will yang menghadiahi Lake berjuta-juta puisi (oke, ini lebay) di dua serial Slammed (Slammed #1: Slammed dan Slammed #2: Titik Balik). Kalau tidak bisa mendapat hadiah berupa sebuah lagu, dihadiahi puisi rasanya pasti tidak akan jauh berbeda. Sama-sama bisa membuat berbunga-bunga, juga merasa dicintai. Bukan begitu? :))

Kalau memiliki kekasih seorang musisi atau penyair belum cukup bagus, mari coba peruntungan dengan seorang dokter bedah. Dr. Beno Wicaksono, tokoh fiktif rekaan Ika Natassa dalam Twivortiare, benar-benar membuat gila. Gila akan cinta.

“Dok, bedah jantung saya dan isi dengan perasaan cinta darimu, Dok.”

Begitu? Selain saya, Dr. Beno Wicaksono ternyata juga berhasil membuat perempuan-perempuan (pembaca) di luar sana yang tadinya tergila dengan pria-pria muda menjadi terkena delusi akut kepada om-om.

(((Om-om)))

Salut untuk Ika Natassa.

Pilihan terakhir di daftar ini adalah memiliki kekasih berprofesi programmer. Selain pekerjaan programmer yang membuatnya kerap bepergian ke luar negeri, Reilley juga diceritakan sebagai pria yang sayang keluarga. Oh, my. ❤ Sayangnya tokoh ini hanya hidup dalam novel Blind Date, yang lagi-lagi, karya aliaZalea. :))

Tentu saja, romantisme seorang kekasih tidak bisa serta merta ditentukan oleh profesi yang mereka geluti. Saya ungkapkan profesi di atas karena tokoh-tokoh itu berhasil membuat perempuan tergila-gila, apa pun profesinya (atau ini hanya perasaa saya seorang?). Yang lebih saya kagumi dari romantisme para tokoh pria tersebut tentu saja kepiawaian para penulisnya bercerita, sedemikian rupa sehingga pesannya tersampaikan. Beberapa orang bahkan beranggapan bahwa mereka too good to be true padahal, ya, mereka tidak sempurna. Will yatim piatu sehingga harus membesarkan adik laki-lakinya seorang diri. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca menyampingkan fakta tersebut karena lebih melihat bagaimana Will menyayangi Lake dari hal-hal kecil yang dia lakukan. Pada suatu saat, Will tanpa sengaja bertemu lagi dengan mantan kekasihnya sehingga Lake merasa dibohongi. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca dihadapkan pada usaha Will untuk meyakinkan Lake bahwa saat ini Lake adalah hidupnya.

Ya, ya, ya. Barangkali romantisme memang bukan tentang kesempurnaan dia, melainkan tentang bagaimana hal-hal kecil yang dilakukannya berhasil membuat perempuannya merasa dicintai. Bagaimana? Kalau saya, sih, yes. x))

2. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Mengunjungi Lokasi Cerita

Mengaku warga Jakarta tetapi hanya tahu jalan dari tempat tinggal menuju kantor, atau ke mall-mall setiap akhir pekan? Baca Adriana dan temukan sisi Jakarta yang berbeda. Fajar Nugros menyajikan banyak tempat di Jakarta dalam bentuk teka-teki. Selain mengetahui banyak lokasi unik di Jakarta, kita juga diajak belajar mengenai sejarah singkat beberapa lokasi. Sebut saja Taman Prasasti, Patung Pancoran, Perpustakaan Nasional, Museum Fatahillah. Bahwa yang menarik dari Jakarta bukan hanya pusat perbelanjaannya.

Melompat ke luar pulau Jawa, ada Kei yang mengupas sebuah pulau di Maluku, yaitu pulau Kei. Agak suram karena yang menjadi latar belakang ceritanya adalah kerusuhan/perang saudara yang terjadi sekitar tahun 1999-2000. Agak aneh, mengapa saya memasukkan lokasi kerusuhan sebagai tempat yang ingin dikunjungi. Mungkin karena sejarah(sekalipun pahit)lah yang membuat daerah tersebut seperti sekarang, selain itu karena setting cerita terasa sangat kuat.

Di pulau lain, yaitu pulau Sumatra, kita akan diajak berjalan-jalan di kota Padang. Membaca Bingkai Memori karya Petronela Putri, kalian akan disuguhi beberapa klenteng (karena Mei adalah keturunan Tionghoa), juga beberapa lokasi yang menjadi tempat nongkrong pemuda/pemudi Padang, seperti Basko Grand Mall, Kedai Kopi Nuno dan tentu saja Pantai Padang alias Taplau. Oiya, bagi penggila durian, kalian harus kudu wajib mampir ke kedai Es Durian Ganti Nan Lamo. Nyam!

Ini dia novel yang membuat saya semakin ingin menjajaki benua Eropa, khususnya Amsterdam! Ya, The Fault in Our Stars, selain mengambil setting di Amerika, juga berlokasi di Amsterdam. Di Amsterdam mereka mengunjungi Anne Frank House and I’m dying to go there untuk merekonstruksi adegan mesra August dan Hazel, bersama seseorang. Good job, John Green. ❤

Kembali ke Asia Selatan, Dee Lestari menarik rasa penasaran saya dari dasar hati ke permukaan dan membuat saya ingin melihat langsung kebun ganja di Kamboja. Saya berdosa. Juga lokasi perang yang banyak ranjaunya itu. Oh, sila salahkan seri Supernova: Akar.

3. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Diam dan Memikirkan Ulang Tentang (Prinsip) Hidup

Karena Parasit Lajang adalah kumpulan esai si penulis (Ayu Utami), makanya buku (bukan novel, ding) ini berisi pandangan–pandangan beliau tentang hidup tentunya terkait berbagai macam hal. Terkait judulnya, yang paling saya ingat adalah hal-hal berbau hidup si lajang dan pernikahan. Parasit Lajang adalah istilah yang digunakan Ayu Utami bagi dirinya sendiri (saya merasa juga, sih) yang sudah bekerja tetapi belum menikah tetapi lagi masih hidup bersama orangtua. Hidup menjadi parasit bagi orangtua. Tinggal di rumah gratis, tak perlu sibuk memikirkan bayar listrik, air, dan telepon, tak perlu mengeluarkan uang sebagai biaya hidup harian, dan seterusnya.

Ada juga poin menarik lain, dan kali ini terkait pernikahan. Katanya, pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya ya bagi yang membutuhkan saja. :))

Ada banyak lagi isi kepala Ayu Utami tentang berbagai hal yang dituangkan dalam buku ini dan beberapa poin memang membuat saya mengangguk setuju atau bergumam, “Iya. Benar juga, ya. Kenapa selama ini tidak terpikirkan.”

Melompat dari berbagai pemikiran antimainstream, kita lebih khusus ke hal-hal terkait kejujuran. Beranikah kita menelanjangi diri sendiri, yang kata Arswendo Atmowiloto adalah salah satu bentuk kejujuran? Tersenyum? Begitulah efek yang kerap terjadi pada saya ketika membaca Blakanis. Pemikiran atau perkataan Ki Blaka memang agak aneh, tetapi lucu. Dan menyentil pemahaman. Meski diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan tokoh utama melainkan orang-orang yang berhubungan langsung dengan tokoh utama, ajaran-ajaran Ki Blaka tidak mengalami penyusutan, pembaca tetap bisa merasakan bahwa Ki Blaka ini adalah orang yang apa adanya. Dan dengan sifat apa adanya inilah ia berhasil menarik banyak ‘pengikut’ untuk mempelajari ajarannya. Mirip The Witch of Portobello karya Paulo Coelho. Miripnya, selain diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan si tokoh utama, kedua novel ini sama-sama menceritakan tentang seseorang yang dianggap menyebarkan ajaran sesat. Lalu apakah ajaran yang mereka sebarkan itu memang sesat? Well, orang luar boleh melihat itu sesat tetapi bagi para pencerita, itulah kebenaran.

Membuat kita berpikir lagi, apakah yang kita percayai sekarang ini adalah kebenaran yang paling?

Buku lain yang mengaduk-aduk pemahaman adalah Rahvayana karya Sujiwo Tejo. Misinya adalah menunjukkan pada dunia bahwa Rahvana tak sejahat yang orang-orang pikirkan. Bahkan Rahvana digambarkan begitu mencintai Sinta. Terlihat dari betapa banyaknya surat yang ia tulis untuk Sinta meski tak selalu mendapat balasan. Mana mungkin seseorang dengan sengaja menyakiti orang yang ia cinta? Uniknya lagi, hingga akhir buku, tokoh ‘aku’ tak mau mengaku sebagai Rahvana. Antara unik dan sengaja membuat pembaca semakin bingung. ._.

Terakhir di kategori ini adalah Siddhartha, yang bercerita tentang perjalanan seseorang bernama Buddha. Entah dialah Sang Buddha atau bukan, karena dalam novel ini ada seorang tokoh lain bernama Gautama, dan diceritakan sebagai guru yang memiliki banyak pengikut. Tapi siapa pun yang sebenarnya adalah Buddha, novel yang disajikan dengan kalimat-kalimat indah ini mengungkapkan beberapa pencerahan khas (agama) Buddha. Misalnya, jangan terikat akan sesuatu. Dan sebangsanya, yang tentunya membuat kita berpikir dan berpikir ulang.

Yah, pada akhirnya, kebenaran hanyalah masalah sudut pandang.

*

[bersambung dengan kategori lain di tulisan berikut]