Rangkuman Buku-buku Selama 2014 (Bagian 2)

GR01GR02GR03GR04

[lanjutan dari postingan ini]

3. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Diam dan Memikirkan Ulang Tentang (Prinsip) Hidup

Karena Parasit Lajang adalah kumpulan esai si penulis (Ayu Utami), makanya buku (bukan novel, ding) ini berisi pandangan–pandangan beliau tentang hidup tentunya terkait berbagai macam hal. Terkait judulnya, yang paling saya ingat adalah hal-hal berbau hidup si lajang dan pernikahan. Parasit Lajang adalah istilah yang digunakan Ayu Utami bagi dirinya sendiri (saya merasa juga, sih) yang sudah bekerja tetapi belum menikah tetapi lagi masih hidup bersama orangtua. Hidup menjadi parasit bagi orangtua. Tinggal di rumah gratis, tak perlu sibuk memikirkan bayar listrik, air, dan telepon, tak perlu mengeluarkan uang sebagai biaya hidup harian, dan seterusnya.

Ada juga poin menarik lain, dan kali ini terkait pernikahan. Katanya, pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya ya bagi yang membutuhkan saja. :))

Ada banyak lagi isi kepala Ayu Utami tentang berbagai hal yang dituangkan dalam buku ini dan beberapa poin memang membuat saya mengangguk setuju atau bergumam, “Iya. Benar juga, ya. Kenapa selama ini tidak terpikirkan.”

Melompat dari berbagai pemikiran antimainstream, kita lebih khusus ke hal-hal terkait kejujuran. Beranikah kita menelanjangi diri sendiri, yang kata Arswendo Atmowiloto adalah salah satu bentuk kejujuran? Tersenyum? Begitulah efek yang kerap terjadi pada saya ketika membaca Blakanis. Pemikiran atau perkataan Ki Blaka memang agak aneh, tetapi lucu. Dan menyentil pemahaman. Meski diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan tokoh utama melainkan orang-orang yang berhubungan langsung dengan tokoh utama, ajaran-ajaran Ki Blaka tidak mengalami penyusutan, pembaca tetap bisa merasakan bahwa Ki Blaka ini adalah orang yang apa adanya. Dan dengan sifat apa adanya inilah ia berhasil menarik banyak ‘pengikut’ untuk mempelajari ajarannya. Mirip The Witch of Portobello karya Paulo Coelho. Miripnya, selain diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan si tokoh utama, kedua novel ini sama-sama menceritakan tentang seseorang yang dianggap menyebarkan ajaran sesat. Lalu apakah ajaran yang mereka sebarkan itu memang sesat? Well, orang luar boleh melihat itu sesat tetapi bagi para pencerita, itulah kebenaran.

Membuat kita berpikir lagi, apakah yang kita percayai sekarang ini adalah kebenaran yang paling?

Buku lain yang mengaduk-aduk pemahaman adalah Rahvayana karya Sujiwo Tejo. Misinya adalah menunjukkan pada dunia bahwa Rahvana tak sejahat yang orang-orang pikirkan. Bahkan Rahvana digambarkan begitu mencintai Sinta. Terlihat dari betapa banyaknya surat yang ia tulis untuk Sinta meski tak selalu mendapat balasan. Mana mungkin seseorang dengan sengaja menyakiti orang yang ia cinta? Uniknya lagi, hingga akhir buku, tokoh ‘aku’ tak mau mengaku sebagai Rahvana. Antara unik dan sengaja membuat pembaca semakin bingung. ._.

Terakhir di kategori ini adalah Siddhartha, yang bercerita tentang perjalanan seseorang bernama Buddha. Entah dialah Sang Buddha atau bukan, karena dalam novel ini ada seorang tokoh lain bernama Gautama, dan diceritakan sebagai guru yang memiliki banyak pengikut. Tapi siapa pun yang sebenarnya adalah Buddha, novel yang disajikan dengan kalimat-kalimat indah ini mengungkapkan beberapa pencerahan khas (agama) Buddha. Misalnya, jangan terikat akan sesuatu. Dan sebangsanya, yang tentunya membuat kita berpikir dan berpikir ulang.

Yah, pada akhirnya, kebenaran hanyalah masalah sudut pandang.

4. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Melakukan Semua yang Ingin Kamu Lakukan Sebelum Mati Besok

Penyesalan itu tak enak, Jenderal! Maka sebelum mati, lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Barangkali buku-buku berikut ini mengamini betul kalimat, hiduplah seolah-olah kamu mati besok.

Satu Hari Bersamamu karya Mitch Albom bercerita tentang near death experience yang membawa Charley bertemu kembali dengan ibunya yang sudah meninggal. Dalam satu hari itu, mereka melakukan kegiatan layaknya hari biasa, dan Charley menceritakan hal-hal yang masih mengganjal dan belum sempat diceritakan kepada ibunya dulu. Sebagai gantinya, Charley juga mendengar cerita-cerita yang dulu belum pernah ia tahu.

Di novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (SPTJKYJTC), fokus utamanya adalah tentang cinta yang tak tersampaikan padahal mereka adalah sahabat sedari kecil. Lalu si tokoh perempuan mengidap penyakit dan menjelang mati. Bahkan kalimat terakhir di surat terakhir tak pernah selesai ia tulis karena maut menjemputnya lebih cepat. Mengharukan.

Terakhir, Horeluya karya Arswendo Atmowiloto, yang pesannya adalah lakukan apa pun, berikan apa pun yang diinginkan anakmu yang sedang berjuang melawan penyakit dengan kemungkinan sembuh sangat kecil, lakukan semua, berikan semua, toh usianya tak lama lagi. Wujudkan keinginannya sebelum terlambat. Agar ia pergi dengan tenang, dengan senang.

Membaca buku-buku ini kalian harus siapkan tisu karena penulis berhasil membuat kematian sebagai sesuatu yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Satu lagi, bahwa benar, tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian.

*

Oke, jadi buku apa yang membuat kalian berpikir ulang mengenai prinsip hidup kalian, dan buku apa yang membuat kalian mengamini kalimat, hiduplah seolah-olah kau mati besok?

[bersambung ke dua kategori terakhir]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s