Aku dan Kamu Lahir di Kota Ini

Aku teringat pada sebuah kota yang  mengingatkanku akan kamu
Mengingatkan kelahiran kita

Pikiranku tertumbuk pada suatu
sudut taman yang berangsur sepi
Tanahnya berlubang, pohonnya tak rindang lagi
Di salah satu sudutnya
rumahmu yang megah berdiri, sendiri

Aku teringat pada suatu sisi yang lain
Senja mengubur hari
Langit seperti berapi
Pasir pantai menjadi saksi
Lengan yang saling mengait
Bahu yang menjadi sandaran lelah dan sakit

Aku teringat pada sebuah kota
Yang jalanannya menjadi kawan
motor-motor sewaan yang kita kendarai bersama
Museum, stasiun, kota tua

Aku teringat pada sebuah kota
yang bukan kota kelahiranku
Bukan pula kota kelahiranmu

Kota ini adalah tempat di mana rasa dibesarkan
Hingga tumbuh menjadi kuat namun ramah
Kokoh namun sederhana
Ramai namun hanya milik kita berdua

Aku teringat pada sebuah kota
yang aku beri nama Sekarang

*

Duh, Lahan Basah

Mereka tak mampu berkata-kata
Hanya bisa menganga begitu tiba di Jakarta
Menganga takjub seperti melihat warna setelah sebelumnya buta
Atau seperti orang desa yang pertama kali ke kota

Kenyataannya, di sini memang lahan basah
Surga bagi yang serakah
Kenyataannya, di sini memang penjara bagi yang lemah
Atau ladang pahala bagi yang merasa diri paling lelah

Jakarta memang ajaib
Apa saja, dengan cepat, bisa raib
Orang-orang pun bisa berubah secara gaib
Tadi bicara janji, sekarang berbagi aib

Lama-lama rasa empati dan kepatutan dibiarkan berkarat
Disembunyikan di ujung kesadaran yang mulai cacat
Apalagi kalau malu tak lagi mendapat tempat
Udara jadi dipenuhi dengan suara-suara yang sibuk mengumpat

Efeknya, ada yang melupakan tanggung jawabnya yang utama
Ada yang mulai merasa tak ada gunanya bekerja sama
Ada yang kecewa karena hak yang tak kunjung diterima
Bahkan, ada yang berseru girang ketika menemukan kesalahan antar sesama

Jakarta memang ajaib
Apa saja, dengan cepat, bisa raib
Orang-orang pun bisa berubah secara gaib
Tadi bicara janji, sekarang berbagi aib

Mereka tak mampu menahan ketika hati ikut-ikutan sirik
Hanya bisa menganga melihat rupiah yang siap dipetik
Mereka tak mampu menahan godaan setan yang terus menerus berbisik
“Lupakan nuranimu, itu lebih baik.”

Duh