Cara Efektif Menarik Pembaca Novel Melalui Kalimat Pertama

“An opening line should invite the reader to begin the story. It should say: Listen. Come in here. You want to know about this.” — Stephen King

Mengapa kalimat pertama (sebuah novel) menjadi sesuatu yang penting saya pikir sejalan dengan mengapa seseorang berharap dapat memberikan kesan pertama yang baik dan membuat lawan bicara setidaknya betah mendengarkan kita hingga pertemuan berakhir. Sebagaimana kutipan di atas, bahwa kalimat pertama yang baik harus seolah-olah berkata, “Dengar. Mendekatlah. Kamu harus tahu cerita ini.” Lalu pembaca akan duduk dan dengan tekun membaca hingga halaman terakhir.

Yang lebih baik daripada kesan pertama yang ‘baik’ (baik adalah kata yang terlalu datar dan terlalu umum) adalah kesan pertama yang menarik dan menimbulkan rasa penasaran, sehingga mereka tetap berada di sana untuk menuntaskanrasa penasaran tersebut.

Penasaran.

Kalau saya boleh merangkum semua teori mengenai bagaimana menulis kalimat pertama yang baik, maka jawabannya adalah kalimat yang membuat penasaran. Nah, persoalan berikutnya adalah bagaimana memantik rasa penasaran seseorang akan keseluruhan novel melalui kalimat pertama?

Rasa penasaran sama halnya dengan rasa takut, bahagia, bangga, dan sebagainya bisa menjadi pengalaman yang sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Seseorang bisa bangga karena berhasil meraih gelar sarjana sementara orang lain yang sudah meraih gelar master merasa biasa saja bahkanbaru akan bangga ketika berhasil meraih gelar doktor. Ada juga yang berbahagia karena mendapat kado berupa liburan ke luar negeri, sementara di sisi lain ada yang berbahagia hanya karena berhasil menemukan buku incaran di toko buku-bekas langganan. Begitulah, masing-masing orang memiliki standar yang berbeda untuk hal-hal yang berhasil atau tidak berhasil membuat mereka penasaran.

Setelah tips menulis kalimat pertama yang dulu pernah saya tulis, berikut ini, saya punya beberapa jenis kalimat pertama lainnya yang mungkin bisa membuat pembaca penasaran. Coba cek, kalian termasuk tipe pembaca yang penasaran karena jenis yang mana. 😀

1. Pertanyaan
Pertanyaan merupakan wujud dari rasa penasaran. Kalau pertanyaannya tepat, maka pertanyaan tersebut akan mewakili banyak sekali (rasa penasaran) pembaca. Yang marak di novel roman adalah pertanyaan perihal rasa sakit seperti kalimat pertama berikut ini.

“Apa kau pernah merasakan sakit yang teramat saat kehilangan seseorang?” –Nyanyian Di Bawah Hujan (Risma Ridha Anissa)

2. Realita yang di luar kebiasaan/logika antimainstream
Salah satu teori dalam membuat sebuah cerita adalah story spine. Berdasarkan teori tersebut, sebuah cerita dimulai dengan penjelasan mengenai sebuah rutinitas, lalu pada suatu hari ada kejadian di luar rutinitas, dilanjutkan dengan akibat-akibat  dari kejadian unik tersebut hingga cerita mencapai konflik, terakhir penyelesaian.

Kalimat pertama yang membuat saya penasaran adalah kalimat pertama yang menggunakan gaya bagian kedua dari story spine, adanya sebuah kejadian yang tidak biasa. Kalimat pertama semacam ini akan membuat saya bertanya, “Kok bisa?” atau “Kenapa?” dan saya melanjutkan membaca untuk menemukan jawabannya.

Contohnya, tokoh Santiago dalam novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway. Seorang nelayan yang pekerjaannya mencari ikan, tidak mendapatkan ikan padahal sudah berada di laut selama 84 hari. Kok bisa?

“He was an old man who fished alone in a skiff in the Gulf Stream and he had gone eighty-four days now without taking a fish.”

3. Deskripsi/visualisasi yang menarik
Lupakan deskripsi yang datar dan terlalu umum. Cari kejadian yang unik lalu gunakan kalimat yang  menarik, lucu, heboh, atau kontroversial.

“Di sebuah pagi yang merangsang, Arjuna bertolak pinggang.” –Arjuna Mencari Cinta (Yudhistira Massardi)

Siapa yang bisa menolak kata ‘merangsang’?

4. Karakter tokoh yang eksentrik
Tokoh/karakter merupakan salah satu daya tarik dalam sebuah novel, terbukti dengan banyaknya novel yang diberi judul sama dengan nama tokoh utamanya. Tetapi penulis tidak harus menggunakan nama tokoh sebagai judul novel untuk membuat pembaca fokus pada satu orang. Cukup ceritakan karakter si tokoh utama di awal novel, dengan deskripsi yang tidak biasa. Di contoh berikut, (karena keinginannya untuk mati) Tsukuru Tazaki langsung menarik perhatian saya.

From July of his sophomore year in college until the following January, all Tsukuru Tazaki could think about was dying.” — Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage (Haruki Murakami)

5. Kejadian sehari-hari yang bisa membuat orang relate
Menjalankan hidup sebagai manusia adalah pekerjaan sehari-hari, tetapi apakah itu berarti menjadi manusia adalah sesuatu yang mudah? Memangnya masih ada sifat-sifat kemanusiaandalam diri kita? Fenomena tersebut menjadi kegelisahan tokoh O di novel terbaru Eka Kurniawan yang berjudul O.

“‘Enggak gampang jadi manusia,’ pikir O, mengenang semua keributan itu.”

Contoh lain, ironi pada kalimat pertama novel Grotesque karya Natsuo Kirino. Ironi dalam kalimat tersebut sangat berpotensi membuat banyak pembaca merasa relate karena pembaca sama-sama tidak/belum punya anak, misalnya .

“Setiap kali bertemu laki-laki, aku selalu mendapati diriku berkhayal tentang tampang anak kami seandainya kami memiliki anak.”

*

Tentu saja sebuah novel tidak dapat dipastikan akan disukai atau tidak hanya dari kalimat pertamanya saja. Cerita novel itu sendiri harus kuat dan itulah pekerjaan si penulis yang sebenarnya. Selain itu, kalimat pertama yang baik tidak hanya berefek positif bagi pembaca tetapi juga penting untuk penulis itu sendiri. Kalimat pertama adalah pintu, jalan untuk membuka cerita. Ketika penulis telah menemukan kalimat pertama yang tepat, maka proses selanjutnya akan menjadi terasa mudah.

***

*) Kalimat pertama dari berbagai novel yang saya gunakan di atas berasal dari peserta #GAKalimatPertama yang saya adakan di sini. Bagi yang kalimat pertamanya saya gunakan, artinya berhasil mendapatkan paket buku yang saya sediakan. Selamat!

Serba-serbi Menulis Memoar

Procrastinator lvl:

Pada Festival Pembaca Indonesia (Indonesia Readers Festival – IRF) yang diadakan di Museum Nasional tanggal 6 – 7 Desember 2014 lalu (iya, 2014!), saya berkesempatan mengikuti Workshop Menulis Memoar dengan narasumber Sundea (@salamatahari) dan Windy Ariestanty.

Berhubung lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, maka berikut ini adalah cara menulis memoar yang berhasil saya petik dari workshop tersebut, disajikan berupa rangkuman dari sesi tanya jawab. Semoga bermanfaat.

*

Apakah memoar harus inspiratif?
Sundea (S): Otomatis.
Windy (W): Inspiratif tidak harus diceritakan secara serius. Kadang kejadian-kejadian sederhana bisa bikin kita berkaca.

Apakah memoar harus menceritakan orang terkenal?
S: Tidak harus.
W: Tidak harus.

Apakah memoar harus menggunakan bahasa yang kaku?
S: Tidak. Bisa pakai bahasa sehari-hari.
W: Aku lebih memilih menggunakan kata-kata sederhana. Menulis kalimat yang bagus, tidak berarti bisa bercerita secara bagus.

Bagaimana cara melatih sudut pandang (untuk menceritakan sesuatu secara berbeda)?
S: Latihan terus. Kadang saya menceritakan si A dari sisi sepatunya. Dari sisi kakinya, kanan kiri saling mengobrol
W: Latihan. Setiap lihat sesuatu, ceritakan. Latihan lain: deskripsikan sesuatu tanpa menyebut sesuatu tersebut. Misal bercerita tentang air tanpa menggunakan kata ‘air’.

Seberapa akurat informasi yang harus ditampilkan dalam memoar mengingat memoar adalah kisah nyata?
S: Untuk penyakit, misalnya. Atau orang-orang yang berpengaruh dalam hidup si tokoh, tentu itu harus akurat. Tetapi untuk, misal, warna mobil yang lewat ketika dia duduk di pinggir jalan, boleh saja nggak akurat. Gunakan keterangan semacam itu untuk mendukung cerita.
W: Setuju. Jangan ribetkan diri dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan cerita. Ketika narasumber tidak ingat suatu kejadian, cari orang lain yang kenal si tokoh sekaligus paham dengan apa yang si tokoh lupakan. Akui (hal-hal yang tidak seratus persen sama dengan kenyataan ketika itu). Misalnya gunakan kalimat, “Dengan ingatan yang samar, bangunan tersebut memiliki ….dst.”

Apakah perlu menambahkan deskripsi yang tidak benar-benar terjadi tetapi membantu penceritaan kisah?
W: Tidak. Karena saya menulis apa yang terjadi. Saya memotret, merekam, agar saya mengingat dengan baik kondisi ketika percakapan (wawancara) terjadi.
S: Asal jangan sampai mengganggu cerita (utama).

Nilai-nilai (prinsip) dalam memoar yang sifatnya musiman, bagaimana kalau tidak relevan lagi ketika dibaca bertahun-tahun kemudian, alias basi?
W: Mungkin (ada hal-hal yang akan basi), biasanya terkait human interest. Tetapi, sebenarnya nilai-nilai manusia itu lekang. Berlaku universal. Bisa dibaca kapan saja, yang berbeda adalah sudut pandang/kesan yang didapat pembaca (yang beda zaman).
S: Nggak masalah. Beda zaman pun tetap masih bisa dinikmati. Tetap menarik. Sejarah itu selalu menarik.

Apabila satu tokoh dibuatkan lebih dari satu memoar, apakah semuanya harus saling terkait?
W: Sangat mungkin memoar yang satu beririsan dengan memoar yang berikutnya.
S: Boleh dua-duanya. Mau dibuat berdiri sendiri atau dari awal direncanakan untuk dibuat sekuel. Terserah penulis.

Apa bedanya novel dengan memoar?
W: Fiksi vs non-fiksi. Kita meminjam teknik menulis novel untuk menulis memoar.
S: Memoar, tokoh yang diceritakan hanya satu. Sedangkan kalau novel, tokohnya bisa banyak.

Kenapa (mau) menulis memoar? Apa yang didapat dari menulis memoar?
W: Saya menulis memoar karena saya suka mengamati manusia. Ketika zaman kuliah, saya kenal feature dan saya suka. Hal itu  juga yang membuat saya ingin menulis dengan baik. Seandainya kamu menulis memoar, kamu harus belajar menulis personal essay, supaya pandai melihat adegan-adegan. (Dari menulis memoar ) Saya dapat banyak: pengalaman, insight. Kisah orang lain banyak yang inspiratif.
S: Saya suka human interest. Basisnya memang suka (menulis memoar). Dapat pengalaman, berharga banget.

Apa yang dilakukan ketika stuck (menulis)?
W: Kalau stuck, saya menarik diri sejenak. Menjauh, main, menulis yang lain dulu. Menulis yang lain bertujuan supaya ‘mesin (menulis)’ saya tetap panas.
S: Nggak pernah memaksakan sesuatu. Kalau lelah ya berhenti dulu. Dari writer’s block ke writer’s belok. Juga untuk mengubah suasana, kadang wawancara pun dalam bentuk berenang bareng.

Adakah tip-tip ketika melakukan wawancara?
W: Bawa alat perekam juga blocknote. Menulis itu memperpanjang daya ingat. Buat daftar pertanyaan yang telah disesuaikan dengan plot yang sudah disiapkan dari awal. Dari sekian banyak pertanyaan dan jawaban, kita pilih mana yang hendak kita sampaikan. Ibarat membuka kulkas, kamu punya semua bahan terbaik untuk memasak satu masakan. Tetapi tak mungkin pakai semua bahan untuk memasak satu masakan itu. Menulis adalah tentang memilih.
S: Setting-nya kayak ngobrol saja. Ibaratnya, ketika pengin kenal dengan seseorang, pertanyaan apa yang akan kita sampaikan. Memilih data harus selektif, tapi apabila ketika wawancara ternyata (ngobrolnya) ngalor ngidul, itu juga oke.

*

Terakhir, salah satu materi yang sempat saya catat pada workshop tersebut adalah lima tips menulis memoar:

1. Buatlah memoar bukan autobiografi (sehingga bisa banyak memoar)
2. Buatlah diagram hidup
3. Jangan memulai cerita dari awal
4. Gunakan semua panca indera
5. Latihlah oto-menulis (karena kadang kita merasa kelelahan dan merasa tidak bisa melanjutkan menulis)

***

We Must Get Home

WE MUST GET HOME
By James Whitcomb Riley

We must get home! How could we stray like this?
So far from home, we know not where it is,
Only in some fair, apple-blossomy place
Of children’s faces–and the mother’s face
We dimly dream it, till the vision clears
Even in the eyes of fancy, glad with tears.

We must get home–for we have been away
So long, it seems forever and a day!
And O so very homesick we have grown,
The laughter of the world is like a moan
In our tired hearing, and its song as vain,
We must get home–we must get home again!

We must get home! With heart and soul we yearn
To find the long-lost pathway, and return!
The child’s shout lifted from the questing band
Of old folk, faring weary, hand in hand,
But faces brightening, as if clouds at last
Were showering sunshine on us as we passed.

We must get home: It hurts so staying here,
Where fond hearts must be wept out tear by tear,
And where to wear wet lashes means, at best,
When most our lack, the least our hope of rest
When most our need of joy, the more our pain
We must get home–we must get home again!

We must get home–home to the simple things
The morning-glories twirling up the strings
And bugling color, as they blared in blue-
And-white o’er garden-gates we scampered through;
The long grape-arbor, with its under-shade
Blue as the green and purple overlaid.

We must get home: All is so quiet there:
The touch of loving hands on brow and hair
Dim rooms, wherein the sunshine is made mild
The lost love of the mother and the child
Restored in restful lullabies of rain,
We must get home–we must get home again!

The rows of sweetcorn and the China beans
Beyond the lettuce-beds where, towering, leans
The giant sunflower in barbaric pride
Guarding the barn-door and the lane outside;
The honeysuckles, midst the hollyhocks,
That clamber almost to the martin-box.

We must get home, where, as we nod and drowse,
Time humors us and tiptoes through the house,
And loves us best when sleeping baby-wise,
With dreams–not tear-drops–brimming our clenched eyes,
Pure dreams that know nor taint nor earthly stain
We must get home–we must get home again!

We must get home! The willow-whistle’s call
Trills crisp and liquid as the waterfall
Mocking the trillers in the cherry-trees
And making discord of such rhymes as these,
That know nor lilt nor cadence but the birds
First warbled–then all poets afterwards.

We must get home; and, unremembering there
All gain of all ambition otherwhere,
Rest–from the feverish victory, and the crown
Of conquest whose waste glory weighs us down.
Fame’s fairest gifts we toss back with disdain
We must get home–we must get home again!

We must get home again–we must–we must!
(Our rainy faces pelted in the dust)
Creep back from the vain quest through endless strife
To find not anywhere in all of life
A happier happiness than blest us then
We must get home–we must get home again!

*

Tahu puisi ini ketika menonton LIFE, film mengenai sepenggal kisah hidup James Dean. Di akhir film, sang tokoh membaca sebagiannya. Rasanya, saya akan rindu membaca We Must Get Home lagi di kemudian hari, jadi mari kita simpan.

***