4 Musim Cinta: Sebuah Kolaborasi

image3

Ada kabar gembira!!! 😀

Draft novel kolaborasi dari program Antologi Perbendaharaan itu akhirnya menemukan jodoh( penerbit)nya. :’) Terima kasih kepada penerbit Exchange (satu grup dengan penerbit Dolphin) yang telah menerima naskah kami dengan baik, lalu menyunting, membuatkan cover, serta segala proses yang dilakukan sehingga novel yang berjudul 4 Musim Cinta (dulu berjudul Hoffee) tak lama lagi akan bisa dinikmati pembaca di seluruh Indonesia.

Sekilas tentang 4 Musim Cinta. Novel ini adalah novel kolaborasi empat orang birokrat muda bernama Pringadi Abdi Surya, Abdul Gafur, Puguh Hermawan, dan saya (Mandewi). Kolaborasi ini berawal dari lomba menulis yang diadakan dalam rangka satu dekade instansi tempat kami bekerja. Hasil dari lomba tersebut, salah satunya, adalah juri mengajak peraih empat besar (lomba) untuk menulis bersama.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya novel ini rampung dan kami mencoba menawarkan ke beberapa penerbit. Ternyata naskah ini berjodoh dengan penerbit Exchange. Sekali lagi, terima kasih. ❤

Dalam waktu dekat, 4 Musim Cinta akan beredar di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Tetapi bagi kalian yang mau mendapatkan novel ini lebih cepat (plus tanda tangan keempat penulisnya!), kami membuka pre-order (PO) dengan detail sebagai berikut:

1. PO dibuka hingga tanggal 12 Maret 2015.
2. Di toko buku, 4 Musim Cinta akan dihargai Rp 59.500,- tetapi selama periode PO, kalian cukup membayar Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
3. Silakan melakukan pemesanan melalui salah satu dari keempat penulis: @pringadi_as, @daenggafur, @hermawanpuguh, atau saya @mandewi.
4. Buku akan ada di tangan kami pertengahan Maret dan akan dikirim kepada pemesan segera setelahnya.

*

Sebagai gambaran, detail buku adalah sebagai berikut:

image1 Judul: 4 Musim Cinta
Penulis: Abdul Gafur, Pringadi AS, Puguh Hermawan, Mandewi
Penerbit: Exchange
Tahun Terbit: Maret 2015
Jumlah Halaman: 333
ISBN: 9786027202429

Blurb:

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

*

4 Musim Cinta juga sudah terdaftar di Goodreads dan kami sangat mengharapkan kesediaan kalian untuk memberi rating. Berikut tautannya:

4 Musim Cinta di Goodreads

Ayo, ikut PO dan jadi yang pertama membaca serta memberikan komentar. \m/

***

[Cerpen] Permainan Komitmen

Bagi beberapa orang, barangkali komitmen hanya sekadar permainan. Si pemain akan naik level bila ia berhasil menyelesaikan satu pertengkaran, naik level ketika berhasil tidak membiarkan diri tergoda oleh rayuan laki-laki/perempuan lain, berhasil membuat tersenyum pasangannya dengan kejutan-kejutan. Lalu pada babak akhir, si pemain akan menjadi pemenang bila ia berhasil menjadi orang yang menyaksikan pasangannya mati lebih dulu. Karena itu berarti ia telah bertahan pada permainan yang dulu ia mulai. Di kalangan artis, hal yang sama juga berlaku. ARS kalah di level ‘selingkuh’, mereka berpisah dan memulai permainan baru dengan orang lain. Artis senior WDY, berhasil menjadi pemenang karena suaminya meninggal lebih dulu sementara ia masih segar bugar. Terkait dengan permainan ini, siapa yang tidak tahu kalau rumah tangga DFS-LM sedang diguncang badai? Kalau Anda mengamini analogi saya, bahwa komitmen bagi mereka kalangan showbiz tak lebih dari sekadar permainan, mari bertaruh, apakah DFS-LM akan berhasil naik level atau kalah sampai di sini?

Simpan.

“Vionaaaa.”

Suara Tari menembus kubikel demi kubikel di ruangan itu lalu sampai di kubikel dan telinga Viona. Viona refleks melihat kalender meja di samping komputernya dan mengingat-ingat tanggal hari ini. Ia mencocokkannya dengan tanggal di kalender yang ia beri lingkaran merah. Waktunya tiba, desahnya.

Langkah gontainya kian bertambah-tambah ketika kakinya semakin mendekati kubikel paling ujung tempat si pemilik suara tadi bekerja. Ketukan pelan yang tak perlu di pembatas kubikel membuat Tari mendongak. Pandangannya tajam ke arah Viona, menusuk dari atas bingkai kacamata cat eye-nya.

“Deadline, Viona.” Kata Tari sambil menadahkan tangan, membuat Viona mengingat kembali kalimat-kalimat yang baru ia tulis. Belum sempurna dan belum pantas untuk diserahkan ke editor. Senyum Tari masih di sana, senyum manis yang membuat Viona merasa tak enak karena untuk ketiga kalinya ia bekerja tak sesuai jadwal. Tari bukannya tidak tahu bahwa Viona adalah penulis yang baik, juga pemerhati yang baik. Dan itu adalah modal yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang penulis artikel yang baik. Sebaliknya, Viona juga bukannya tak tahu kalau Tari sengaja menempatkannya di rubrik gosip artis hanya karena Viona memiliki beberapa teman baik yang juga adalah teman baik para artis. Tak bisa menolak permintaan Tari –mentornya, Viona pun didaulat menjadi penulis artikel di majalah tersebut.

“Mbak Tari, artikel saya…” Viona tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Kepalanya menunduk, memandangi sepatunya yang baik-baik saja.

“Nei, nei, nei…” Tari menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu tangannya terlipat di dada dan satu tangannya kembali ditadahkan. “Hari ini juga, artikel kamu harus masuk ke saya. Supaya saya masih punya waktu untuk mengomentari. Meskipun saya percaya tulisan kamu pasti bagus, tapi proses editing wajib saya lakukan.”

Tari berdiri dari kursinya. Menghampiri Viona lalu memegang kedua bahu karyawan favoritnya itu. “Silakan.” Katanya sambil memutar tubuh Viona dan mendorong Viona kembali ke kubikelnya.

Langkah Viona masih gontai. Tak berubah. Kembali menuju kubikelnya. Putus asa, tangan Viona meraih ponselnya dan mengetik cepat sebuah pesan kepada Juni.

Lo harus jemput gue sekarang!

*

“Lo tahu nggak masalah terbesar lo?”

Viona berlagak bego. “Kagak.”

“Masalah terbesar lo adalah lo jomlo.”

“Sial. Jomlo itu pilihan dan gue memang memilih untuk menjadi jomlo.”

“Tapi secara nggak sadar, lo jadi pemurung. Melakukan semua-semuanya sendiri dan mendadak menganggap lo mampu. Padahal nggak. Okelah, kalo lo berhasil menjadi penulis artikel keren dan artikel lo dibicarakan banyak orang, dan untuk bisa sinis kayak isi artikel lo, lo memang harus jomlo. Tapi kehidupan pekerjaan kayak gitu nggak akan bertahan lama. Ada momen-momen lo akan merindukan Panca untuk sekadar ada di samping lo pada saat-saat sulit kayak sekarang dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.”

“Nggak usah bahas mantan, deh.”

What? Tapi itu kenyataan. Dan lo nggak nggak bisa memungkiri kalau Panca masih menunggu lo. Dia nggak rela Lo putusin dengan alasan sibuk. Gila. Dan basi.”

Viona tak berkata-kata.

“Nih, coba.” Juni melemparkan pelan sebuah kartu ke tangan Viona.

*

Tiga minggu Viona mengabaikan kartu yang diberikan oleh Juni pada pertemuan mereka waktu itu. Di kartu tersebut ada nama dan nomor telepon juga situs sebuah biro jodoh. Biro jodoh! Mungkin Juni sudah gila. Riuh sendiri melihat kawannya yang semakin hari terlihat semakin kacau.

“Lo harus coba. Sekaliiii aja.” Kata Juni ketika itu.

“Cinta nggak bisa dipaksakan, Jun.”

“Tapi cinta bisa ditumbuhkan.”

“Kayak tanaman?” Viona berkata sinis.

Meski begitu, Viona menelepon We Match dan dua hari kemudian, Viona menerima balasan pesan yang memberitahukan tempat dan waktu ia akan berkencan dengan orang asing itu. We Match Juga memberitahu ciri-ciri laki-laki itu.

“Kemeja marun dan jeans. Jam tangan perak dan tato di punggung tangannya. Kami akan patikan bahwa ia yang akan lebih dulu tiba, dan ia akan meletakkan tangannya di atas meja supaya Anda bisa segera mengenalinya.”

Kupu-kupu beterbangan di perut Viona. Ia tak sanggup melakukan apa-apa, bahkan tak sanggup menelepon Juni untuk mengabarkan kemajuannya sejauh ini.

Viona mematut dirinya di depan cermin sekali lagi. Gaun selutut dengan potongan sederhana, berleher tinggi, tanpa lengan, sudah melekat indah di tubuhnya. Sepatu hak tinggi, dompet kecil, parfum favorit dan rambut digerai. Panca suka melihat rambutnya digerai.

“Ah, tidak. Tidak.”

Viona menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan Panca dari pikirannya. Toh keputusan untuk putus berasal dari dirinya. Ia tak boleh menyesali hal itu.

Restoran yang menjadi lokasi pertemuan, terlihat ramai. Viona mensyukuri hal tersebut. Setidaknya ia bisa mengalihkan pandangan ke orang-orang seandainya suasana mendadak kaku. Ia menghampiri petugas restoran dan menyebut We Match sebagai kata sandi, lalu si pelayan mengantarkannya ke sebuah meja.

Laki-laki itu duduk membelakanginya. Kemeja marun dan jeans, Viona memastikan. Jam tangan perak dan tato di punggung tangan kanan.

“Hai.” Sapa Viona ketika si pelayan meninggalkan mereka berdua. “Maaf karena sudah membuat kamu menungg…”

Si laki-laki berbalik dan Viona refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Panca ada di hadapannya!

“Ka-kamu?”

“Viona, aku mau minta maaf…”

Viona terlalu terkejut sehingga ia tidak mendengar kata-kata Panca yang demikian panjang.

Pada akhirnya, ia hanya mendengar, “Kamu mau memaafkan aku dan memberiku kesempatan kedua, kan?”

Kesempatan kedua. Barangkali hidup ini akan semakin mudah bila semakin banyak orang mau memberikan kesempatan kedua. Kata-kata Juni kembali terngiang di kepala Viona, “Lo yang memutuskan Panca karena sibuk. Padahal Panca nggak mau putus dari lo dan hidup lo berantakan kalau nggak ada dia. Panca masih cinta. Dan lo juga masih cinta dia. Sadar, deh.”

Dengan anggukan pelan dan doa panjangnya dalam hati, Viona berkata, “Semoga aku menang dalam permainan komitmen kali ini. Semoga kita menang.”

“Viona, kamu bilang apa? Permainan komitmen?”

Viona menghambur ke pelukan Panca. “Bukan, apa-apa. Aku baru sadar, kalau pelukan kamu adalah yang paling aku rindukan selama kita nggak bersama.”

Panca menyeka airmata yang membasahi pipi Viona. Dan di kejauhan, Juni tersenyum. Usahanya tak sia-sia.

***

Kumpulan Cerpen #1435Karakter

#1435Karakter adalah proyek kedua dari Thumbstory yang saya ikuti. Proyek menulis kali ini bertema Ramadan, dan yang membuat saya tertantang adalah jumlah karakternya. Cuma 1435. Karakter. Dan 1435 karakter itu hanya sekitar 150 kata. Bagaimana membuat cerita sepanjang 1435 karakter tetapi tetap memenuhi unsur-unsur cerita? Saya pikir, kebanyakan orang seperti saya. Kesulitan membuat cerita sependek itu. Ternyata, dugaan saya salah. Ada sekitar 300 lebih cerita pendek (banget) yang di-submit pengguna aplikasi Thumbstory. Selayaknya kontes, #1435Karakter ini juga mencari tiga orang pemenang. Selain itu, 25 cerita terpilih akan dibukukan dalam e-book kumpulan cerita untuk kemudian dibagikan gratis.

Ada yang belum punya e-booknya? Silakan baca di sini.

Picture1

Ada satu cerita saya di sana, lho. ^^ #Penting

Picture2

 

Saya sendiri sudah membaca e-book #1435karakter ini dan saya mendapat banyak kejutan di dalamnya.

Hal-hal yang identik dengan Ramadan dan Lebaran akan banyak kita temui di kumcer ini. Ya iyalah. Hal meminta maaf, seperti yang diceritakan oleh BenefitaIntan dalam cerita berjudul Jadi Waktu Itu. Kata Benefita, meminta maaf itu semudah menghapus draft obrolan yang isinya membela diri lalu menggantinya dengan kata-kata maaf.

Hal identik lainnya terkait Ramadan adalah rutinitas pulang (baik ke kampung halaman atau juga ke sisi-Nya). Yang unik, ada tiga cerita berjudul sama: Pulang. *tepuk tangan* menandakan betapa Ramadan mengingatkan kita akan rumah, suatu tempat yang menjadi tujuan kita pulang dan menghabiskan waktu-waktu menyenangkan dengan orang-orang terdekat. Lama tak pulang? Yuk, baca cerita mereka tentang pulang. Barangkali bisa sedikit mengobati rindu pada rumah.

Pulang – Aizeindra

Ramadan Sepuluh Tahun Lalu – Mazmo

Ramadhan untuk Alif – Zaraharwieny

Tema berikutnya adalah mengenai hidayah. Seberapa banyak dari kita yang mendapat hidayah di bulan Ramadan? Tokoh dalam cerita-cerita berikut ini juga mengalami hal yang sama, lho. You are not alone. :))

Sinar Penyelamatku – Daisynta

Pencuri Bulan Ramadhan – Kiantiazizah

Kusyuk – Silvanmarss

Menjalani Ramadan tanpa orang-orang kesayangan? Kalau iya, artinya nasibmu sama dengan tokoh rekaan mereka:

Kenangan – Jungcookie

Ramadhan di Negeri Orang – Glowinggrant

Oh, bahkan Ramadan yang di satu sisi merupakan sebuah perayaan, juga menyimpan kesedihan bernama kehilangan. Telusuri apa yang hilang dari mereka di cerita-cerita berikut:

Pulang – Phelinafelim

TeguranMu – Ria_Indria08

Tik Tik Tik – Sofwan

Kemudian, pada akhirnya, yang kita inginkan adalah bahagia. Tawa. Seperti perasaan yang dibawa oleh cerita ini. Catatan: baca cerita-cerita berikut bersama seseorang, supaya kalian tidak dipandang aneh karena senyum-senyum sendiri. :))

THR – Amaniaghina

Tehku, Kak – Fahasyatta

*

Meskipun #1435Karakter bertema Ramadan tetapi nilai-nilai yang disampaikan cerita-cerita yang ada, berlaku setiap saat. Sepanjang tahun. Dengan kata lain, kita bisa mengalami kehilangan, hidayah, tawa atau bahkan kepulangan kapan saja. Sehingga kumpulan cerpen #1435Karakter ini bisa kita nikmati kapan saja. Tidak perlu menunggu saat-saat tertentu. Atau kalau mau, ketika memerlukan saran, boleh juga kita buka kumcer ini dan berhenti di halaman acak. Barangkali di cerita tersebut tersembunyi jawaban atas permasalahan-permasalahan.

Secara keseluruhan, meski masih ada beberapa typo, kesalahan EYD, cerita yang tidak sesuai tema (Ramadan/Lebaran), dsb, tetapi cerita-cerita dalam Kumpulan Cerpen #1435Karakter ini sangat bisa dinikmati. Dan sebagai salah satu yang ceritanya terpilih, tentu saya wajib mengucapkan terima kasih kepada Thumbstory atas proyek ini.

So, jangan ragu buka link-nya dan baca e-book ini. Kepada Thumbstory, ditunggu proyek menulis lainnya. Kepada kamu kamu kamu, sampai jumpa di proyek menulis Thumbstory berikutnya, dan semoga kita berjodoh dalam e-book yang lain. \m/

***