Paradoks

mengingat Kau berarti mengingat setiap desah napas
yang masuk dan yang keluar semestinya berbeda
mencari titik seimbangnya senantiasa

tetapi jiwa-jiwa baru ini kerap lupa
bahwa yang seimbang bukan putih-putih
bukan hitam-hitam
melainkan hitam-putih
atau putih-hitam
atau masuk-keluar
atau Kau-aku

yang menyala bisa padam
yang padam bisa menyala
ketika cahaya yang kaubuat membuat orang lain tercerahkan
atau gelapnya dirimu memengaruhi pandangan jiwa-jiwa di sekitarmu
seimbang itu mencari-cari titiknya lagi
agar dalam gelap semua tercerahkan
atau di sekitar cahaya semua tak menafikan bayangan

mengingat Kau berarti mengingat diri sendiri
bahwa yang disebut seimbang adalah Kau-aku
berhenti di setiap perjalanan
berjalan di setiap perhentian
menengok kiri-kanan
depan-belakang
atas-bawah
semua penjuru
tempat datangnya baik-buruk

mengingat Kau berarti mengingat mimpi
hingga aku terbangun dengan alir keringat deras
ketakutan tak bisa hilang
hangat atau embus ketenangan dari orang-orang
tak mampu seimbangkan deru napas
masuk-keluar
hanya kesadaran bahwa kita berada pada
sebuah tempat yang masih berat sebelah
fana

dan titik seimbang itu akan terwujud ketika
kaki-kaki lelah kita sampai di tujuan
menginjak rumput hijau yang tak pernah kering
musim yang tak pernah ekstrim
cahaya yang tak pernah benderang
tepat
pas
penyeimbang fana
yang dapat dituju melalui hanya satu jalan

 

***

[Flash Fiction] 24 x 60 x 60

“24 x 60 x 60.”

Ruli mendorong kotak kardus tersebut kembali ke bawah meja belajar. Meletakkan penggaris. Beranjak ke rak buku di sisi kamar yang lain. Menarik lagi kotak kardus lain. Diukurnya lagi panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus tersebut.

“24 x 60 x 60.”

Lalu ia mengitari kamarnya. Mencari kotak kardus yang lain.

Kegiatan ini akan berlangsung sampai petang. Berhenti untuk sebentar saja. Karena setelah mandi, makan malam, dan merapikan beberapa barang di bagian rumah yang lain selain kamarnya–yang ini ia lakukan berkali-kali pula–Ruli akan kembali menyibukkan diri dengan penggaris dan kardus kesayangannya.

Keesokan paginya, ia sibuk mengukur kardusnya lagi, memastikan bahwa kardus tersebut masih berukuran 24 x 60 x 60.

“24 x 60 x 60.” gumamnya

“Kamu sudah mengukur kardus itu berkali-kali berhari-hari, Nak.” Aku tak tahan.

Ruli diam.

“Ukurannya tidak akan berubah, jadi kamu tak perlu terus-terusan mengukurnya.” Aku menunduk. Malu. Merasa kalah oleh seorang anak yang bahkan belum fasih berkata-kata. Bisa kudengar Ruli masih sibuk dengan kegiatannya. Aku memutuskan untuk menjauh. Sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatian Ruli.

Ah, tentu saja!

Lalu kuambil barang-barang dan meletakkan barang-barang itu tidak pada tempatnya.

***

4 Musim Cinta: Sebuah Kolaborasi

image3

Ada kabar gembira!!! 😀

Draft novel kolaborasi dari program Antologi Perbendaharaan itu akhirnya menemukan jodoh( penerbit)nya. :’) Terima kasih kepada penerbit Exchange (satu grup dengan penerbit Dolphin) yang telah menerima naskah kami dengan baik, lalu menyunting, membuatkan cover, serta segala proses yang dilakukan sehingga novel yang berjudul 4 Musim Cinta (dulu berjudul Hoffee) tak lama lagi akan bisa dinikmati pembaca di seluruh Indonesia.

Sekilas tentang 4 Musim Cinta. Novel ini adalah novel kolaborasi empat orang birokrat muda bernama Pringadi Abdi Surya, Abdul Gafur, Puguh Hermawan, dan saya (Mandewi). Kolaborasi ini berawal dari lomba menulis yang diadakan dalam rangka satu dekade instansi tempat kami bekerja. Hasil dari lomba tersebut, salah satunya, adalah juri mengajak peraih empat besar (lomba) untuk menulis bersama.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya novel ini rampung dan kami mencoba menawarkan ke beberapa penerbit. Ternyata naskah ini berjodoh dengan penerbit Exchange. Sekali lagi, terima kasih. ❤

Dalam waktu dekat, 4 Musim Cinta akan beredar di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Tetapi bagi kalian yang mau mendapatkan novel ini lebih cepat (plus tanda tangan keempat penulisnya!), kami membuka pre-order (PO) dengan detail sebagai berikut:

1. PO dibuka hingga tanggal 12 Maret 2015.
2. Di toko buku, 4 Musim Cinta akan dihargai Rp 59.500,- tetapi selama periode PO, kalian cukup membayar Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
3. Silakan melakukan pemesanan melalui salah satu dari keempat penulis: @pringadi_as, @daenggafur, @hermawanpuguh, atau saya @mandewi.
4. Buku akan ada di tangan kami pertengahan Maret dan akan dikirim kepada pemesan segera setelahnya.

*

Sebagai gambaran, detail buku adalah sebagai berikut:

image1 Judul: 4 Musim Cinta
Penulis: Abdul Gafur, Pringadi AS, Puguh Hermawan, Mandewi
Penerbit: Exchange
Tahun Terbit: Maret 2015
Jumlah Halaman: 333
ISBN: 9786027202429

Blurb:

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

*

4 Musim Cinta juga sudah terdaftar di Goodreads dan kami sangat mengharapkan kesediaan kalian untuk memberi rating. Berikut tautannya:

4 Musim Cinta di Goodreads

Ayo, ikut PO dan jadi yang pertama membaca serta memberikan komentar. \m/

***