[Flash Fiction] Someone Like You

Malam ketiga. Gigil kesekian. Julian tak henti mencangkuli tanah di hadapannya. Setiap kali secuil bagian peti terlihat, semangatnya bertambah. Gigilnya mereda. Berganti senyum yang mencerahkan wajah. Menyaingi bulan di atas sana.

“Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya.” Julian melompat ke luar lubang galiannya. Mengulang-ulang ucapannya.

Malam berikutnya. “Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air.”

Julian menutup kembali galiannya lalu pergi dengan gigil di seluruh tubuhnya.

Malam berikutnya, “Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang.”

Ia melompat keluar lubang galian dengan gusar. Sambil berjalan cepat dengan kepal tangan yang mengeras, air matanya menderas. “Tak ada, Sayang. Tak ada yang seperti kamu. Harus kugali berapa banyak lagi? Berapa?!”

Di kepala Julian, membayang tubuh kaku kekasihnya di ruang bawah tanah, menunggu bulu mata, jemari serta kuku masa mudanya dulu.

***

Nama Tokoh dan Cerita di Baliknya

Ketika ingin menulis cerita tetapi merasa tidak mempunyai ide (cerita) yang oke–padahal ide ada di mana-mana–kita bisa mulai dengan merumuskan tokoh. Kenapa merumuskan tokoh? Salah satunya, adalah karena dalam tokoh yang ingin dirumuskan, sudah ada konflik yang terkandung dan bisa dikembangkan menjadi cerita. Tinggal ajukan pertanyaan ‘apa’, ‘kenapa’, ‘bagaimana’, dan sebagainya.

Misal kita merasa bahwa kebanyakan tokoh cerita novel yang terkenal digambarkan sebagai orang yang tampan, kaya, romantis. Lalu kita ingin merumuskan tokoh yang sebaliknya. Tidak tampan, tidak kaya, tidak tahu bagaimana caranya membuat perempuan tersipu. Halah. Mulailah ajukan pertanyaan, kenapa A tidak tampan? Apa karena kedua orangtuanya tidak tampan? Atau sebenarnya ia tampan tetapi pernah mengalami kecelakaan yang berakibat pada kerusakan wajahnya? Wajah bagian mana? Atau, bisa jadi kedua orangtuanya tampan, tetapi ayah yang selama ini mengasuhnya bukanlah ayah kandungnya–if you know what I mean, dan wajah tidak tampan itu adalah warisan dari si ayah kandung.

Dengan menggunakan satu kata tanya ‘apa’, tokoh kita sudah punya banyak hal yang bisa jadi konflik cerita. Silakan kembangkan dengan mengajukan pertanyaan ‘kenapa’.

Terkait dengan merumuskan tokoh, kita juga bisa memulai dengan membuat nama. Asal saja, pada awalnya. Lalu, seperti kata Arswendo, nama tertentu akan memberi kemungkinan suasana dan latar belakang masing-masing. Setelah membuat nama, silakan dikhayalkan. Nama seperti itu membuat kita merasakan suasana seperti apa (Eh, ini mirip dengan cara ketiga menulis puisi. ^^). Setelah menemukan suasana yang dirasa pas, mulai lagi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengembangkan cerita.

*

Jadi gini, beberapa hari yang lalu, saya iseng mengadakan kuis bertagar #KuisDadakan di Twitter. Kuis tersebut adalah kuis membuat nama panjang tokoh. Saya menemukan sebuah kata menarik untuk dijadikan nama tokoh: KONA. Dari nama (pendek) Kona tersebut, saya mengajak peserta untuk ramai-ramai membuat nama lengkap si tokoh plus ciri khas tokoh tersebut. Berikut ini adalah jawaban-jawaban yang masuk plus komentar (sok tahu) saya. 🙂

 

IMG_4893

Ide memadukan dua asal negara ke dalam nama, adalah ide brilian. Tetapi untuk kasus Konani Rahardi ini perpaduannya agak kurang halus. Nama depan dan nama belakang terdengar bertolak belakang, semacam Pervert Bersahaja.. 😀

IMG_4894

Lakona Baswara, bagus. Bagi saya, agar terdengar lebih sejalan, barangkali ‘sangat cinta kebersihan’ lebih baik diganti dengan ‘disiplin’. Disiplin lebih masuk akal dan sesuai dengan ambisinya untuk selalu jadi nomor satu.

IMG_4895

Untuk nama se-ndeso Markonah Rohman (oke, sorry. ^^), agak kurang bisa saya terima apabila ia memiliki keinginan untuk mengganti nama hanya karena membaca komik. Akan menjadi masuk akal kalau ada keterangan tambahan bahwa ia orang desa yang mendadak hidup di kota besar dan malu dengan nama yang ndeso itu.

IMG_4896

Di telinga saya, nama Silvakona Praedevi lebih terdengar maskulin, pemberani, kurang lembut/girly. Mmm.. Barangkali masalahnya ada di telinga saya. Ehehe..

IMG_4900

IMG_4901

IMG_4903

Ada juga beberapa nama yang diajukan di atas dalam rangka iseng dan main-main, tetapi tidak ada larangan untuk benar-benar menggunakannya dalam cerita, kan? :))

Juri #KuisDadakan lalu memilih dua orang sebagai pemenang, yaitu Aryakona Kalyan (milik @Kim_Irfanovic) dan Konaroh (milik @BeningZa).

(Nama) Aryakona Kalyan ini otomatis membuat saya membayangkan dunia persilatan. Ahaha.. Jadi, Kona ini menjalani semacam latihan silat di pegunungan sana, tempat para master silat bermukim (sesuai dengan deskripsi Kona yang gagah dan tegas). Latar belakangnya sampai latihan silat hingga jauh? Klasik, putus cinta. Lalu setelah selesai menjalani latihan dalam jangka waktu yang cukup lama, ia masih kagok dengan dunia nyata (dunia nyata, omg). Belum bisa menyesuaikan diri sehingga ia kesulitan menemukan teman (sesuai dengan deskripsi Kona yang katanya kesepian).

(Nama) Konaroh, tak perlu dijelaskan, ya. Dari namanya sudah terbayang suasana masyarakat kelas (menengah ke) bawah. Hal ini semakin diperkuat dengan deskripsi yang diberikan. Janda, penjual nasi pecel di sudut pasar rakyat, menjadi tulang punggung tiga anak yang masih kecil. Pas.

Sebenarnya saya suka nama Semi Ikonanda, tetapi deskripsi nama ‘pemilik kebun bunga terbesar di negaranya’ bagi saya akan menjadi lebih bagus bila ditambahkan ‘warisan dari orangtuanya’. Karena menurut suasana yang saya dapat ketika mendengar nama ini, usia Semi Ikonanda masih sangatlah muda sehingga tidak mungkin dia bisa menjadi pemilik kebun bunga terbesar kalau bukan dari warisan.

Dari nama-nama tersebut sudah tersirat cerita yang bisa dikembangkan menjadi cerpen atau novel, kan? 😀

*

Ngomong-ngomong soal nama tokoh, mungkinkah seorang tukang koran mempunyai nama Gerald? Ataukah seorang tukang koran sebaiknya bernama Gimin?  Tidak masalah, ya bila kamu memberi pekerjaan tukang koran kepada nama Gerald yang kamu tentukan. Justru keputusan itu bisa jadi bahan untuk membuat cerita yang berbeda. Mulailah ajukan pertanyaan-pertanyaan.

*

Terakhir, dari banyaknya alternatif nama yang muncul dari (satu) kata Kona, ternyata membuat nama panjang (tokoh) tidaklah terlalu sulit, ya? *brb bikin nama buat anak kelak* Ehe he he..

 

***

[Cerpen] Ning

Ibu selalu pergi ketika matahari masih sangat jauh bahkan untuk membuat terang pucuk pohon tertinggi di halaman rumah Ning. Lalu ia akan kembali ketika matahari sudah jauh meninggalkan pucuk yang sama dari sisi yang berlawanan. Untuk bergantian dengan bulan. Ibu selalu begitu setiap hari.

“Ning, kamu tinggal di rumah. Jangan ke mana-mana. Tunggu ibu saja sampai ibu pulang sore nanti.”

“Malam.” Ning mengoreksi kata-kata Ibu.

“Iya, malam.”

“Ning mau ikut Ibu ke pasar.”

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar. Sudah setinggi ini.”

Perempuan bertubuh kurus, berkulit wajah keriput –padahal Ning, anak satu-satunya, baru berusia sembilan tahun, dan terlihat lemah itu menaikkan tangannya setinggi bahu. Telapaknya mengarah ke tanah. Ning berusaha menggapai-gapai telapak tangan itu lalu menyejajarkannya dengan ujung kepalanya. Ning ingin menunjukkan bahwa ia sudah memenuhi kriteria Ibu agar diperbolehkan ikut ke pasar.

“Sudah sama tinggi, kan Bu?”

Ibu tersenyum sedetik, tanpa memandang Ning. Lalu kembali sibuk dengan besek-besek bambu berisi aneka dagangan. Ia bolak balik dari mulut dapur ke sebuah meja yang salah satu kakinya bukan lagi berbahan kayu seperti kaki-kaki lain, melainkan berupa tumpukan batu pipih. Besek pertama ia isi dengan nasi putih yang uapnya masih mengepul panas. Beralas daun pisang dan ditutup daun pisang. Besek kedua ia isi dengan urap yang bumbu kelapanya masih terpisah. Besek ketiga berisi aneka macam lauk. Besek-besek itu besek kecil saja, yang hanya memuat sekian belas porsi makanan. Artinya, tidak banyak yang harus dijual Ibu setiap harinya, tetapi ia selalu kembali saat matahari sudah tak di tempatnya. Sampai sekarang Ning tidak tahu mengapa Ibu membutuhkan waktu yang begitu lama untuk menghabiskan dagangan lalu pulang.

“Kapan Ning akan setinggi itu?” Kata Ning sambil membersihkan ingus dengan baju lusuhnya.

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar.”

Jawaban Ibu tidak memuaskan dada Ning. Ia mengekor Ibu ke dalam kamar. Ibu akan mengambil kain untuk mengalasi tumpukan besek-besek agar tidak langsung bersentuhan dengan kepalanya, sekaligus menghindari anak-anak rambutnya menyangkut di sulaman besek.

“Ning bisa bantu Ibu jualan. Ning sudah bisa berhitung. Ning juga bisa menyunggi besek-besek itu tanpa memegangnya. Ibu mau lihat? Sini Ning yang menyunggi.”

Ibu tidak meluluskan keinginan Ning. Ia terus melilitkan kain yang baru diambilnya, di telapak tangannya. Ia keluarkan kumparan itu lalu meletakkan kain yang sekarang serupa donat di atas kepalanya.

“Bu, Ning mau ikut.” Ning menarik-narik kain yang meliliti tubuh bagian bawah Ibu.

“Nanti, Ning. Kalau Ning sudah besar.”

Ning mengikuti Ibu ke luar rumah. Keinginannya tidak dihiraukan. Ia berdiri sambil melingkarkan tangannya di pilar kayu sebelah kanan. Ibu menjauh. Besek bertumpuk tiga yang ia sunggi di kepalanya, menjadi bagian tubuh Ibu yang paling terakhir dilihat Ning.

Ning beranjak ke dipan kayu yang ada di beranda rumahnya lalu tertidur.

*

Matahari muncul di sela dedaunan. Sinarnya menembus gemerisik daun yang sibuk berbisik. Ning mengerjap dan medudukkan tubuhnya dengan malas. Dipan kayu itu mengerit pelan.

“Sudah terang, ya. Saatnya membangunkan Ibu.”

Ning berdiri. Kaki-kaki kecilnya telanjang, menjejak lantai rumahnya yang terbuat dari tanah yang mengeras. Dingin. Ning berjinjit-jinjit, pelan, menuju kamar Ibu yang pintunya telah terbuka sedikit. Ning mendorong pintu itu tetapi tidak melihat Ibu di atas tempat tidurnya.

“Ibu di dapur, ya.” Ning berkata pada dirinya sendiri lalu memutar langkah.

Ringis pelan terdengar dari mulutnya. Sementara itu, tangannya mengusap-usap perut laparnya. Bau nasi putih yang baru matang menyeruak dari arah belakang rumah tempat dapur berada. Ning menghirup udara dalam-dalam.

“Ibu, Ning lapar.”

Ning melangkah dengan tak sabar tetapi kakinya membeku di pintu dapur. Pandangan matanya melemah seperti orang yang baru saja memakan makanan hambar. Ia menghadapi dapur yang kosong. Mulut dapur berisi kayu bakar yang tinggal arang. Tidak menyisakan bara sama sekali. Ning mendekati dua kuali yang kemudian ia goyang-goyangkan. Kosong.

“Ibu, Ning lapar.”

Ning berbalik, lupa mencari Ibu, menjelajahi seluruh ruangan dengan matanya, mencari-cari apa yang bisa ia lakukan. Didekatinya sebuah kursi kayu, ditariknya kursi tersebut ke arah lemari, dijadikannya tangga agar bisa menggapai lemari tinggi yang menempel di dinding. Biasanya Ibu menyimpan bahan makanan di sana. Beras, beberapa butir telur juga bumbu-bumbu. Makanan yang Ibu masak untuk dijual juga biasa disisakan sedikit untuk Ning lalu diletakkan di dalam lemari yang sama. Dengan susah payah, Ning membuka pintu lemari. Tangannya meraba-raba tapi tak menemukan apa-apa. Perutnya terasa semakin melilit. Ia turun dari kursi dan berlari ke belakang rumah. Kalau tak ada makanan, barangkali masih ada air untuk diminum. Ning melongok ke dalam tempayan besar tanpa tutup tempat menampung air hujan. Kering.

Ibu memasak makanan tetapi tidak menyisakan sedikitpun untuknya. Semuanya ia jual. Dijadikan uang. Tetapi Ning dibiarkan dengan rasa lapar. Ibu bilang, Ning tidak boleh kemana-mana. Ia harus tetap di rumah hingga Ibu pulang. Tetapi otot-otot perutnya semakin tegang. Sampai kapan Ning bisa menahan rasa lapar?

Ning kembali ke beranda dan membaringkan dirinya di dipan kayu yang mengerit ketika ia naiki. Kedua tangannya terlipat di atas perut. Ning mulai menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan Ibu untuknya dulu. Senandung yang ia harap dapat membuatnya lupa bahwa perut bisa merasa lapar.

 

Putri cening ayu
Ngijeng cening jumah
Meme luas malu
Ke peken mebelanje
Apang ade darang nasi… *)

 

Matahari semakin tinggi. Berkasnya pas mengenai wajah Ning. Angin sepoi-sepoi membelai matanya juga khayalannya.

*

Tak ingat berapa lama Ning tertidur, matanya kini terbuka dan pandangannya samar. Angin berembus pelan dan matanya menutup lagi. Cahaya bulan sudah menembus dedaunan ketika angin berembus berulang-ulang. Meniupkan kesadaran Ning lalu menariknya lagi. Sadar, lalu lupa lagi.

“Ning sekarang sudah besar. Sudah setinggi bahu Ibu. Artinya apa?”

Bisik Ibu terdengar di telinganya. Suara itu tersenyum.

“Artinya Ning sudah boleh ikut Ibu ke pasar.” Gumam Ning dalam gelap matanya, membalas pernyataan Ibu.

“Ning, sekarang sudah boleh ikut Ibu ke pasar.”

Ning membuka matanya. Ia pikir terang yang menyilaukan matanya adalah cahaya matahari yang telah meninggi. Nyatanya, sekelilingnya masih dilingkupi gelap. Entah menjelang pagi atau baru menginjak malam. Rumah-rumah yang lain terletak berjauhan. Tak ada yang saling mengingatkan ini itu. Suara kokok ayam di kejauhan juga tak memberi kepastian waktu. Ayam berkokok sekehendak hatinya.

Ning duduk di pinggiran dipan. Kakinya menggantung, sedikit lagi sudah bisa menyentuh lantai tanah. “Ibu bilang Ning sudah besar. Ibu bilang Ning sudah setinggi bahunya.” Ning mengayun-ayunkan kakinya dengan senang. “Ibu bilang Ning sudah boleh ikut ke pasar.”

Ning berlari ke dalam rumah mencari Ibu.

“Ibu, ayo ke pasar. Ning ikut. Ning kan sudah besar.”

Tidak ada jawaban didengar Ning.

“Ibu… Ibu…”

Ning mendorong pintu kamar Ibu yang telah terbuka sedikit. Tidak ada siapa-siapa. Ning berlari ke dapur dan dapur kosong saja. Besek-besek yang Ibu gunakan untuk berjualan juga tidak ada di tempatnya. Bahan makanan yang biasa terserak di lantai dapur kala Ibu menyiapkan jualannya juga tidak ada. Tidak ada Ibu di mana-mana. Tidak ada jejak Ibu di mana-mana. Perut Ning melilit karena rasa lapar itu muncul lagi. Ia meringis. Kali ini sambil menangis.

“Ibu… Ibu di mana?”

Ning mulai merengek takut. Untuk pertama kalinya, berada dalam gelap seperti ini membuat darahnya berdesir.

“Ibuuu….”

Ning semakin takut. Rengekannya semakin keras. Airmatanya semakin deras. Ia berjalan pelan ke arah depan rumah, sambil mengusap wajahnya yang basah dengan baju lusuhnya.

“Ning mau ikut ke pasar. Ibu di mana? Ibuuu…” Ning berbicara pada ruang kosong di sekelilingnya. “Sudah hampir pagi, Bu. Ibu sudah ke pasar, ya? Ning menyusul, ya?”

Ning berjalan ke kamar Ibu lalu membuka lemari tempat Ibu menyimpan beberapa potong baju milik Ning. Diambilnya baju terbagus yang ia punya.

Setelah mengganti baju lusuh yang ia pakai dengan baju bagus miliknya, Ning mulai melangkah menjauhi rumah. Ia berjalan terus mengikuti jalan setapak yang terbentuk begitu saja karena sering dilalui orang-orang. Barangkali itulah jalan yang juga dilalui Ibu ke pasar setiap hari.

Tangisnya belum reda. Rasa laparnya juga. Ning berjalan sambil terisak. Sesekali ia mengusap airmatanya dengan baju bagusnya. Awalnya ia merasa sayang mengotori baju bagusnya, tapi tak ada pilihan lain.

“Ibu, tunggu Ning.” Ia berteriak seolah-olah  ia hanya tertinggal beberapa langkah di belakang Ibu. Langkahnya semakin cepat. Melewati pepohonan dan tanaman demi tanaman. Mengikuti jalan setapak yang tadinya jelas dan besar, tapi semakin lama semakin pudar.

“Ibu… Jangan tinggalkan Ning sendirian.”

Ning berhenti berlari. Ia melihat sekeliling. Jalan setapak itu kini telah benar-benar hilang. Ia tak tahu harus berlari ke arah mana lagi.

“Ibuuu…”

Ning mulai berlari lagi, ke sembarang arah. Bulir airmata yang jatuh ke pipinya terbawa angin ke arah belakang.

Ning mengejar Ibu. Terus berlari dari gelap hingga gelap lagi.

Ning mencari Ibu.

Ning menyusul Ibu.

Yang barangkali lupa bahwa Ning terus menunggu.

***

 

—–

*) Lagu daerah Bali yang berjudul Putri Cening Ayu, dan bait lagu ini berarti:
Putri kecilku yang cantik
Tinggal dan jaga rumah, ya
Ibu pergi dulu, berbelanja ke pasar
Agar ada lauk untuk dimakan…

**) Terinspirasi menulis ini setelah membaca cerpen berjudul Perempuan yang Berumah di Rumpun Bambu karya Putu Fajar Arcana di buku kumpulan cerpen Dari Datuk ke Sakura Emas. :))