40th

Pepatah ‘life begins at 40‘ ternyata terjadi di saya.

Setelah 4,5 tahun tinggal di satu kota dan merasa hidup begitu begitu saja, akhirnya saya pindah kota satu bulan sebelum peringatan 40th.

Orang lain boleh menganggap ini dramatisasi, tapi saya menganggap ini sebagai romantisasi. Menangkap momen sederhana dan membesar-besarkannya sambil meletakkan tangan di dada dan berseru lembut ‘aww…’

Pindah ke tempat baru, mau tak mau, akan muncul pembandingan demi pembandingan. Di kantor lama, semua serba ada dan serba bagus. Di kantor baru, not so much. Tapi setelah satu bulan tinggal di sini, saya bisa melihat hal lain, selain kondisi kantor, yang sebenarnya bagus dan bikin saya sekali lagi merasa bersyukur dan berterima kasih.

Dan demikianlah, bila ditarik jauh mundur ke belakang, saya harus mengaku bahwa hidup saya penuh privilese.

Lahir dan besar di keluarga yang berkecukupan, tidak kaya tapi cukup. Setidaknya bapak ibu masih mampu membelikan hadiah ketika nilai rapor anak-anaknya lumayan bagus. Selain itu, kalau diingat-ingat lagi, orangtua kami sangat gencar mengajak kami mencoba berbagai hal; diikutkan les mata pelajaran termasuk Bahasa Inggris, diajak main air (baca: berenang), dibelikan raket bukutangkis, dibelikan catur, dibelikan komputer, dibelikan gitar, dibelikan buku bacaan. Dulu rasanya itu hal biasa, tapi begitu mulai terpapar medsos dan berbagai konten soal parenting, baru ngeh kalau orangtua kami sedang membaca bakat anak-anaknya.

Meskipun ternyata, tidak ada dari kami yang suka dan mendalami olahraga dan seni. Semua anak bapak ibu punya kecenderungan ke sisi akademik. Mungkin ada faktor bawaan dari mereka berdua yang berprofesi sebagai guru.

Fast forward ke masa setelah lulus SMA. Saya kuliah dengan baik di tempat yang baik, lanjut bekerja di tempat yang baik, lanjut kuliah S1 dan S2 dengan beasiswa, hingga sekarang posisi di tempat kerja juga lebih baik lagi.

If this is not privilege, then I don’t know what is.

Anyway, happy birthday to me. Welcome to the 40s club. Tidak tahu harus bilang apa, atau berharap apa, atau berdoa apa di usia yang baru ini. Entah karena belum punya goals baru atau karena lebih go with the flow dalam menjalani hidup, atau karena baru pindah jadi masih excited, semua hal terasa oke saja. Termasuk mengenai kondisi ibu yang lagi menjalani masa pemulihan dan tiket konser yang sudah terlanjur dibeli jauh-jauh hari sebelum pindah. Rasanya semua akan menjadi baik pada akhirnya.

Bicara soal hal-hal baik, pas banget tadi scrolling instagram dan menemukan beberapa unggahan mengenai Scorpio di Scorpio season ini. Ada banyak yang menarik dan sepertinya ini yang paling membumi. Berhubung belum punya harapan khusus, bagus juga kalau tulisan ini diabadikan di sini. Anggap resolusi? Why not. Menjadikannya titik mula untuk menjalani hari tua yang lebih zen.

***

Ber-ada di Kuil Otagi Nenbutsu-ji

Di Jepang, shrine (tempat ibadah penganut Shinto) dan temple (kuil untuk penganut Buddha) menjadi ‘destinasi wisata’ yang populer. Ada yang datang untuk sekaligus berdoa, ada juga yang datang murni untuk tujuan wisata. Saya termasuk yang kedua, mendatangi shrine dan temple untuk melihat keunikan tempat tersebut sehingga bisa menjadi destinasi wisata terkenal. Khusus untuk shrine, alasan kunjungan saya juga untuk mengambil ramalan dan membeli jimat (cerita detil akan ditulis kemudian).

Pada suatu kali, jalan-jalan saya ke Jepang membawa kaki ini melangkah ke Otagi Nenbutsu-ji Temple. Alasan saya memilih Kuil Otagi untuk masuk ke daftar destinasi yaitu informasi awal mengenai adanya ribuan patung Buddha yang menghiasi tempat ini. Menurut saya, ini unik. Umumnya, kuil hanya berisi satu patung Buddha utama yang menjadi main attraction. Kalau sebuah kuil dihiasi ribuan patung Buddha, patung mana yang paling penting dan wajib dilihat/diperhatikan/dinikmati? Seberapa luas kuil tersebut untuk bisa menampung ribuan patung? Seperti apa cerita di balik banyaknya patung Buddha tersebut?

Dikutip dari selebaran yang dibagikan di pintu masuk, beginilah cerita singkat mengenai pembangunan serta restorasi Kuil Otagi.

Pada tahun 766, Kuil Otagi pertama kali dibangun di daerah Gion atas perintah Emperor Shotoku. Kemudian di awal Periode Heian (794 – 1192), kuil ini hancur sebagai dampak meluapnya Sungai Kamo. Kuil Otagi dibangun kembali pada rentang 918 – 984. Pada tahun 1922, Kuil Otagi dipindahkan ke lokasi sekarang (Ukyo Ward) dengan tujuan untuk dijaga kelestariannya. Namun, di lokasi yang baru, Kuil Otagi tidak terhindar dari bencana alam seperti angin topan.

Transformasi artistik atas Kuil Otagi dimulai ketika kuil ini dikelola oleh Kocho Nishimura, seorang pemahat dan restorer yang menjadi biksu. Proses transformasi dikerjakan selama sepuluh tahun dimulai di tahun 1981. Proyek utama restorasi yaitu memahat 1.200 rakan, patung yang merepresentasikan pengikut Buddha. Rakan yang nantinya akan ditempatkan di area Kuil Otagi tersebut dipahat oleh para penganut Buddha yang melakukan perjalanan suci untuk mendalami seni memahat. Setiap patung dibuat sebagai sebuah karya yang unik, spesifik, dan personal. Ada patung dengan ekspresi serius berdoa, tertawa, atau memegang objek yang menunjukkan hobi atau renjana para pemahat.

Kuil Otagi terletak di area yang cukup sepi, jauh dari perumahan penduduk, dan karena lokasinya di bukit maka kuil ini sangat hijau. Bangunannya memang persis di pinggir jalan utama, namun tidak banyak kendaraan yang lewat di daerah itu. Tidak hanya pepohonan besar dan tinggi yang menghiasi area kuil, tetapi juga rumput dan tanaman rambat masih dipelihara. Tidak ketinggalan, lumut yang menutupi sebagian besar rakan pun tidak dibersihkan, which is good.

Sejak memasuki gerbang utama, saya sudah merasakan magisnya Kuil Otagi. Rakan sudah mulai menyambut di tangga naik menuju bangunan utama. Dan berlanjut terus sampai ke bangunan kuil dan sekitarnya. Banyak rakan yang terletak begitu saja di halaman kuil, namun lebih banyak lagi yang terletak jauh dan tinggi di lereng bukit tanpa ada tangga yang memadai untuk mencapainya. Selesai berkeliling, saya menyempatkan duduk-duduk di teras kuil. Angin sepoi-sepoi membuat pepohonan besar melambaikan daunnya, menghasilkan suara alam yang menenangkan. Ibaratnya, mengunjungi kuil ini seperti masuk ke universe lain. Universe yang mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menikmati momen ini, saat ini. Ber-ada. Be present.

Beruntungnya memasukkan Kuil Otagi ke dalam itinerary. Healing, tapi di level yang berbeda.

__

Cara menuju ke Kuil Otagi Nenbutsu-ji:

Dari pintu masuk Arashiyama Bamboo Forest, cari halte bus terdekat. Bus menuju ke Kuil Otagi yaitu bus nomor 94. Durasi perjalanan sekitar 20 menit dan tarif bus 230 yen (di Kyoto, tarif bus jauh-dekat sama yaitu 230 yen).

Jam operasional: 09.00 am – 4.15 pm (tutup setiap hari Rabu)

Tiket masuk: 500 yen.