Workshop Cerpen Kompas 2015

046a

Menjadi salah satu dari tiga puluh orang yang berhak mengikuti Workshop Cerpen Kompas 2015 adalah kebahagiaan tersendiri. Berhadapan langsung dengan dua orang penulis idola, Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma (SGA), menjadi pengalaman yang barangkali tak akan mudah saya lupakan.

Dua hari menimba ilmu dari ahlinya, menyisakan beberapa pesan dari mereka, para ‘guru’, di ingatan saya. Semoga bermanfaat buat kita semua.

*

Unsur-unsur apa saja yang harus ada dalam sebuah cerita?
Menurut pengalaman saya (Linda Christanty), ada lima hal yang harus ada dalam sebuah cerita, yaitu tokoh/karakter, konflik, kompleksitas, krisis, penyelesaian/situasi akhir. Detail tokoh tidak boleh mubazir. Sebutkan yang hanya berguna untuk cerita. Karakter tidak datar tapi berwarna. Bagus juga kalau punya model untuk sebuah tokoh. Konflik bisa berupa hal-hal sederhana, tapi diceritakan dari sisi yang belum banyak diketahui orang. Tentang kompleksitas, yang kompleks adalah ceritanya, bukan cara berceritanya. Bedakan. Open ending atau close ending, tergantung dari gaya penulisnya. Yang pasti, pada cerpen tersebut, satu cerita telah selesai.

Bagaimana dengan akhir yang masih mengandung misteri? Yang barangkali tak dipahami oleh pembaca?
Tidak masalah. Toh, sastra berarti memberi ruang bagi pembaca untuk menginterpretasi sebuah cerita. (Tambahan dari SGA) Sastra yang baik, menyampaikan sesuatu secara implisit.

Saya suka tulisan Mas Seno, bagaimana caranya supaya saya bisa menulis seperti itu?
Menulis (bagus) itu ibarat mendaki gunung. Pertama kali mendaki, kamu masih (harus) ikut jalur resmi, ditemani pemandu supaya tidak tersesat, atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kali kedua, kamu bisa tanpa pemandu. Kali kelima kamu bisa mencoba jalur lain yang lebih jarang dilalui pendaki. Kali kesepuluh, kamu sudah bisa mencoba jalan yang sama sekali baru. Kali ketiga puluh sembilan, kamu sudah hafal wilayah pegunungan tersebut dan bisa memilih mau lewat mana. Kali kesembilan puluh sembilan, hutan itu sudah seperti jalan tol yang bisa kamu lalui dengan lancar.

Menulis (bagus) juga ibarat menari. Tidak mungkin pertama kali datang ke studio langsung bisa menari. Pastinya harus pelajari langkahnya dulu. Lalu belajar gerakan per gerakan. Pose per pose. Dan lain sebagainya. Latihan demi latihan, baru bisa menari.

Bagaimana caranya memancing ide?
(Bli Can – @fajar_arcana) Observasi. Belajar bercerita.

(Hari kedua, pagi, kami diberi waktu untuk melakukan observasi di sekitaran lokasi workshop. Karena saya berangkat agak siang, maka observasi saya lakukan di dalam taksi selama perjalanan menuju lokasi acara. Observasi tersebut berupa bercakap-cakap dengan sopir taksi yang menghasilkan ide cerita berikut ini:

Seorang sopir taksi yang sedang berencana melakukan kejahatan terhadap perusahaan taksi lain untuk menjatuhkan nama perusahaan taksi tersebut, tetapi di tengah jalan ia dihadang massa yang meminta bantuannya untuk membawa seorang korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat.

Siangnya, Bli Can mengajak kami untuk berpasangan lalu saling mengobrol tentang apa saja. Lalu kami menceritakan pasangan masing-masing dengan cara sedemikian rupa sehingga cerita kami bisa menjadi pembuka sebuah cerpen. Saya berpasangan dengan Enny dan Fajri. Saya kebagian menceritakan Enny yang seorang pegawai di bagian pembukuan dan menyinggung Fajri yang adalah seorang editor bahasa. Kalimat saya menjadi seperti ini:

“Memangnya kamu tidak tertarik menjadi jurnalis?” Kalimat tersebut berulang kali muncul di kepalaku padahal aku sedang menghadap layar komputer dengan angka-angka bertebaran di setiap sudutnya. Kalimat itu ditujukan untuk seorang temanku yang lain, tetapi itu membuatku memikirkan lagi, apakah pekerjaanku saat ini adalah yang benar-benar aku inginkan….*lupa lanjutannya*

Banyak koreksi yang saya dapat. Salah satunya, jangan mengungkapkan ulang mentah-mentah apa yang mereka ceritakan ketika mengobrol , tapi cari sesuatu yang khusus dan spesifik yang bisa dieksplorasi menjadi cerita yang tidak biasa. Dan, ya ampun, ternyata bercerita itu tidak gampang. Apalagi pakai bahasa cerpen. Pada teknik tersebut, kata Bli Can, terlihat siapa peserta workshop yang terbiasa bercerita dan siapa yang tidak. Kemampuan bercerita secara lisan ternyata berperan penting dalam menulis.)

*

Well, Workshop Cerpen Kompas 2015 menjadi pengalaman menarik dan barangkali pengalaman sekali seumur hidup. Sangat berterima kasih pada semuanya dan semoga ilmu yang didapat kemarin bisa berguna. Terutama, semoga semangat menulis terus ada dalam dada supaya ilmu menjadi tidak sia-sia.

***

048  050

Menulis Kalimat Pertama Sebuah Cerita

Sudah bukan zamannya lagi memulai cerita dengan cara mendeskripsikan cuaca seperti, pada pagi yang cerah dan cahaya matahari mulai merambah masuk melalui tirai… Semakin ke sini, semakin banyak penulis yang merasakan pentingnya kalimat pertama untuk membuat pembaca penasaran dan enggan meletakkan bukunya sampai ia selesai membaca hingga halaman terakhir. Bagi penulis-penulis yang memahami ini, membuat kalimat pertama bisa jadi kegiatan yang berpotensi membuat frustasi. Bahkan ada beberapa penulis yang tidak akan beranjak menulis kalimat kedua kalau kalimat pertamanya dirasa belum sempurna. Wow.

Lalu, bagaimana ya caranya menulis kalimat pertama yang menarik minat pembaca? Berikut saya rangkumkan cara-cara/pendekatan untuk menulis killer opening line.

1. Jelas

Kalimat pertama yang baik adalah yang bisa menimbulkan gambaran di benak pembaca. Perhatikan kalimat pertama pada novel All the Pretty Horses, karya Cormac McCarthy:

“Nyala lilin dan bayangannya tertangkap pierglass secara terbalik dan terkoreksi kembali ketika dia memasuki aula juga ketika dia menutup pintu.”

Kalimat tersebut menimbulkan bayangan menarik mengenai nyala lilin yang direfleksikan secara terbalik oleh sebuah pintu. Kalimat visual seperti ini jugalah yang membuat karya-karya Cormac McCarthy diadaptasi menjadi film (All the Pretty Horses, No Country for Old Man, The Road). Kalimat pertama yang visual seperti ini ibarat montase pembukaan pada film, menggiring kita kepada sebuah adegan. Mereka menggunakan gambar, pencahayaan, dan nuansa untuk membangun mood yang akan banyak dipakai/ditemui hingga akhir pembukaan cerita.

Berbicara mengenai mood, kalimat pertama yang jelas juga adalah kalimat yang mampu membangun mood pembaca. Contohnya adalah kalimat pembuka The Bell Jar karya Sylvia Plath:

“Pada suatu musim panas yang aneh, dan gerah, pada suatu musim panas ketika mereka menghukum mati keluarga Rosenbergs menggunakan kursi listrik, dan aku tidak tahu kenapa aku ada di New York.”

Meskipun eksekusi terhadap keluarga Rosenbergs tidak ada kaitannya dengan isi narasi, tetapi kalimat tersebut berhasil membangun nuansa bahwa ada kejadian buruk yang akan terjadi.

2. Fakta

Sebuah narasi yang cukup panjang, kadang bisa disampaikan dalam satu pernyataan sederhana.

1. “Aku punya peternakan di Afrika.”

2. “Panggil aku Ishmael.”

3, “Aku adalah manusia tak kasat mata.”

4.  “Scarlett O’Hara tidak cantik.”

Kalimat nomor satu adalah milik Isak Dinesen dalam Out of Africa, kalimat nomor dua adalah milik Melville dalam Moby Dickkalimat nomor tiga adalah milik Ralph Ellison dalam Invisible Man, sedangkan kalimat nomor empat adalah milik Margaret Mitchell dalam Gone With the Wind. Tak ada tipuan, tak ada kejutan. Hanya fakta sederhana.

Selain yang sederhana, fakta lain yang bisa dimanfaatkan sebagai kalimat pembuka yang baik adalah fakta filosofis seperti dalam A Tale of Two Cities karya Charles Dickens:

“Waktu itu adalah waktu terbaik,
waktu itu adalah waktu terburuk,
waktu itu adalah era kebijaksanaan,
waktu itu adalah era kebodohan…”

Atau fakta berpasangan/berlawanan seperti dalam The Heart Is a Lonely Hunter karya Carson McCullers:

“Di kota ini ada dua orang bisu, dan mereka selalu bersama.”

Pada banyak kasus, dua fakta dijadikan satu dianggap lebih kuat dibandingkan jika mereka berdiri sendiri-sendiri. Pada contoh kalimat pertama di atas, sebuah kota dengan dua orang bisu tentu tidak terlalu memantik rasa penasaran, begitu juga dengan sebuah kota yang memiliki dua laki-laki yang tak terpisahkan. Tapi, sebuah kota dengan dua orang bisu yang tak terpisahkan? Nah, itu baru menarik perhatian.

3. Mengejutkan

Setelah beberapa kalimat yang barangkali terkesan datar, kalimat pembuka juga dapat dibuat dengan menampilkan sesuatu yang mengejutkan. Misalnya, kalimat pertama dari 1984 karya George Orwell:

“Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April, dan jarum jam menunjuk angka tiga belas.”

Bagaimana cara cepat menunjukkan bahwa dunia yang akan digambarkan bukanlah dunia real? Mengubah jalannya waktu. Jenius.

Lain George Orwell, lain pula Charles Dickens. Berikut adalah kalimat pembuka pada A Christmas Carol:

“Marley mati: pada mulanya.”

Mau mengejutkan pembaca? Gampangnya, mulailah cerita dengan kematian seseorang. x))

4. Spoiler

Katanya, kalimat pembuka yang baik tidak hanya membuka sebuah cerita, tetapi juga yang mampu meringkas keseluruhan cerita ke dalam satu kalimat. Sebagai contoh, The Metamorphosis karya Kafka

“Ketika Gregor Samsa terbangun di suatu pagi karena mimpi buruk, dia menemukan dirinya di atas kasur, bertransformasi menjadi kutu raksasa.”

Dari kalimat pertama, pembaca sudah bisa melihat keseluruhan perjalanan Samsa, mulai dari kesadarannya akan keadaan (menjadi) buruk sampai pengasingan yang menyakitkan, hingga akhirnya ia mati. Contoh lain, Lolita karya Vladimir Nabokov:

“Lolita, cahaya hidupku, api untuk (daging) pinggangku.”

(“Daging pinggang.” Aduh, mak. Yang ini sulit diterjemahkan. Auk, ah. Text asli: Lolita, light of my life, fire of my loins) Dalam satu kalimat tersebut, Nabokov mengungkapkan hasrat, puisi, dan bencana yang akan terjadi berikutnya. Selain dari yang telah diungkapkan, akhirnya, kalimat pertama bisa langsung menjurus seperti ini:

“Kalian akan mulai membaca novel terbaru karya Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler …”

Dan novel If on a Winter’s Night a Traveler karya Italo Calvino benar-benar dibuka dengan kalimat tersebut. :))

—-

*) Tulisan di atas dirangkum (dan diterjemahkan secara bebas, semoga nggak merusak makna) dari sini dan sini.

[Giveaway #1TahunBFG] Membuat Kalimat Pertama Cerpen

Oke, tulisan di atas saya buat untuk melengkapi giveaway kecil-kecilan yang kemarin saya adakan, dan hari ini adalah waktunya mengumumkan pemenang. Tanpa basa-basi, inilah pemenangnya.

IMG_6358

Selamat, Benedikta Sekar! Kamu berhak mendapatkan ini: IMG_6291

Pengumumannya belum selesai, karena saya memutuskan bahwa pemenangnya tidak hanya satu melainkan dua. Jadi pemenang kedua adalah sebagai berikut.

IMG_6359

Selamat, Dyar Ayu! Kamu bisa pilih salah satu dari buku yang ada di foto ini:

buku baru (segel)

buku baru (segel)

Selanjutnya, mohon konfirmasikan alamat kirim dan nomor telepon kalian ke alamat email: mandewi.mandewi@gmail.com segera, ya. Sekali lagi selamat  untuk Benedikta Sekar dan Dyar Ayu, dan untuk yang belum menang, tunggu giveaway lainnya. Siapa tahu kali berikutnya, giliran kalian yang menang. :))

***

Nama Tokoh dan Cerita di Baliknya

Ketika ingin menulis cerita tetapi merasa tidak mempunyai ide (cerita) yang oke–padahal ide ada di mana-mana–kita bisa mulai dengan merumuskan tokoh. Kenapa merumuskan tokoh? Salah satunya, adalah karena dalam tokoh yang ingin dirumuskan, sudah ada konflik yang terkandung dan bisa dikembangkan menjadi cerita. Tinggal ajukan pertanyaan ‘apa’, ‘kenapa’, ‘bagaimana’, dan sebagainya.

Misal kita merasa bahwa kebanyakan tokoh cerita novel yang terkenal digambarkan sebagai orang yang tampan, kaya, romantis. Lalu kita ingin merumuskan tokoh yang sebaliknya. Tidak tampan, tidak kaya, tidak tahu bagaimana caranya membuat perempuan tersipu. Halah. Mulailah ajukan pertanyaan, kenapa A tidak tampan? Apa karena kedua orangtuanya tidak tampan? Atau sebenarnya ia tampan tetapi pernah mengalami kecelakaan yang berakibat pada kerusakan wajahnya? Wajah bagian mana? Atau, bisa jadi kedua orangtuanya tampan, tetapi ayah yang selama ini mengasuhnya bukanlah ayah kandungnya–if you know what I mean, dan wajah tidak tampan itu adalah warisan dari si ayah kandung.

Dengan menggunakan satu kata tanya ‘apa’, tokoh kita sudah punya banyak hal yang bisa jadi konflik cerita. Silakan kembangkan dengan mengajukan pertanyaan ‘kenapa’.

Terkait dengan merumuskan tokoh, kita juga bisa memulai dengan membuat nama. Asal saja, pada awalnya. Lalu, seperti kata Arswendo, nama tertentu akan memberi kemungkinan suasana dan latar belakang masing-masing. Setelah membuat nama, silakan dikhayalkan. Nama seperti itu membuat kita merasakan suasana seperti apa (Eh, ini mirip dengan cara ketiga menulis puisi. ^^). Setelah menemukan suasana yang dirasa pas, mulai lagi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengembangkan cerita.

*

Jadi gini, beberapa hari yang lalu, saya iseng mengadakan kuis bertagar #KuisDadakan di Twitter. Kuis tersebut adalah kuis membuat nama panjang tokoh. Saya menemukan sebuah kata menarik untuk dijadikan nama tokoh: KONA. Dari nama (pendek) Kona tersebut, saya mengajak peserta untuk ramai-ramai membuat nama lengkap si tokoh plus ciri khas tokoh tersebut. Berikut ini adalah jawaban-jawaban yang masuk plus komentar (sok tahu) saya. 🙂

 

IMG_4893

Ide memadukan dua asal negara ke dalam nama, adalah ide brilian. Tetapi untuk kasus Konani Rahardi ini perpaduannya agak kurang halus. Nama depan dan nama belakang terdengar bertolak belakang, semacam Pervert Bersahaja.. 😀

IMG_4894

Lakona Baswara, bagus. Bagi saya, agar terdengar lebih sejalan, barangkali ‘sangat cinta kebersihan’ lebih baik diganti dengan ‘disiplin’. Disiplin lebih masuk akal dan sesuai dengan ambisinya untuk selalu jadi nomor satu.

IMG_4895

Untuk nama se-ndeso Markonah Rohman (oke, sorry. ^^), agak kurang bisa saya terima apabila ia memiliki keinginan untuk mengganti nama hanya karena membaca komik. Akan menjadi masuk akal kalau ada keterangan tambahan bahwa ia orang desa yang mendadak hidup di kota besar dan malu dengan nama yang ndeso itu.

IMG_4896

Di telinga saya, nama Silvakona Praedevi lebih terdengar maskulin, pemberani, kurang lembut/girly. Mmm.. Barangkali masalahnya ada di telinga saya. Ehehe..

IMG_4900

IMG_4901

IMG_4903

Ada juga beberapa nama yang diajukan di atas dalam rangka iseng dan main-main, tetapi tidak ada larangan untuk benar-benar menggunakannya dalam cerita, kan? :))

Juri #KuisDadakan lalu memilih dua orang sebagai pemenang, yaitu Aryakona Kalyan (milik @Kim_Irfanovic) dan Konaroh (milik @BeningZa).

(Nama) Aryakona Kalyan ini otomatis membuat saya membayangkan dunia persilatan. Ahaha.. Jadi, Kona ini menjalani semacam latihan silat di pegunungan sana, tempat para master silat bermukim (sesuai dengan deskripsi Kona yang gagah dan tegas). Latar belakangnya sampai latihan silat hingga jauh? Klasik, putus cinta. Lalu setelah selesai menjalani latihan dalam jangka waktu yang cukup lama, ia masih kagok dengan dunia nyata (dunia nyata, omg). Belum bisa menyesuaikan diri sehingga ia kesulitan menemukan teman (sesuai dengan deskripsi Kona yang katanya kesepian).

(Nama) Konaroh, tak perlu dijelaskan, ya. Dari namanya sudah terbayang suasana masyarakat kelas (menengah ke) bawah. Hal ini semakin diperkuat dengan deskripsi yang diberikan. Janda, penjual nasi pecel di sudut pasar rakyat, menjadi tulang punggung tiga anak yang masih kecil. Pas.

Sebenarnya saya suka nama Semi Ikonanda, tetapi deskripsi nama ‘pemilik kebun bunga terbesar di negaranya’ bagi saya akan menjadi lebih bagus bila ditambahkan ‘warisan dari orangtuanya’. Karena menurut suasana yang saya dapat ketika mendengar nama ini, usia Semi Ikonanda masih sangatlah muda sehingga tidak mungkin dia bisa menjadi pemilik kebun bunga terbesar kalau bukan dari warisan.

Dari nama-nama tersebut sudah tersirat cerita yang bisa dikembangkan menjadi cerpen atau novel, kan? 😀

*

Ngomong-ngomong soal nama tokoh, mungkinkah seorang tukang koran mempunyai nama Gerald? Ataukah seorang tukang koran sebaiknya bernama Gimin?  Tidak masalah, ya bila kamu memberi pekerjaan tukang koran kepada nama Gerald yang kamu tentukan. Justru keputusan itu bisa jadi bahan untuk membuat cerita yang berbeda. Mulailah ajukan pertanyaan-pertanyaan.

*

Terakhir, dari banyaknya alternatif nama yang muncul dari (satu) kata Kona, ternyata membuat nama panjang (tokoh) tidaklah terlalu sulit, ya? *brb bikin nama buat anak kelak* Ehe he he..

 

***