[Rasa Bahasa] Bahasan Bahasa dalam Novel

Perhatian banget, sih, tidak. Tetapi ketika saya menikmati sebuah novel dan ada bahasan kebahasaan di dalamnya, ya, tetap saja senyum-senyum sendiri. Misalnya saja saat ini, saya sedang membaca Paper Towns karya John Green dan menemukan dua adegan menarik terkait bahasa seperti berikut.

1.
Margo’s list (di sebuah kertas):
Vaseline
six-pack, Mountain Dew
One dozen Tulips
one Bottle Of water,
Tissues
one Can of blueSpray paint

Quentin: “Interesting capitalization.”

Margo: “Yeah. I’m a big believer in random capitalization. The rules of capitalization are so unfair to words in the middle.”

2.
Margo: “I don’t think she ever said anything that wasn’t an attempt at undermination.”

Quentin: “Undermining.”

Margo: “Thank you, Annoying McMasterGrammician.”

Quentin: “Grammarian.”

Margo: “Oh my God I’m going to kill you.”

Tersenyum juga ketika membacanya? Ternyata, menurut Margo, polisi bahasa itu sedemikian menyebalkan. Haha.. Tapi yang paling berkesan sepanjang sejarah saya membaca adalah yang berikut. Dikutip dari Point of Retreat – Titik Mundur karya Colleen Hoover.

3.
Kiersten: “Kalau kalian tanya aku, menurutku itu tai kucing.”

Lake: “Jangan bilang tai kucing.”

Kiersten: “Maaf, Mom bilang, Badan Komunikasi Nasional bertanggung jawab karena menetapkan umpatan sebagai kata-kata yang memancing kemarahan. Mom bilang, andai semua orang cukup sering menggunakannya, kata-kata kasar tidak akan lagi dianggap sebagai makian dan pasti tidak ada yang merasa tersinggung oleh kata-kata itu.

Lake: “Ibumu mendorongmu untuk memaki?”

Kiersten: “Aku sih tidak melihatnya seperti itu. Mom lebih seperti mendorong kami untuk sedikit demi sedikit melemahkan sebuah sistem dengan cara menggunakan secara berlebihan kata-kata yang dibuat untuk mencederai perasaan, karena sebenarnya kata-kata kasar toh sekadar beberapa huruf yang dipadupadankan, seperti halnya kata lain. Memang itulah sebenarnya, kata-kata hanyalah padu-padan antarhuruf. Misalnya kita ambil kata ‘kupu-kupu’. Bagaimana jika suatu hari nanti seseorang memutuskan bahwa ‘kupu-kupu’ adalah kata makian? Orang pun akan mulai memakai kata ‘kupu-kupu’ sebagai kata penghinaan, juga untuk menekankan hal-hal tertentu dengan cara yang negatif. Padahal kata yang sesungguhnya tidak bermakna apa-apa. Anggapan negatif yang diberikan orang pada kata itulah yang membuatnya dianggap sebagai makian. Kalau kita memutuskan untuk sering menyebut ‘kupu-kupu’, akhirnya orang akan berhenti ambil pusing. Nilai kemarahan terhadapnya menjadi berkurang dan ‘kupu-kupu’ menjadi sekadar kata. Sama seperti kata-kata kotor yang lain. Jika semua orang mulai sering mengucapkannya, kata-kata itu tidak lagi menjadi kata kotor. Pokoknya, begitulah yang dibilang ibuku.”

Nah, ketika membaca lagi kutipan novel di atas, saya jadi teringat kata-kata Fajar Arcana di Workshop Cerpen Kompas 2015 minggu lalu. Katanya, semakin lama, sebuah kata kerap mengalami pergeseran (makna) dari makna aslinya, dan tugas sastra adalah mengembalikan makna kata tersebut ke asalnya.

***

Rangkuman Buku-buku Selama 2014 (Bagian 1)

Inilah buku-buku yang saya baca selama tahun 2014.

GR01 GR02 GR03 GR04

 

Berikut ini, saya akan membuat reviu singkat 25 buku dan mengelompokkannya ke dalam enam kategori. Kalau sepakat, artinya kita satu selera bacaan. :))

1. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Punya Pacar Romantis

Romantis itu apa, sih? Menurut artikata.com, romantis (adjective): bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan. Definisi ‘romantis’ bagi setiap orang bisa jadi berbeda, karena romantis itu sendiri adalah kata sifat. Kata sifat merujuk pada: penggunaan penilaian diri sendiri terhadap suatu hal secara subyektif. Romantis bagi saya, belum tentu romantis bagi kalian. Tapi romantisme di cerita-cerita berikut, semoga banyak dari kita berpendapat sama. :))

Sepertinya menyenangkan memiliki kekasih seorang musisi. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca Celebrity Wedding karya aliaZalea dan Restart karya Nina Ardianti. Tokoh utama wanita seolah dihujani cinta dan kasih sepanjang waktu. Kalau beruntung, para musisi tersebut akan menghadiahi kekasih mereka sebuah lagu. Well, Inara dan Syiana memang dibuatkan sebuah lagu. Saking romantisnya, saya sampai-sampai ingin memiliki kekasih seorang musisi. Tetapi anehnya, ketika ide tersebut saya lontarkan ke Twitter, banyak yang membalas dengan, “Yakin?” atau “Mendingan jangan!”

Ada apa dengan memiliki kekasih seorang musisi? Apa ada yang bisa menjelaskan pada saya? Apakah deskripsi romantisme musisi dalam kedua novel tersebut tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya? Hmm.

Oke, kalau ide memiliki kekasih seorang musisi mendapat banyak tentangan, barangkali saya harus mencoba memiliki kekasih seorang penyair. Dialah Will yang menghadiahi Lake berjuta-juta puisi (oke, ini lebay) di dua serial Slammed (Slammed #1: Slammed dan Slammed #2: Titik Balik). Kalau tidak bisa mendapat hadiah berupa sebuah lagu, dihadiahi puisi rasanya pasti tidak akan jauh berbeda. Sama-sama bisa membuat berbunga-bunga, juga merasa dicintai. Bukan begitu? :))

Kalau memiliki kekasih seorang musisi atau penyair belum cukup bagus, mari coba peruntungan dengan seorang dokter bedah. Dr. Beno Wicaksono, tokoh fiktif rekaan Ika Natassa dalam Twivortiare, benar-benar membuat gila. Gila akan cinta.

“Dok, bedah jantung saya dan isi dengan perasaan cinta darimu, Dok.”

Begitu? Selain saya, Dr. Beno Wicaksono ternyata juga berhasil membuat perempuan-perempuan (pembaca) di luar sana yang tadinya tergila dengan pria-pria muda menjadi terkena delusi akut kepada om-om.

(((Om-om)))

Salut untuk Ika Natassa.

Pilihan terakhir di daftar ini adalah memiliki kekasih berprofesi programmer. Selain pekerjaan programmer yang membuatnya kerap bepergian ke luar negeri, Reilley juga diceritakan sebagai pria yang sayang keluarga. Oh, my. ❤ Sayangnya tokoh ini hanya hidup dalam novel Blind Date, yang lagi-lagi, karya aliaZalea. :))

Tentu saja, romantisme seorang kekasih tidak bisa serta merta ditentukan oleh profesi yang mereka geluti. Saya ungkapkan profesi di atas karena tokoh-tokoh itu berhasil membuat perempuan tergila-gila, apa pun profesinya (atau ini hanya perasaa saya seorang?). Yang lebih saya kagumi dari romantisme para tokoh pria tersebut tentu saja kepiawaian para penulisnya bercerita, sedemikian rupa sehingga pesannya tersampaikan. Beberapa orang bahkan beranggapan bahwa mereka too good to be true padahal, ya, mereka tidak sempurna. Will yatim piatu sehingga harus membesarkan adik laki-lakinya seorang diri. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca menyampingkan fakta tersebut karena lebih melihat bagaimana Will menyayangi Lake dari hal-hal kecil yang dia lakukan. Pada suatu saat, Will tanpa sengaja bertemu lagi dengan mantan kekasihnya sehingga Lake merasa dibohongi. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca dihadapkan pada usaha Will untuk meyakinkan Lake bahwa saat ini Lake adalah hidupnya.

Ya, ya, ya. Barangkali romantisme memang bukan tentang kesempurnaan dia, melainkan tentang bagaimana hal-hal kecil yang dilakukannya berhasil membuat perempuannya merasa dicintai. Bagaimana? Kalau saya, sih, yes. x))

2. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Mengunjungi Lokasi Cerita

Mengaku warga Jakarta tetapi hanya tahu jalan dari tempat tinggal menuju kantor, atau ke mall-mall setiap akhir pekan? Baca Adriana dan temukan sisi Jakarta yang berbeda. Fajar Nugros menyajikan banyak tempat di Jakarta dalam bentuk teka-teki. Selain mengetahui banyak lokasi unik di Jakarta, kita juga diajak belajar mengenai sejarah singkat beberapa lokasi. Sebut saja Taman Prasasti, Patung Pancoran, Perpustakaan Nasional, Museum Fatahillah. Bahwa yang menarik dari Jakarta bukan hanya pusat perbelanjaannya.

Melompat ke luar pulau Jawa, ada Kei yang mengupas sebuah pulau di Maluku, yaitu pulau Kei. Agak suram karena yang menjadi latar belakang ceritanya adalah kerusuhan/perang saudara yang terjadi sekitar tahun 1999-2000. Agak aneh, mengapa saya memasukkan lokasi kerusuhan sebagai tempat yang ingin dikunjungi. Mungkin karena sejarah(sekalipun pahit)lah yang membuat daerah tersebut seperti sekarang, selain itu karena setting cerita terasa sangat kuat.

Di pulau lain, yaitu pulau Sumatra, kita akan diajak berjalan-jalan di kota Padang. Membaca Bingkai Memori karya Petronela Putri, kalian akan disuguhi beberapa klenteng (karena Mei adalah keturunan Tionghoa), juga beberapa lokasi yang menjadi tempat nongkrong pemuda/pemudi Padang, seperti Basko Grand Mall, Kedai Kopi Nuno dan tentu saja Pantai Padang alias Taplau. Oiya, bagi penggila durian, kalian harus kudu wajib mampir ke kedai Es Durian Ganti Nan Lamo. Nyam!

Ini dia novel yang membuat saya semakin ingin menjajaki benua Eropa, khususnya Amsterdam! Ya, The Fault in Our Stars, selain mengambil setting di Amerika, juga berlokasi di Amsterdam. Di Amsterdam mereka mengunjungi Anne Frank House and I’m dying to go there untuk merekonstruksi adegan mesra August dan Hazel, bersama seseorang. Good job, John Green. ❤

Kembali ke Asia Selatan, Dee Lestari menarik rasa penasaran saya dari dasar hati ke permukaan dan membuat saya ingin melihat langsung kebun ganja di Kamboja. Saya berdosa. Juga lokasi perang yang banyak ranjaunya itu. Oh, sila salahkan seri Supernova: Akar.

*

Novel apa yang membuat kalian mendadak ingin punya pacar romantis, dan novel apa yang membuat kalian ingin mengunjungi lokasi cerita? :))

 

[bersambung dengan kategori lain di tulisan berikut]