Ia Ada di Dekatmu

Aku adalah debu yang merasuk cepat ke matamu
yang kau rayu agar segera pergi dengan airmata sendu
Entah kebetulan entah apa
Tuhan tak pernah bilang siapa yang sedang Ia beri pertanda

Aku adalah basah di telapak tanganmu
kau usapkan lembut ke dadamu
Aku pernah berada sedekat itu dengan detak jantungmu

Aku adalah garis di telapak tanganmu
yang ‘kau caritahu artinya pada seorang cenayang kampung
Aku pernah berada sedekat itu dengan denyut nadimu

Aku menunggu Ia bicara tentang takdir kita berdua

Aku adalah angin yang mengibaskan rambutmu
yang kadang kamu tahan dengan buku puisi kesukaanmu

Entah kebetulan entah apa
Ia tak pernah bilang untuk berhenti mencoba

Aku adalah badai yang memorak-porandakan rumahmu
Aku adalah api yang membakarnya kemudian
Aku adalah relawan yang menolongmu pulih
Aku adalah yang harus kamu sadari keberadaannya
Sekarang

atau tidak tidak sama sekali

*

Terbangun Sendiri

Malam-malam gulita
tak buta dusta
tak seperti kita, buta segala

Gaun-gaun klasik pisik
tak tahan gelitik
tak seperti bilik, diam berbisik  

Cumbu-cumbu merayu
tak layu-layu
tak seperti milikmu, milikku

*

“Sudah pagi, Sayang
Kita harus bersiap, berpisah.”

Tak sempat kudengar bunyi sepatumu tadi
Tak sempat kuharap terbangun begini, sendiri
Aku tak sempat berharap
Tak pernah berharap

*

Image

[#PuisiHore2 – #8 – Judul Lagu NOAH]

Dengarkan Baik-baik

Dengarkan baik-baik
karena takkan aku ulangi biar cuma sekali

Lihat aku
Cangkir di genggamanmu tak mungkin lebih tampan dari aku
Atau
Ada bayangan siapa pada genangan kopi yang kamu tatap, di antara desau?

Aku tak pandai berpuisi untuk merayu
Puisi itu kemayu
Haruskah aku berguru untuk itu?
Aku bahkan tak pandai untuk sekadar bicara
Meski katamu, jangan jera
Ya, aku berusaha
Kadang tanpa kamu sadar
Mawar-mawar yang kerap aku kirim
Kamu dengar mereka berkata apa?

Ya, ya

Aku tahu aku gagal lagi

Jadi, dengarkan aku baik-baik
Karena takkan aku ulangi biar cuma sekali

Lihat aku
Setelah itu takkan aku larang kamu untuk menemui laki-laki yang bayangannya muncul pada genangan kopi, di antara desau

Dengarkan,
bukannya aku tidak mau bilang bahwa aku cinta
Tapi aku ingin mengatakannya dengan suara
Bukan hanya tatapan mata

*

[#PUisiHore2 – #7 – Komunikasi]