#PuisiHore – Ibuku Sayang

image

Inilah yang aku sebut sebagai kasih. Ketika tangan ibu yang penyayang menolak terentang. Bahkan ia cepat-cepat berangkat ke pasar di hari aku meninggalkan rumah untuk melanglang. Selalu ada alasan bagi ibu untuk menghilang sebelum pesawatku terbang. Ya, ibu menolak memperlihatkan airmata saat aku berangkat ke pulau seberang.

Bukan hal mudah untuk memahami tindakan ibu yang begitu. Yang seperti baik-baik saja melihat anak-anaknya pergi meninggalkan rumah satu-satu. Anak-anaknya yang selalu berjanji untuk pulang setiap minggu, meski belum tentu. Aku kerap mendapati rindu terserak di mana-mana, di setiap kata dan cerita yang canda tawanya beku seperti batu. Di mataku, ibu selalu sama, tak pernah pandai berdamai dengan rindu, jarak serta waktu.

Untungnya kasih ibu sepanjang jalan, meski kasihku masih sepanjang galah. Ibu tak menjadikan itu sebagai masalah. Kata ayah, senyum ibu rekah. Ketika kartu pos dari kami, anak-anaknya, sampai ke rumah. Ayah meminta ibu berjanji, untuk memeliharanya –senyum yang rekah— hingga pesawat kami menjejak tanah. Dan ketika saat itu tiba, tangan ibuku yang penyayang, yang dulunya menolak terentang, akan menyambut kami dengan hangat dan ramah.

Ya, kan, Bu?

Mother loves me. Vice Versa ~ ManDewi

Semarang, 201212

#PuisiHore – Soneta Perindu

Langit pagi memeluk jingga tanpa sisa
Di atas padang rumput paling landai
Ditemani awan kelabu berarak santai
Tanah basah serta embun yang menggesa

Pekak telinga mendengar kicauan nuri
Membangunkanku dari mimpi rancu
Tentang kita yang beranak cucu
Mimpi datang justru saat kamu telah pergi

Pergi jauh untuk mengejar angan-angan
Pergi begitu saja tanpa kesan-pesan
Serupa jejak yang kupahami pelan-pelan

Ingin kuteriakkan rindu dengan lantang
Seandainya engkau masih berkenan pulang
Kembali ke hati tempat kenangan berkubang

Semarang, 151212

#PuisiHore – MEMBACA KAMU LEWAT TULISAN

Mengambang-melayang aku di dadamu
Enggan jatuh enggan menyentuh
Matamu, hatimu yang
Buta, beku
Adalah aku yang selalu rindu
Cakap jemarimu meramu
Abjad terserak di atas kertas abu-abu

Kepalamu berisi kata-kata luar biasa hingga
Aku tak memiliki kesempatan untuk
Menyusup-merayapi kepalamu bahkan
Untuk sekadar memperkenalkan diri

Lengan-lenganmu lalu kulirik sebagai instrumen manis
Entah sebagai tempatku berdiam atau
Wahana tempatku mati nanti
Aroma surga sudah
Terangkum di kilau emas pena –jarummu

Tentang cinta, aku menyerah-kalah dan tentang
Usaha untuk terlihat olehmu, aku menyerah-lelah
Limbung ragaku dalam dadamu adalah saksi betapa
Irama rasaku tergantung irama jemarimu apalagi ketika
Saatnya nanti, aku dan kata-kata seharusnya tercetak di
Atas kulitmu berbentuk sebuah nama
Namaku

Semarang, 111212