Jalan Sunyi Seorang Penulis

Judul Buku: Jalan Sunyi Seorang Penulis
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent
Tahun Terbit: 2005
Jumlah Halaman: 325
ISBN: 9799946131

Blurb:
Buku mungil ini berisi riwayat hidup Muhidin dan aktivitas kreatifnya dari mulai saat penulis masih menimba ilmu di sekolah menengah teknik di sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara hingga di pengembaraan intelektualnya di Yogyakarta. Buku yang dikemas cukup apik ini ditulis dengan gaya bertutur dan easy going sehingga enak dibaca.

*

Sesunyi apakah kehidupan seorang penulis?

Jalan Sunyi Seorang Penulis (JSSP) menceritakan tentang perjalanan seorang penulis muda yang mencandui literasi. Kecintaannya kepada dunia baca dan tulis sudah dimulai sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan pada usia yang masih begitu muda, ia sudah memiliki kegelisahan yang mendalam mengenai keterbatasan fasilitas yang ia miliki untuk mendukung kegemarannya akan buku.

Kegelisahannya menemukan jawaban ketika ia memutuskan untuk menempuh perguruan tinggi di luar kota –luar pulau tepatnya. Di Yogyakarta yang disebut-sebut sebagai kota pelajar, ia semakin jatuh pada kegiatan membaca. Di dalam pondoknya, ia menikmati kesendirian. Ia tidak menghiraukan ajakan kawan-kawannya untuk bercanda di kala senggang karena lebih memilih untuk tenggelam di antara tumpukan buku-buku. Beberapa kawan memandangnya sebagai orang yang aneh dan itu semakin menenggelamkannya dalam kesendirian tanpa dasar.

“Siang hari adalah waktu yang sangat buruk untuk membaca, karena pekarangan dan kamar seperti pasar yang tak pernah lelah berjingkrak. Suaranya sangat buruk dan merusak angan-angan.” –hal. 89

Hidup dengan uang pas-pasan, kemudian memaksa ia mencari sumber-sumber penghasilan tambahan. Tidak hanya untuk menyokong kebutuhan hidup mendasar, tetapi juga untuk memenuhi candunya akan buku. Satu-satunya pekerjaan yang terpikir adalah menulis. Ia telah membaca banyak, dan (pekerjaan) menulis menurutnya sejalan dengan hobinya. Sejak itu, ia mulai belajar bagaimana menulis, baik artikel maupun resensi. Kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam perjalanannya, ia mengalami sekian banyak penolakan. Lebih banyak tulisan yang ditolak dibandingkan tulisan yang akhirnya dimuat (di koran atau majalah).

Putus asa? Syukurlah, urusan perut membuat ia tidak mengenal lelah. Tidak berhasil menjadi penulis yang sukses, ia mencoba peruntungan sebagai editor lepas dari satu penerbit ke penerbit lain. Sekian banyak pengalaman dan hubungan dengan sesama pekerja di penerbitan apakah membuatnya menjadi manusia yang lebih membuka diri? Tidak. Ia tetaplah laki-laki penyendiri yang tidak memedulikan dunia luar.

Pernah suatu kali ia mencoba mendekati perempuan. Lalu kegagalan membuat ia menyerah. Ya, ia hanya menyerah untuk urusan yang satu itu. Saya jadi ingin mengutip sebuah puisi yang ditulis ‘aku’ tentang seorang perempuan yang menolak cintanya.

Karena engkau adalah perempuan yang lahir dari tradisi mall, sedangkan aku hanyalah seorang kumuh yang hanya sanggup berada di antara  deretan aksara buku yang seakan-akan kuat tapi sesungguhnya rapuh, maka kita berjarak.

*

Judul. Itulah yang pertama kali membuat saya ingin membaca novel terbitan tahun 2005 ini. Sekadar informasi, novel ini merupakan edisi diperbarui dari versi lamanya yang berjudul Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta (2003). Gaya bahasa yang digunakan begitu nyastra. Bagi Anda yang terbiasa dan nyaman dengan gaya bahasa metropop atau teenlit, kemungkinan besar akan perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan buku ini.

Tapi terlepas dari bahasa yang terkesan *uhuk*  tua, gaya penceritaan pada novel ini sangat menyentuh. Tokoh ‘aku’ menceritakan dirinya dengan lugas dan sederhana. Tidak ada bahasa yang diindah-indahkan. Semua kata yang keluar adalah kata-kata biasa yang kerap terdengar di kehidupan sehari-hari. Jujur. Sungguh terasa bahwa tokoh ‘aku’ adalah anak kampung yang begitu lugu. Namun begitu, pikirannya riuh, berisi banyak hal meskipun hanya berakhir di kepala, bukan di mulut. Menyenangkan membaca cerita yang bisa membuat saya ikut merasakan lapar ketika ‘aku’ tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan atau ikut merasa gembira/bangga ketika ‘aku’ melihat artikelnya dimuat di koran ternama.

“Hanya pengalaman pertama yang menarik untuk diceritakan. Sebab setelah itu, yang ada adalah rutinitas. Dan setiap rutinitas adalah kebosanan.” –hal. 22

Novel ini saya beri lima bintang di Goodreads dan saya rekomendasikan khususnya untuk penyuka (bacaan dengan gaya bahasa) sastra dan (mungkin) seseorang yang ingin menekuni profesi menulis. Menulis itu tidak mudah. Sungguh.

Omong-omong, bagaimana ya perjuangan menulis Muhidin M. Dahlan di masa sekarang?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s