Tidak Pernah Puas

Barangkali benar bahwa manusia memang tidak pernah puas. Sudah hidup nyaman, muncul propaganda ‘kalau mau sukses, keluarlah dari zona nyaman’. Seolah-olah kesuksesan itu tidak boleh dicapai dalam situasi nyaman.

Sudah hidup bahagia dan merasa sehat, muncul propaganda diet dengan berbagai cara. Seolah-olah sehat itu berarti tidak boleh makan apa saja.

Sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar hidup berupa sandang, pangan, papan, masih saja berebut ‘rejeki’ dengan orang lain. Seolah-olah, si pemberi rejeki menginginkan kita berebutan untuk mendapat bagian.

Termasuk saya. Sudah kurus dan merasa sehat dan bahagia makan sate kambing dan nasi be guling, tiba-tiba memutuskan untuk mengurangi makan daging. Sudah kurus dan bahagia menyarap nasi, muncul keinginan untuk mencoba sarapan buah-buahan demi mengurangi komsumsi nasi yang katanya bisa bikin diabetes. Sudah bahagia dengan makan pepaya, pisang, mangga lalu muncul keinginan untuk makan kiwi atau ceri. Sudah olahraga lari seminggu sekali, masih berkeinginan ikut senam seminggu tiga kali.

(Yang paling penting, sudah punya seratus buku belum terbaca, masih terus belanja buku yang entah kapan akan dibacanya.)

Kenapa, ya, manusia tidak bisa merasa cukup dengan hidup yang biasa-biasa saja? Padahal ujung-ujungnya, ya, mati juga.

***

Festival Pembaca Indonesia 2014 – #IRF2014 #BFGGoesToIRF

Tahun ini, Bookaholic Fund berkesempatan ikut meramaikan Festival Pembaca Indonesia (Indonesia Readers Festival – IRF) tanggal 6-7 Desember 2014 bertempat di Museum Nasional. Berikut adalah reportasenya. ^^

Putri Widi's avatarbookaholicfund

Ada yang tahu Indonesia Readers Festival a.k.a. Festival Pembaca Indonesia? Buat yang udah biasa main di Goodreads atau suka baca atau suka nulis atau suka buku atau anak buku banget, pasti tahu. Ini acara tahunan yang digelar Goodreads Indonesia, dengan menghadirkan banyak komunitas buku, penerbit, dan juga banyak acara lainnya. Selain booth-booth komunitas, kamu bisa ikut talkshow penulis atau workshop nulis. Semuanya free entry, kamu hanya perlu bayar karcis masuk museum, karena dua tahunan ini IRF selalu diadakan di museum. Tahun lalu di Museum Mandiri, Jakarta Kota. Sedangkan 6-7 Desember 2014 kemarin, acaranya di Museum Nasional (Museum Gajah).

Tahun ini, Bookaholic Fund juga mendapat kesempatan mengisi booth dalam rangka mengenalkan visi misi dan program kerja kami kepada komunitas lain serta para pengunjung di Festival Pembaca Indonesia 2014 (IRF 2014). Apa saja yang kami lakukan di sana? Nah, ini dia liputannya 🙂

PERSIAPAN

Penanggung jawab keikutsertaan BFG di…

View original post 859 more words

Membicarakan Hukum Karma

Membicarakan hukum karma berarti membicarakan kesalahan yang pernah kita perbuat. Sama halnya dengan membicarakan kondisi sakit yang berarti membicarakan kue-kue manis yang sebelumnya kita habiskan tanpa berpikir panjang. Ada hal-hal yang tadinya kita pikir baik-baik saja, padahal kenyataannya hal-hal tersebut tidak sebaik kelihatannya. Apa yang dulu menutup mata kita dari kesadaran sederhana semacam itu?

Membicarakan hukum karma artinya mengakui bahwa kita lemah. Ada kekuatan di luar diri yang turut mengendalikan kehidupan kita di masa yang akan datang (sebenarnya kita sendiri yang mengendalikan masa depan dari masa lalu, namun seringnya kita lupa atau pura-pura lupa, entah), yang baru kita sadari belakangan. Dan ketika kekuatan itu benar-benar bekerja lalu mengganggu kehidupan kita kini yang sedang baik-baik saja, apa yang lebih baik dilakukan selain belajar menikmatinya?

Membicarakan hukum karma berarti mengetahui bahwa semesta bukannya tidak adil, melainkan hanya sedang melaksanakan tugasnya. Baik untuk yang baik. Buruk untuk yang buruk. Tepat sesuai tempatnya. Tidak ada buah yang tumbuh pada pohon yang salah. Seperti, tidak ada anak kucing yang lahir dari induk yang anjing. Apa yang bisa didebat dari keyakinan yang demikian kuat?

Membicarakan hukum karma berarti diam di tempat, sejenak atau beberapa jenak, lalu berpikir ulang. Menanyakan sesuatu yang mungkin luput di masa lalu tetapi jangan sampai luput di masa sekarang.

Bagian mana dari hukum karma yang belum kita mengerti?

*

Pasrahkan semua kegiatan kerjamu kepada-Ku, dengan pikiran terpusat pada sang atman, bebas dari nafsu keinginan dan ke-akuan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu itu.

(Bhagawadgita, III-30)