Tidak Pernah Puas

Barangkali benar bahwa manusia memang tidak pernah puas. Sudah hidup nyaman, muncul propaganda ‘kalau mau sukses, keluarlah dari zona nyaman’. Seolah-olah kesuksesan itu tidak boleh dicapai dalam situasi nyaman.

Sudah hidup bahagia dan merasa sehat, muncul propaganda diet dengan berbagai cara. Seolah-olah sehat itu berarti tidak boleh makan apa saja.

Sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar hidup berupa sandang, pangan, papan, masih saja berebut ‘rejeki’ dengan orang lain. Seolah-olah, si pemberi rejeki menginginkan kita berebutan untuk mendapat bagian.

Termasuk saya. Sudah kurus dan merasa sehat dan bahagia makan sate kambing dan nasi be guling, tiba-tiba memutuskan untuk mengurangi makan daging. Sudah kurus dan bahagia menyarap nasi, muncul keinginan untuk mencoba sarapan buah-buahan demi mengurangi komsumsi nasi yang katanya bisa bikin diabetes. Sudah bahagia dengan makan pepaya, pisang, mangga lalu muncul keinginan untuk makan kiwi atau ceri. Sudah olahraga lari seminggu sekali, masih berkeinginan ikut senam seminggu tiga kali.

(Yang paling penting, sudah punya seratus buku belum terbaca, masih terus belanja buku yang entah kapan akan dibacanya.)

Kenapa, ya, manusia tidak bisa merasa cukup dengan hidup yang biasa-biasa saja? Padahal ujung-ujungnya, ya, mati juga.

***

Workshop Cerpen Kompas 2015

046a

Menjadi salah satu dari tiga puluh orang yang berhak mengikuti Workshop Cerpen Kompas 2015 adalah kebahagiaan tersendiri. Berhadapan langsung dengan dua orang penulis idola, Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma (SGA), menjadi pengalaman yang barangkali tak akan mudah saya lupakan.

Dua hari menimba ilmu dari ahlinya, menyisakan beberapa pesan dari mereka, para ‘guru’, di ingatan saya. Semoga bermanfaat buat kita semua.

*

Unsur-unsur apa saja yang harus ada dalam sebuah cerita?
Menurut pengalaman saya (Linda Christanty), ada lima hal yang harus ada dalam sebuah cerita, yaitu tokoh/karakter, konflik, kompleksitas, krisis, penyelesaian/situasi akhir. Detail tokoh tidak boleh mubazir. Sebutkan yang hanya berguna untuk cerita. Karakter tidak datar tapi berwarna. Bagus juga kalau punya model untuk sebuah tokoh. Konflik bisa berupa hal-hal sederhana, tapi diceritakan dari sisi yang belum banyak diketahui orang. Tentang kompleksitas, yang kompleks adalah ceritanya, bukan cara berceritanya. Bedakan. Open ending atau close ending, tergantung dari gaya penulisnya. Yang pasti, pada cerpen tersebut, satu cerita telah selesai.

Bagaimana dengan akhir yang masih mengandung misteri? Yang barangkali tak dipahami oleh pembaca?
Tidak masalah. Toh, sastra berarti memberi ruang bagi pembaca untuk menginterpretasi sebuah cerita. (Tambahan dari SGA) Sastra yang baik, menyampaikan sesuatu secara implisit.

Saya suka tulisan Mas Seno, bagaimana caranya supaya saya bisa menulis seperti itu?
Menulis (bagus) itu ibarat mendaki gunung. Pertama kali mendaki, kamu masih (harus) ikut jalur resmi, ditemani pemandu supaya tidak tersesat, atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kali kedua, kamu bisa tanpa pemandu. Kali kelima kamu bisa mencoba jalur lain yang lebih jarang dilalui pendaki. Kali kesepuluh, kamu sudah bisa mencoba jalan yang sama sekali baru. Kali ketiga puluh sembilan, kamu sudah hafal wilayah pegunungan tersebut dan bisa memilih mau lewat mana. Kali kesembilan puluh sembilan, hutan itu sudah seperti jalan tol yang bisa kamu lalui dengan lancar.

Menulis (bagus) juga ibarat menari. Tidak mungkin pertama kali datang ke studio langsung bisa menari. Pastinya harus pelajari langkahnya dulu. Lalu belajar gerakan per gerakan. Pose per pose. Dan lain sebagainya. Latihan demi latihan, baru bisa menari.

Bagaimana caranya memancing ide?
(Bli Can – @fajar_arcana) Observasi. Belajar bercerita.

(Hari kedua, pagi, kami diberi waktu untuk melakukan observasi di sekitaran lokasi workshop. Karena saya berangkat agak siang, maka observasi saya lakukan di dalam taksi selama perjalanan menuju lokasi acara. Observasi tersebut berupa bercakap-cakap dengan sopir taksi yang menghasilkan ide cerita berikut ini:

Seorang sopir taksi yang sedang berencana melakukan kejahatan terhadap perusahaan taksi lain untuk menjatuhkan nama perusahaan taksi tersebut, tetapi di tengah jalan ia dihadang massa yang meminta bantuannya untuk membawa seorang korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat.

Siangnya, Bli Can mengajak kami untuk berpasangan lalu saling mengobrol tentang apa saja. Lalu kami menceritakan pasangan masing-masing dengan cara sedemikian rupa sehingga cerita kami bisa menjadi pembuka sebuah cerpen. Saya berpasangan dengan Enny dan Fajri. Saya kebagian menceritakan Enny yang seorang pegawai di bagian pembukuan dan menyinggung Fajri yang adalah seorang editor bahasa. Kalimat saya menjadi seperti ini:

“Memangnya kamu tidak tertarik menjadi jurnalis?” Kalimat tersebut berulang kali muncul di kepalaku padahal aku sedang menghadap layar komputer dengan angka-angka bertebaran di setiap sudutnya. Kalimat itu ditujukan untuk seorang temanku yang lain, tetapi itu membuatku memikirkan lagi, apakah pekerjaanku saat ini adalah yang benar-benar aku inginkan….*lupa lanjutannya*

Banyak koreksi yang saya dapat. Salah satunya, jangan mengungkapkan ulang mentah-mentah apa yang mereka ceritakan ketika mengobrol , tapi cari sesuatu yang khusus dan spesifik yang bisa dieksplorasi menjadi cerita yang tidak biasa. Dan, ya ampun, ternyata bercerita itu tidak gampang. Apalagi pakai bahasa cerpen. Pada teknik tersebut, kata Bli Can, terlihat siapa peserta workshop yang terbiasa bercerita dan siapa yang tidak. Kemampuan bercerita secara lisan ternyata berperan penting dalam menulis.)

*

Well, Workshop Cerpen Kompas 2015 menjadi pengalaman menarik dan barangkali pengalaman sekali seumur hidup. Sangat berterima kasih pada semuanya dan semoga ilmu yang didapat kemarin bisa berguna. Terutama, semoga semangat menulis terus ada dalam dada supaya ilmu menjadi tidak sia-sia.

***

048  050

Paradoks

mengingat Kau berarti mengingat setiap desah napas
yang masuk dan yang keluar semestinya berbeda
mencari titik seimbangnya senantiasa

tetapi jiwa-jiwa baru ini kerap lupa
bahwa yang seimbang bukan putih-putih
bukan hitam-hitam
melainkan hitam-putih
atau putih-hitam
atau masuk-keluar
atau Kau-aku

yang menyala bisa padam
yang padam bisa menyala
ketika cahaya yang kaubuat membuat orang lain tercerahkan
atau gelapnya dirimu memengaruhi pandangan jiwa-jiwa di sekitarmu
seimbang itu mencari-cari titiknya lagi
agar dalam gelap semua tercerahkan
atau di sekitar cahaya semua tak menafikan bayangan

mengingat Kau berarti mengingat diri sendiri
bahwa yang disebut seimbang adalah Kau-aku
berhenti di setiap perjalanan
berjalan di setiap perhentian
menengok kiri-kanan
depan-belakang
atas-bawah
semua penjuru
tempat datangnya baik-buruk

mengingat Kau berarti mengingat mimpi
hingga aku terbangun dengan alir keringat deras
ketakutan tak bisa hilang
hangat atau embus ketenangan dari orang-orang
tak mampu seimbangkan deru napas
masuk-keluar
hanya kesadaran bahwa kita berada pada
sebuah tempat yang masih berat sebelah
fana

dan titik seimbang itu akan terwujud ketika
kaki-kaki lelah kita sampai di tujuan
menginjak rumput hijau yang tak pernah kering
musim yang tak pernah ekstrim
cahaya yang tak pernah benderang
tepat
pas
penyeimbang fana
yang dapat dituju melalui hanya satu jalan

 

***