Buku Terbaik Tahun 2014 (Bagian 1)

Inilah buku-buku yang saya baca selama tahun 2014.

GR01 GR02 GR03 GR04

Berikut ini, saya akan membuat reviu singkat 25 buku dan mengelompokkannya ke dalam enam kategori. Kalau sepakat, artinya kita satu selera bacaan. :))

1. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Punya Pacar Romantis

Romantis itu apa, sih? Menurut artikata.com, romantis (adjective): bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan. Definisi ‘romantis’ bagi setiap orang bisa jadi berbeda, karena romantis itu sendiri adalah kata sifat. Kata sifat merujuk pada: penggunaan penilaian diri sendiri terhadap suatu hal secara subyektif. Romantis bagi saya, belum tentu romantis bagi kalian. Tapi romantisme di cerita-cerita berikut, semoga banyak dari kita berpendapat sama. :))

Sepertinya menyenangkan memiliki kekasih seorang musisi. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca Celebrity Wedding karya aliaZalea dan Restart karya Nina Ardianti. Tokoh utama wanita seolah dihujani cinta dan kasih sepanjang waktu. Kalau beruntung, para musisi tersebut akan menghadiahi kekasih mereka sebuah lagu. Well, Inara dan Syiana memang dibuatkan sebuah lagu. Saking romantisnya, saya sampai-sampai ingin memiliki kekasih seorang musisi. Tetapi anehnya, ketika ide tersebut saya lontarkan ke Twitter, banyak yang membalas dengan, “Yakin?” atau “Mendingan jangan!”

Ada apa dengan memiliki kekasih seorang musisi? Apa ada yang bisa menjelaskan pada saya? Apakah deskripsi romantisme musisi dalam kedua novel tersebut tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya? Hmm.

Oke, kalau ide memiliki kekasih seorang musisi mendapat banyak tentangan, barangkali saya harus mencoba memiliki kekasih seorang penyair. Dialah Will yang menghadiahi Lake berjuta-juta puisi (oke, ini lebay) di dua serial Slammed (Slammed #1: Slammed dan Slammed #2: Titik Balik). Kalau tidak bisa mendapat hadiah berupa sebuah lagu, dihadiahi puisi rasanya pasti tidak akan jauh berbeda. Sama-sama bisa membuat berbunga-bunga, juga merasa dicintai. Bukan begitu? :))

Kalau memiliki kekasih seorang musisi atau penyair belum cukup bagus, mari coba peruntungan dengan seorang dokter bedah. Dr. Beno Wicaksono, tokoh fiktif rekaan Ika Natassa dalam Twivortiare, benar-benar membuat gila. Gila akan cinta.

“Dok, bedah jantung saya dan isi dengan perasaan cinta darimu, Dok.”

Begitu? Selain saya, Dr. Beno Wicaksono ternyata juga berhasil membuat perempuan-perempuan (pembaca) di luar sana yang tadinya tergila dengan pria-pria muda menjadi terkena delusi akut kepada om-om.

(((Om-om)))

Salut untuk Ika Natassa.

Pilihan terakhir di daftar ini adalah memiliki kekasih berprofesi programmer. Selain pekerjaan programmer yang membuatnya kerap bepergian ke luar negeri, Reilley juga diceritakan sebagai pria yang sayang keluarga. Oh, my. ❤ Sayangnya tokoh ini hanya hidup dalam novel Blind Date, yang lagi-lagi, karya aliaZalea. :))

Tentu saja, romantisme seorang kekasih tidak bisa serta merta ditentukan oleh profesi yang mereka geluti. Saya ungkapkan profesi di atas karena tokoh-tokoh itu berhasil membuat perempuan tergila-gila, apa pun profesinya (atau ini hanya perasaa saya seorang?). Yang lebih saya kagumi dari romantisme para tokoh pria tersebut tentu saja kepiawaian para penulisnya bercerita, sedemikian rupa sehingga pesannya tersampaikan. Beberapa orang bahkan beranggapan bahwa mereka too good to be true padahal, ya, mereka tidak sempurna. Will yatim piatu sehingga harus membesarkan adik laki-lakinya seorang diri. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca menyampingkan fakta tersebut karena lebih melihat bagaimana Will menyayangi Lake dari hal-hal kecil yang dia lakukan. Pada suatu saat, Will tanpa sengaja bertemu lagi dengan mantan kekasihnya sehingga Lake merasa dibohongi. Sempurna? Tidak. Tetapi pembaca dihadapkan pada usaha Will untuk meyakinkan Lake bahwa saat ini Lake adalah hidupnya.

Ya, ya, ya. Barangkali romantisme memang bukan tentang kesempurnaan dia, melainkan tentang bagaimana hal-hal kecil yang dilakukannya berhasil membuat perempuannya merasa dicintai. Bagaimana? Kalau saya, sih, yes. x))

2. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Mengunjungi Lokasi Cerita

Mengaku warga Jakarta tetapi hanya tahu jalan dari tempat tinggal menuju kantor, atau ke mall-mall setiap akhir pekan? Baca Adriana dan temukan sisi Jakarta yang berbeda. Fajar Nugros menyajikan banyak tempat di Jakarta dalam bentuk teka-teki. Selain mengetahui banyak lokasi unik di Jakarta, kita juga diajak belajar mengenai sejarah singkat beberapa lokasi. Sebut saja Taman Prasasti, Patung Pancoran, Perpustakaan Nasional, Museum Fatahillah. Bahwa yang menarik dari Jakarta bukan hanya pusat perbelanjaannya.

Melompat ke luar pulau Jawa, ada Kei yang mengupas sebuah pulau di Maluku, yaitu pulau Kei. Agak suram karena yang menjadi latar belakang ceritanya adalah kerusuhan/perang saudara yang terjadi sekitar tahun 1999-2000. Agak aneh, mengapa saya memasukkan lokasi kerusuhan sebagai tempat yang ingin dikunjungi. Mungkin karena sejarah(sekalipun pahit)lah yang membuat daerah tersebut seperti sekarang, selain itu karena setting cerita terasa sangat kuat.

Di pulau lain, yaitu pulau Sumatra, kita akan diajak berjalan-jalan di kota Padang. Membaca Bingkai Memori karya Petronela Putri, kalian akan disuguhi beberapa klenteng (karena Mei adalah keturunan Tionghoa), juga beberapa lokasi yang menjadi tempat nongkrong pemuda/pemudi Padang, seperti Basko Grand Mall, Kedai Kopi Nuno dan tentu saja Pantai Padang alias Taplau. Oiya, bagi penggila durian, kalian harus kudu wajib mampir ke kedai Es Durian Ganti Nan Lamo. Nyam!

Ini dia novel yang membuat saya semakin ingin menjajaki benua Eropa, khususnya Amsterdam! Ya, The Fault in Our Stars, selain mengambil setting di Amerika, juga berlokasi di Amsterdam. Di Amsterdam mereka mengunjungi Anne Frank House and I’m dying to go there untuk merekonstruksi adegan mesra August dan Hazel, bersama seseorang. Good job, John Green. ❤

Kembali ke Asia Selatan, Dee Lestari menarik rasa penasaran saya dari dasar hati ke permukaan dan membuat saya ingin melihat langsung kebun ganja di Kamboja. Saya berdosa. Juga lokasi perang yang banyak ranjaunya itu. Oh, sila salahkan seri Supernova: Akar.

3. Novel-novel yang Membuat Kamu Seketika Ingin Diam dan Memikirkan Ulang Tentang (Prinsip) Hidup

Karena Parasit Lajang adalah kumpulan esai si penulis (Ayu Utami), makanya buku (bukan novel, ding) ini berisi pandangan–pandangan beliau tentang hidup tentunya terkait berbagai macam hal. Terkait judulnya, yang paling saya ingat adalah hal-hal berbau hidup si lajang dan pernikahan. Parasit Lajang adalah istilah yang digunakan Ayu Utami bagi dirinya sendiri (saya merasa juga, sih) yang sudah bekerja tetapi belum menikah tetapi lagi masih hidup bersama orangtua. Hidup menjadi parasit bagi orangtua. Tinggal di rumah gratis, tak perlu sibuk memikirkan bayar listrik, air, dan telepon, tak perlu mengeluarkan uang sebagai biaya hidup harian, dan seterusnya.

Ada juga poin menarik lain, dan kali ini terkait pernikahan. Katanya, pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya ya bagi yang membutuhkan saja. :))

Ada banyak lagi isi kepala Ayu Utami tentang berbagai hal yang dituangkan dalam buku ini dan beberapa poin memang membuat saya mengangguk setuju atau bergumam, “Iya. Benar juga, ya. Kenapa selama ini tidak terpikirkan.”

Melompat dari berbagai pemikiran antimainstream, kita lebih khusus ke hal-hal terkait kejujuran. Beranikah kita menelanjangi diri sendiri, yang kata Arswendo Atmowiloto adalah salah satu bentuk kejujuran? Tersenyum? Begitulah efek yang kerap terjadi pada saya ketika membaca Blakanis. Pemikiran atau perkataan Ki Blaka memang agak aneh, tetapi lucu. Dan menyentil pemahaman. Meski diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan tokoh utama melainkan orang-orang yang berhubungan langsung dengan tokoh utama, ajaran-ajaran Ki Blaka tidak mengalami penyusutan, pembaca tetap bisa merasakan bahwa Ki Blaka ini adalah orang yang apa adanya. Dan dengan sifat apa adanya inilah ia berhasil menarik banyak ‘pengikut’ untuk mempelajari ajarannya. Mirip The Witch of Portobello karya Paulo Coelho. Miripnya, selain diceritakan dari sudut pandang orang pertama tetapi bukan si tokoh utama, kedua novel ini sama-sama menceritakan tentang seseorang yang dianggap menyebarkan ajaran sesat. Lalu apakah ajaran yang mereka sebarkan itu memang sesat? Well, orang luar boleh melihat itu sesat tetapi bagi para pencerita, itulah kebenaran.

Membuat kita berpikir lagi, apakah yang kita percayai sekarang ini adalah kebenaran yang paling?

Buku lain yang mengaduk-aduk pemahaman adalah Rahvayana karya Sujiwo Tejo. Misinya adalah menunjukkan pada dunia bahwa Rahvana tak sejahat yang orang-orang pikirkan. Bahkan Rahvana digambarkan begitu mencintai Sinta. Terlihat dari betapa banyaknya surat yang ia tulis untuk Sinta meski tak selalu mendapat balasan. Mana mungkin seseorang dengan sengaja menyakiti orang yang ia cinta? Uniknya lagi, hingga akhir buku, tokoh ‘aku’ tak mau mengaku sebagai Rahvana. Antara unik dan sengaja membuat pembaca semakin bingung. ._.

Terakhir di kategori ini adalah Siddhartha, yang bercerita tentang perjalanan seseorang bernama Buddha. Entah dialah Sang Buddha atau bukan, karena dalam novel ini ada seorang tokoh lain bernama Gautama, dan diceritakan sebagai guru yang memiliki banyak pengikut. Tapi siapa pun yang sebenarnya adalah Buddha, novel yang disajikan dengan kalimat-kalimat indah ini mengungkapkan beberapa pencerahan khas (agama) Buddha. Misalnya, jangan terikat akan sesuatu. Dan sebangsanya, yang tentunya membuat kita berpikir dan berpikir ulang.

Yah, pada akhirnya, kebenaran hanyalah masalah sudut pandang.

*

[bersambung dengan kategori lain di tulisan berikut]

Festival Pembaca Indonesia 2014 – #IRF2014 #BFGGoesToIRF

Tahun ini, Bookaholic Fund berkesempatan ikut meramaikan Festival Pembaca Indonesia (Indonesia Readers Festival – IRF) tanggal 6-7 Desember 2014 bertempat di Museum Nasional. Berikut adalah reportasenya. ^^

Putri Widi's avatarbookaholicfund

Ada yang tahu Indonesia Readers Festival a.k.a. Festival Pembaca Indonesia? Buat yang udah biasa main di Goodreads atau suka baca atau suka nulis atau suka buku atau anak buku banget, pasti tahu. Ini acara tahunan yang digelar Goodreads Indonesia, dengan menghadirkan banyak komunitas buku, penerbit, dan juga banyak acara lainnya. Selain booth-booth komunitas, kamu bisa ikut talkshow penulis atau workshop nulis. Semuanya free entry, kamu hanya perlu bayar karcis masuk museum, karena dua tahunan ini IRF selalu diadakan di museum. Tahun lalu di Museum Mandiri, Jakarta Kota. Sedangkan 6-7 Desember 2014 kemarin, acaranya di Museum Nasional (Museum Gajah).

Tahun ini, Bookaholic Fund juga mendapat kesempatan mengisi booth dalam rangka mengenalkan visi misi dan program kerja kami kepada komunitas lain serta para pengunjung di Festival Pembaca Indonesia 2014 (IRF 2014). Apa saja yang kami lakukan di sana? Nah, ini dia liputannya 🙂

PERSIAPAN

Penanggung jawab keikutsertaan BFG di…

View original post 859 more words

Mengganggu Orang dengan Karya yang Baik

IMG_5831

Pertama, karena ingatan saya begini lemah. Padahal belum genap satu minggu sejak saya mendengarkan Eka Kurniawan dan Joko Pinurbo bercerita di hadapan saya. Pada jarak kurang dari lima meter. Yang dibagikan adalah mengenai proses kreatif di balik terciptanya karya-karya mereka. Beberapa dari karya tersebut bahkan bisa dikatakan fenomenal. Jadi karena ingatan yang begini pendek, menyambung ke hal kedua, yang saya ingat hanya jawaban mereka atas pertanyaan saya. Barangkali juga ingatan adalah tentang (si)apa yang mau ia biarkan tinggal di dalamnya. Maka, berikut adalah kata-kata mereka yang masih nyangkut di kepala saya.

Pertanyaan saya kepada Eka Kurniawan:
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca komentar pedas tentang buku Anda yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Katanya, novel tersebut lebih cocok berada di tempat sampah. Bagaimana komentar Anda? Dan saya juga kepingin tahu, apakah seorang Eka Kurniawan pernah menyampah-nyampahi karya seseorang?

Jawaban Eka Kurniawan:
Bila saya merasa tidak cocok dengan sebuah karya setelah saya baca beberapa halaman, saya tidak akan melanjutkan membaca. Jadi ketika ada seseorang yang rela membaca buku saya sampai habis, meski kemudian mengomentari negatif, artinya ia sudah mengerahkan waktu dan tenaga untuk membaca (sesuatu yang tidak ia sukai), dan itu membutuhkan energi yang besar. Bahkan kemudian komentar dia saya pajang di blog, artinya saya berterima kasih. Lalu, karya yang baik adalah karya yang sanggup menganggu orang. Jika melihat reaksi orang tersebut, tampaknya saya berhasil (mengganggu). Dan saya bangga.

Pertanyaan saya kepada Joko Pinurbo (setelah beliau bercerita panjang lebar mengenai proses di balik penciptaan puisi berjudul Surat Kopi:
Dari proses kreatif tentang penciptaan puisi Surat Kopi yang Anda ceritakan, termasuk pesan yang ingin Anda sampaikan, barangkali banyak pembaca tak berhasil memahami apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan itu. Nah, bagi penulisnya sendiri, apa hal tersebut merupakan masalah?

Jawaban Joko Pinurbo:
Saya lebih suka kalau pembaca tidak perlu tahu apa yang ingin saya sampaikan. Yang jadi masalah kemudian, saya sering direpotkan oleh mahasiswa yang hendak menulis skripsi tentang puisi saya, dan bertanya mengenai makna puisi-puisi saya. Padahal mereka bisa mengartikan sebuah puisi secara bebas. Artinya, setiap puisi bisa diinterpretasikan sesuai cakrawala pembaca. Bahkan, ya, kadang penyair juga nggak sadar ingin menyampaikan apa. Tentang puisi yang saya tulis, Anda tidak akan kaget dengan cara saya berpuisi bila Anda membaca Burung Berkicau karya Anthony de Mello.

*

Saya bertemu melihat Eka Kurniawan dan Joko Pinurbo di acara Kemang Art & Coffee Festival 2014 (#KACF2014). Sebagai newbie dalam hal membawa-kegemaran-dunia-maya-ke-dunia-nyata, saya agak kagok berada di keriuhan seperti itu. Isinya selebtwit semua! Tentu saja, dengan komunitasnya masing-masing. Dan saya hanya sekadar pengunjung. Tak masalah, sih. Malah seru. Ternyata banyak sekali hal-hal positif dari dunia maya yang bisa saya lihat secara langsung di dunia nyata. Di acara tersebut ada coffee corner, yang menyajikan kopi dari beberapa daerah di Indonesia. Saya sempat mencicipi kopi Sembalun dan ternyata rasanya agak asam, ya.

IMG_5833

Pojok kopi

Di dinding Galeri 678 (lokasi acara), juga terhampar banyak sketsa para seniman muda. Di dindingpertama para seniman berbicara tentang surga. Di dinding yang lain mereka berbicara tentang hubungan antara orangtua dan anak. Di dinding yang ini ada banyak getir.

IMG_5743

Mereka bicara surga di sini

IMG_5738

Di sini banyak getir hubungan orangtua dan anak

Di dinding lain ada sketsa yang dibuat dari fiksimini. Di bagian ini, pengunjung juga diajak untuk menulis puisi berdasarkan sketsa (fiksimini) yang ada, lalu twitpic dan jangan lupa mention @Fiksimini. Pada kesempatan itu, saya juga iseng ikut nulis puisi. ^^

IMG_5726

“Kadang aku lupa telah menjadi pihak yang pergi, karena setiap embusan asap rokok, selalu membawaku kembali” — @ManDewi

Di seberang dinding penuh sketsa fiksimini, ada pojok Zine. Ini hal baru yang saya tahu. Zine adalah salah satu bentuk publikasi, semacam majalah yang dibuat dengan cara-cara sederhana. Bisa dengan mesin fotocopy atau printer biasa. Artinya, kalian bisa menulis/menempel/menggambar/me-layout apa saja di sebuah kertas, kemudian mencetak atau mem-fotocopy-nya untuk disebarkan gratis. Zine jadi alternatif yang bagus untuk kalian yang bercita-cita jadi jurnalis idealis. :))

Di ujung ruangan ada meja panjang, dilengkapi dengan proyektor yang digunakan untuk acara semacam sosialisasi/workshop. Lebih ke belakang lagi, ada pasar seni. Nah, ini. Banyak pernak-pernik lucu, juga kaus, tas, dan sketsa (dengan atau tanpa bingkai) yang dijual. Asli ngiler banget di bagian ini. *drewling* Juga ada stan dari Gramedia yang menyediakan buku-buku karya para pembicara dengan diskon 10%. Hore!

IMG_5728

Sebagian pernak-pernik di pasar seni #KACF2014

Secara keseluruhan, datang ke #KACF2014 sama sekali bukan sia-sia. Atmosfernya menyenangkan. Dan saya tidak sabar untuk mendatangi (lagi) acara-acara lain serupa itu. Kemarin sempat kepingin beli salah satu sketsa (atau lukisan ya?) tapi belum kesampaian. Dan sengaja tidak mencari tahu bisa didapat di mana selain di acara kemarin. Semoga berjodoh dengan sketsa itu di acara serupa lainnya, karena barangkali perihal jodoh itu hanya masalah (ketepatan) waktu. 🙂

***