Jiwa yang Tak Waras

image

Liur di ujung bibirmu itu
adalah tanda betapa bosan kau akan dunia
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terbuka

Matamu yang memicing itu
adalah tanda betapa takut kau akan cinta
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terluka

Pakaianku, pikiranku
telah kaulucuti dengan kata-kata
mesra yang membuatku rela kehilangan daya
dan kuasa atas tubuhku sendiri

Akulah gadis berambut merah yang kaugoda
Akulah perempuan berbaju biru yang kausapa
Akulah bermacam-macam wanita yang kausuka

Dan dari semua aku yang kautahu
tak ada satupun yang kaubiarkan terus hidup
dalam tubuhmu, tubuhku

Selamanya
aku hanya perhiasan atas ketidakwarasan
jiwamu

*

[#PuisiHore2 – #1 – Cover Album Overexposed]

Memendam Rindu

Kamu selalu bertamu di kepalaku tanpa tahu waktu. Bahkan ketika aku lebih memilih mimpi, kamu menarik-narik lenganku untuk kembali kepadamu. Sebenarnya tak apa, asalkan kamu berjanji tentang sesuatu. Yang sebenarnya juga, sudah aku impikan sejak dulu.

Kamu tahu tentang memendam rindu yang katanya bisa membuatmu mati lebih cepat? Aku tahu dari dia yang katanya mengkhawatirkan napasmu kian singkat-singkat. Katanya, kamu tak lagi kuat. Katanya lagi, kamu tak begitu banyak berbuat.

Kamu selalu menyangkal merasa rindu. Meski setiap kali berkata tidak, senyum ranum di sudut bibirmu. Debar jantungmu, menggetarkan bumi di bawah kakiku.

Kamu bilang janji harus ditepati. Aku bilang, janji harus ditempati. Coba di hati. Agar rindu jangan buru-buru mati.

Membaca Kamu Lewat Tulisan

Mengambang-melayang aku di dadamu
Enggan jatuh enggan menyentuh
Matamu, hatimu yang
Buta, beku
Adalah aku yang selalu rindu
Cakap jemarimu meramu
Abjad terserak di atas kertas abu-abu

Kepalamu berisi kata-kata luar biasa hingga
Aku tak memiliki kesempatan untuk
Menyusup-merayapi kepalamu bahkan
Untuk sekadar memperkenalkan diri

Lengan-lenganmu lalu kulirik sebagai instrumen manis
Entah sebagai tempatku berdiam atau
Wahana tempatku mati nanti
Aroma surga sudah
Terangkum di kilau emas pena –jarummu

Tentang cinta, aku menyerah-kalah dan tentang
Usaha untuk terlihat olehmu, aku menyerah-lelah
Limbung ragaku dalam dadamu adalah saksi betapa
Irama rasaku tergantung irama jemarimu apalagi ketika
Saatnya nanti, aku dan kata-kata seharusnya tercetak di
Atas kulitmu berbentuk sebuah nama
Namaku

*