Dilarang Bersuara

*

“Mas, itu kenapa tokoh utama laki-lakinya malah sembunyi, bukannya balas dendam?”

Kursi studio 1 malam itu terisi hampir seluruhnya dan Bob tidak mau menjadi sasaran kekesalan penonton lain karena keributan yang dibuat oleh perempuan yang duduk di sebelah kirinya. Bob memintanya untuk tidak bersuara, “Sssttt…”

“Tapi itu penjahat perempuannya sudah tahu di mana dia bersembunyi.”

Dua orang di sebelah kiri Andrea, juga Luna—perempuan yang duduk di sebelah kanan Bob, serentak menoleh ke arah Andrea.

“Mbak, berisik banget sih.” Kata Luna kepada Andrea. “Mas, bukannya dia nonton sendiri, ya. Kok nanya-nanyanya ke kamu? Huh!” Luna berbisik sambil menggamit lengan Bob, kekasihnya.

 

***

 

*) Ditulis untuk #FFRabu – Monday Flash Fiction dengan topik FILM
**) 100 kata tidak termasuk judul dan catatan kaki

#NulisRandom2015 – Airmata Buaya

AIRMATA BUAYA

Ini hari ketiga aku menunggu sejak diusir dari rumahnya minggu lalu. Pada kaca jendela yang tirainya berwarna gelap, kuperhatikan penampilanku sekali lagi. Kemeja lengan panjang dan celana longgar. Kulit di sekitar lengan dan pahaku belum boleh dilihat orang.

“Aku tak tahu apa aku bisa memaafkanmu.” Suaranya mengagetkan.

“Maafkan aku.” Aku memperdengarkan isak dengan sengaja. “Setelah ini, kita liburan ke kampung halamanmu.” Isakku menjadi tangis. Airmata bukan tanda kelemahan bagiku. Terpenting, dia memaafkan kesalahanku: untuk kesekian kali menolak diajak bertemu orangtuanya.

“Ini kesempatan terakhirmu.”

“Aku janji.”

Dia tersenyum. Aku pergi, kembali ke rawa untuk, lagi-lagi, berpamitan dengan kawan-kawan bersisikku di sana.

***

 

NB: #NulisRandom2015 hari ke-7 memang berencana untuk membuat FF 100 kata dari sebuah fiksimini. Maka setelah stalking akun @fiksimini, pilihan jatuh pada yang berikut ini:

@sibangor: AIRMATA BUAYA – Setelah dimaafkan kekasihnya, lelaki itu terkekeh sambil masuk ke dalam rawa.

Daaannn.. Tulisan ini adalah tulisan #NulisRandom2015 kesekian yang terlambat di-posting. Atuhlah. Yang penting happy.

 

24 x 60 x 60

Aku bersandar pada bingkai pintu kamar Ruli dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ruli belum lama bangun tetapi ia sudah terlihat sibuk dengan rutinitasnya. Ini kali ketiga, dari gelas besar yang dipakai untuk meletakkan alat-alat tulis, Ruli mengambil penggaris. Mengukur panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus yang ia tarik keluar dari bawah meja belajar.

“24 x 60 x 60.”

Ruli mendorong kotak kardus tersebut kembali ke bawah meja belajar. Meletakkan penggaris. Beranjak ke rak buku di sisi kamar yang lain. Diperhatikannya beberapa buku bersampul merah. Lalu ia sedikit menunduk di bagian rak berisi buku-buku bersampul hijau. Tangannya baru akan menyentuh salah satu buku sebelum ia diam. Seperti patung. Aku tak bisa melihat ke arah mana matanya memandang karena ia berdiri membelakangiku. Ruli berbalik. Kedua tangannya bergerak-gerak seperti gemetar. Wajahnya khawatir. Dengan gerakan lambat tapi pasti, ditariknya lagi kotak kardus dari bawah meja belajar. Diambilnya lagi penggaris dari gelas besar di atas meja. Diukurnya lagi panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus tersebut.

“24 x 60 x 60.”

Lalu ia kembali mendekati rak bukunya.

Kegiatan ini akan berlangsung sampai petang. Berhenti untuk sebentar saja. Karena setelah mandi, makan malam, dan merapikan beberapa barang di bagian rumah yang lain selain kamarnya–yang ini ia lakukan berkali-kali pula–Ruli akan kembali menyibukkan diri dengan penggaris dan kardus kesayangannya. Sebelum tidur, ia akan menyusun kembali buku-buku di rak bukunya. Dan ia meletakkan 39 buku di atas meja untuk dimasukkan ke dalam kardus yang ia ukur berkali-kali itu.

Keesokan paginya, Ruli akan seperti lupa pada rencananya untuk memasukkan buku-buku tersebut ke dalam kardus, karena ia lebih sibuk mengukur kardusnya lagi, memastikan bahwa kardus tersebut masih berukuran 24 x 60 x 60.

“24 x 60 x 60.”

Dan sembari ia melakukan segala kegiatannya, Ruli tak pernah peduli padaku. Lalu bagaimana? Aku jadi ingat kalimat terakhir Rina, istriku, sesaat setelah ia melahirkan Ruli–sesaat setelah itu ia mati. Aku bilang, “Kenapa kamu tidak mau jujur, Rin? Jujur mengatakan kalau Ruli bukanlah anak kandungku.”

You won’t understand, Mas.”

Barangkali yang ada di kepala Rina, juga ada di kepala Ruli. Bahwa aku tak akan mengerti. Dan orang yang dianggap tak akan mengerti, tak perlu diajak bicara.

“Kamu sudah mengukur kardus itu berkali-kali berhari-hari, Nak.”

Aku tak tahan. Ruli diam.

“Ukurannya tidak akan berubah, jadi kamu tak perlu terus-terusan mengukurnya.” Aku menunduk. Malu. Merasa kalah oleh seorang anak yang bahkan belum fasih berkata-kata. Bisa kudengar Ruli masih sibuk dengan kegiatannya. Aku memutuskan untuk menjauh. Sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatian Ruli.

Ah, tentu saja!

Lalu kuambil barang-barang dan meletakkan barang-barang itu tidak pada tempatnya.

***

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour