Nasi Padang vs Senyuman

Lidahku semakin kering karena fatamorgana
Mendung menantang tetapi hujan tak kunjung datang
Bagaimana menghapus dahaga?
Tak ada sungai lebar menganga
Sementara mulutku harus terus berkata-kata
Meneriakkan kecaman mewakili rakyat jelata

Kata kasihan tak bisa menunda lapar
Debu jalanan tak bisa jadi makanan
Meskipun kau taburkan bumbu kacang di atasnya
Kotoran tak akan seenak sate ayam

Lapar ini, tak seperti biasa
Ada ikan bakar pemberian entah siapa
Tak kuhiraukan
Demi seorang gadis di seberang sana
yang duduk tenang menikmati roti jamuran
Sambil menunggu lampu merah menyala

“Lemparkan kepadaku sekotak nasi Padang.”
Mungkin begitu katanya pada setiap mobil yang lewat
Sementara kamu, dari balik kaca mobilmu
hanya melemparkan senyuman

Pikirmu cukup?

*

Sad Tears

[#PuisiHore2 – #3 – Makanan]

Jiwa yang Tak Waras

image

Liur di ujung bibirmu itu
adalah tanda betapa bosan kau akan dunia
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terbuka

Matamu yang memicing itu
adalah tanda betapa takut kau akan cinta
Hingga kaudiam saja
Mendiamkan aku yang setengah terluka

Pakaianku, pikiranku
telah kaulucuti dengan kata-kata
mesra yang membuatku rela kehilangan daya
dan kuasa atas tubuhku sendiri

Akulah gadis berambut merah yang kaugoda
Akulah perempuan berbaju biru yang kausapa
Akulah bermacam-macam wanita yang kausuka

Dan dari semua aku yang kautahu
tak ada satupun yang kaubiarkan terus hidup
dalam tubuhmu, tubuhku

Selamanya
aku hanya perhiasan atas ketidakwarasan
jiwamu

*

[#PuisiHore2 – #1 – Cover Album Overexposed]

Memendam Rindu

Kamu selalu bertamu di kepalaku tanpa tahu waktu. Bahkan ketika aku lebih memilih mimpi, kamu menarik-narik lenganku untuk kembali kepadamu. Sebenarnya tak apa, asalkan kamu berjanji tentang sesuatu. Yang sebenarnya juga, sudah aku impikan sejak dulu.

Kamu tahu tentang memendam rindu yang katanya bisa membuatmu mati lebih cepat? Aku tahu dari dia yang katanya mengkhawatirkan napasmu kian singkat-singkat. Katanya, kamu tak lagi kuat. Katanya lagi, kamu tak begitu banyak berbuat.

Kamu selalu menyangkal merasa rindu. Meski setiap kali berkata tidak, senyum ranum di sudut bibirmu. Debar jantungmu, menggetarkan bumi di bawah kakiku.

Kamu bilang janji harus ditepati. Aku bilang, janji harus ditempati. Coba di hati. Agar rindu jangan buru-buru mati.