#PuisiHore2 – Kelahiran yang Pemali Ini Membuatku Gentar

Salvador-Dali-EnfGeo

Geopolitical Child Watching the Birth of the New Man by Salvador Dali

Aku gentar
Belum apa-apa lengannya sudah menjangkau seberang benua
Kepalanya menyembul bagai bola mata yang hendak keluar dari tempatnya
Kakinya seakan merobek semesta
Petaka

Aku bersembunyi di antara kaki entah siapa
Siapa saja asalkan aku tidak dekat-dekat dengannya
Aku menutup mataku sekali dua kali
Berkali-kali asalkan aku tidak melihat kelahirannya yang pemali

Tidak seharusnya ia lahir di sini
Di tempat yang tidak membutuhkan anomali
Mana induknya?
Kembalikan saja ia ke alam baka

Ini bumiku
Hijau penuh rimba
Biru oleh samudera
Ini bumiku
Tidak boleh berubah merah karena darah
Tidaklah bising karena desing

Aku gentar pada mereka yang lahir berbekal asumsi
Bahwa merusak alam adalah benar demi sesuap nasi
Lalu menyakiti demi gengsi adalah hal biasa
Belum tahu ahimsa?
Tidak percaya karma?

Ini bumi tempat aku menjejak
Bukan untuk dirusak

*

[#PuisiHore2 Р#5 Р Geopolitical Child Watching the Birth of the New Man by Salvador Dali]

#PuisiHore2 – Sebentuk Tubuh Telanjang Mempertanyakan Aku

Aku hanyalah sebentuk tubuh telanjang yang
terbangun di tengah padang gersang

Aku membawa satu buntal berisi entah
sebagai bekal mengembara selama entah

Siapa yang tahu berapa lama kita berada di sini
atau di sana

Aku hanyalah sebuah konsep tentang hidup
menjaga atma agar jangan dulu meredup

Aku membawa satu nyawa bervisi mentah
meminta tambahan waktu sampai entah

Siapa yang tahu kapan kita akan mati
atau lahir lagi nanti

Aku adalah kamu yang tak kamu sadari
sejenak ada lalu pergi lagi

Aku adalah hal-hal yang kamu gerogoti
akan habis tanpa bisa dimuntahkan kembali

Aku adalah misteri yang kerap kamu teliti
beribu hari

Aku adalah waktu
Aku adalah waktu

yang kamu sia-siakan itu…

*

image by Jamie Baldridge

image by Jamie Baldridge

[#puisihore2 – #4 – Jamie Baldridge]

#PuisiHore2 – Nasi Padang vs Senyuman

Lidahku semakin kering karena fatamorgana
Mendung menantang tetapi hujan tak kunjung datang
Bagaimana menghapus dahaga?
Tak ada sungai lebar menganga
Sementara mulutku harus terus berkata-kata
Meneriakkan kecaman mewakili rakyat jelata

Kata kasihan tak bisa menunda lapar
Debu jalanan tak bisa jadi makanan
Meskipun kau taburkan bumbu kacang di atasnya
Kotoran tak akan seenak sate ayam

Lapar ini, tak seperti biasa
Ada ikan bakar pemberian entah siapa
Tak kuhiraukan
Demi seorang gadis di seberang sana
yang duduk tenang menikmati roti jamuran
Sambil menunggu lampu merah menyala

“Lemparkan kepadaku sekotak nasi Padang.”
Mungkin begitu katanya pada setiap mobil yang lewat
Sementara kamu, dari balik kaca mobilmu
hanya melemparkan senyuman

Pikirmu cukup?

*

Sad Tears

[#PuisiHore2 – #3 – Makanan]