Terbangun Sendiri

Malam-malam gulita
tak buta dusta
tak seperti kita, buta segala

Gaun-gaun klasik pisik
tak tahan gelitik
tak seperti bilik, diam berbisik  

Cumbu-cumbu merayu
tak layu-layu
tak seperti milikmu, milikku

*

“Sudah pagi, Sayang
Kita harus bersiap, berpisah.”

Tak sempat kudengar bunyi sepatumu tadi
Tak sempat kuharap terbangun begini, sendiri
Aku tak sempat berharap
Tak pernah berharap

*

Image

[#PuisiHore2 – #8 – Judul Lagu NOAH]

Dengarkan Baik-baik

Dengarkan baik-baik
karena takkan aku ulangi biar cuma sekali

Lihat aku
Cangkir di genggamanmu tak mungkin lebih tampan dari aku
Atau
Ada bayangan siapa pada genangan kopi yang kamu tatap, di antara desau?

Aku tak pandai berpuisi untuk merayu
Puisi itu kemayu
Haruskah aku berguru untuk itu?
Aku bahkan tak pandai untuk sekadar bicara
Meski katamu, jangan jera
Ya, aku berusaha
Kadang tanpa kamu sadar
Mawar-mawar yang kerap aku kirim
Kamu dengar mereka berkata apa?

Ya, ya

Aku tahu aku gagal lagi

Jadi, dengarkan aku baik-baik
Karena takkan aku ulangi biar cuma sekali

Lihat aku
Setelah itu takkan aku larang kamu untuk menemui laki-laki yang bayangannya muncul pada genangan kopi, di antara desau

Dengarkan,
bukannya aku tidak mau bilang bahwa aku cinta
Tapi aku ingin mengatakannya dengan suara
Bukan hanya tatapan mata

*

[#PUisiHore2 – #7 – Komunikasi]

Sekelumit Cerita Tentang Kamu

Sembilan tahun yang lalu aku memasuki sebuah kota. Suasananya serupa pikiranmu. Riuh oleh bunyi kendaraan bermotor. Bangunan tingginya seolah hendak mencakar langit-langit kepalamu. Liuk sungai lebih rumit daripada labirin. Pohon rindang yang sering gagal meredam panas, tak bisa buat berteduh. Aku memasuki pikiranmu yang kusut lagi kacau.

Sembilan tahun yang lalu aku memasuki sebuah kota. Suasananya serupa ronamu. Penuh polusi masa lalu. Banyak sudut yang menyimpan kenangan demi kenangan, matamu kerap menatap kosong ke arahnya. Musim hujan datang lebih cepat dan lebih sering, berhulu di matamu, aku tahu. Isakan-isakan pelan yang coba kausembunyikan tapi gagal. Telingaku rangkap. Aku memasuki ronamu yang kacau lagi pilu.

Sembilan tahun yang lalu aku memasuki sebuah kota. Suasananya serupa perasaanmu. Suram seperti langit yang digantungi awan mendung. Dingin seperti hawa yang menusuk-nusuk tulang, tubuhmu beku. Marah seperti beliung yang menerbangkan mimpi-mimpi tak berujung. Aku memasuki perasaanmu yang pilu lagi sendu.

Sembilan tahun lalu aku memasuki sebuah kota. Dari salah satu sudutnya aku mendekati bayanganmu. Naik melalui kakimu. Berdiam sebentar di bawah perutmu. Naik lagi ke hatimu. Betah. Sesekali naik dan berdiam di kepalamu.

Sembilan tahun yang lalu aku mulai mengenal kotamu dan sekelumit kamu.

*

image from m.flikie.com

image from m.flikie.com

[#PuisiHore2 – #6 – KOTA]